![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Sebelum pukul enam petang, Steven Lou sudah keluar dari tempat parkir apartemen. Selagi dia berjalan menuju lobi, Ji Yu yang tengah duduk di taman sudah memperhatikannya dan begitu Steven Lou sudah semakin dekat, dia pun memanggil,
"Steven!"
Steven Lou menoleh dan berhenti, tetapi hanya berdiam diri di tempat. Pikirnya, untuk apa Ji Yu ada di situ seperti dengan sengaja sedang menunggunya?
"Qiqi tidur dan ada Paman Ping yang menjaganya. Aku sengaja menunggumu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan."
Sebenarnya Steven Lou enggan. Pengalaman selama ini mengajarkan supaya dia tidak dekat-dekat pemuda berkacamata itu tanpa Jiang Lizqi ada bersama mereka. Namun, rasa penasaran lebih mendukungnya sehingga dia pun melangkah menghampiri Ji Yu.
Setelah berhadapan keduanya hanya saling menatap. Ji Yu yang tidak pandai menyembunyikan perasaan terlihat jelas sangat canggung, sedangkan Steven Lou yang lihai mampu menutupi perasaan yang sebenarnya di balik ekspresi dingin.
"Duduklah," ujar Ji Yu kemudian sambil menyamankan diri sendiri di bangku taman.
Sikap Ji Yu yang seperti itu jauh lebih pas dengan penampilannya yang culun. Namun pada kenyataannya, Ji Yu tidak culun ataupun tukang gugup. Steven Lou tiba-tiba jadi memikirkan kondisi kesehatan Jiang Lizqi, ditambah Ji Yu memilih tempat yang jauh dari jangkauan pendengaran Jiang Lizqi, kecurigaannya jadi semakin besar.
"Apa yang terjadi pada Jiang Lizqi?" Dia bertanya sambil menatap tajam Ji Yu, membuat pemuda berkacamata itu menegang, seperti tengah diintimidasi.
"Di-dia baik-baik saja. Hanya ma-masuk angin."
Ini untuk pertama kalinya Ji Yu tergagap ketika sedang bicara dengannya. Steven Lou pun menatap curiga.
"Lalu kenapa kamu terlihat sangat gugup dan cemas? Jangan coba-coba menyembunyikan apa pun dariku."
Sejenak Ji Yu tertegun, kemudian karena merasa perkataan Steven Lou menuduh, sikapnya pun otomatis kembali ke setelan pabrik.
"Coba-coba menyembunyikan apa?! Soal kesehatannya mana mungkin aku berani main-main!"
Steven Lou menatap datar sejenak, kemudian berpaling menghadap ke depan dan menyandar pada dinding pembatas yang sekaligus berfungsi sebagai pot tanaman hias.
Setelah mengembuskan napas kasar dia bertanya, "Ada apa?"
Tidak langsung menjawab, Ji Yu pun melakukan hal yang sama, menatap lurus ke depan dan menyadarkan diri, baru berkata, "Orang tua Qiqi mau datang besok."
Wajah Steven Lou menegang. Setelah hampir setengah tahun bersama, baru sekarang dia ingat kalau Jiang Lizqi bukan yatim piatu. Selama ini dia tidak peduli sama sekali hingga rasa-rasanya gadis itu ada di dunia dengan begitu saja tanpa perantara orang tua.
Orang tua, mendadak hatinya terasa masam. Dua kata itu seperti kutukan menakutkan yang tidak pernah ingin dia dengar ataupun jumpai. Pengalaman pahit dengan kedua orang tuanya, secara tidak sadar telah menciptakan sebuah stigma buruk di hatinya. Walaupun sudah berusaha untuk tidak menyamaratakan, tetapi terlalu sulit baginya untuk memikirkan hal baik tentang orang tua.
Namun, jika ingin mendapatkan Jiang Lizqi, mau tidak mau suatu hari nanti dia harus menghadapi orang tuanya juga. Ini hanya masalah waktu. Jika waktu untuk berhadapan itu datang lebih cepat, dia pun harus siap.
"Orang-orang seperti apa mereka?"
__ADS_1
Suara Steven Lou kehilangan jati diri, lebih lunak, serak dan bergetar. Ji Yu menatapnya, dalam hati mencibir karena ternyata ada juga sesuatu yang bisa membuat pemuda songong itu gentar.
Karena Ji Yu tidak menjawab, Steven Lou pun mengulangi pertanyaan, "Maksudku, orang tua Jiang Lizqi itu---"
Ji Yu menyela, "Mereka orang-orang kolot yang percaya bahwa anak muda dari kota itu semuanya tidak baik. Mereka selalu mewanti-wanti Qiqi untuk tidak menjalin hubungan dengan orang kota. Mereka juga masih menjunjung tinggi budaya perjodohan."
"Apa?" Steven Lou langsung saja merasa dirinya jauh dari kriteria. Belum apa-apa hatinya sudah panik dan nyalinya pun ciut. Namun, dia tidak ingin kehilangan Jiang Lizqi.
Ji Yu menatap iba. Steven Lou memang menyebalkan, tetapi dia sangat menyayangi Jiang Lizqi sahabatnya. Dalam hati pun Ji Yu mengakui bahwa Steven Lou layak bersama Jiang Lizqi. Jauh lebih layak dibandingkan Wei Erhou yang bermuka dua.
"Besok mereka akan datang bersama seseorang yang sudah dijodohkan dengan Qiqi sejak dulu."
"Apa?!" Steven Lou langsung duduk tegak dan menatap nanar Ji Yu. "La-lalu bagaimana---dari mana kamu tahu semua ini?" Cemas dan gugup Steven Lou jadi bicara serampangan.
"Aku menghubungi mereka hanya untuk memberitahukan keadaan Qiqi, mana tahu akan jadi begini. Tapi ada baiknya juga lebih cepat tahu ...."
Steven Lou tidak mengerti maksud Ji Yu. Pemuda itu mengembuskan napas panjang dan kembali menyandar. "Dan itu apa maksudnya?"
"Aku tahu laki-laki yang dijodohkan dengan Qiqi bukan orang baik. Aku tidak ingin Qiqi menderita."
"Bukankah di matamu aku juga bukan orang baik?"
"Memang, tapi Qiqi sangat menyukaimu. Kami bersahabat sejak kecil, jadi aku tahu betul seperti apa dia. Dia belum pernah menyukai seseorang, apalagi pacaran. Selain karena orang tuanya yang sangat kolot, juga karena Qiqi sendiri adalah tipe gadis yang sangat mengutamakan belajar. Tapi kamu sudah mengubahnya hanya dalam waktu beberapa minggu saja."
"Bukan!" tegas Ji Yu nyaris berseru. Dia gengsi mengakui bahwa Steven Lou lebih baik dari Wei Erhou. "Kamu adalah orang yang dipilih Qiqi. Tidak ada alasan lain. Demi Qiqi yang sudah dibutakan oleh cintamu, aku terpaksa setuju." Setelah itu, Ji Yu berdiri. "Aku pulang."
"Ji Yu ...."
Ji Yu yang baru hendak melangkah pun menatap galak Steven Lou. "Apa lagi?"
"Terima kasih."
Sesaat wajah Ji Yu menegang, tetapi kemudian kembali galak. "Tidak perlu. Aku melakukannya bukan untukmu. Awas kalau kamu menyakitinya. Akan aku buat hidupmu seperti di neraka!"
Steven Lou menatap kepergian Ji Yu dalam diam dengan dahi mengernyit. Akan aku buat hidupmu seperti di neraka, kalimat itu membuatnya merasakan dejavu. Bukankah dia baru mengucapkannya beberapa puluh menit yang lalu untuk menggertak Shi Yijie dan Shen Jiaying.
Jiang Lizqi, kamu sangat beruntung memiliki kekasih dan sahabat yang demi melindungimu rela jadi makhluk neraka.
Pemuda itu pun tersenyum simpul, sesaat lupa tentang orang tua Jiang Lizqi yang besok akan datang. Namun, ketika membuka pintu apartemen dan langsung melihat Jiang Lizqi duduk termenung di sofa sambil memeluk kaki, hatinya langsung berdesir miris. Namun perasaan itu pun segera sirna ketika Jiang Lizqi menyambutnya dengan riang.
"Steven!" Begitu melihatnya, Jiang Lizqi langsung melompat turun dan menghambur untuk memeluknya.
__ADS_1
"Nona, kenapa tidak pakai sandal?" Paman Ping muncul dari arah dapur sambil membawa secangkir minuman yang masih mengepulkan asap.
"Tidak sempat, Paman."
"Bandel." Steven Lou menggumam sambil melepas sepatu, lalu mengangkat Jiang Lizqi dan menggendongnya ala pengantin.
Gadis itu tergelak riang seperti tidak sedang sakit. "Paman lihat, kan? Aku sama sekali tidak membutuhkan alas kaki."
Paman Ping hanya menanggapi dengan senyuman, lalu berkata sambil meletakkan cangkir di atas meja, "Diminum dulu obat herbalnya." Setelah itu, kembali masuk ke arah dapur. "Makan malam siap dalam tiga puluh menit!" serunya kemudian.
"Terima kasih, Paman Ping!" Jiang Lizqi balas berteriak.
Steven Lou duduk dan membiarkan Jiang Lizqi tetap di atas pangkuan, lalu menyentuh dahinya. Sudah tidak panas. "Bagaimana rasanya?"
"Cuma masuk angin. Sudah sembuh sekarang."
"Minum dulu obatnya." Steven Lou mengambil cangkir dari atas meja, meniupnya sebentar, kemudian menyodorkan ke mulut Jiang Lizqi.
Gadis itu tersenyum lebar dan meminum obatnya dengan perlahan langsung dari tangan Steven Lou. Sebenarnya perubahan sikap Jiang Lizqi dari mandiri ke manja bukan hanya sekadar untuk memanfaatkan kasih sayang Steven Lou.
Itu karena Lou Haikuan pernah menyampaikan, bahwa akan lebih menyenangkan bagi Steven Lou jika diberi kesempatan untuk menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya. Dengan kata lain, Lou Haikuan berharap Jiang Lizqi bersedia untuk mengurangi kemandiriannya di hadapan Steven Lou. Supaya pemuda itu merasa dibutuhkan karena dengan begitu dia juga akan merasa dirinya berarti dan berguna.
Awalnya memang cukup sulit mengembalikan rasa percaya diri Steven Lou setelah apa yang terjadi. Namun, setelah Jiang Lizqi mengikuti saran Lou Haikuan, secara perlahan dan pasti Steven Lou pun mendapatkan kembali rasa percaya dirinya. Dengan memanjakan Jiang Lizqi, pemuda itu merasa telah melakukan sesuatu yang sangat berguna dan ingin terus melakukannya.
Untuk Jiang Lizqi yang selama ini terlalu keras pada diri sendiri, perhatian dan kasih sayang Steven Lou terasa seperti guyuran hujan di tengah kemarau panjang. Membuatnya menyadari bahwa selama ini sebenarnya dia sangat butuh tetesan air. Namun karena sudah terbiasa dengan kekeringan, kebutuhan itu pun tidak dianggapnya perlu atau penting. Toh, masih bisa hidup walaupun tanpa itu semua.
Namun, ibarat tanaman yang telah disegarkan dan berbunga, dia merasa seperti jatuh cinta setiap hari dan semakin nyaman dengan gaya hidupnya yang sekarang. Dia ingin terus dimanjakan selama hal itu tidak membuat Steven Lou merasa direpotkan.
"Kamu sudah mandi?" Steven Lou bertanya sembari menghidu leher Jiang Lizqi. Aroma segar mawar pun tercium.
"Sudah. Kamu mandi sana. Aku ambilkan baju ganti."
Jiang Lizqi sudah hendak turun dari pangkuan, tetapi Steven Lou mencegahnya. "Tidak perlu. Tunggu di sini saja."
Pemuda itu mendudukan sang kekasih di sofa, mengecup dahinya, baru kemudian melangkah pergi. Sepeninggalnya, Jiang Lizqi menyentuh dahi dan tersenyum lembut. Dia sangat yakin, di dunia ini tidak akan ada laki-laki yang akan mencintainya seperti Steven Lou. Sesaat kemudian wajahnya berubah muram karena teringat pada kedua orang tuanya yang besok akan datang.
Di saat yang sama, Ji Yu yang baru sampai di kamar kontrakannya, tampak sedang mondar-mandir sambil menimang-nimang ponsel. Sepertinya dia sedang mempertimbangkan untuk menghubungi seseorang atau tidak.
"Sial!" Tiba-tiba dia berhenti dan merutuk. "Kenapa harus dia? Seperti tidak ada orang lain saja. Dasar munafik bermuka dua."
Dia menatap tajam ponsel itu, seperti sedang menatap orang yang paling dibencinya. "Demi Qiqi, aku harus bicara dengan bajingan itu."
__ADS_1
[Bersambung]