Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
MENCINTAI YANG BENAR


__ADS_3

Steven Lou mengerling jahil, lalu berkata, "Bukankah waktu itu kamu memintaku untuk menjadi kekasihmu?"


"I-iya, ta-pi---"


Jiang Lizqi tidak bisa berkata-kata lagi ketika tiba-tiba Steven Lou menariknya ke dalam pelukan hingga wajah pun terkubur di dada bidang pemuda itu. Jiang Lizqi membeku ketika mendengar detak jantung Steven Lou bertalu-talu. Dia berharap Steven Lou tidak mendengar suara detak jantungnya yang juga menggila.


Steven Lou berbisik, "Tidak ada tapi-tapian. Aku serius jadi kamu juga harus serius."


Dia begitu percaya diri bukan tanpa alasan. Jiang Lizqi sama seperti dirinya, sering mencuri-curi kesempatan untuk memandangi dan menyentuh wajahnya ketika sedang tidur sambil mengutarakan isi hati.


Steven Lou pernah memergokinya beberapa kali dan tetap berpura-pura tidur sambil menikmati setiap sentuhan dan ungkapan manis rasa sayang dari gadis itu.


"Apa ini pemaksaan?" Wajah Jiang Lizqi terasa panas, suaranya teredam karena bibirnya menempel di dada Steven Lou.


"Hum." Steven Lou mengangguk dan mempererat dekapan. "Aku memaksa. Sangat memaksa."


Meski semua kata-kata yang meluncur dari mulut Steven Lou tidak menyertakan intonasi lembut, bahkan malah terasa kaku seperti kanebo kering, tetapi esensinya sampai ke lubuk hati JiangLizqi. Jiwa gadis itu menghangat dan secara impulsif melingkarkan lengan di pinggang Steven Lou, lalu memeluknya erat-erat.


Namun, Steven Lou justru mencekal lengannya, lalu membentang sedikit jarak supaya bisa menatap wajah gadis itu. Dengan wajah merona, Jiang Lizqi yang posisinya sedikit turun, mendongak untuk menatap pemuda itu.


"Kamu bilang akan selalu ada untukku. Aku anggap itu janji seumur hidup." Steven Lou berkata lirih.


Jiang Lizqi tidak tahu harus berkata apa, akhirnya hanya tersenyum sambil mengangguk kecil, entah dengan sadar atau hanya impulsif juga. Yang jelas, hatinya sekarang tengah berbunga-bunga.


"Steven, aku---"


Kata-kata Jiang Lizqi diblokir oleh ciuman Steven Lou. Bibir maupun lidah pemuda itu tidak bergerak, hanya menempel lembut. Jiang Lizqi yang awalnya syok dan tubuhnya menegang, sedikit demi sedikit bisa relaks, kelopak mata pun perlahan menutup dan kedua tangan segera berpindah menggantung di tengkuk Steven Lou.

__ADS_1


Segera setelah dia memberi akses masuk, lidah Steven Lou langsung menggeliat di dalam mulutnya. StevenĀ  sudah menahan diri terlalu lama. Jadi, begitu kesempatan itu datang, tanpa ragu lagi dia melampiaskannya. Mereka bercumbu cukup lama. Saling memberi dan menerima, sampai-sampai tanpa sadar sudah nyaris telanjang.


Ketika hasrat nyaris sudah tidak tertahankan lagi, Steven Lou tiba-tiba teringat pada kebodohannya di masa lalu saat masih bersama Shen Jiaying. Hal itu membuatnya merasakan sensasi yang berbeda. Dia menghentikan aksinya, lalu menatap teduh pada Jiang Lizqi yang ada di bawah tindihannya. Gadis itu ngos-ngosan, bibirnya bengkak dan wajahnya memerah hingga ke telinga.


"Cukup." Steven Lou berbisik lembut sambil mengusap peluh yang ada di wajah Jiang Lizqi.


Setelah permainan yang begitu panas dan tiba-tiba berhenti, lalu pasangannya bilang seperti itu, wajah Jiang Lizqi langsung suram. "Kamu tidak menginginkannya?" Ada nada getir pada suaranya. "Atau tidak menginginkanku?


"Emmh." Steven Lou mengecup dahi Jiang Lizqi cukup lama, lalu berbisik di telinganya, "Belum waktunya. Aku ingin menjagamu tetap utuh sampai saatnya tiba.


"Steven." Jiang Lizqi mendekap Steven Lou erat-erat. "Terima kasih."


"I love you. "


"Emh, love you too."


Selama ini dia mengira, saling memuaskan di tempat tidur adalah cara yang sudah tepat untuk mengungkapkan rasa cinta. Namun, ternyata itu hanya nafsu belaka, apalagi untuk pasangan yang belum menikah.


Mencintai yang benar adalah dengan cara menghormatinya, menjaga kesuciannya sampai pada akhirnya resmi menjadi pasangan suami istri. Dia mencintai Jiang Lizqi dan ingin menjaganya baik-baik.


Keduanya berpelukan cukup lama, kemudian Steven Lou bangun dan pergi ke kamar mandi. Adik kecilnya perlu ditenangkan biar tidak rewel.


Keesokkan paginya tanpa disangka-sangka Jiang Lizqi terserang demam dan terus-terusan bersin, dan akhirnya tidak pergi mengajar.


Karena harus bekerja dan tidak tega meninggalkan Jiang Lizqi sendirian di rumah dalam keadaan sakit, akhirnya dengan terpaksa, Steven Lou meminta Ji Yu untuk menemani Jiang Lizqi


"Aku melakukan ini karena Qiqi sahabatku, bukan karena kamu yang memintaku! Mengerti?" Baru datang, tetapi omongan Ji Yu sudah sangat pedas.

__ADS_1


Membuat Steven Lou yang sebenarnya enggan cekcok karena di dalam hati mengakui bahwa sekarang ini sangat membutuhkan kerja sama Ji Yu, tetap saja tidak tahan mendengar ocehan pemuda culun itu.


"Bagus kalau begitu. Jadi aku tidak perlu mengucapkan terima kasih atau merasa berhutang budi," ujarnya acuh tak acuh sambil melangkah ke kamar membawa termos air hangat.


Dia mengunci pintu sehingga Ji Yu tidak bisa masuk dan si culun itu pun menyumpah serapah dalam gumaman karena tidak ingin suaranya mengusik tidur Jiang Lizqi.


"Kalian bertengkar lagi?" Jiang Lizqi menatap sayu, suaranya sengau.


"Tidak." Steven Lou mengecup dahi Jiang Lizqi dan merasa seperti tersengat bara. "Panas sekali. Sebaiknya aku---"


"Tidak, tidak. Pergilah bekerja. Nanti aku ke dokter dengan Yuyu."


"Tapi---"


"Tidak ada tapi-tapian. Sudah sana pergi. Hati-hati di jalan.


Akhirnya, dengan berat hati Steven Lou meninggalkan Jiang Lizqi, dan Sebelum berangkat bekerja, dia meletakkan uang 500 Yuan di atas meja ruang tamu, lalu menulis di secarik kertas.


UANG BEROBAT DAN UANG MAKAN.


Ji Yu yang duduk di sofa dengan wajah cemberut sambil melipat tangan langsung mencemooh, "Dasar pelit. Uang berobat dan uang makan untuk dua orang cuma segitu?"


"Itu untuk Jiang Lizqi. Kamu sahabatnya, kan? Bukannya sahabat itu harus menolong tanpa pamrih? Harus keluar uang sendiri."


Ji Yu menatap nanar dan bibirnya mencibir, tetapi tidak mengatakan apa-apa meski hati kesal bukan kepalang. Dia biasanya cerewet, tetapi kalau sudah adu mulut dengan Steven Lou tidak pernah menang. Sedangkan hal sebaliknya terjadi pada Steven Lou. Biasanya tidak banyak bicara, tetapi kalau sudah beradu kata dengan Ji Yu, mendadak punya banyak sekali perbendaharaan kata. Pun diucapkan dengan datar nan dingin.


Setelah itu, dia pergi dengan acuh tak acuh tanpa memedulikan caci maki yang dilontarkan Ji Yu, karena sebenarnya dia sudah meninggalkan uang untuk Jiang Lizqi di kamar, dan uang yang di atas meja ruang tamu itu memang khusus diberikan untuk Ji Yu.

__ADS_1


[ Bersambung]


__ADS_2