![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Jiang Lizqi duduk di atas pembaringan bersandar pada tumpukan bantal, sedang berbicara di telepon. Suaranya sengau membuat lawan bicaranya khawatir.
"Kamu pasti kecapekan itu. Sudahlah, jangan bekerja lagi. Papa sanggup memenuhi kebutuhanmu. Lagi pula, kamu kan tidak perlu membayar uang kuliah. Untuk apa bekerja begitu keras?"
Jiang Lizqi berdeham untuk melegakan tenggorokan, lalu membalas, "Aku tidak apa-apa, Pa. Hanya masuk angin, sebentar lagi juga sembuh." Sambil bicara dia mendelik pada Ji Yu yang tengah duduk selonjoran di sofa sedang memperhatikannya.
Gara-gara Ji Yu yang lancang menghubungi orang tuanya untuk mengabarkan bahwa dia sedang sakit, akibatnya setiap setengah jam sekali mereka bergantian menelepon. Akhirnya Jiang Lizqi malah tidak bisa istirahat dengan tenang.
"Percayalah Pa, Ma. Ji Yu hanya melebih-lebihkan. Aku sungguh tidak apa-apa." Jiang Lizqi hampir putus asa mencoba meyakinkan mereka.
"Baik. Kalau begitu besok kami akan menjengukmu---"
"Jangaaan!" Jiang Lizqi spontan berseru. Segera setelahnya kaget sendiri, lalu buru-buru membuat alasan, "Maksudku, Papa dan Mama tidak perlu repot-repot. Aku sungguh tidak apa-apa. Shanghai Beijing tidak dekat, Pa. Kalau terjadi apa-apa di jalan bagaimana?"
"Kamu tidak perlu khawatir. Wei Erhou akan datang bersama kami."
"Dan kenapa dia harus datang bersama kalian?"
"Dia itu pemuda yang baik. Sudah bekerja, sudah mapan. Dia calon menantu idaman papa dan mama."
"Astaga, Pa. Aku baru mulai kuliah---"
"Sudah, sekarang kamu istirahat saja. Besok kita bicara lagi kalau sudah bertemu."
"Papa! Pa!" Sambungan sudah diputus, Jiang Lizqi hanya bisa menggerutu dan menjadikan Ji Yu pelampiasan, "Sial! Semu gara-gara kamu, Yuyu! Dasar bodoh!" Dia melempar guling pada sahabatnya itu.
"Aku kan berniat baik!"
"Baik, baik ... baik apanya?! Besok mereka mau datang bersama Wen Erhou! Tahu Wen Erhou, kan?" Jiang Lizqi melotot pada Ji Yu.
"Anak kepala desa. Kenapa paman dan bibi---"
"Aku mau dijodohkan dengannya. Aku harus bagaimana dong, Yuyu?"
Wajah Jiang Lizqi memelas. Setelah mendengar jawaban gadis itu, mata Ji Yu melebar maksimal, mulut pun menganga.
__ADS_1
"Tidak bisa! Kamu harus menolaknya! Aku lebih setuju kamu sama si songong itu daripada sama dia!"
"Tentu saja aku menolaknya! Mana mungkin aku---" Jiang Lizqi tiba-tiba berhenti mengoceh dan menatap Ji Yu dengan mata menyipit dan dahi mengernyit. "Aku kira kebencianmu ke Steven sudah di level tertinggi dan aku bisa maklum. Memangnya, apa yang sudah Wei Erhou lakukan sampai-sampai kamu lebih membencinya?"
"Dia itu ACDC." Ji Yu menjawab sambil berpaling melihat ke arah jendela, membuat Jiang Lizqi juga ikut melihat ke arah yang sama karena mengira ada sesuatu yang menarik. Namun, ternyata tidak ada apa-apa selain panorama langit biru sore hari.
"ACDC itu apa? Kenapa kamu melihat ke sana? Memangnya ACDC itu ada di langit?" Jiang Lizqi bertanya dengan wajah polos yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya merasa ragu kalau dia itu mahasiswi terbaik.
Ji Yu menatap kesal karena harus menjelaskan hal semacam itu. Namun, mau tidak mau dia harus menjelaskannya supaya Jiang Lizqi tahu. "ACDC itu suka perempuan juga suka laki-laki. Sudah jangan tanya-tanya lagi, yang penting kamu sudah tahu."
Mendengar itu tubuh Jiang Lizqi tiba-tiba membeku. Sungguh tidak menyangka kalau Wen Erhou, laki-laki berprofesi sebagai guru, yang selalu terlihat kalem, alim, dan bersahaja itu ternyata adalah predator. Namun, bagaimana Ji Yu bisa mengetahuinya.
Hati bertanya, mulut pun dengan cepat melontarkannya, "Kamu tahu dari mana? Ini bukan kabar bohong kan?"
"Sudah aku bilang tidak usah tanya-tanya. Percaya saja padaku," tegas Ji Yu.
Wajah Jiang Lizqi langsung memelas lagi, lalu merengek, "Yuyu, tolong aku. Bantu aku menjelaskannya pada mereka. Please."
Seperti halnya Jiang Lizqi, wajah Ji Yu pun tampak merana. "Qiqi, aku ... aku ... aku akan melakukan apa saja untuk membantumu dalam hal lain, tapi---"
Sementara Jiang Lizqi tengah memohon-mohon pada Ji Yu, di ruang ganti tempat kerjanya, Steven Lou sepertinya juga sedang dalam masalah. Pemuda itu duduk termenung sambil memandangi secarik kertas dan beberapa lembar foto dirinya tengah berpose mesra dengan Shen Jiaying.
Temui aku atau foto-foto kenangan manis kita ini sampai ke tangan pacarmu. Hubungi aku secepatnya.
Itulah bunyi isi suratnya. Setelah kembali ke kenyataan, dia segera melipat surat dan memasukkannya kembali ke dalam amplop beserta fofo-foto. Mendapat ancaman sedemikian rupa, tidak tampak sedikit pun dia khawatir. Raut wajahnya tetap datar-datar saja.
"Steven sudah tidak bodoh lagi," gumamnya acuh tak acuh sembari mengambil tas dari loker, lalu memasukkan amplop berisi surat ke dalamnya. Setelah itu, keluar dari situ.
Dia hanya mengambil satu sif karena ingin pulang lebih awal untuk menemani Jiang Lizqi. Namun, sebelum pulang dia harus membereskan sesuatu terlebih dulu. Sambil melajukan sepeda motor, dia menghubungi Shen Jiaying. Gadis itu memintanya datang ke basecamp, sebuah tempat yang biasa digunakan untuk melepas lelah sambil bersenda gurau sehabis beraksi di arena luncur.
Sesampai di sana, ternyata tempat itu sangat sepi. Shen Jiaying adalah satu-satunya orang yang ada di ruangan, sedang duduk di atas meja dengan kaki jenjang nan mulus hanya ditutup rok mini setengah paha, saling menyilang. Begitu melihat Steven, dia langsung melompat turun dan tanpa malu ataupun sungkan menubruk pemuda itu, lalu mendekapnya erat-erat.
"Aku tahu kamu pasti datang." Gadis itu berujar kegirangan seolah Steven Lou datang atas kemaunannya sendiri.
Steven Lou bergeming saat Shen Jiaying bergelayut manja di lengannya. Ketika berbicara pun sangat dingin, "Ada apa?"
__ADS_1
Tidak tahu malu atau memang sengaja menebalkan muka, Shen Jiaying memeluk lengan kanan Steven Lou erat-erat, menariknya ke kursi, mendudukkan, lalu dia pun duduk di pangkuan pemuda itu sembari melingkarkan kedua lengan di lehernya.
Bertingkah genit dan manja. "Kita pernah cukup lama bersama. Masa iya, tidak ada sedikit pun sisa rasa di sana." Gadis itu menunjuk dada kiri Steven Lou, lalu memainkan jarinya di sana untuk menggoda.
Steven Lou laki-laki normal, tetapi setelah pengalaman yang begitu pahit bersama gadis itu, kenormalan itu pun sama sekali tidak berfungsi terhadapnya. Meskipun gadis yang ada di pangkuannya itu mulai nakal menggoyang pinggulnya, Steven Lou junior tidak bereaksi sama sekali.
"Apa Shi Yijie tidak memuaskan?" Steven Lou bertanya acuh tak acuh, bahkan tatapannya tetap lurus ke depan. Dinding penuh mural aktivitas ber-skateboard sepertinya jauh lebih menarik.
Seharusnya Shen Jiaying paham bahwa Steven Lou sama sekali tidak berminat terhadapnya, tetapi gadis binal itu justru merasa dipedulikan. Dia mengubah posisi duduk jadi m*ng***k*ng, lalu menyandar manja di bahu Steven Lou dan memeluk erat pinggangnya.
"Dia kasar. Suka posisi yang aneh-aneh. Steven, ayo balikan. Aku ingin kita bersama lagi, seperti dulu melakukan banyak hal menyenangkan." Dia merengek, sepertinya sangat yakin kalau Steven Lou tidak akan menolaknya.
"Tapi aku miskin sekarang."
Shen Jiaying meluruskan sikap, lalu menangkup kedua sisi wajah Steven Lou. Ditatapnya mata pemuda itu lekat-lekat. "Soal uang kamu tidak perlu khawatir. Walau tidak kaya raya seperti keluargamu, tapi orang tuaku tidak miskin juga. Lagi pula, aku punya banyak tabungan dari hasil taruhan dan hadiah balapan Shi Yijie. Kita bisa hidup tenang dan senang tanpa perlu memikirkan hari esok ataupun bekerja."
"Oh ya? Lalu, bagaimana dengan Shi Yijie? Bukannya kemarin malam kamu masih bersamanya ingin mencelakai aku?"
"Itu idenya. Aku hanya ikut-ikutan karena tidak berani menolak."
Setelah menatap datar cukup lama, akhirnya Steven Lou tersenyum tipis nan sinis. Namun, di mata Shen Jiaying yang tengah berekspetasi tinggi terhadap obsesinya sendiri, senyum itu terlihat sangat manis dan tulus.
"Mau membuktikan sesuatu?" Steven Lou bertanya masih dengan senyum sinis menghiasi bibir.
"Apa itu?" Shen Jiaying sangat antusias. "Katakan, membuktikan apa?"
"Kamu sudah cukup lama duduk di sini dan berusa menggodaku. Tidak ingin tahu bagaimana hasilnya?"
Shen Jiaying impulsif mengerakan pinggul. Seketika itu juga wajahnya seperti kehilangan warna karena tidak merasakan kebangkitan di area sensitif Steven Lou.
"Kamu ...." Dia bergegas turun dari pangkuan Steven Lou, lalu berdiri menatap nanar ke tempat yang seharusnya ada sesuatu yang akan membesar bila dirangsang. Namun, tempat itu tetap dalam ukuran normal, padahal dia sudah menggodanya sedari tadi. "... impoten?"
Masih dengan wajah datar dan tatapan dingin, Steven Lou mengangguk. "Apa kamu bisa menerimaku apa adanya?"
Wajah Shen Jiaying semakin pasi, bibirnya bergerak-gerak, tetapi tidak ada kata yang keluar.
__ADS_1
[Bersambung]