![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Jiang Lizqi pikir permintaan Steven Lou malam itu hanyalah gurauan, apalagi beberapa hari setelahnya tidak pernah diungkit lagi.
Namun, siapa sangka tadi pagi---setelah genap seminggu---Steven Lou memberi tahunya bahwa malam ini mereka akan makan malam di Kediaman Lou.
Jiang Lizqi seperti mati kutu. Tidak bisa menolak meski sebenarnya enggan pergi. Sebagai ungkapan rasa kesal, selama perjalanan menggunakan taksi Paman Ping, dia hanya membisu. Sesampai di sana Jiang Lizqi boleh merasa sedikit lega karena ternyata yang ada di ruang makan hanya mereka berdua, sementara Nyonya Lou berhalangan hadir karena ada urusan mendadak.
Selama makan, Steven Lou sama sekali tidak berbicara dan wajahnya pun terlihat sangat suntuk. Dari kejadian ini, Jiang Lizqi bisa sedikit memaklumi kekecewaan Steven Lou terhadap ibunya.
Perempuan usia paruh baya yang masih terlihat awet muda itu datang saat keduanya sudah selesai bersantap. Kemudian mengajak Steven Lou dan Jiang Lizqi duduk di ruang keluarga.
Namun, alih-alih merasa relaks dan nyaman, yang ada Jiang Lizqi malah merasa tegang. Hubungan ibu dan anak itu sangat dingin dan canggung, Jiang Lizqi merasa seperti berada di ruang hampa udara yang membuatnya kesulitan bernapas.
Setelah beberapa waktu terlewati dalam hening karena sepertinya baik Nyonya Lou dan Steven Lou tidak tahu bagaimana harus memulai perbincangkan, tiba-tiba Steven Lou meraih tangan Jiang Lizqi dan menggenggamnya erat-erat. Gadis itu refleks hendak menarik tangan, tetapi Steven Lou malah semakin erat menggenggam, lalu bergeming meskipun Jiang Lizqi melotot.
Nyonya Lou yang tadinya duduk bersandar serta-merta tegak dan menatap keduanya nanar. "Kalian---"
Jiang Lizqi buru-buru menyela, "Bukan begitu, kami---"
"Kami saling mencintai dan ingin secepatnya menikah." Steven berujar lugas dan tegas membuat Jiang Lizqi merasa jantungnya tiba-tiba merosot ke perut.
Sementara itu, Nyonya Lou hanya bisa melebarkan mata maksimal dengan mulut membuka menutup intens, tetapi tidak ada kata yang keluar.
"Steven Lou! Kamu ini apa-apaan?! Jangan sembarangan bicara!" Jiang Lizqi sedikit meninggikan suaranya juga mendelik, sambil berusaha keras melepaskan tangan dari genggaman pemuda itu.
Namun, Steven Lou malah semakin erat menggenggam sampai-sampai Jiang Lizqi merasa jemarinya bisa saja patah kalau terus melawan.
"Steven ...." Terlalu syok, Nyonya Lou masih belum mampu berkata-kata.
"Dia hanya sembarangan bicara. Anda tidak perlu---"
"Aku serius."
Jiang Lizqi yang bermaksud menjelaskan, akhirnya bungkam dan hanya mampu menatap sendu penuh permohonan maaf kepada Nyonya Lou yang wajahnya semakin kaku.
"Aku tidak ingin apa-apa. Singapura bahkan ibu, aku tidak menginginkannya lagi---"
"Steven!" Jiang Lizqi membentak. Dia tidak menyangka Steven Lou akan tega mengucapkan kata-kata menyakitkan itu. Dia kasihan melihat Nyonya Lou semakin syok, sampai megap-megap sambil menutup mulutnya.
"Aku akan melepaskan semuanya. Aku hanya ingin hidup bersama Jiang Lizqi." Steven Lou tetap tenang dan terus berbicara tanpa peduli pada dua pasang mata yang melotot padanya. "Ke depannya aku tidak akan pernah muncul di hadapan Anda lagi."
__ADS_1
Anda? Anda? Air mata Nyonya Lou seketika jatuh. Putra yang dia sayangi dengan sepenuh hati memanggilnya dengan sebutan Anda. Lelucon macam apa ini?
"Steven, jangan keterlaluan." Suara Jiang Lizqi melunak, karena dia sudah mulai memahami tabiat pemuda itu. Semakin dikerasi dia akan semakin arogan dan menantang.
"Ayo pergi." Tiba-tiba Steven Lou berdiri, lalu menyentak tangan Jiang Lizqi. Namun, gadis itu bergeming.
"Steven, dengarkan ibu dulu." Nyonya Lou buru-buru bangkit, lalu menghampiri putranya. Sembari memegang kedua lengan buah hatinya, perempuan itu berkata, "Ibu mohon duduklah. Kita bicarakan---"
"Tidak perlu! Aku sudah menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan. Jangan khawatir, setelah ini aku tidak akan menjadi beban Anda lagi."
Air mata Nyonya Lou semakin deras mengalir. "Ibu mohon. Tolong, tolong duduk sebentar saja dan bicara baik-baik. Oke?"
"Untuk apa, huh? Anda selalu bilang hanya aku satu-satunya, tapi apa nyatanya?!"
"Steven, ibu bisa jelas---"
"Aku sudah menghubungi dari kemarin! Aku tidak minta banyak!" Setelah berteriak, Steven Lou mengatupkan gigi rapat-rapat.
Beberapa detik kemudian kembali berkata, "Hanya untuk makan malam bersama. Apa itu terlalu banyak membuang waktu? Anda bilang bisa, tapi nyatanya apa? Yang ada di luar sana jauh lebih penting! Aku sudah tidak pulang selama berminggu-minggu, tapi sepertinya tidak ada yang merindukan. Aku pikir saat aku pulang orang yang mengaku sebagai ibuku akan menyambut! Tapi apa yang aku dapat?!"
Tubuh Steven Lou gemetar, matanya memerah dan berair, tetapi tetap berusaha untuk menahannya supaya tidak tumpah.
"Aku mohon jangan seperti ini. Kita duduk sebentar, bicara baik-baik ...." Jiang Lizqi mengelus lembut lengan pemuda itu.
Namun, Steven Lou menggeleng. "Aku tidak mau. Kita pergi ...." Dia menatap dengan mata berkaca-kaca, membuat hati Jiang Lizqi ikut merasa pedih.
Jiang Lizqi tahu, selama ini Steven Lou selalu berusaha menutupi kelemahan hatinya dengan bersikap arogan. Namun, sekarang sepertinya pemuda itu tidak sanggup lagi berpura-pura.
"Baiklah, kita pulang. Tapi apa tidak sebaiknya kamu dan ibumu---"
"Tadinya aku masih berpikir dia ibuku. Tapi sekarang aku sadar, dia bukan---"
Plak
"Bibi Lou!"
"Bibi!"
Tamparan itu mengagetkan semuanya, bahkan Nyonya Lou sendiri, sebagai si pelaku. Perempuan itu menatap tidak percaya pada tangannya yang seolah bergerak sendiri untuk menampar putranya
__ADS_1
Lou Haikuan yang muncul bertepatan dengan insiden itu terjadi, buru-buru menghampiri Steven Lou dan hendak memeriksa pipinya, tetapi pemuda itu menepis kasar.
"Lizqi ... aku mohon," pinta Steven Lou lirih.
Jiang Lizqi mengangguk pasti. "Ya, kita pulang." Kali ini dia tidak ragu sama sekali memenuhi permintaan Steven Lou. Melihat bekas tamparan di pipi pemuda itu, entah kenapa hatinya merasa marah.
"Steven, maafkan ibu." Nyonya Lou berdiri menghadang. "Sungguh, ibu tidak bermaksud ...."
Tiba-tiba Steven Lou melepaskan tangan Jiang Lizqi, lalu berdiri tegak menghadap ibunya. Jiang Lizqi dan Lou Haikuan sudah waspada, khawatir pemuda itu akan bertindak kasar kepada Nyonya Lou. Namun, yang terjadi selanjutnya sungguh membuat mereka tercengang.
"Terima kasih sudah melahirkan aku." Steven Lou berujar sambil membungkuk khusuk. "Terima kasih sudah memenuhi kebutuhanku. Aku mungkin tidak akan pernah bisa membalasnya. Ke depannya aku tidak akan menyusahkan Anda lagi. Jadi, Anda tidak perlu khawatir lagi."
"Steven!" Sambil menangis meraung, Nyonya Lou menubruk putranya, lalu memeluknya erat-erat.
Namun, alih-alih bahagia karena dipeluk, pemuda itu justru merasa sakit hati karena pelukan ibunya selama ini telah dibagi dengan anak yang lain. Steven Lou benci membayangkan anak itu juga pernah berada di pelukan ibunya. Dengan sedikit kasar dia melepaskan diri, lalu bersembunyi di belakang Jiang Lizqi. Lou Haikuan dengan sigap menangkap Nyonya Lou yang hampir tersungkur.
"Ayo, pergi ...." Steven Lou meraih tangan Jiang Lizqi, lalu menyeretnya pergi tanpa memedulikan teriakan pilu sang ibu.
"Steven maafkan ibu!"
"Bi, cukup. Biarkan saja dulu." Lou Haikuan membawa Nyonya Lou ke dalam pelukan.
"Aku tau bagaimana putraku. Sudah memutuskan, itu berarti dia tidak akan mengubahnya lagi."
Lou Haikuan sebenarnya tidak ingin menyalahkan Nyonya Lou, tetapi tidak bisa disangkal kalau kejadian ini adalah salah bibinya sendiri. Sudah sedari dulu dia menyarankan supaya menceritakan peristiwa yang sebenarnya kepada Steven Lou, tetapi selalu saja ditunda-tunda dengan berbagai alasan. Kalau kesalahpahaman sudah menjadi sangat buruk seperti ini, tentunya akan lebih sulit lagi. Jangankan untuk menjelaskan, sekadar mengajak bertemu saja sudah pasti susah.
"Pergilah. Bicara padanya, bibi mohon."
"Tidak sekarang, Bi." Lou Haikuan mencengkeram kedua lengan Nyonya Lou, lalu menatapnya tajam mengecam. "Tamparan Bibi memang hanya meninggalkan bekas merah di pipi, tapi hatinya pasti sangat terluka. Kehilangan kepercayaannya sudah cukup, jangan sampai dia juga membenciku. Bibi tahu kan bagiku Steven bukan hanya sepupu? Dia sudah seperti adik kandungku."
Nyonya Lou megap-megap. Dia tahu arti tatapan dan kata-kata Lou Haikuan barusan. Keponakannya itu menyalahkannya juga tidak terima karena dia sudah menampar Steven Lou.
"Maaf. A-aku tidak bermaksud ...."
"Sebaiknya Bibi beristirahat. Tenangkan diri dulu, setelah itu kita bicara lagi." Lou Haikuan hendak membimbing Nyonya Lou ke kamar, tetapi perempuan itu meminta dia pergi meninggalkannya sendirian.
Sepeninggal Lou Haikuan, perempuan itu melangkah ke luar lewat pintu samping, lalu berjalan gontai ke playground, tempat Steven kecil bermain. Tempat itu dibangun atas perintah suaminya, Lou Xiehan.
[Bersambung]
__ADS_1