Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
SIAPA MEREKA?


__ADS_3

Selesai mengajar sekitar pukul sembilan, biasanya Jiang Lizqi langsung pulang tanpa mampir-mampir terlebih dulu. Namun, seiring berjalannya waktu telah terjadi perubahan sangat signifikan dalam jadwal aktivitas hariannya.


Sudah hampir pukul sepuluh, Gadis itu sekarang masih berada di sebuah rumah makan siap saji, sedang berdiri mengantre di bagin pengambilan pesanan. Sebelum gilirannya tiba, masih ada empat nomor antrean lagi yang harus dilayani. Pemuda yang bertugas menyajikan pesanan di bagian urutannya, meski tidak murah senyum seperti petugas yang lain, parasnya sangat menawan dan tampak paling menonjol. Postur tubuhnya juga sangat menyegarkan mata untuk dilihat, tinggi dan atletis.


Mata Jiang Lizqi terus terpaku padanya yang tengah sibuk ke sana kemari, mengambil makanan dari tempat asalnya, lalu meletakkan dalam kotak karton yang sudah disiapkan di atas nampan-nampan sajian. Sedang asyik mengamati pemuda itu, dia digelitik oleh ocehan gadis-gadis yang mengantre di belakangnya.


"Dia tampan sekali. Aku pengen kenalan."


"Makanya. Biasanya aku order pesan antar, sekarang langsung datang dan makan di sini biar bisa lihat dia."


"Dia baru? Perasaan belum pernah lihat."


"Sepertinya iya. Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu."


"Kenapa tidak jadi model saja, sih. Sayang sekali setampan itu hanya jadi penyaji ayam goreng."


"Rasanya pengen aku karungin, bawa pulang simpan di kamar."


"Buat teman tidur, jadikan bantal peluk."


Jiang Lizqi tersenyum geli. Dalam hati bersyukur karena dirinya tidak perlu berandai-andai seperti gadis-gadis itu, karena ....


"2991." Petugas tampan itu memanggil nomor pesanan, lalu menaikan pandangan, wajah kakunya seketika berseri saat bertatapan dengan Jiang Lizqi. "Hai. Tunggu di tempat biasa, kan?" Dia bertanya dengan suara rendah sambil menyerahkan nampan berisi pesanan pada gadis itu.


"Yups. Selamat bekerja." Jiang Lizqi menerima pesanannya sambil tersenyum lebar, lalu mengedipkan mata jahil sebelum akhirnya beranjak.


Penyaji makanan yang tidak lain adalah Steven Lou, tersenyum sambil terpaku menatap kepergiannya.


Gadis-gadis yang tadi berkasak-kusuk tentang si petugas tampan, menatap iri pada Jiang Lizqi yang berhasil membuat pemuda itu tersenyum meski cuma tipis. Salah seorang gadis dengan percaya diri maju, padahal nomor pesanannya belum dipanggil.


"Hai ...," sapa gadis itu sambil menyelipkan rambut di lipatan telinga dengan gestur manja dan genit.


Senyum Steven Lou sirna, menatap gadis itu datar lalu acuh tak acuh memanggil nomor pesanan yang sudah siap, "2993, 2995." Setelah itu langsung membalik badan untuk menyiapkan pesanan yang lain. Membuat wajah gadis itu seketika memerah, dan teman-temannya tertawa cekikikan.


Ya, begitulah sekarang. Setiap pulang dari mengajar Jiang Lizqi harus mampir dulu ke sebuah restoran cepat saji terdekat yang buka 24 jam untuk menunggu Steven Lou selesai bekerja. Setelah itu pulang bersama mengendarai sepeda motor.


Setelah menunggu hampir satu jam di bangku paling sudut, bangku yang seolah-olah disiapkan khusus untuknya karena setiap kali datang pasti di situlah Jiang Lizqi duduk, sambil mengerjakan tugas kuliah. Akhirnya Steven Lou menghampiri sambil membawa nampan berisi makanan.


Jiang Lizqi menatapnya dan terbengong. Sekarang sudah pukul sebelas lebih. "Kamu baru mau makan?"

__ADS_1


Steven Lou hanya mengangguk. Setelah duduk, dia meletakkan kue pai kacang merah yang dikemas dalam karton merah maroon di depan Jiang Lizqi. Setelah itu baru mulai makan. Begitulah dia. Masih tidak banyak bicara, tetapi sikapnya jauh lebih hangat dan penuh perhatian.


"Tidak bisakah mereka membiarkanmu makan tepat waktu?" Jiang Lizqi berujar acuh tak acuh sambil meraih pai kacang merah, lalu menepikan ke samping kiri karena belum ingin memakannya, masih kenyang.


"Rame pengunjung. Bukan hanya aku yang telat makan." Steven Lou membalas dengan mulut penuh dan tanpa mendongak.


Jiang Lizqi mengerti. Karena sekarang adalah malam Minggu makanya lebih banyak pengunjung. Dia pun tidak berkata apa-apa lagi dan lanjut mengerjakan tugas sampai Steven Lou selesai makan.


"Aku ambil tas dulu sekalian ke tempat parkir," ujar Steven Lou sesaat sebelum beranjak dari duduk.


"Oke."


"Wah, wah, wah. Ternyata benar kabar yang aku dengar."


Steven Lou dan Jiang Lizqi serempak menoleh ke asal suara. Empat orang, tiga laki-laki dan satu perempuan tengah berdiri di kisaran jarak dua meter menatap mereka. Yang berbicara tadi suara laki-laki, tetapi tidak tahu yang mana.


Jiang Lizqi tidak mengenal mereka. Jadi, di mengerling Steven Lou karena berpikir mereka pastilah kenalannya. Namun, di wajah pemuda itu seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Datar tanpa ekspresi. Apa itu berarti Steven Lou juga tidak mengenal mereka?


"Lizqi, rapikan barang-barangmu, ikut aku," ajak Steven Lou.


Tanpa bertanya, Jiang Lizqi segera mengemasi buku-bukunya. Namun, gadis yang bersama tiga laki-laki itu tiba-tiba datang dan mengambil salah satu buku dari atas meja. Jiang Lizqi berhasil mencekal pergelangan tangannya dan menggenggam erat-erat.


"Jangan buat keributan di sini," ujar Steven Lou acuh tak acuh. "Lizqi, lepaskan dia, jangan kotori tanganmu."


Si gadis yang tidak lain adalah Shen Jiaying, wajahnya langsung keruh. Setelah Jiang Lizqi melepaskannya, dia langsung bergeser dan berdiri tepat di depan Steven Lou.


Dia terkekeh mencemooh, lalu berujar jahat untuk membalas hinaan Steven Lou barusan, "Jadi benar, pangeran Lou sekarang jatuh miskin karena kalah bersaing dengan saudara tiri pewaris yang sah? Kasihan sekali sampai harus jadi pelayan begini."


"Kamu---" Jiang Lizqi sudah maju hendak melabrak Shen Jiaying, tetapi Steven Lou buru-buru merentangkan tangan untuk mengahalangi.


"Rapikan buku-bukumu. Kita pulang," ujar Steven Lou santai.


Jiang Lizqi membeku, menatap Steven Lou tidak percaya. Pemuda itu tampak tenang-tenang saja, cara bicaranya juga sangat-sangat santai. Tidak ada jejak-jejak temperamen buruk seperti dulu bila sedang kesal. Secara alami Jiang Lizqi pun merasa aman, tidak perlu ada yang dikhawatirkan.


"Oke."


Gadis itu tersenyum lebar, lalu segera memasukkan beberapa buku yang masih tertinggal dalam pengawasan Steven Lou yang terus memandanginya. Pemuda itu sama sekali tidak hirau pada Shen Jiaying dan yang lainnya.


"Sudah. Yuk ...."

__ADS_1


Jiang Lizqi merangkul lengan kanan Steven Lou sangat luwes, seperti sudah terbiasa melakukannya. Dan Steven Lou pun langsung menepuk lembut punggung tangan gadis itu, lalu melangkah bersama menuju ke ruang dalam.


"Hei, Steven! Bagaimana rasanya kalah sebelum bertanding!" Shi Yijie berteriak memprovokasi, tetapi Steven Lou tidak hirau, yang ada malah petugas keamanan datang menegur keempat orang itu.


"Jadi itu orang yang sudah mencurangimu? Aku tidak percaya kamu pernah pacaran sama nenek-nenek itu. Mereka kebetulan datang atau memang sudah tahu sebelumnya kalau kamu bekerja di sini?" Jiang Lizqi berdiri di depan pintu ruang ganti sambil terus mengoceh. "Awas saja kalau mereka berani macam-macam."


Sembari memasukan lubang kaus ke kepala, Steven Lou menjawab, "Dua laki-laki yang berdiri di belakang pernah datang. Mungkin dari mereka, dua keparat itu tahu aku kerja di sini. Soal nenek-nenek, anggap saja waktu itu mataku buta."


Steven Lou keluar dari ruang ganti, Jiang Lizqi langsung berdiri di depannya. "Benar. Waktu itu matamu pasti sedang bermasalah," ujarnya sambil menatap mata Steven Lou lekat-lekat.


Balas menatap sejenak, Steven Lou lalu mencubit main-main pucuk hidung Jiang Lizqi sambil berujar, "Ayo, pulang." Setelahnya, .memutar tubuh gadis itu dan mendorongnya berjalan menuju pintu keluar area parkir indoor.


Waktu itu yang bermasalah jiwaku. Aku yang sangat kesepian dan butuh perhatian telah menggantungkan diri pada orang yang salah. Steven Lou hanya mengucapkannya dalam hati.


Tidak sampai lima menit kemudian, sepeda motor yang mereka kendarai sudah meluncur mulus di jalan beraspal yang mulai lengang.


"Pegangan!"


Steven Lou menarik tangan Jiang Lizqi dan memaksanya melingkar di pinggang sampai ke perut sehingga posisi tubuh gadis itu sekarang terlihat seperti menindihnya.


"Aish, jangan ngebut." Jiang Lizqi memperingatkan dengan nada menggerutu.


"Makanya pegangan." Steven Lou berujar acuh tak acuh sambil menambah kecepatan.


"Steveeen!!!" Gadis itu menjerit histeris.


Sudah sering dibonceng masih saja belum terbiasa. Steven Lou jadi punya celah untuk menggodanya. Sementara Jiang Lizqi berteriak sambil memeluknya erat-erat, Steven Lou malah tertawa-tawa. Hanya bila bersama Jiang Lizqi saja pemuda itu bisa menjadi dirinya yang berbeda tanpa ragu ataupun malu.


Saat hendak melintasi jalan gang, dari kejauhan Steven Lou sudah melihat ada dua sepeda motor melintang di tengah jalan. Di atas masing-masing sepeda motor ada dua orang. Tidak ingin terlibat masalah, dia segera mengurangi kecepatan, kemudian putar balik.


"Hei, kenapa putar balik ...."


Steven Lou tidak perlu menjawab karena sudah diwakili oleh suara raungan mesin kedua sepeda motor yang melaju mengejar.


"Steven, siapa mereka!"


"Pegangan yang erat!"


"Steveeen!!!" Lagi-lagi Jiang Lizqi menjerit histeris saat Steven Lou menambah kecepatan. Gadis itu memeluk pinggang Steven Lou erat-erat dan membenamkan wajahnya di punggung pemuda itu.

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2