Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
BERTEMU KEMBALI [KEMBALI KE MASA SEKARANG]


__ADS_3

Tin tin tin tiiin ....


Suara klakson sebuah truk membuyarkan lamunan Jiang Lizqi. Menyadari bahwa mobilnya keluar jalur, dia buru-buru membanting setir ke kiri dan lepas kontrol hingga melaju terlalu kencang dan akhirnya terperosok di bahu jalan. Untung saja di jalur kirinya tidak ada kendaraan melintas, kalau ada tabrakan pasti tidak bisa dihindari.


Setelah menginjak rem dan mobil aman berhenti di tepi jalan, Jiang Lizqi langsung menunduk di atas lingkar kemudi. Napasnya ngos-ngosan, bahkan suara detak jantung pun bisa dia dengar dengan jelas.


"Terima kasih, Tuhan," gumamnya sembari mengangkat kepala, lalu mengusap wajah yang pucat dan berkeringat.


Untuk beberapa saat dia tidak bergerak. Hanya dada dan bahunya saja yang turun-naik tidak beraturan. Segala pikiran buruk melintas membuatnya bersyukur lebih banyak lagi karena selamat dari maut.


Membayangkan dirinya dijemput maut tanpa sempat bertatap muka dengan Steven Lou terlebih dahulu, tidak terasa cairan bening pun meleleh.


"Honey." Dia bergumam sambil menyeka mata dan pipinya. "Sebentar lagi aku sampai."


Setelah itu, Jiang Lizqi kembali mengatur napas sampai detak jantungnya benar-benar netral, baru kemudian melaju lagi. Gara-gara nyaris celaka barusan, kedua tangannya masih terasa goyah saat mengemudi.


Sebenarnya Jiang Lizqi sangat frustrasi karena merasa kecepatan standar itu begitu lambat. Namun, apa boleh buat, seluruh sarafnya masih terasa kacau setelah kejadian horor barusan sehingga nyalinya pun ciut. Bahkan tanpa sadar kecepatan yang dianggap standar itu sebenarnya adalah kecepatan di bawah standar.


Setelah beberapa waktu dilalui dengan penuh ketegangan dan kecemasan, akhirnya Jiang Lizqi pun sampai di depan rumah orang tuanya. Rumah di mana dulu dia tumbuh dewasa penuh dengan cinta dan kasih sayang. Rumah yang dulu selalu dia anggap sebagai surga.


Tanpa memedulikan tetesan air mata langit yang masih terus membasahi bumi, Jiang Lizqi keluar dari mobil tanpa mau susah-susah mengambil payung dari bagasi.


Dia begitu ingin segera bertemu Steven Lou. Langkahnya sangat tergesa, seolah tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Akan tetapi, saat yang membuka pintu untuknya adalah sang papa, dia langsung terpaku di tempat dengan wajah gugup.


"Pa-papa ...," panggilnya lirih.


Jiang Hun hanya diam terpaku, matanya memerah menatap intens tanpa berkedip. Entah apa yang dia pikirkan saat wajahnya terlihat mengeras dengan rahang berdenyut-denyut seperti sedang menguyah benda alot.


Melihat sikap Jiang Hun yang masih sama seperti dulu, hati Jiang Lizqi pun menciut. Dia pun menunduk. "Aku hanya ingin menjemput suamiku," ujarnya lirih.


Tidak ada respons dari Jiang Hun, tetapi beruntunglah, Xiao Yauran datang. "Lizqi!" Perempuan itu berseru girang dan langsung menghambur ke dalam pelukan putri semata wayangnya. "Akhirnya kamu pulang."


Xiao Yauran mendekap putrinya erat-erat tanpa memedulikan tatapan Jiang Hun yang tajam menusuk.


"Ma, di mana dia."

__ADS_1


Xiao Yauran melepas pelukan. "Ayo, ikut mama."


Perempuan itu langsung membawa Jiang Lizqi masuk tanpa basa-basi terlebih dahulu dengan Jiang Hun. Sesampai di depan pintu kamar yang dulunya milik Jiang Lizqi, Xiao Yauran menghentikan langkah.


Perempuan itu menatap putri semata wayang yang sudah selama empat tahun ini jauh dari pandangan dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya yang bergetar tersenyum lebar. Sembari mengelus pipi si buah hati yang selama ini sangat dirindukannya, dia berkata,


"Masuklah. Ngobrolnya nanti saja."


"Mama." Jiang Lizqi memeluk mamanya erat-erat. "Maafkan aku, Ma."


Sambil mengelus punggung putrinya, Xiao Yauran berkata lembut, "Sudah, tidak apa. Masuklah dulu, lihat keadaannya. Setelah itu, kita ngobrol."


Jiang Lizqi menarik diri. Sambil mengangguk-angguk kecil, menghapus air mata yang membasahi pipinya. Kemudian, dengan perlahan membuka pintu.


Begitu melihat Steven Lou terbaring lemah dengan wajah pucat pasi, dia pun bergegas masuk---melupakan sang mama yang masih berdiri memperhatikannya. Namun, tidak lama kemudian perempuan itu pun beranjak pergi.


Jiang Lizqi duduk di tepi pembaringan dengan perlahan dan hati-hati karena tidak ingin mengusik tidur Steven Lou. Akan tetapi, baru saja bokongnya mendarat, suaminya tiba-tiba bergerak gelisah dalam tidur sambil memanggil-manggil namanya. Segera saja Jiang Lizqi meraih tangan sang terkasih lalu meremasnya lembut.


"Aku di sini, Honey." Jiang Lizqi mengecup punggung tangan Steven Lou, lalu membelai pipinya yang putih pucat dan terasa hangat.


"Beib,” panggilnya lirih dengan senyum lebar terkembang sembari berusaha bangun.


Jiang Lizqi segera melingkarkan lengan kanan ke punggung Steven Lou untuk membantunya duduk. Selagi menatap gadis terkasihnya, senyum senantiasa menghiasi bibir Steven Lou. Dia berpikir, entah mengapa rasa bahagia yang memenuhi kalbunya sekarang ini terasa berbeda. Rasanya seperti seseorang yang telah berpisah dengan kekasihnya dalam waktu yang lama dan pada akhirnya bisa bertemu kembali.


Alih-alih membalas tersenyum, Jiang Lizqi justru memberengut, juga mendelik tajam. Steven merasa ada yang tidak beres, senyumnya pun perlahan memudar.


"Kamu kenapa, Beib?"


"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu ada di sini dan apa yang  terjadi sampai kamu demam tinggi?"


"Hufh?"


Steven Lou mengerutkan alis. Untuk sesaat menatap Jiang Lizqi dengan ekspresi bingung, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Begitu menyadari di mana sekarang dirinya berada serta kembali mengingat apa yang telah dilakukannya, dia menatap Jiang Lizqi dengan raut wajah bersalah.


"Maaf, aku sudah berbohong," ucapnya lirih.

__ADS_1


"Kenapa tidak mendengarkanku?" Nada suara Jiang Lizqi tegas, tetapi juga lembut, seperti seorang ibu sedang menasihati anaknya yang bandel. "Kamu tahu kalau aku tidak mungkin dimaafkan, kan? Lagi pula aku ini tidak pantas dimaafkan. Kesalahan yang aku lakukan terlalu besar. Aku sudah pasrah dan terima salah. Selain kamu, aku tidak menginginkan apa-apa lagi, dan hanya kamu yang saat ini aku miliki. Kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi padamu, aku harus bagaimana?" 


Mata Jiang Lizqi berkaca-kaca, Steven Lou buru-buru merengkuhnya ke dalam pelukan hangat.


"Beib, Maaf. Aku hanya ingin memberimu hadiah istimewa. Aku ingin kamu mendapatkan kembali kasih sayang dari orang tuamu."


"Tidak perlu melakukan itu. Semua salahku. Aku yang tidak mendengarkan nasehat mereka. Aku yang telah memilih pergi. Aku ...."


Jiang Lizqi tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Kerongkongannya bagai tercekik karena berusaha menahan diri supaya tidak menangis.


"Maaf. Aku sungguh minta maaf," Steven Lou berbisik lembut sambil terus membelai punggung ringkih sang tambatan hati.


Jiang Lizqi menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan perlahan untuk menetralkan perasaannya yang kacau.


Setelah itu, mempererat pelukan dan berkata, "Terima kasih atas cinta yang begitu besar. Kamu harus tau, itu adalah hadiah teristimewa yang tak terhingga harganya. Bisa selalu bersamamu sampai maut memisahkan, itu sudah cukup bagiku."


Steven Lou tertawa kecil. "Baiklah. Aku mengerti dan sekali lagi, maafkan aku."


Jiang Lizqi melepas pelukan dan menarik diri. Sembari menangkup kedua sisi wajah Steven Lou, dia berkata, "Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padamu karenaku, aku pasti tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Cukup sekali aku melihat papaku mengusir dan menendangmu bagai binatang. Apa kali ini dia melakukannya lagi?”


Dengan mantap Steven Lou menggeleng, dan saat berbicara pun dengan lancar berdusta, "Papamu memang mengusirku, tapi tidak sampai menendangku." Lalu dalam hati menambahkan, Dia hanya mendorongku hingga jatuh dan terguling di tangga teras.


"Aku tidak akan bertanya lagi, kenapa kamu sampai demam. Aku tidak ingin memikirkan apa pun yang bisa membuatku merasa ngeri. Sekarang, sebaiknya kita menginap di hotel saja, dan besok pulang untuk mengadakan pesta kecil-kecilan. Aku ingin mendengar ucapan ulang tahun untuk pertama kali darimu setelah sekian lama."


Steven Lou tersenyum lebar. "Finally,"  ucapnya sambil kembali merengkuh Jiang Lizqi ke dalam pelukan erat, hangat dan menengkan. "I love you. Really really love you. I love you more than anything."


"Aku bahagia bersamamu. Kamu segalanya untukku. Berjanjilah untuk tidak berbuat bodoh lagi di masa depan."


"Aku janji." Steven Lou melepaskan pelukan, lalu mencium bibir Jiang Lizqi dalam-dalam.


Di depan pintu kamar, Jiang Hun yang sengaja menguping, wajahnya terlihat begitu merana. Ungkapan kasih sayang mereka telah menyentil nuraninya. Seperti dia yang sudah menganggap Jiang Lizqi mati, ternyata begitu pun sebaliknya, Jiang Lizqi benar-benar sudah tidak butuh lagi dianggap ada. Putri semata wayangnya hanya menganggap Steven Lou adalah keluarga satu-satunya.


Entah mengapa rasanya ada sesuatu yang benar-benar hilang dari hati saat menyadari hal itu. Setelah empat tahun lamanya, baru sekarang inilah dia merasa benar-benar kehilangan, dan tiba-tiba saja rasa tidak rela itu menyelinap di kalbu.


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2