Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
AKU INGIN KAMU SUNGGUHAN JADI PACARKU


__ADS_3

Jiang Lizqi hanya bisa terpaku, sambil mencoba meyakinkan diri bahwa barusan tidak salah dengar. Setelah itu, tiba-tiba dia bertindak konyol, menempelkan punggung tangan kanannya ke dahi Steven Lou.


"Tidak demam," gumamnya.


"Aku akan membayarmu." Steven Lou masih saja terlihat acuh tak acuh. Bahkan saat tangan Jiang Lizqi menyentuh dahinya, sama sekali tidak hirau.


"Ide gila macam apa itu? Kalau mau gila, gila saja sendiri. Jangan ajak-ajak."


Akhirnya Jiang Lizqi pun hanya menanggapi ujaran Steven Lou dengan gurauan. Padahal Steven Lou serius dengan yang diucapkannya. Pemuda itu berniat menyakiti hati ibunya untuk membalas atas ketidakadilan yang sudah diterimanya selama ini.


"Aku serius." Steven Lou membalas sambil masih saja asyik memainkan ponselnya.


Terkekeh ringan sesaat, lalu Jiang Lizqi berkata sambil mengerling jahil, "Kalau begitu aku punya syarat."


"Katakan."


"Aku tidak mau berpura-pura jadi pacar. Maunya jadi pacar sungguhan. Bagaimana?" Ini pun Jiang Lizqi katakan dengan maksud hanya bercanda.


Steven Lou serta-merta menaikan pandangan, menatap Jiang Lizqi intens dengan sorot mata datar dan wajah tanpa ekspresi sehingga Jiang Lizqi tidak bisa menebak apa yang sedang terlintas di benaknya. Namun, dia menduga kalau Steven Lou pasti tidak suka dengan gurauannya.


"Bagaimana?" desaknya. "Kalau sungguhan kan berarti kamu tidak perlu membayarku. Impas. Kamu ingin aku pura-pura jadi pacarmu, dan sebagai imbalan aku ingin kamu sungguhan jadi pacarku."


Setelah itu, Jiang Lizqi terbahak-bahak karena yakin sekarang Steven Lou pasti tengah dilema termakan jebakannya. Namun, sesaat kemudian dia harus tersedak ludah saat Steven Lou berkata, "Aku Setuju."


Hanya dua  kata diucapkan dengan lugas, lalu kembali memainkan ponselnya tanpa hirau pada Jiang Lizqi yang terbatuk-batuk.

__ADS_1


"Sialan," umpat gadis itu di sela-sela batuknya sambil meletakkan kaleng minuman yang sudah kosong ke atas meja. "Sudah malam, aku mau tidur." Dia pun segera berdiri dan tergesa-gesa meninggalkan Steven Lou. "Jangan lupa periksa pintu dan matikan lampu." Sesaat sebelum masuk ke kamar dia berteriak. "Oh, iya, buang juga kaleng minumannya."


Sepeninggal Jiang Lizqi, Steven Lou menurunkan ponsel lalu menatap ke arah gadis itu pergi. Bibirnya melengkung tajam hingga kerutan di kedua pipinya terkumpul di bawah mata.


Sekitar satu jam kemudian Steven Lou baru beranjak dari tempatnya, pergi ke dapur untuk membuang kaleng minuman, lalu menyusul Jiang Lizqi ke tempat tidur.


Hanya ada satu kamar dan satu tempat tidur. Mereka pun terpaksa berbagi walaupun awalnya sempat berdebat siapa yang harus tidur di kamar dan siapa yang harus tidur di tatami.


Steven Lou yang statusnya hanya menumpang pun tidak mau mengalah, membuat Jiang Lizqi sempat uring-uringan.


Akhirnya, sebagai tuan rumah yang baik dan didukung oleh uang tunjangan yang telah diberikan Nyonya Lou, Jiang Lizqi pun tidak keberatan berbagi tempat tidur. Pembaringannya cukup luas dibagi dua menggunakan guling sebagai pembatas.


Perlahan Steven Lou naik ke tempat tidur, lalu berbaring miring menghadap punggung Jiang Lizqi yang membelakanginya. Dari tarikan napasnya yang ringan dan teratur, Steven Lou tahu si Tukang Senyum itu pasti sudah tidur. Lagi pula, memang seperti itulah dia. Begitu kepala menyentuh bantal tidak butuh waktu lama untuk terlelap.


Steven Lou memandangi bagian belakang tubuh Jiang Lizqi dengan sorot mata teduh, punggung sempit, pinggang ramping, lengannya juga ramping, secara keseluruhan postur tubuh gadis itu bisa dibilang kurus, tetapi tenaganya bagai kuda. Setiap hari beraktivitas tanpa kenal lelah. Dia hanya akan merespon rasa lelah itu ketika raga sudah rebah di pembaringan.


Bibirnya yang sedikit terbuka terlihat menggemaskan, mengundang ibu jari Steven Lou untuk menyentuh, lalu mengusapnya. Inilah alasan kenapa Steven Lou masuk ke kamar selalu jauh lebih lambat. Dia menunggu sampai Jiang Lizqi benar-benar sudah terlena dalam buaian mimpi, supaya bisa dengan leluasa memandangi juga menyentuh setiap bagian wajahnya. Bahkan dia dengan berani menangkup wajah gadis dan lembutbmengelus pipinya menggunakan ibu jari.


Kenapa kita tidak bertemu sebebelum aku mengenal manusia keparat itu? Seandainya kita bertemu lebih awal, apa mungin keadaanku akan lebih baik dari yang sekarang? Apa kamu akan menyukaiku? Jiang Lizqi, aku mohon jangan membenciku.


Malam pun semakin larut. Steven Lou perlahan meraih tangan Jiang Lizqi, lalu menautkan jari-jari mereka. "Semoga mimpi indah." Dia menggumam, lalu perlahan mengecup punggung jemari Jiang Lizqi sambil menutup mata.


Steven Lou dan Jiang Lizqi memiliki kebiasaan tidur yang sama, yaitu tenang, tidak banyak mengubah posisi hingga pagi. Hal itu membuat Jiang Lizqi kerap mendapati tangannya sedang bertaut dengan tangan Steven Lou di pagi hari.


Bahkan pernah, beberapa kali bangun dalam dekapan hangatnya dengan kepala menempel nyaman di dada. Seperti yang pagi ini terjadi misalnya. Begitu kembali dari pulau mimpi, aroma maskulin yang sangat khas langsung menembus penghidu, dan pinggangnya terasa dibebani oleh lengan yang menindih.

__ADS_1


Jiang Lizqi buru-buru membuka mata, lalu dengan perlahan menyingkirkan lengan Steven Lou dari pinggang, setelahnya bergegas bangun dan turun dari pembaringan. Sebelum ke luar, dia menyelimuti Steven Lou terlebih dulu.


Setelah melakukan aktivitas pagi, Jiang Lizqi pun bergegas pergi ke kampus bersama Ji Yu yang sengaja datang menjemputnya. Begitu suara pintu menutup terdengar, Steven Lou segera bangun dan tanpa menyantap sarapan terlebih dahulu segera beraktivitas.


Pertama-tama dia memasukkan beberapa potong pakaian kotor miliknya juga milik Jiang Lizqi ke dalam mesin cuci. Hanya pakaian luar karena Jiang Lizqi selalu mencuci pakaian dalamnya saat mandi.


Steven Lou belum pernah melakukan itu sebelumnya, tetapi dengan diam-diam dia belajar dari mengamati Jiang Lizqi. Sambil menunggu cucian rampung; dia merapikan kamar, mengelap perabotan yang ada, membersihkan seluruh lantai, melipat pakaian yang teronggok di atas sofa, bahkan dia juga memasak makan siang dengan bahan seadanya dari kulkas.


Meski---akibat kurang berpengalaman soal urusan dapur---jari telunjuk dan jari manisnya tersayat pisau dan makanan yang dia olah pun rasanya kacau. Akan tetapi, Steven Lou merasa puas karena pada akhirnya bisa melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri juga orang lain.


Steven Lou memang sudah terbiasa dengan aktivitas yang menguras energi, tetapi tidak pernah menyangka bila ternyata pekerjaan rumah tangga itu jauh lebih melelahkan. Dia jadi merasa kasihan terhadap semua pekerja yang ada di rumah ibunya, apalagi dia sering membuat mereka kerepotan.


Malam ini, seusai menyantap mi instan,  Steven Lou berbaring di sofa ruang depan sambil bermain game di ponsel. Ponsel itu dibelikan oleh Jiang Lizqi menggunakan tunjangan dari Nyonya Lou. Sengaja beli yang harganya sangat murah supaya Steven Lou tidak curiga.


Pemuda itu bermaksud menunggu Jiang Lizqi pulang. Namun, raga yang didera letih tidak bisa diajak kompromi, perlahan dan pasti rasa kantuk pun menyerang. Seperti terkena mantra tidur, kelopak mata yang tadinya terbuka sempurna berangsur terasa berat dan perlahan mengatup.


Bersamaan dengan kepala yang terkulai miring, ponselnya jatuh dari pegangan dan mendarat tepat di dada. Tangan kanan yang tadi memegang benda pipih persegi panjang itu akhirnya terlempar ke samping hingga menjuntai di tepi sofa.


Dengkur halus mulai terdengar seiring dengan dada yang naik turun lembut. Alam mimpi telah mendekap sang pangeran songong nan arogan ke dalam buaian. Mematikan radar seluruh indra yang dimilikinya hingga tidak akan ada yang mampu mengusik.


Jantung sang waktu berdetak seirama dengan jarinya yang terus bergerak, menyeret detik ke menit dengan suara ketukan lirih nan konsisten hingga mencapai kesempurnaan.


Keheningan yang telah berlangsung hampir selama dua jam itu pecah kala terdengar suara gemerincing dari arah luar apartemen, kemudian disusul oleh entakan kasar pada gagang pintu. Jiang Lizqi tidak menyangka Steven Lou tidur di sofa, langkahnya seketika terhenti dan sejenak terpaku.


"Astaga. Kenapa tidak tidur di kamar?"

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2