Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
PEMBALASAN


__ADS_3

Tiba-tiba pintu besi tempat itu terbuka dengan suara sangat berisik dan munculah Shi Yijie. Wajah pemuda berambut gondrong yang diikat asal-asalan itu langsung keruh ketika melihat Steven Lou, sedangkan Shen Jiaying matanya melebar maksimal seperti melihat hantu.


"Yi-Yijie---"


"Berani-beraninya kamu datang kemari!"


Melihat kemarahan kekasihnya, Shen Jiaying langsung saja berakting playing victim. Dia berlari menyongsong Shi Yijie, lalu memeluknya erat-erat.


"Dia bilang belum bisa melupakan aku dan ingin kembali bersamaku. Dia memaksa, aku takut." Gadis itu berbicara sambil terisak-isak palsu dengan wajah bersembunyi di bahu kekasihnya.


Steven Lou tetap seperti semula, duduk tenang dengan wajah dan tatapan datar. Sama sekali tidak tertarik dengan drama yang tengah berlangsung. Steven Lou yang sekarang bukanlah Steven Lou yang dulu---yang gampang terprovokasi---mudah marah---bodoh---dan impulsif.


Sejak semula, tanpa adanya surat permintaan dari Shen Jiaying, pemuda itu sudah berencana datang untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka. Jadi, bisa dikatakan bahwa pertemuan hari ini adalah inisiatif Steven Lou dan sudah pasti ada di bawah kendalinya.


Kedatangan Shi Yijie bukan satu kebetulan, melainkan sudah direncanakan. Meminta bantuan seorang kenalan yang biasa berkompetisi di arena balap untuk menyampaikan, bahwa Shen Jiaying menunggunya di basecamp pada pukul empat sore, Steven Lou berhasil membuat Shi Yijie datang tepat waktu seperti yang diharapkan.


"Tenanglah, aku akan membereskannya." Shi Yijie mengelus punggung kekasihnya, lalu melepas pelukan. Menepikan gadis itu ke samping, dia ingin supaya lebih leluasa berbicara dengan Steven Lou.


Dia berdiri angkuh sambil berkacak pinggang, menatap Steven Lou dengan dagunya sedikit terangkat sehingga terkesan meremehkan, seperti tengah menatap binatang menjijikan. Tanpa disangka-sangka dia mengangkat kaki untuk menjejak Steven Lou tepat di dada. Tidak ayal lagi, tubuh pemuda itu langsung terjungkal ke belakang beserta kursinya.


"Merasa punya nyawa lebih, huh? Berani sekali mendatangi sarang harimau."


Shi Yijie sudah mengangkat kaki hendak menginjak, tetapi Steven Lou dengan gesit menangkapnya, lalu sekuat tenaga mendorong ke atas. Tubuh pemuda berambut gondrong itu pun kalah oleh tarikan gravitasi setelah sempat oleng sebentar.


Steven Lou segera bangkit, lalu dengan cepat menginjak dada Shi Yijie tanpa memberinya kesempatan untuk mengeluh, apalagi berteriak marah. Hanya matanya saja yang melotot seperti hendak lompat ke luar.


"Permusuhan kita, kamulah yang memulainya. Aku sudah menyingkir dari jalanmu, tapi kenapa kamu masih saja datang mengusikku? Sebenarnya apa masalahmu, huh?" Steven Lou berbicara dengan gigi dikatup rapat sehingga suaranya terdengar dalam dan penuh penekanan.


Senyum miring tersungging di bibir Shi Yijie. Meskipun tidak berani gegabah bergerak, tetapi mulutnya tidak bisa dikontrol. "Kamu bocah ingusan sudah berani tidur dengan kekasihku dan masih bertanya masalah apa! Masih untung malam itu aku tidak menghajarmu sampai mati!"


Dahi Steven Lou mengernyit, mata pun menyipit. Seingatnya, malam itu dia yang menangkap basah mereka. Kenapa malah sepertinya dia ada di pihak yang salah? Dia mengerling sekilas ke arah Shen Jiaying yang tampak pucat pasi dan gemetaran, lalu kembali menatap Shi Yijie.


"Bangun." Dia mengangkat kakinya, lalu acuh tak acuh membetulkan kursi yang terguling dan mendudukinya.

__ADS_1


Shi Yijie segera berdiri dan Shen Jiaying pun bergegas merapat padanya dan berbisik, "Jangan percaya apa pun yang dikatannya."


Suara gadis itu terlalu kencang untuk sebuah bisikan, karena Steven Lou juga bisa mendengarnya. Menatap sinis pada gadis itu dia pun mencemooh, "Jangan percaya padaku atau seharusnya kamulah yang tidak boleh dipercaya?" Pemuda itu mendenggkus sarkas, lalu beralih menatap Shi Yijie. "Selama tiga tahun itu kamu ke mana saja? Tidakah ada yang memberitahumu bahwa apartemennya adalah rumah keduaku. Tempat tidurnya juga tempat tidurku, apa yang kamu lakukan malam itu juga aku lakukan selama kami bersama---"


"Jangan percaya! Dia bohong!" Shen Jiaying menatap nanar pada Steven Lou, kemudian memberi tatapan memohon pada Shi Yijie. "Dia merayuku. Membuatku jatuh kasihan dengan kisah hidupnya yang menyedihkan."


Steven Lou terkekeh sarkas sambil memutar mata bosan mendengar omong kosong yang dilontarkan Shen Jiaying. "Kisah hidupku memang menyedihkan, tapi untuk merayu perempuan yang usianya lebih tua di atas tempat tidur, sepertinya aku tidak akan berani."


Shen Jiaying melotot dan sudah hendak menyalak, tetapi ucapan Steven Lou langsung membuatnya membeku, "Sepertinya aku masih punya beberapa rekaman malam pertama kita. Mau lihat?"


Pemuda itu bermaksud meraih tasnya yang tergeletak di atas meja, tetapi Shen Jiaying tiba-tiba mendahuluinya. Gadis itu mengambil tas Steven Lou, lalu memeluknya erat-erat. Namun, segera setelah mendapati tatapan sinis Shi Yijie, dia menyadari bahwa tindakan barusan bisa membuatĀ  Shi Yijie meragukannya.


"Yijie, kamu harus percaya padaku. Di dalam tas ini, bisa saja dia menaruh sesuatu untuk menjebakku." Dia merengek, mengiba seperti orang yang sudah jelas bersalah sedang memohon pengampunan.


"Berikan, biar kuperiksa." Shi Yijie hanya mengulurkan tangan tanpa ada niat memaksa ataupun mengancam, tetapi reaksi Shen Jiaying seperti orang yang sedang diintimidasi, wajahnya tegang dan kehilangan warna, tubuh membeku mematung seperti arca.


"Kenapa?" Shi Yijie menatap penuh selidik dengan mata menyipit. "Menurutmu, kira-kira ada apa di dalam tas itu?"


"Huh?" Shen Jiaying tersentak, kemudian tampak linglung. "Ma-ma-mana aku tahu? Bisa apa saja, kan?"


"Kamu---" Tidak tahu harus ngomong apa, akhirnya Shen Jiaying hanya melotot dan napasnya naik turun tidak beraturan karena marah.


Tidak peduli padanya, Steven Lou kembali berbicara, "Cepat ambil isinya dan kembalikan tasnya padaku. Aku mau pulang."


Karena fokus menatap Steven Lou, Shen Jiaying tidak mewaspadai Shi Yijie yang tiba-tiba saja menyambar tas dalam pelukannya. Ketika dia tersentak kaget, benda itu sudah berada di tangan kekasihnya.


"Shi Yijie jangan! Biar aku saja!" Dia berusaha merampasnya kembali, tetapi Shi Yijie menolak tubuhnya sampai terdorong mundur sempoyongan. Gadis itu menatap nanar. "Beraninya kamu kasar padaku!"


Tidak hirau pada kemarahan kekasihnya, Shi Yijie mulai menarik ritsleting tas Steven Lou. Namun, sebelum dia sempat mengacaukan isinya, si pemilik berkata dingin,


"Ambil saja amplop putih. Jangan sentuh apa pun selain amplop itu."


Dengan wajah masam dan tatapan penuh kebencian, Shi Yijie menatap Steven Lou sejenak, kemudian kembali menunduk untuk mencari benda yang dimaksud. Tidak lama kemudian dia sudah mengeluarkan amplop putih dari dalam tas.

__ADS_1


Shen Jiaying mengenali amplop itu dan langsung menyerbu. "Berikan padaku!"


Namun, lagi-lagi Shi Yijie menolak tubuhnya. Dari gestur dan raut wajah pemuda gondrong itu bisa disimpulkan bahwa sekarang dia sudah hilang rasa percaya pada kekasihnya.


Steven Lou pikir, begitu mudahnya membuat pemuda itu hilang rasa percaya pada Shen Jiaying, padahal selama ini mereka selalu terlihat sangat kompak. Dia hanya berdiri acuh tak acuh menyaksikan Shi Yijie yang sangat bernafsu hendak membuka amplop, sedangkan Shen Jiaying dengan tubuh sempoyongan berusaha mati-matian merebut amplop tersebut.


Tas dilempar begitu saja saat keduanya mulai seru saling berebut. Dengan santai Steven Lou memungut tas tersebut lalu menyampirkannya di bahu kanan.


"Minggir!" Teriakan Shi Yijie dibarengi dengan dorongan kuat yang menyebabkan Shen Jiaying langsung tersungkur ke lantai. Selain itu juga di sertai suara amplop robek karena genggaman Shen Jiaying tadinya sangat kuat.


Beberapa lembar foto berjatuhan, Shen Jiaying bergerak serampangan untuk mengambilnya supaya Shi Yijie tidak sempat melihat. Namun, pemuda itu ternyata tidak berniat untuk memungut foto-foto tersebut, karena di tangannya masih ada sisa dua lembar beserta surat.


Shi Yijie menatap nanar secarik kertas bertuliskan huruf-huruf yang gaya tulisannya sangat dia kenali. Dengan geraham mengetat dia bertanya, "Ini apa maksudnya? Jelaskan!"


Shen Jiaying yang masih sibuk mengumpulkan foto-foto di lantai terlonjak kaget dan buru-buru menoleh. Seketika itu juga matanya melebar maksimal karena surat yang ada di tangan Shi Yijie.


Sebelum gadis itu mampu berkata-kata, Steven Lou sudah mendahuluinya. "Sekarang kamu sudah tahu, kan? Aku datang ke sini atas undangannya. Tapi sebenarnya aku juga ingin bertemu kalian. Ingin tahu kenapa tiba-tiba kalian sepertinya sangat tertarik dengan kehidupan pribadiku."


Sementara Shen Jiaying hanya mampu berdiri pasrah menerima nasib, Shi Yijie menatap Steven Lou lekat-lekat. Namun, tatapan pemuda itu tidak mengandung kebencian seperti sebelumnya. Hanya saja masih tersirat amarah.


"Kamu meniduri kekasihku, bagaimana mungkin aku bisa diam saja? Harga diriku sebagai laki-laki sudah diinjak-injak bocah ingusan. Bagaimana mungkin aku tidak marah?"


Sesaat wajah Steven Lou melunak, karena walau bagaimanapun dia mengakui salah sudah bersama seseorang yang sebenarnya masih memiliki kekasih. Namun, dia tidak akan mungkin terjerumus bila Shen Jiaying mengatakan yang sebenarnya. Jadi, dia tidak sepenuhnya salah.


Pemuda itu mengembuskan napas panjang, kemudian meluruskan sikap dan selanjutnya membungkuk sambil berkata, "Aku mengaku salah dan mohon maaf yang sebesar-besarnya."


Setelah itu, dia kembali meluruskan sikap dan menatap Shi Yijie dengan sorot mata penuh ketulusan. Sementara Shi Yijie hanya terpaku dengan wajah syok, Steven Lou kembali berbicara, "Apa pun yang dia katakan sampai-sampai kamu nekat melakukan hal-hal kotor, semua adalah bohong. Setelah ini jangan pernah lagi muncul di hadapanku, dan jangan pernah berpikir untuk menyakiti Jiang Lizqi."


Steven Lou mengarahkan tatapan tajam penuh ancam ke arah Shen Jiaying. "Fitnah dan kecurangan aku tidak peduli, tapi kalau sampai sedikit saja kalian berani menyentuh kekasihku," Steven Lou menatap mereka bergantian, "aku bersumpah akan membuat hidup kalian seperti di neraka."


Setelah itu, Steven Lou meninggalkan keduanya dengan langkah-langkah santai nan ringan. Sesaat sebelum melangkah ke luar pintu, dia menoleh dan berkata, "Aku harap, urusan kita cukup sampai di sini, Tuan Muda Shi."


Tidak hirau dengan wajah syok Shi Yijie, Steven Lou kembali melanjutkan langkah. Setelah itu, Shi Yijie pun pergi dengan langkah pasti. Tidak sekali pun menoleh walaupun Shen Jiaying memanggil-manggil sambil mengejar. Bahkan ketika gadis itu tersungkur karena kaki saling mengait, dia tetap tidak peduli.

__ADS_1


Shi Yijie, faktanya pemuda itu bukanlah dari kalangan biasa. Dia adalah putra bungsu salah satu orang terkaya di Taiwan. Steven Lou mengetahuinya dengan tidak sengaja saat sedang berselancar di internet.


[Bersambung]


__ADS_2