![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
"Steven jangan!" Lou Haikuan menghardik sembari menahan pergelangan tangan adik sepupunya. Dia tidak mungkin tinggal diam melihat Steven Lou kasar terhadap perempuan.
Masih sambil menahan tangan Steven Lou, Lou Haikuan bertanya, "Kamu Jiang Lizqi, kan?"
"Benar. Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud mencari gara-gara," ujarnya sopan dengan sedikit membungkuk.
"Tunggu pembalasanku." Setelah mengucap dua kata bernada ancaman, Steven Lou menyentak tangannya, kemudian melangkah pergi, sedangkan Lou Haikuan tetap tinggal untuk berbicara pada Jiang Lizqi. Pria itu menatap kepergian adik sepupunya dengan sorot mata layu.
"Maafkan adikku," ujarnya tulus.
Jiang Lizqi tercengang. "Jadi, Anda kakaknya. Sekali lagi saya minta maaf, Tuan Lou." Gadis itu buru-buru membungkuk cukup dalam.
Buru-buru Lou Haikuan memegang lengan Jiang Lizqi, lalu membimbingnya kembali tegak. "Jangan sungkan. Aku tahu betul siapa adikku. Aku rasa, akulah yang harus meminta maaf atas sikapnya."
"Tuan Lou, saya---"
"Panggil saja Gege atau Kuan Ge. Aku rasa, seperti itu akan jauh lebih akrab." Lou Haikuan tersenyum teduh dan ramah.
Senyum pria itu pun menular pada Jiang Lizqi. Wajahnya semringah dan dalam hati mengagumi keramahan pria yang ada di hadapannya itu. "Eemmm, baiklah, Kuan Ge."
"Lebih enak didengar." Lou Haikuan terkekeh. "Oh iya. Sebaiknya aku segera pamit, Steven pasti akan bertambah kesal kalau menunggu terlalu lama."
"Eh, tapi ... Kuan Ge. Bagaimana dengan nasib semua makanan ini?"
Lou Haikuan menatap prihatin pada berbungkus-bungkus makanan yang tergeletak di lantai bagai onggokan sampah yang ditata rapi. Embusan napas panjang nan lelah pun terlontar dari hidung dan mulutnya.
"Kita tidak mungkin bisa menghabiskannya. Lagi pula tidak baik mengosumsi makanan cepat saji terlalu banyak dalam sekali waktu."
Jiang Lizqi tampak termenung sejenak, kemudian menyetuk, "Aku punya ide, tapi kalau Kuan Ge tidak keberatan, sih."
"Apa itu?"
"Eemmm, itu ... anu ...."
Melihat Jiang Lizqi terlihat kesulitan berbicara karena ragu, Lou Haikuan pun berkata, "Katakan saja tidak perlu ragu."
Jiang Lizqi menghela napas dalam, lalu mengembuskan perlahan. Setelah itu, nyerocos, "Tidak jauh dari tempat ini ada sebuah pemukiman kecil yang dihuni oleh mereka yang hidupnya kurang beruntung bagaimana kalau kita membawa makanan ini ke---"
__ADS_1
"Aku setuju." Lou Haikuan paham ke mana arah perkataan gadis itu. Jadi langsung saja menjawab setuju.
"Eh. Benarkah?" Walau sudah menduga Lou Haikuan pasti tidak akan menolak, tetapi menjawab setuju bahkan sebelum dirinya selesai bicara, sungguh sangat mengejutkan.
Setelah sempat berkelakar layaknya dua teman akrab, mereka pun bergegas meringkas makanan yang tadinya terdiri dari lima belas kantong plastik hingga akhirnya tinggal menjadi tujuh saja. Makanan yang didominasi oleh olahan ayam goreng dari berbagai restoran cepat saji tersebut, aromanya sungguh menggugah selera. Baik Jiang Lizqi maupun Lou Haikuan merasakan dampaknya. Di dalam sana perut mereka berkeriyuk. Meski hanya bisa dirasa dan didengar oleh masing-masing, tetap aja rasanya memalukan.
Jiang Lizqi menenteng tiga kantong plastik, sedangkan Lou Haikuan kebagian empat. Keduanya turun dari lantai delapan menuju lobi tanpa banyak bercakap. Hanya saja, waktu di dalam lift, sesekali mereka akan tanpa sengaja saling bertemu pandang, kalau sudah begitu keduanya akan sama-sama tersenyum canggung.
Sesampai di lobi mereka bertemu Steven Lou yang sedang berdiri bersandar pada dinding dan seketika menegakkan diri saat melihat keduanya datang.
"Apa-apaan ini?" tanyanya geram dengan wajah garang. "Kamu ingin membawa makanan ini pulang?" Tatapan mencela dia beri pada sang kakak sepupu.
Lou Haikuan tersenyum teduh, kemudian dengan tenang berkata, "Kami akan memberikannya pada mereka yang membutuhkan. Kamu mau ikut atau menunggu di sini?"
Steven Lou beralih menatap tajam pada Jiang Lizqi. "Dia ikut?" tanyanya dengan bibir mencibir serta dagu terangkat menunjuk ke arah gadis itu.
"Tentu saja. Karena ini adalah idenya. Lagi pula hanya dia yang tahu tempatnya."
Sekali lagi Steven Lou mencibir sebelum akhirnya mengayun kaki, mendahului melangkah keluar dari lobi. Dia berbaik hati membuka pintu untuk Lou Haikuan, tetapi ketika tiba giliran Jiang Lizqi, dengan sengaja melepaskan pintu tersebut. Jiang Lizqi menatap pintu kaca yang mengayun menutup dengan sorot mata putus asa. Namun, bersyukurlah karena petugas keamanan lobi berkenan membantunya.
Dasar Steven. Lou Haikuan menggeleng lemah melihat kelakuan adik sepupunya.
"Buka sendiri." Begitulah dia berbisik sambil berlalu.
Jiang Lizqi menghela dan mengembuskan napas lelah. "Dasar sakit jiwa," gerutunya dan Steven Lou hanya mengangkat bahu tak acuh. Akhirnya, Lou Haikuan yang sudah duduk di balik kemudi turun lagi untuk membantunya.
Selama perjalanan yang memakan waktu tak lebih dari sepuluh menit, Steven Lou hanya membisu dengan wajah tertekuk kesal, sedangkan Lou Haikuan dan Jiang Lizqi sempat bercakap-cakap. Lagi pula, Jiang Lizqi harus memberi petunjuk arah pada Lou Haikuan. Jadi, ada alasan dan bahan untuk dibicarakan.
Ketika mobil mulai memasuki jalan sunyi menuju pemukinan yang hendak mereka tuju, ekspresi wajah Steven Lou sedikit berubah. Matanya membola melihat ke luar jendela. Dahi mengernyit dan alis bertaut.
"Kuan Ge, berhenti di depan gang itu saja," pinta Jiang Lizqi.
Steven Lou bersandar malas. Hanya menatap tak acuh saat kakak sepupunya dan Jiang Lizqi keluar dan melangkah memasuki gang sembari menenteng kantong-kantong plastik berisi makanan. Setelah mereka berlalu, sekali lagi dia memperhatikan sekeliling.
Tempat ini sudah tidak asing baginya. Dulu dia sempat menyasar ke sini waktu sedang berusaha memata-matai Jiang Lizqi. Bahkan dia pun sempat memiliki beberapa pengalaman bersama anak-anak penghuni pemukiman tersebut.
Perlahan Steven membuka pintu mobil, lalu melangkah ke luar. Berdiri di samping mobil, matanya kembali menyapu sekitar. Sementara itu, kedatangan Jiang Lizqi dan Lou Haikuan disambut meriah oleh anak-anak yang terus berseru 'Lizqi Jiejie datang' penuh riang ria.
__ADS_1
Lou Haikuan terharu. Jiang Lizqi pastilah sudah sering mendatangi tempat ini. Sebuah pemukiman kecil nan sederhana yang ditinggali oleh mereka yang profesinya sebagai pemulung, tukang sapu jalan serabutan, dan entah apa lagi.
Anak-anak itu terlihat begitu kotor dan kumal. Namun, Jiang Lizqi tidak segan untuk merangkul, memeluk, bahkan menggendong yang paling kecil. Pemandangan yang sungguh mengharukan. Lou Haikuan sampai merasa tenggorokannya tersekat karena perasaan haru yang tiba-tiba memenuhi kalbu.
"Ini bukan hari Minggu, kenapa Jiejie sudah datang?" tanya seorang bocah dengan antusias.
"Iya, dan biasanya Jiejie datang bersama Yu Ge, tapi sekarang, kok, bukan?" Seorang bocah yang lain menimpali. Barpasang-pasang mata polos nan jernih itu serempak menatap Lou Haikuan.
"Halo semua." Lou Haikuan menyapa riang.
"Halo juga!" Anak-anak itu menjawab serempak, begitu nyaring.
Jiang Lizqi tergelak, kemudian berkata, "Nah anak-anak, perkenalkan ini---"
Seorang bocah menginterupsi. Sambil menunjuk ke arah jalan berteriak, "Itu Kuan Ge!" Semua atensi serempak mengikuti jari telunjuknya. Di sana berdiri Steven Lou dengan wajah syok.
Jiang Lizqi dan Lou Haikuan saling bertukar pandang bingung. Dan semakin bertambah tidak mengerti ketika beberapa bocah berlari ke arah Steven Lou sambil berseru 'Kuan Ge juga datang'.
"Kalian mengenal kakak yang itu?" Jiang Lizqi bertanya pada salah seorang anak.
Dengan antusias bocah itu menjawab sekaligus bercerita, "Iya, Jie. Kuan Ge sudah beberapa kali kemari membawakan kami banyak makanan ringan, juga mengajari kami meluncur di atas papan beroda."
"Bagaimana dia bisa sampai di sini?" Lou Haikuan hanya menggumam pada diri sendiri, tetapi si bocah mendengarnya.
"Dia tersesat saat sedang mencari alamat rumah teman. Begitu katanya waktu itu."
Jiang Lizqi dan Lou Haikuan kembali saling bertukar pandang tanpa ada kata terucap. Ketika mereka mengalihkan atensi ke arah Steven Lou yang sedang melangkah mendekat bersama anak-anak, mata keduanya melebar maksimal. Steven Lou menggendong salah satu dari bocah kotor itu dengan santai, bahkan sambil diajak bercanda.
Saking terkejut dan tidak percaya, Lou Haikuan merasa kakinya mengambang, seperti tidak menjejak bumi. "Oh astaga. Aku harap ini bukan mimpi," gumamnya.
Steven Lou bukan tipe orang yang suka pilih-pilih dalam bergaul, tetapi Lou Haikuan tidak menyangka kalau dia mau bergaul dengan mereka ini.
"Gege ini namanya siapa?"
Pertanyaan itu mengagetkan Lou Haikuan yang sedikit melamun. Tersenyum lembut, dia menjawab, "Panggil juga aku Kuan Ge. Karena, Kuan Ge yang ini adalah kakaknya Kuan Ge yang itu."
Anak-anak polos itu serempak berseru, "Ooo, begitu!"
__ADS_1
[Bersambung]