![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Sambil memegangi kantong es batu yang dipergunakan untuk mengompres hidung mimisan akibat terbentur pintu, Steven Lou terus mendelik kesal pada Jiang Lizqi yang duduk bersandar malas.
Si Tukang Senyum itu terkantuk-kantuk di sofa sebelahnya. Bahkan setelah sempat turut panik serta dengan cekatan menyiapkan alat kompres, dia langsung kembali loyo begitu tubuhnya mendarat di sofa.
Lou Haikuan yang duduk di sebelah Steven Lou, memperhatikan gadis itu dengan perasaan miris dan prihatin. Dia kasihan, Jiang Lizqi pasti sangat kelelahan.
"Dasar bodoh tidak punya mata." Steven Lou menggerutu dengan suara sengau.
Meski belum melupakan kebaikan Jiang Lizqi yang telah merawatnya kemarin malam, tidak lantas membuatnya memaafkan kecerobohan gadis itu barusan. Kecerobohan yang hampir saja membuat tulang hidungnya patah. Sedari tadi dia terus saja merutuk dan marah-marah tanpa merasa kasihan walau keadaan Jiang Lizqi sangat menyedihkan.
"Steven, Sudahlah. Lihat, keadaannya tidak lebih baik darimu." Lou Haikuan menasihatinya.
Steven Lou langsung saja meradang. "Tidak lebih baik apanya? Dia tidak merasakan sakit. Hanya mengantuk. Bagaimana bisa dibandingkan?" Suara sengau tidak menghalangi pemuda itu untuk terus mengoceh.
Jiang Lizqi menutup kedua telinganya dan berlagak tidak mendengar. Sungguh, dia tidak peduli kalaupun si arogan itu akan terus mengoceh sepanjang waktu, sepanjang hari ataupun sepanjang jalan kenangan. Terserah, masa bodoh pokoknya.
Yang Jiang Lizqi inginkan sekarang hanyalah tidur. Dia merasa seluruh tubuh sangat lemas, bahkan untuk melangkah ke kamar saja rasanya tidak sanggup. Itulah yang membuatnya bertahan di situ meski harus mendengar segala ocehan Steven Lou yang terkadang terasa menyakitkan.
"Sudah, cukup. Biarkan dia istirahat," ujar Lou Haikuan tegas.
"Enak saja istirahat setelah membuat aku seperti ini." Kali ini Steven Lou hanya menggerutu dalam gumaman.
Akan tetapi, tanpa disangka-sangka kalimatnya barusan justru berhasil membangunkan iblis dalam diri Jiang Lizqi yang sedari tadi berusaha dikendalikannya. Tiba-tiba saja gadis itu duduk tegak dan matanya yang memerah akibat mengantuk menatap tajam. Steven Lou tersentak, begitu pula Lou Haikuan. Keduanya menatap bingung, juga ngeri pada cara gadis itu menatap.
"Kamu memang tidak punya hati, Steven Lou," ujar Jiang Lizqi penuh penekanan.
Yang dikatai pun seketika emosi dan sudah hendak membalas, tetapi ternyata kalah cepat oleh Jiang Lizqi yang sepertinya tidak lagi ingin mengalah. Tidak bisa lagi masa bodoh.
"Aku sudah kenyang mendengar segala sumpah serapahmu. Sekarang giliranmu yang mendengarkan. Aku tanya padamu, gara-gara siapa aku tidak tidur semalaman, hah?"
Meski ingin mengatakan, aku tidak pernah memintamu melakukan itu, tetapi Steven Lou tidak melontarkannya. Entah kenapa, mulutnya seperti terkunci. Hanya matanya saja yang mendelik.
Seperti bisa membaca pikiran Steven Lou, Jiang Lizqi berkata, "Kalaupun kamu merasa tidak pernah memintaku untuk melakukannya, tapi setidaknya hargailah. Aku pun sebenarnya tidak ingin berurusan denganmu. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mau terlibat masalah. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan sebagai manusia yang punya hati. Apa kamu tahu apa yang hampir aku alami saat dalam perjalanan pulang?"
__ADS_1
Meski tatapan marah Jiang Lizqi hanya terfokus pada Steven Lou, tetapi Lou Haikuan juga turut merasakan efeknya. Berdua hanya terdiam, seperti murid bandel yang sedang dimarahi oleh kepala sekolahnya.
"Hidungmu hanya terbentur pintu. Aku tahu itu pasti sangat sakit, tapi paling tidak nyawamu tidak dalam bahaya. Asal kamu tahu, aku pulang seperti orang berjalan dalam tidur. Kalau pengemudi mobil itu tidak cekatan mengerem, mungkin aku tidak akan sempat merasakan sakit lagi, tapi langsung tewas."
Meski terkejut dan ngeri, Steven Lou tidak menunjukkannya, berbeda dengan Lou Haikuan yang wajahnya langsung menegang. Lou Haikuan hendak berbicara, tetapi Jiang Lizqi mendahuluinya,
"Aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Sekarang aku hanya ingin istirahat dengan tenang."
Gadis itu bangkit dari duduk. Dengan sedikit sempoyongan mengayun langkah, yang lain hanya terdiam menatapnya. Tiba-tiba Jiang Lizqi terhenti, lalu menoleh.
"Maaf." Hanya mengucap satu kata itu, kemudian kembali melangkah menuju ke kamarnya.
"Sial!" Steven Lou mengumpat kesal sembari mencampakkan kantong es batu ke lantai.
"Tidak ada alasan untuk kamu marah. Apa pun yang dikatakan Jiang Lizqi, benar adanya."
Steven Lou memberi tatapan maut pada kakak sepupunya, tetapi yang bersangkutan tampak santai saja. Lou Haikuan membalas tatapan marah itu dengan tatapan teduh.
"Aku mengerti suasana hatimu sangat buruk. Tapi tolong, cobalah untuk sedikit saja memahami perasaan orang lain. Apa kamu tidak kasihan padanya?"
Perkataan Jiang Lizqi terus terngiang di telinga, membuat amarahnya tak kunjung mereda. Namun, di lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya dia pun sependapat dengan Lou Haikuan.
Apa yang dikatakan Jiang Lizqi benar adanya.
Setelah dirasa cukup dan kondisi Steven Lou pun sudah membaik, Lou Haikuan pun segera mengajaknya pulang tanpa menunggu Jiang Lizqi bangun. Sesampai di rumah, Steven Lou melangkah lebar-lebar meninggalkan Lou Haikuan yang berjalan santai di belakangnya.
Di ruang tengah dia berpapasan dengan sang ibu. Sebenarnya Steven Lou terkejut karena tidak menyangka kalau ibunya ada di rumah. Akan tetapi, tidak ambil pusing. Jangankan menyapa, dia justru bersikap seolah tidak melihatnya dan terus melangkah naik ke lantai dua.
Nyonya Lou yang sudah hendak menyapa pun akhirnya urung. Dengan raut wajah murung mengikuti langkah putranya dengan pandangan.
"Biarkan saja dulu, Bi."
Nyonya Lou spontan menoleh, dan memaksakan diri tersenyum pada keponakannya yang datang menghampiri sambil menenteng skateboard Steven Lou.
__ADS_1
"Terima kasih, Haikuan. Bibi tidak tau apa yang akan terjadi pada anak itu kalau tidak ada kamu."
Lou Haikuan tersenyum teduh, merangkul akrab sang bibi, lalu mengajaknya melangkah bersama ke ruang keluarga. Sementara itu, Steven Lou yang sudah berada di kamar sedang berbicara di sambungan telepon sambil tengkurap.
"Jangan sampai terlambat, Paman. Tadi pagi dia tidak makan apa pun."
"Baik, Tuan Muda. Apa masih ada lagi yang harus saya lakukan?"
"Jam empat sore biasanya dia akan pergi mengajar. Paman tolong antar dia. Pokoknya antar ke mana pun dia mau pergi."
"Dengan senang hati, Tuan Muda."
"Jangan lupa memberi kabar."
"Baik, Tuan Muda."
Steven Lou mematikan sambungan, lalu meraba hidungnya yang masih memerah dan sakit.
"Aku akan membalasmu, Tukang Senyum," gumamnya kesal, tetapi tidak lama kemudian terkekeh sarkas, menertawakan dirinya sendiri.
Jangankan orang lain, bahkan dia sendiri bisa merasakan dengan jelas keanehan yang terjadi pada dirinya. Satu hati memiliki dua rasa berbeda terhadap satu orang. Rasa benci yang membuatnya ingin selalu melihat orang itu menderita dan rasa aneh yang dia sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa. Yang jelas rasa itu sangat menggelitik jiwa dan melahirkan keinginan untuk selalu melindungi serta memberikan kemudahan baginya.
"Mungkin aku sudah mulai gila."
Steven Lou mengacak gemas rambutnya. Setelah itu, meraih ponsel yang kemarin ketinggalan di rumah, lalu mengoperasikannya. Dahi pemuda itu seketika mengernyit dan matanya pun menyipit ketika melihat daftar panjang riwayat panggilan dari nama kontak; Nyonya Besar Lou (ibunya), Big Bro [Lou Haikuan], dan Mr. Phak.
Matanya terpaku pada nama Mr. Phak dan dadanya kembali berdenyut sakit. Kesempatan pertama yang dia dapatkan telah direnggut. Memang bukan kompetisi profesional. Hanya sebuah ajang balapan dipelopori oleh beberapa klub yang beranggotakan orang-orang berduit pecinta balap, tetapi iming-iming bahwa akan ada pencari bakat yang hadir, membuat kompetisi itu menjadi sangat berarti bagi Steven.
Dia sudah lama vakum, terhitung sejak mulai dirawat di rumah sakit gara-gara percobaan bunuh diri, tetapi baru-baru ini dia sudah berniat akan aktif lagi dan menjadikan kompetisi itu sebagai waktu yang tepat untuk kembali. Rencana gagal total karena dicurangi, bagaimana tidak marah?
"Aku akan membuat perhitungan denganmu, Shi Yijie keparat. Kamu juga ShenJiaying," gumamnya geram dengan rahang mengetat. Hingga giginya terdengar bergemeretak.
Sesaat kemudian wajah geramnya berubah syok, teringat bahwa dia tidak merasa membawa skateboard-nya pulang. Dahinya mengernyit dalam-dalam untuk mengingat. Dia tidak tahu benda kesayangannya itu ada di mana. Di bar yang kemarin dia datangi atau di apartemen Jiang Lizqi. Tidak ada seorang pun yang menyinggung tentang benda itu dan karena suasana hatinya sangat buruk, dia pun lupa.
__ADS_1
[Bersambung]