![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Steven Lou kabur dari kampus memang untuk menghibur diri, bersenang-senang di arena khusus untuk berselancar dengan skateboard-nya. Si arogan itu terlihat sangat menikmati saat-saat meluncur di atas papan beroda. Melakukan berbagai atraksi akrobatik begitu lihai tanpa sekali pun melakukan kesalahan, disambut dengan applause riuh dari teman-teman gengnya.
"Waoooo, keren! Semakin hari kamu semakin mahir." Salah seorang teman memuji sambil menepuk bahu Steven Lou.
Ngos-ngosan, peluh bercucuran, tetapi bibirnya tidak berhenti mengumbar senyum. Sungguh sangat berbeda dari yang biasa dia tunjukkan. Jadi seperti melihat Steven Lou dalam versi yang berbeda.
"Hai, Steven!"
Menoleh dan mendapati seseorang yang sangat dikenalnya, wajah Steven Lou pun terlihat semakin semringgah. "Kuan Ge!" Pemuda itu berseru kegirangan, seperti anak kecil yang baru bertemu kembali dengan orang tuanya setelah berhari-hari tidak bersua. Keangkuhan dan arogansinya sirna seketika. Steven Lou bahkan memberi pelukan singkat pada pria tampan berwajah kalem itu.
"Bolos lagi, huh?"
Sebelum menjawab, Steven Lou berpamitan pada teman-temannya terlebih dulu, lalu mengajak Lou Haikuan---kakak sepupunya---menjauh. Keduanya duduk di sebuah bangku panjang, cukup jauh dari arena berseluncur.
"Ibu menghubungimu lagi?" Tersirat rasa getir dalam suaranya.
Mengembuskan napas lelah, Lou Haikuan menatap sendu adik sepupunya. "Aku sudah merasa cukup tenang karena selama dua minggu ini kamu tidak berulah, juga tidak bolos. Kenapa sekarang mulai bolos lagi, huh? Bibi sudah merasa enggan berbicara denganmu makanya memintaku."
"Enggan?" Steven Lou mendengkus sarkas. "Jangan melawak. Dia tidak pernah punya waktu untukku. Berbicara padaku hanya kalau ingin ceramah, menasehati ini-itu tanpa tahu apa yang sebenarnya aku butuhkan!"
Steven Lou tampak begitu gusar, Lou Haikuan malah tersenyum teduh. Menepuk-nepuk punggunya untuk menenangkan. "Sudah, sudah, jangan marah begitu. Aku tahu, aku bukan kakak yang baik. Bukan kakak yang pengertian---"
"Bukan kakak kandungku juga."
"Heeem, ayahku dan ayahmu bersaudara. Apa itu belum cukup untukmu menganggap aku sebagai saudara?" Lou Haikuan membuang napas kasar. "Sepertinya hanya aku yang beranggapan kamu adalah saudara." Sembari bicara matanya mengerling jahil.
Tahu kalau Lou Haikuan sedang menggodanya, Steven Lou mendelik marah, pun hanya pura-pura. "Terus saja berpura-pura bodoh. Jadi bodoh sungguhan baru tahu rasa."
__ADS_1
Lou Haikuan tergelak sambil mengusap rambut lepek Steven Lou penuh sayang. "Kamu bermasalah dengan temanmu lagi?"
Tidak dijawab pun, dia sudah tahu jawabannya dari wajah Steven Lou yang terlihat kembali suntuk. Pemuda itu menunduk, ujung-ujung sepatunya mendadak jauh lebih menarik dari wajah tampan sang kakak sepupu.
"Aku membencinya."
"Jiang Lizqi?"
"Aku ingin memberinya pelajaran." Giginya dikatup rapat, setiap kata diucap penuh penekanan.
Ibarat sedang berbicara dengan anak kecil yang sedang merajuk, Lou Haikuan tidak henti-hentinya mengelus punggung, bahu, dan kepala pemuda usia sembilan belas tahun itu.
"Pikirkan baik-baik alasan kenapa kamu membencinya. Kalau boleh berpendapat, aku rasa ... bukan benci. Mungkin kamu hanya merasa iri karena---"
"Kenapa aku harus merasa iri pada gembel miskin yang bahkan untuk kuliah pun harus dengan biaya beasiswa?!"
Tersentak, rasanya Lou Haikuan tidak percaya mendengar kata-kata kasar bernada merendahkan itu terlontar dari mulut adik sepupunya. Meski tak acuh, dingin dan arogan, selama ini Steven Lou belum pernah menghina orang lain sampai sedemikian rupa.
Kenapa? Steven Lou pun tidak tahu. Memikirkannya lebih dalam dan lebih detail lagi, bahkan dia sendiri merasa sebenarnya tidak ada secuil pun alasan baginya untuk membenci Jiang Lizqi. Gadis itu tidak bersalah, juga tidak tahu apa-apa. Dia hanya ada di posisi yang tidak seharusnya dalam situasi yang tidak tepat.
Sejak masih kanak-kanak sang ibu kerap menunjukkan foto atau berita Jiang Lizqi menjuarai sebuah perlombaan akademis yang dimuat di surat kabar, dan memberinya sanjungan setinggi langit, padahal mereka belum pernah bertemu. Steven Lou hanya tahu bahwa Jiang Lizqi adalah putri sahabat ibunya yang sudah lama tidak bertemu.
Terakhir kali, foto gadis itu dimuat di surat kabar, isi artikelnya sanjungan sedemikian rupa karena berhasil diterima di universitas ternama jalur prestasi dan mendapatkan beasiswa penuh sampai lulus.
Sanjungan Nyonya Lou terhadap Jiang Lizqi sebenarnya dimaksudkan untuk memotovasi Steven Lou, bukan untuk membandingkan. Namun, tanpa Nyonya Lou sadari hal itu justru menumbuhkan kebencian di hati Steven Lou, bahkan jauh sebelum putranya itu bertemu dengan Jiang Lizqi.
"Ya, sudah kalau tidak mau bilang, tapi aku rasa akan lebih baik kalau kamu sedikit membuka hati. Memberi kesempatan, baik pada dirimu sendiri atau pada Jiang Lizqi ... untuk saling mengenal, berteman."
__ADS_1
Seperti yang diharapkan dari seorang kakak, Lou Haikuan memang sangat bisa diandalkan. Pembawaannya dewasa, tenang, bijak, dan kerap kali memberi petuah meski sering diabaikan oleh Steven Lou. Terlepas dari sikap abai Steven Lou terhadap nasihat, dibanding dengan sang ibu, dia akan jauh lebih berterus terang kepada kakak sepupunya ini.
"Kuan Ge, aku masih ingin tinggal di Singapura."
Lou Haikuan menatap sendu adiknya yang masih betah menunduk. "Aku turut menyesal untuk hal itu. Ibumu pasti memiliki alasan kuat kenapa tidak mengizinkanmu kuliah dan tinggal di sa---."
"Sebenarnya untuk apa kamu kemari?" Steven Lou menyela gusar. Tadinya dia berharap bisa mengambil kesempatan ini untuk meminta bantuan kepada Lou Haikuan. Memintanya berbicara lagi pada sang ibu tentang keinginannya itu, tetapi sepertinya tidak perlu lagi.
Seketika bungkam, Lou Haikuan menatap Steven Lou lekat. Keangkuhan telah kembali mewarnai wajah tampan pemuda itu, pipi sedikit berisi tersapu oleh garis rahang tegas yang membingkai wajahnya. Aura yang begitu dominan menguar darinya, membuat Lou Haikuan tiba-tiba merasa sesak, ludah yang dia telan serasa mengganjal di kerongkongan.
"Kalau tidak ada yang penting lebih baik kamu pergi," ujar Steven Lou ketus.
"Tunggu." Lou Haikuan memcengkeram lengan Steven Lou yang hendak beranjak. "Tunggu sebentar," katanya sembari sibuk merogoh saku celananya, lalu menarik amplop putih yang terlipat dua. Setelah itu menjejalkannya ke telapak tangan Steven Lou. "Ini. Di dalam amplop ini adalah undangan untuk mengikuti race, temanku yang menyelenggarakannya. Di sana nanti akan hadir para pencari bakat---"
Terpaksa bungkam sebelum selesai menyampaikan penjelasannya, Lou Haikuan menatap berbinar pada Steven Lou yang antusias membuka amplop. Wajah angkuh itu kembali berseri-seri hanya dalam beberapa detik dan ketika kembali menatap kakak sepupunya, mata pemuda itu berkaca-kaca.
"Apa ini cukup sebagai ganti karena aku telah mengacaukan kesenanganmu?" Suara Lou Haikuan tersekat di tenggorokan dan serak. Dia terharu melihat wajah yang selalu menampilkan arogansi dan ketegaran palsu itu kini terlihat begitu tulus.
Tanpa kata, Steven Lou segera menubruk kakak sepupunya, lalu memeluk erat-erat. "Terima kasih, Ge. Terima kasih."
Sembari menepuk dan mengelus punggung Steven Lou, Lou Haikuan berkata, "Aku tahu kamu suka balapan. Makanya, aku mendaftarkanmu, siapa tahu beruntung."
"Aku tahu ini salah satu cara agar aku melupakan keinginan untuk ke Singapura. Tapi tidak apa, aku harus tetap berterima kasih, bukan?"
Lou Haikuan terkekeh ringan. "Kamu memang tidak mudah dialihkan. Oh, iya. Masih ada satu lagi brosur yang belum kamu baca."
Steven Lou serta-merta melepas pelukan, kemudian kembali memandang tangan kanannya yang memegang amplop dan kertas, di sana ternyata masih ada satu kertas selebaran yang bergambar warna-warni semarak. Steven Lou segera memperhatikan dengan saksama, juga membaca tulisan yang tertera.
__ADS_1
"Waooo! I-ini serius?"
[Bersambung]