![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Steven Lou menatap tajam menantang. "Kenapa? Kalau hanya takut rumah ini semakin sepi, Ibu bisa bawa anak teman Ibu itu tinggal di sini atau angkat sekalian jadi anak. Ibu bisa dengan bangga memamerkan ke kolega-kolega, dia pintar, baik, cantik, ramah dan ...."
Sering dibanding-bandingkan dengan seseorang yang oleh ibunya dianggap pantas menjadi teladan, Steven Lou akan dengan senang hati mengungkit, dan membawa-bawa orang ketiga yang tidak tahu apa-apa itu dalam setiap kesempatan untuk membuat ibunya merasa bersalah.
Tidak berdarah, tetapi sakitnya luar biasa. Perkataan Steven Lou tidak hanya menoreh luka, tetapi juga terasa mencabik-cabik batin ibunya. Perasaan seperti itu juga yang dirasakan Steven Lou saat sang ibu membandingkannya dengan orang lain. Dia hanya ingin membalas perbuatan ibunya tanpa ada maksud kurang ajar.
Mata mulai berembun, bibirnya pun bergetar, suara Nyonya Lou bagai tersekat di tenggorokan. Ketika berbicara terdengar parau, "Kamu ... putra ibu satu-satunya, tidak akan pernah tergantikan. Makanlah, ibu ingin beristirahat." Nyonya Lou bangkit dari duduk dan sesaat sebelum beranjak pergi berpesan, "Ibu mohon jangan ganggu Jiang Lizqi. Dia tidak tahu apa-apa."
Mencibir dan melengos adalah penegasan bahwa Steven Lou tidak peduli pada permohonan ibunya. Selagi mengerjai Jiang Lizqi bisa membuatnya bahagia, dia akan terus melakukannya dan mungkin itu adalah satu-satunya alasan satu-satunya alasan dia datang ke kampus.
Hubungan ibu dan anak kacau, ikatan batin pun seperti tidak pernah ada. Yang ada, setiap bertemu Steven Lou, hati Nyonya Lou pasti sakit. Akan tetapi, dia tidak ingin terlalu memikirkannya. Dia sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu, tetapi tidak pernah menyalahkan Steven Lou karena merasa pantas menerimanya
Lagi pula, dia pernah bertaruh nyawa, merasakan sakit yang hampir-hampir membuatnya menyerah. Akan tetapi, pada akhirnya memutuskan untuk tetap berjuang hingga kehidupan baru yang saat itu sedang dia perjuangkan benar-benar terlahir.
Dalam hidup ini, dia sudah terlalu banyak merasakan sakit. Rasa sakit yang mencambuknya dengan begitu kejam, tetapi Nyonya Lou masih sanggup bertahan dan menanggungnya hingga saat ini. Bila sekarang masih harus merasakan sakit lagi, demi masa depan cemerlang si buah hati, dia tidak gentar. Senyum sinis terukir di bibirnya, mencemooh rasa sakit yang selalu berusaha melemahkan dirinya, tetapi sampai sekarang tidak pernah berhasil.
Setelah sang ibu benar-benar pergi, Steven Lou menatap makanan yang ada di atas meja dan rasa laparnya pun langsung bangkit. Tanpa ragu dia menyantap makan malamnya dengan lahap sembari memikirkan cara untuk mengerjai Jiang Lizqi.
Entah ide apa yang terlintas di benaknya? Lihat saja itu, sambil mengunyah dia menyeringai licik.
Kamu begitu sombong menolak uangku, huh. Kita lihat saja, apa kamu masih akan menolaknya bila dalam kondisi sangat membutuhkan?
Malam semakin larut. Setelah berusaha lebih keras dari biasanya, Jiang Lizqi akhirnya mampu merampungkan tugas kuliah. Sangat menyebalkan. Tugas yang seharusnya mudah, menjadi begitu rumit gara-gara bayangan manusia paling menyebalkan terus-menerus mengganggu.
Terlalu lelah, Jiang Lizqi membanting diri di atas kasur dalam posisi tengkurap dan langsung terlelap, sampai pagi posisinya tidak berubah. Bangun badannya pun terasa sakit semua. Sayangnya, dia bangun pukul setengah delapan. Jadi tidak ada waktu buat bermalas-malasan.
Lima belas menit kemudian saat sedang melangkah ringan menyusuri koridor gedung fakultasnya, suara berderak lembut terdengar dari arah belakang. Dia sudah hafal suara apa itu. Eksistensinya yang sudah hampir sebulan ini selalu mengusik pendengaran, sudah punya tempat khusus di gendang telinga.
Dia tetap melangkah tenang meskipun sebenarnya hati waswas. Waswas kalau tiba-tiba Steven Lou akan mengerjainya lagi. Namun, dia salah. Ternyata Steven Lou hanya berlalu begitu saja tanpa sedikit pun menoleh.
"Qiqi!"
Baru saja mengembuskan napas lega, sudah dibuat melonjak kaget oleh teriakan Ji Yu.
"Apa-apaan kamu ini?" Jiang Lizqi mendelik kesal, lalu meninju lengan si tampang culun itu.
"Sorry, tidak bermaksud mengagetkan. Hanya terlalu bersemangat." Antusiasme yang tergambar di wajah Ji Yu tampak terlalu berlebihan. Sangat tidak biasa.
Mata Jiang Lizqi menyipit curiga. "Apa yang membuatmu begitu bersemangat?"
Ji Yu melaju mundur di depan Jiang Lizqi yang melangkah maju supaya tetap bisa bertatap muka. Dengan berapi-api dia berceloteh, "Sebentar lagi kamu akan melihat si manusia songong itu mengamuk."
__ADS_1
Alis bertaut, mendadak perasaan Jiang Lizqi tidak enak. Ji Yu memang terlihat lemah, tetapi sebenarnya sangat pemarah dan tidak sabaran. Jangan bilang dia sedang membuat gara-gara dengan Steven Lou.
"Apa maksudmu?"
Ji Yu tergelak puas dan bangga. "Aku sudah mengoleskan lem di---"
"Apa?!" Jiang Lizqi menghardik, "Kamu gila!" Tidak salah firasat dan dugaannya. Cepat-cepat gadis itu berlari, meninggalakan Ji Yu yang malah berhenti melangkah dan terbengong.
Pintu kelas tidak jauh lagi, larinya semakin kencang. Tepat waktu, sampai di ambang pintu, dia melihat Steven Lou baru hendak duduk.
"Steven jangan duduk!" Dia bergegas menghampiri Steven Lou tanpa hirau pada berpasang-pasang mata yang menatapnya.
Menunggu Jiang Lizqi datang, mata Steven Lou memicing, alis pun bertaut, dan muka tampak keruh---lebih keruh dari air comberan. Berkacak pinggang pula.
Apa-apaan itu? Kenapa mesti tergesa-gesa seperti dikejar preman begitu?
Tanpa terlebih dahulu mengatur napas atau menjelaskan apa yang terjadi, Jiang Lizqi segera membuka tasnya lalu mengambil sebungkus tisu basah.
"Apa yang kamu lakukan?" Steven Lou menatap keheranan.
Jiang Lizqi tidak menjawab. Lebih baik tidak usah bilang apa-apa untuk menghindari keributan. Namun, dia terlalu naif. Bagaimana mungkin kecurangan sejelas itu bisa disembunyikan.
"Bangsat!" Dia mengumpat dalam geraman tepat di depan wajah Jiang Lizqi. "Ingin bermain-main denganku, hah?"
Jiang Lizqi Sempat terkejut sesaat, tetapi akhirnya menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Setelah itu, dengan santai berkata, "Aku tidak suka bermain-main dengan orang bertemperan buruk sepertimu. Kebetulan saja aku tahu ada yang ingin mengerjaimu. Jadi---"
"Aku yang melakukannya." Ji Yu datang, wajahnya angkuh menantang, mata menatap tajam penuh api amarah.
Sangat cepat, Steven Lou melepaskan Jiang Lizqi, lalu mencengkeram lengan Ji Yu, kemudian memaksanya duduk. "Kalau begitu kamu saja yang duduk di sini!"
"Steven jangan!" Jiang Lizqi berseru melarang, tetapi tidak ada gunanya.
Terlalu cepat, tidak sempat dicegah lagi. Jiang Lizqi akhirnya hanya bisa menatap syok pada Ji Yu. Steven Lou membenamkannya di atas olesan lem yang belum selesai dibersihkan, bahkan tangan Steven Lou pun masih menekan bahunya.
"Manusia songong sialan!" Amarah Ji Yu meluap. Sungguh memalukan, tidak hanya gagal mengerjai target, justru dia masuk ke lubang yang digalinya sendiri.
Di balik kacamata, mata Ji Yu memerah menatap nanar, mukanya pun merah padam dan berkeringat, gigi bergemertak, dan kedua tinju yang ada di atas paha mengepal erat. Saking marahnya, Ji Yu malah tidak mampu berkata-kata selain umpatan barusan.
Tersenyum mencemooh, tatapan Steven Lou pun sangat merendahkan. "Kamu yang memulai, jadi harus berakhir di kamu juga! Impas! Sekarang nikmatilah bagaimana rasanya menjadi satu dengan kursi kesayanganmu."
"Kita duduk di belakang." Steven Lou menyambar tangan Jiang Lizqi.
__ADS_1
Ditarik sedemikian rupa, gadis itu tidak berdaya. Melangkah tersaruk-saruk di belakang Steven Lou menuju kursi barisan paling belakang sembari terus menoleh ke arah Ji Yu---memberinya tatapan mohon maaf.
Dipaksa duduk dengan cara ditekan bahunya, Jiang Lizqi merasa dianiaya dan menatap tajan Steven Lou. Wajah manis yang biasanya murah senyum itu sekarang terlihat menyeramkan, alis tebal menukik tajam, bibir tipisnya rapat terkatup, rahang tegas menonjol ....
"Marah?" Nada suara Steven Lou datar, tetapi tetap terkesan arogan. "Dia yang mencari gara-gara, bukan aku."
"Tapi kamu kan tida apa-apa. Lagi pula aku sudah membantumu membersihkan lem itu, kan?" Jiang Lizqi Sungguh tidak habis pikir, seumur-umur baru kali ini bertemu dengan orang model StevenLou.
"Makanya, ja-ngan per-nah mencari gara-gara dengan Steven Lou."
Yang boleh mencari gara-gara dengan orang lain hanya Steven Lou. Orang lain mencari gara-gara dengan Steven Lou, tanggung sendiri akibatnya. Ji Yu adalah contohnya. Peraturan dari mana itu?
Malas melihat wajah songong Steven Lou yang terus-terusan menyeringai puas, seolah mengatakan 'rasakan', Jiang Lizqi segera membuang muka.
"Aku sungguh menyesali perkataanku kemarin dan berniat minta maaf." Sambil menyibukkan diri dengan mengobrak-abrik isi tas, Jiang Lizqi menggumam. "Bodoh sekali aku ini. Buat apa coba? Manusia songong menyebalkan ini tidak pantas diberi hati. Bertemu dengannya sungguh mimpi buruk."
"Kamu bilang apa barusan?" Steven Lou menghardik, matanya pun mendelik.
"Jangan bicara dengannya. Abaikan saja, anggap tidak ada." Jiang Lizqi acuh tak acuh dan terus menggumamkan sindiran.
"Heh!" Steven membentak sambil menggebrak meja.
Jiang Lizqi menatap polos dengan wajah bodoh. "Bicara denganku?"
"Ngomong yang jelas!"
"Aku tidak mau bicara denganmu."
"Kamu pikir kamu siapa, hah?"
"Abaikan, abaikan, abaikan. Tidak dengar, anggap tidak ada." Sembari menyandar santai, gumaman Jiang Lizqi lama-kelamaan jadi bernada, seperti sedang menyanyi.
"Ka-kamu---"
"Ah! Selamat pagi Mister Kwong!" Jiang Lizqi tiba-tiba berdiri dan berseru memberi salam.
Steven Lou kesal bukan kepalang. Senyum ceria gadis itu saat mengucap salam pada dosen yang barusan masuk, seperti ditujukan untuk mencemoohnya.
Tukang senyum sialan! Awas saja ....
[•]
__ADS_1