Cinta [Tak] Sempurna

Cinta [Tak] Sempurna
DILEMA


__ADS_3

Ketika mendapati raut wajah kedua petugas resepsionis yang tadinya ramah tiba-tiba berubah kaku dan tegas, Jiang Lizqi pun segera menyadari kalau mungkin seharusnya tidak bertanya seperti itu.


"Ma-maaf," ucapnya canggung.


Setelah Jiang Lizqi meminta maaf, secepat datangnya secepat itu pula kekakuan di wajah kedua orang itu sirna dan kembali ramah.


Salah satu dari mereka meletakkan sebuah dompet, ponsel, dan skateboard ke atas meja sambil berkata, "Ini adalah barang milik Tuan Lou. Kami menyimpannya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sekarang kami kembalikan, silakan."


Dari ketiga benda tersebut, ponsel menjadi yang paling menarik perhatian Jiang Lizqi. Karena benda pipih persegi panjang yang saat ini ada di hadapannya berbeda dengan yang biasa digunakan Steven Lou.


"Apa Anda yakin ini miliknya?" Jiang Lizqi bertanya dengan wajah sangsi.


"Kami menemukan ponsel tersebut di saku celananya dan dengan ponsel itu juga kami menghubungi Anda."


Selagi masih termangu mencoba mereka-reka, Jiang Lizqi dikejutkan oleh kemunculan dua orang pria dari arah dalam melalui pintu yang tadinya tidak pernah dia pikir ada di sana karena terlihat datar, rata seperti dinding.


Sopir taksi segera bergerak menyongsong ketika melihat salah satu dari mereka ternyata adalah Steven Lou dalam keadaan lemas. Bahkan untuk menyangga kepala saja tidak mampu, sepenuhnya menopangkan berat tubuh pada orang yang memapahnya.


Astaga. Bagaimana mungkin, Tuan muda mabuk sampai seperti ini? Mustahil.


Si sopir yang sudah mengenal Steven Lou sejak lama, merasa khawatir dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria itu tanpa ragu langsung membopong tubuh tuan mudanya.


Jiang Lizqi menatap prihatin. Rasa kecewa yang bergelayut di hati terasa semakin berat membebaninya. Dadanya tiba-tiba menjadi sangat sesak dan tidak kunjung lega meskipun telah mengisinya dengan banyak udara.


Kenapa harus merasa demikian? Bukankah Steven Lou bukan siapa-siapanya? Entahlah, dia sendiri pun tidak tahu.


Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan kepada petugas resepsionis, juga pada orang yang telah mengantarkan Steven Lou, Jiang Lizqi segera menyusul sopir taksi yang sudah pergi mendahuluinya.


Tubuh Steven Lou dibaringkan di tempat duduk belakang. Alih-alih duduk di depan samping supir, Jiang Lizqi justru duduk di tempat Steven Lou berada dan menggunakan pahanya sebagai bantalan kepala pemuda yang sedang tidak sadarkan diri tersebut.


Dengan tatapan khawatir terarah pada Steven Lou, si sopir bertanya, "Sekarang kita akan pergi ke mana, Non?"


"Seharusnya kita mengantar dia pulang, tapi saya tidak tahu di mana rumahnya."


"Kalau begitu kenapa tidak di bawa ke apartemen Anda saja?" Sopir itu berbicara dengan nada biasa—hanya sebagai saran yang lumrah. Namun, sebenarnya dalam hati sungguh sangat berharap Jiang Lizqi tidak menolak idenya.

__ADS_1


Bisa saja dia mengantarkan Steven Lou ke rumahnya karena memang tahu di mana pemuda itu tinggal. Namun, dia tidak ingin malaikat penolongnya itu akan bermasalah dengan ibunya. Pria itu yakin, Steven Lou mabuk bukan karena keinginannya sendiri.


Bertahun-tahun mengenalnya bahkan selalu menemani ke mana pun pemuda itu pergi, membuat sopir itu yakin seyakin-yakinnya bahwa Steven Lou tidak akan berbuat bodoh, merusak tubuhnya dengan menegak minuman beralkohol. Alih-alih menenggak alkohol untuk melampiaskan kekesalan hati, biasanya Steven Lou akan melakukan hobinya secara gila-gilaan. Dulu pernah ikut balapan liar sampai nyaris celaka. Bermain skateboard hingga nyaris kehabisan tenaga. Menari bersama teman-temannya sampai lupa waktu. Namun itu dulu, sekarang, sejak putus dari pacarnya dan nyaris mati gara-gara obat tidur, Steven Lou tidak lagi seaktif itu. Bahkan terkesan lebih suka menyendiri.


Jiang Lizqi tidak keberatan bila untuk sementara Steven Lou tinggal di apartemennya. Laki-laki dan perempuan tinggal bersama tanpa ikatan sudah bukan hal tabu lagi di zaman sekarang ini. Hanya saja, dia khawatir saat Steven Lou sadar nanti malah akan memarahinya.


Akan tetapi, saat melihat keadaan pemuda itu sangat menyedihkan, hatinya kembali merasa tidak tega dan akhirnya pun setuju. "Aku rasa tidak ada pilihan lain," katanya.


Si sopir seketika itu juga tersenyum lega dan setelah mengangguk segera melajukan mobilnya.


Jiang Lizqi menunduk, menatap wajah tampan Steven Lou yang saat ini tampak memerah. Bibir yang biasanya merona dan selalu terlihat basah, kini kering dan pecah-pecah. Sungguh sulit dipercaya, pemilik wajah polos yang matanya sedang terpejam damai itu adalah seorang peminum.


Aku tidak pernah merasa seterganggu ini dengan sikap aroganmu. Tapi, kenapa hatiku rasanya sangat kecewa mengetahui bahwa kamu ternyata pecandu alkohol? Minum sewajarnya tidak masalah. Kenapa harus sampai seperti ini?


Jiang Lizqi mengeluh dalam hati. Dada yang belum sepenuhnya lega, kini kembali bagai terhimpit. Begitu sesak rasanya.


Sopir yang sedang fokus mengemudi, menyempatkan diri mengerling ke kaca spion yang berada di atasnya. Melihat mendung menyelimuti wajah Jiang Lizqi, hatinya tergelitik oleh rasa penasaran.


"Anda terlihat sangat cemas. Apakah teman Anda sudah terbiasa seperti ini?"


Jiang Lizqi terlihat ragu untuk menjawab karena tidak tahu harus berkata apa, tetapi pada akhirnya tetap bersuara, "Sebenarnya, kami bukanlah teman akrab. Hanya sekedar kenal karena kebetulan kami satu kampus dan juga duduk bersebelahan."


Si sopir mengernyitkan dahi, batin pun didera rasa heran dan tanya. Aneh. Kalau bukan teman baik, kenapa tuan muda sepertinya sangat mengistimewakan gadis ini?


Kemudian dia pun berkata dengan nada bercanda, "Tapi, saya lihat sepertinya Anda sangat mengkhawatirkannya. Itu tampak jelas dari raut wajah Anda, Nona. Saya pikir kalian malah sepasang kekasih."


Jiang Lizqi tersenyum kecut. "Tentu saja bukan, Paman. Saya hanya merasa sedikit kecewa. Tidak menyangka kalau dia ternyata hobi mabuk."


Si sopir segera berkata, "Anda jangan terburu-buru menilai seperti itu."


"Maksud Paman?" Jiang Lizqi kembali mengerling ke kaca spion.


"Eemh, setahu saya, orang yang sudah terbiasa minum miras tidak akan mengalami mabuk parah hingga tidak sadarkan diri seperti itu."


Si sopir juga mengerling spion untuk melihat reaksi Jiang Lizqi. Sebenarnya, dia sendiri tidak tahu apakah opininya tadi benar atau tidak karena dia belum pernah minum sampai mabuk seperti itu. Dia hanya mau Jiang Lizqi berprasangka buruk terhadap Steven Lou.

__ADS_1


Karena Jiang Lizqi hanya terdiam dengan gestur sedang merenung, akhirnya sopir itu kembali berkata, "Lagi pula, apa Anda tidak merasa sedikit aneh?"


"Aneh? Aneh bagaimana maksudnya?"


"Orang seperti Tuan Muda Lou, mana mungkin datang ke bar seorang diri. Saya yakin dia pasti mengajak teman. Kalau dugaan saya ini benar, lalu ke mana temannya?"


Jiang Lizqi kembali termenung. Dalam hati membenarkan perkataan si sopir. "Jadi, Paman berpikir kalau temannya telah pergi meninggalkan dia?"


"Itu mungkin saja terjadi, bukan? Atau mungkin teman Anda itu baru saja menjadi korban bulian."


Korban buli? Dahi Jiang Lizqi seketika mengernyit.


Memikirkan hal itu dia jadi merasa geli sendiri. Seorang Steven Lou menjadi korban perundungan? Apa tidak lebih pantas kalau sebaliknya, Steven Lou yang merundung? Mengingat begitu arogannya dia. Sungguh tidak bisa dibayangkan bila dia yang menjadi korban.


"Jadi, Paman berpendapat kalau ini pertama kalinya dia mabuk berat seperti ini? Itu kan, yang ingin Paman katakan?"


Sopir itu terkekeh ringan sebelum akhirnya berkata, "Yah, itu hanya pemikiran saya saja, Non. Karena saya lihat, Tuan Muda Lou ini tidak terlihat cocok sebagai pecandu alkohol."


Mendengar penuturan pria itu, entah mengapa Jiang Lizqi tiba-tiba menjadi naif, hatinya merasa lega begitu saja. Merasa seperti masih ada asa dan dada yang beberapa menit lalu masih terasa sesak pun tiba-tiba menjadi plong. Ketika dia mengisinya dengan udara, rongga di dalam sana terasa begitu lapang hingga mampu menampung sebanyak-banyaknya.


"Perlu Paman ketahui, dia ini adik sepupu Kuan Ge ...."


Tanpa berpikir si sopir langsung berkata, "Iya, saya tahu."


Jiang Lizqi menatap bagian belakang kepala si sopir dengan mata menyipit. "Paman tahu?"


Sopir itu terkesiap, terlukis jelas di wajahnya, tetapi Jiang Lizqi sudah tentu tidak bisa melihat itu. Buru-buru si sopir beralasan, "Emh, maksud saya, iya saya tahu karena Anda baru saja mengatakannya."


"Oh, begitu."


Mulutnya boleh saja berkata demikian, tetapi sebenarnya ada yang mulai terasa mengganjal di hati. Jiang Lizqi tidak mengatakan apa-apa lagi, dia terdiam, termenung sambil sesekali menatap ke luar, atau memperhatikan wajah Steven Lou yang lebih terlihat pulas dibandingkan teler akibat miras.


Di dalam benaknya, Jiang Lizqi mulai merangkai kembali urutan peristiwa yang dialaminya hari ini, mencoba untuk mencari keterkaitan.


Namun, sampai taksi yang ditumpanginya memasuki area kompleks apartemen, tidak terpikirkan satu ide pun yang bisa menghubungkan satu peristiwa ke peristiwa yang lain sebagai satu kesatuan.

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2