![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Jiang Lizqi mengembuskan napas lelah. "Kamu sudah menempati kursi yang biasa aku duduki, sebaiknya aku mencari yang lain saja," ujarnya sangat sopan dan penuh pengertian meskipun di dalam hati heran kenapa orang baru ini begitu ingin duduk di situ.
Mencengkeram lengan Jiang Lizqi semakin erat, Steven Lou menatap remeh pada Ji Yu. "Biarkan dia saja yang mencari, kamu duduk di sini."
Menghela napas dalam-dalam, Jiang Lizqi ingin menenangkan batinnya yang juga sudah hampir kehilangan sabar, dan akhirnya memilih untuk mengalah. "Baiklah, aku akan duduk di sini." Lalu menoleh pada sahabatnya. "Yuyu, pergilah duduk di belakang sana."
Ji Yu sudah hendak protes, tetapi senyum teduh Jiang Lizqi berhasil membungkam mulutnya. Meskipun dengan bersungut-sungut akhirnya dia menuruti perkataan sahabatnya.
Setelah Ji Yu berlalu, Jiang Lizqi menatap Steven Lou tajam. "Bolehkah aku mengajukan satu permintaan?" Keramahan dalam suaranya sangat jelas tidak tulus. Berhadapan dengan orang yang begini menyebalkan, manusia berhati malaikat pun bisa lepas kendali.
Steven Lou mengangkat bahu tak acuh. "Katakan saja."
"Aku ingin duduk di tempatku. Jadi, bisakah Anda pindah ke sebelah, Tuan Lou?" Kata Anda dan Tuan Lou sudah tentu hanyalah kesopanan berlebihan yang merujuk ke sarkasme.
Meskipun merasa agak tidak nyaman dengan sikap Jiang Lizqi, Steven Lou tetap mempertahankan keangkuhannya. Dia terkekeh sarkas meremehkan, lalu berkata, "Aku yang seharusnya memberimu perintah, bukan---"
"Kamu tidak punya kuasa. Jadi kenapa harus? Aku menurut hanya karena tidak ingin ribut. Tapi, kalau kamu tidak bersedia, ya, sudah. Aku bisa duduk di mana pun yang---"
Steven Lou tiba-tiba bergeser, ogah-ogahan pindah ke kursi sebelah yang seharusnya diduduki Ji Yu. Yang bersangkutan di belakang sana menatap Steven Lou dengan mata berkilat-kilat penuh kebencian.
"Terima kasih," ucap Jiang Lizqi asal-asalan sambil meletakkan tasnya di tas meja, lalu duduk dan tersenyum ramah pada makhluk di sebelahnya.
Steven Lou yang sedari tadi selalu terlihat tenang, dingin dan tak acuh, tiba-tiba berubah masam dan langsung membuang muka. Dia tidak suka senyuman Jiang Lizqi. Senyuman yang baginya tampak munafik.
Tersenyum puas karena sudah berhasil membuat Steven Lou menuruti permintaannya, juga karena telah berhasil membuat pemuda arogan itu kesal, Jiang Lizqi tidak bisa menahan kikikan puas.
Celakanya ... saat dia masih cekikikan merayakan keberhasilan, tiba-tiba Steven Lou menoleh, tawa cekikikan langsung sirna dan wajah Jiang Lizqi pun seketika kaku. Steven Lou melotot kesal dan sudah membuka mulut hendak marah, tetapi ....
"Selamat pagi, Mister Kwong!"
Suara serempak seluruh penghuni ruangan menyambut kehadiran dosen, menginterupsinya dan suara Jiang Lizqi menjadi yang paling nyaring di antara yang lain dengan senyum yang senantiasa merekah.
__ADS_1
Steven Lou meradang karena merasa senyuman itu ditujukan untuk mengejek dirinya. Kedua tinjunya mengepal dan gigi bergemertak seperti sedang menghancurkan tulang.
Jiang Lizqi menoleh dan dengan polosnya bertanya, "Apa kamu sudah mempelajari bab awal Design Fundamentals?"
Menghela napas dalam-dalam, lalu mengembuskan kasar, Steven Lou mencoba menahan amarahnya. Setelah itu berkata ogah-ogahan, "Malas."
"Kalau butuh bantuan, aku siap membantu."
Tawaran tulus yang diucapkan dengan nada penuh persahabatan itu justru ditanggapi sinis oleh Steven Lou. "Jangan sok."
Jiang Lizqi tidak tersinggung. Untuk apa harus tersinggung hanya karena niat baiknya ditolak oleh manusia yang, sepertinya memiliki masalah kepribadian serius. Iya, kan?
Rupanya Steven Lou juga memiliki pemikiran yang sama terhadap Jiang Lizqi. Pemuda itu beranggapan gadis itu sangat aneh karena tak henti-hentinya tersenyum.
"Berhentilah pamer gigi terus-menerus seperti itu. Tidak capek apa? Dasar manusia aneh."
Jiang Lizqi mendengkus pelan. "Apa salahnya tersenyum, bukankah itu jauh lebih baik daripada manyun dan pasang wajah angker?"
Tak ayal lagi, perhatian seluruh kelas langsung tertuju padanya.
"Kamu pikir sedang berada di mana, Tuan Lou?" Dosen paruh baya berperawakan tinggi dan berkumis lebat itu menatap tajam. Akan tetapi, langsung terlihat gugup saat Steven Lou balas menatapnya.
Jiang Lizqi melihat perubahan ekspresi di wajah dosen itu dengan sangat jelas. Namun, fokusnya seketika ambyar dan bahu terlonjak kaget ketika sang dosen berteriak menegurnya, "Nona Jiang, jangan cari masalah. Bersikap baiklah pada teman barumu!"
Hanya bisa mengerjap bingung karena tidak merasa telah melakukan kesalahan, sebelum sempat menanggapi perkataan dosennya, Jiang Lizqi kembali terkejut saat Ji Yu bersuara dengan emosional, "Bukan Qiqi yang mencari masalah, tapi Steven Lou yang membuat gara-gara! Mister Kwong, saya ingin kembali duduk di tempat duduk saya---"
Dosen memotong perkataan Ji Yu, "Diam atau keluar dari ruangan?! Dengan begitu kamu bisa bebas memilih tempat duduk yang kamu suka di luar sana."
Gelak tawa seisi ruangan langsung terdengar meskipun suasana masih terasa tegang. Wajah culun Ji Yu yang sedari tadi sudah keruh, kini merah padam karena malu dan marah. Steven Lou menoleh dan memberinya seringai menyebalkan.
Sementara itu, Jiang Lizqi menatap iba pada Ji Yu, kemudian menatap putus asa pada Steven Lou yang masih menyeringai menyebalkan.
__ADS_1
Sepertinya masa-masa menyenangkan selama dua bulan akan hancur dalam sekejap hanya karena kehadiran manusia satu itu. Jiang Lizqi memutuskan, sebaiknya tidak mencari masalah dengan Steven Lou, lebih bagus kalau dia bisa menghindar dan tidak terlibat apa pun dengannya.
Sudah berniat tidak terlibat urusan sekecil apa pun dengan Steven Lou, bukan berarti hidup Jiang Lizqi menjadi lebih tenang. Setelah beberapa minggu terlewati, dunianya seperti terbalik gara-gara pemuda itu.
Dia sungguh tidak mengerti entah kenapa sekarang hati kecilnya justru merasa seperti ada yang hilang bila tidak melihat Steven Lou. Apa karena sekarang Jiang Lizqi sudah mulai terbiasa dengan tabiat si arogan bin menyebalkan itu? Atau ada sebab lainnya? Rasa simpati-empati mungkin. Kalau iya, rasa simpati-empati yang bagaimana atau sisi Steven Lou yang mana yang bisa membangkitkan rasa simpati-empatinya?
Saat sedang termenung, pertanyaan-pertanyaan semacam itu kerap muncul dalam benak Jiang Lizqi. Namun, tak ada satu pun jawaban yang bisa memuaskan rasa ingin tahunya. Hanya saja, pernah terlintas rasa kasihan di hatinya. Kasihan terhadap orang tua Steven Lou. Bagaimana tidak kasihan kalau punya anak kelakuannya seperti itu? Mereka mungkin sudah dibuat uring-uringan setiap hari.
Hari ini, di jam mata kuliah pertama, Steven Lou tidak menggangu Jiang Lizqi. Namun, bukan berarti si menyebalkan itu telah insaf ataupun fokus memperhatikan dosen. Tidak, tentu saja tidak seperti itu. Dia anteng dan tidak membuat masalah karena tidur nyenyak. Bahkan sampai mendengkur halus.
Anehnya, dosen yang sedang mengajar tidak menegur justru terkesan masa bodoh. Jiang Lizqi benar-benar prihatin, kasihan betul orang tua yang sudah bersusah-susah membiayai dan menggantungkan harapan pada anak tidak tahu adat seperti Steven Lou ini.
Memberanikan diri memandangi wajah tidur Steven Lou, hati Jiang Lizqi malah semakin sedih teringat pada papa dan mamanya. Hati mereka pasti hancur kalau dia berkelakuan seperti Steven Lou.
Sampai mata kuliah selesai, Steven Lou tetap tidur. Jiang Lizqi tidak hirau dan meninggalkan kelas bersama Ji Yu. Di luar panasnya gila-gilaan. Matahari benar-benar melaksanakan tugas dengan baik.
Menghindari sengatan sinar sang raja siang, Jiang Lizqi dan Ji Yu duduk di bangku taman kampus yang dinaungi pohon rindang. Selagi sahabatnya sibuk mengoperasikan laptop, Ji Yu tampak celingungkan seperti sedang mencari-cari.
Jiang Lizqi meliriknya. "Kamu sedang mencari siapa?"
"Ke mana perginya manusia songong itu?"
"Kenapa, huh, merindukannya?"
Sembari berdecih sebal, Ji Yu mendaratkan satu pukulan gemas ke bahu sahabatnya. "Aku justru sedang waswas kalu tiba-tiba dia muncul. Bisa rusak ketenangan kita. Aku harap dia masih tidur dan tidak akan bangun sampai jam pulang tiba."
Baru saja mulut Ji Yu terkatup, suara berderak roda skateboard terdengar semakin mendekat. Benar kata orang 'ucapan adalah doa', tidak mengharapkannya terjadi lebih baik jangan mengucapkannya juga, cukup simpan di dalam hati.
"Tsk, sial." Ji Yu menggerutu, sementara Jiang Lizqi tetap asyik dengan laptopnya, tak sedikit pun hirau.
[Bersambung]
__ADS_1