![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Ji Yu garuk-garuk kepala yang tidak gatal untuk menutupi gugup. Sekarang dia ingat bahwa Steven Lou pernah meneleponnya, tetapi rasanya itu sudah lama sekali.
"Ponselmu kenapa tidak bisa dihubungi?" Ji Yu menatap Jiang Lizqi dengan mata memicing.
"Rusak." Jiang Lizqi menjawab ketus dan acuh tak acuh.
"Kenapa tidak diperbaiki. Sudah hampir empat bulan, berarti kamu dan si songong itu tidak pernah saling menghubungi."
Jiang Lizqi dengan malas-malasan menceritakan apa yang terjadi dan tiba-tiba Ji Yu merasa jahat karena tidak menganggap serius permintaan Steven Lou waktu itu. Melihat wajah muram Jiang Lizqi, dia semakin merasa bersalah.
"Qiqi, sebenarnya ... emh ... anu ... itu ... anu ...."
"Mau bilang apa, ya, ngomong saja! Tidak usah anu itu anu itu!"
Kehadiran Ji Yu membuat Jiang Lizqi seperti mendapat sasaran empuk untuk dijadikan pelampiasan kemarahan yang akhir-akhir ini terpenjara di dalam jiwa. Gerak-gerik Ji Yu yang terasa aneh dengan cepat menyulut emosinya.
"Sebenarnya, sehari setelah ulang tahunmu, Steven menghubungi aku---"
"Hah?! Benarkah?! Dia bilang apa?" Jiang Lizqi duduk tegak menghadap Ji Yu, menatap penuh harap.
"Emh, dia memintaku untuk mengunjungimu dan menyampaikan kalau dia harus ke Kanada karena ibunya kritis di rumah sakit."
"Ya Tuhan! Lalu kenapa kamu tidak pernah datang, huh?!"
Ji Yu megap-megap saking terkejutnya. Seumur-umur belum pernah dia melihat Jiang Lizqi meledak dan lepas kendali seperti itu.
"Wa-waktu itu aku sedang sibuk jadi tidak fokus dan setelahnya lupa."
Jiang Lizqi menatap nanar. "Yuyu, aku membencimu! Mana ponselmu, berikan cepat!" Jiang Lizqi tidak sabaran dan sudah hendak mencari sendiri ponsel Ji Yu di saku, tetapi Ji Yu sudah mengeluarkan, lalu memberikan padanya.
Dengan tangan gemetar Jiang Lizqi menekan nomor Steven Lou, tetapi yang menjawab adalah operator. Mengatakan bahwa nomor sedang berada di luar jangkauan area.
Tidak kehabisan akal, dia beralih ke nomor Lou Haikuan. Dalam situasi seperti ini, dia sangat bersyukur dikaruniai ingatan yang sangat bagus.
"Halo---"
"Kuan Ge, ini aku Jiang Lizqi!" Wajah gadis itu berseri-seri.
"Lizqi. Apa kabar---"
"Di mana Steven? Kenapa nomornya tidak bisa dihubungi? Lalu bagaimana keadaan bibi?"
"Ponsel Steven yang lama hilang. Tapi sekarang mungkin dia sedang dalam perjalanan kembali ke Cina---"
"Benarkah? Kapan kira-kira sampainya?"
__ADS_1
"Aku kurang tau. Tapi bisa jadi hari ini."
Wajah Jiang Lizqi semakin semringah. "Terima kasih, Kuan Ge. Semoga harimu menyenangkan." Dia langsung mematikan sambungan---bahkan tanpa menunggu jawaban tentang kondisi Nyonya Lou---lalu memeluk Ji Yu erat-erat dan mulai terisak perlahan.
Sebelum Ji Yu sempat mengatakan sesuatu, ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk. Jiang Lizqi buru-buru melepaskan pelukan dan membuka pesan tersebut.
Jiang Lizqi, tolong jaga hati Steven. Dia memang selalu terlihat tegar, tapi sebenarnya tidak seperti itu. Ibunya meninggal karena kecelakaan sekitar dua bulan yang lalu. Sekarang dia memikul tanggung jawab besar sebagai pemimpin perusahaan. Tolong, dampingi dia.
"Ya Tuhan." Tangan Jiang Lizqi gemetaran sampai-sampai tidak mampu mempertahankan ponsel yang dipegangnya.
Ji Yu segera mengambil ponsel yang jatuh di pangkuan gadis itu, lalu membaca pesannya dan saat itu juga rasa bersalahnya semakin membengkak. Dia pikir, waktu itu Steven Lou pasti sangat membutuhkan kehadiran Jiang Lizqi, tetapi dia malah abai dan tidak menganggapnya penting. Kalau dia ada di sini, setidaknya Jiang Lizqi bisa menghubungi Steven Lou menggunakan ponselnya.
Meski Ji Yu juga tidak sepenuhnya ingin menyalahkan diri sendiri karena waktu itu dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, dia tetap saja pulang di sore hari dengan membawa beban rasa bersalah.
Setelah itu, hingga malam menjelang dini hari Jiang Lizqi tidak bisa tenang. Dia terus berharap Steven Lou akan datang malam itu juga sehingga hatinya bisa merasa lega. Sekitar pukul setengah dua, tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Seperti tahu pasti bahwa yang datang adalah Steven Lou, dia bergegas bangun, lalu keluar dari kamar.
Namun, ternyata Jiang Hun yang masih belum tidur karena sedang menyaksikan siaran sepakbola, sudah mendahuluinya. Yang datang memang benar Steven Lou. Sekarang sedang memohon-mohon pada Jiang Hun.
"Kamu tidak diharapkan di sini?" Jiang Hun menendang Steven Lou hingga pemuda itu terpental dari teras.
"Papa! Jangan!" Jiang Lizqi menghambur ke luar dan langsung mendatangi Steven Lou yang sedang berusaha bangun. "Steven." Dia membingkai wajah pemuda itu dan menatap penuh cinta dan kerinduan.
"Lizqi, aku merindukanmu." Steven Lou langsung memeluk Jiang Lizqi erat-erat. "Maaf sudah membuatmu lama menunggu."
"Lizqi! Masuk!" Jiang Hun tidak hanya meledak marah, tetapi juga dengan kasar menarik putrinya dari pelukan Steven Lou.
"Pa, aku mohon ijinkan kami bersama."
"Jangan mimpi!"
"Paman!"
"Enyah dari sini!" Jiang Hun menendang Steven Lou yang berusaha meraih tangan Jiang Lizqi.
"Papa, jangan!" Xiao Yauran yang muncul di teras berteriak histeris melihat kelakuan suaminya.
Jiang Hun menulikan telinga dari jeritan sang istri serta rengek memohon Jiang Lizqi dan Steven Lou. Dia terus saja menyeret Jiang Lizqi masuk ke rumah, lalu mengunci pintunya setelah Xiao Yauran juga masuk. Sementara dia sendiri tetap berada di luar untuk memberi Steven pelajaran.
Jiang Lizqi menyaksikan kekejaman ayahnya yang tidak hanya membentak-bentak Steven Lou, tetapi juga memukul dan menendangnya bertubi-tubi, seolah ingin melampiaskan seluruh dendam dari masa lalu pada pemuda itu.
"Papa, hentikan. Aku mohon hentikan! Ma, tolong hentikan papa!" Jiang Lizqi merengek pada ibunya, tetapi perempuan itu hanya menangis tersedu-sedu.
"Aku tidak akan pergi tanpa membawa Lizqi!" teriakan Steven Lou membuat hati Jiang Lizqi pedih, apalagi pemuda terkasihnya itu mulai berlutut. "Aku akan terus berlutut sampai Paman memberi kami restu."
"Jangan mimpi. Kamu mati di bawah tumpukan salju pun aku tidak akan pernah memberikan Lizqi padamu! Coba saja kalau tidak percaya. Keturunan Lin tidak akan pernah diterima di Keluarga Jiang! Kamu camkan itu!"
__ADS_1
Setelah itu, Jiang Hun meninggalkan Steven Lou begitu saja. Ketika dia membuka pintu, Jiang Lizqi hendak menerobos ke luar, tetapi pria itu segera menangkap dan menyeretnya masuk ke kamar dan dikunci dari luar.
Di dalam kamar Jiang Lizqi cemas, bingung, menangis sampai seperti gila. Namun tidak bisa berbuat apa-apa karena kamarnya tidak memiliki jendela yang bisa dijadikan alternatif jalan ke luar.
Detik, menit, terus melaju hingga terakumulasi menjadi satu waktu utuh. Jiang Lizqi yang frustrasi duduk di sudut kamar, di lantai yang dingin sambil menangis akhirnya ketiduran karena terlalu lelah. Sementara itu di ruang depan, Jiang Hun sedang berdebat dengan Xiao Yauran.
Xiao Yauran tidak tega melihat Steven Lou terus berlutut di cuaca yang begitu dingin dan bersalju, tetapi Jiang Hun bersikeras tidak mau memberi pemuda itu kesempatan.
Steven Lou tetap bertahan berlutut di bawah butiran-butiran salju yang terus turun hingga seluruh baju hangatnya telah terkubur oleh warna putih. Waktu terus berlalu, beberapa kali tubuh pemuda itu berayun seperti hendak tumbang, tetapi kemudian kembali tegak.
Jiang Lizqi terbangun karena mimpi buruk, dan langsung teringat pada Steven Lou. Setelah cukup beristirahat, perasaannya menjadi sedikit lebih baik dan bisa berpikir dengan tenang. Dia ingat pada sesuatu yang bisa digunakan untuk membuka pintu secara paksa.
Perlahan dia bangkit, lalu mengeluarkan pisau lipat dari ranselnya. Pisau lipat itu terdiri dari beberapa pisau berlainan ukuran. Hadiah dari Steven Lou waktu mereka pergi berkemah. Dia memasukkan pisau yang paling kecil dan sangat tipis, mengutak-atik beberapa saat hingga akhirnya terdengar bunyi klik dan gagang pintu terasa lebih ringan.
"Syukurlah." Jiang Lizqi buru-buru membuka pintu dan leri ke luar. Terus berlari meskipun berpapasan dengan ayahnya di ruang depan.
"Lizqi berhenti!"
Tepat di depan pintu utama Jiang Lizqi berhenti, lalu menoleh pada papanya. "Aku tidak bisa meninggalkannya, Pa. Ibunya baru saja meninggal karena kecelakaan. Sekarang dia tidak punya siapa pun. Hanya aku. Aku satu-satunya yang dia punya!"
"Dia punya atau tidak punya siapa-siapa, itu bukan urusanmu---"
"Tapi aku sudah berjanji akan selalu ada untuknya!"
"Lalu bagaimana dengan kami, Nak?" Xiao Yauran mendekat, lalu memegangi kedua lengan putrinya sambil terisak-isak. "Kami orang tuamu. Apa kami tidak penting?"
"Ma." Jiang Lizqi memeluk Xiao Yauran. "Apa pun yang terjadi dan sampai kapan pun, kalian tetap orang tua yang paling aku cintai. Kalian dan dia sama pentingnya. Tapi kalian ada di sini, di rumah yang hangat. Sementara dia di luar sana kedinginan. Aku tidak bisa---"
"Sekali kamu melangkah keluar, jangan pernah berpikir untuk kembali. Kami akan mengganggapmu sudah mati."
"Pa, kamu ini ngomong apa?!" Xiao Yauran melepas pelukan putrinya dan menatap nanar sang suami.
"Baik." Jiang Lizqi berkata tanpa ragu. "Dia yang mati ataupun aku, bagi Papa sama tidak pentingnya, kan?"
"Lizqi, mama mohon."
"Ma. Aku tahu, aku tidak akan pernah bisa membalas jasa kalian. Tapi selama ini aku juga tidak pernah meminta apa pun. Aku selalu menuruti apa kata dan mau kalian. Tapi untuk yang satu ini, aku benar-benar memohon. Ijinkan aku memilikinya."
"Lizqi." Xiao Yauran mengulurkan tangan hendak menyentuh kepala putrinya, tetapi yang bersangkutan mundur.
"Maafka aku, Ma, Pa. Aku menyayangi kalian, tapi di luar sana ada seseorang yang hampir beku demi aku. Maaf."
Setelah itu, Jiang Lizqi langsung membuka pintu. Tanpa peduli jerit tangis sang ibu, dia melompati tangga teras dan mendarat tepat di samping tubuh Steven Lou yang sudah tergeletak tidak berdaya.
[Bersambung]
__ADS_1