![Cinta [Tak] Sempurna](https://asset.asean.biz.id/cinta--tak--sempurna.webp)
Setelah melepas sepatu dan meletakkannya di rak samping pintu, kaki ramping nan jenjang berbalut celana denim ketat warna biru pudar itu melangkah dengan sedikit berjinjit untuk meminimalisir suara entakan.
Gadis itu menggeleng kecil saat melihat posisi kepala Steven Lou yang sedikit tertekuk. "Lehernya bisa sakit kalau seperti itu," gumamnya sembari menaruh tas punggung di atas meja.
Jiang Lizqi bermaksud meraih tangan kanan Steven Lou yang menjuntai hampir menyentuh lantai, tetapi malah hanya terpaku saat matanya tanpa sengaja mengerling tangan kiri pemuda itu yang berada di atas perut. Luka sayatan di jari telunjuk dan jari manis yang tampak memerah membuatnya mengernyit miris.
"Astaga. apakah dia bermaksud mencincang jari-jarinya?" Jiang Lizqi tidak bisa menahan senyum saat membayangkan keseruan Steven Lou di dapur.
"Jadi, kamu berniat tidak ingin menyusahkan aku lagi, huh? Manis sekali. Tapi sungguh keputusan yang tidak bijak meninggalkan bocah ini sendirian bermain pisau di dapur."
Setelah menyamankan tangan kanan Steven Lou di atas sofa, Jiang Lizqi segera beranjak. Ayunan kakinya berhenti di depan kotak P3K yang tergantung di dinding lorong akses ke dapur. Lagi-lagi pergerakan tangan yang sudah hendak membuka pintu tempat obat itu terhenti. Matanya menatap terpaku pada beberapa pakaian yang di jemur di dekat jendela dapur.
"Itu bukannya pakaian yang seharusnya aku cuci malam ini? Lalu yang kemarin sudah aku cuci, kok, tidak ada?"
Sejenak, Jiang Lizqi termenung untuk mengumpulkan serpihan-serpihan ingatan yang sepertinya tidak lengkap. Sejak memasuki apartemen dia memang sudah merasakan ada yang berbeda, tetapi Steven Lou yang tidur di sofa telah menyita seluruh atensinya sehingga dia melupakan sensasi asing itu.
Setelah beberapa detik berlalu dan tetap tidak mampu mengingatnya, Jiang Lizqi segera kembali pada niat semula, yaitu mengambil plester untuk membungkus luka Steven Lou.
Sesampai di ruang depan ketika melihat sofa tunggal, ingatannya serta-merta kembali. Yah, sekarang dia ingat. Seharusnya di atas sofa tunggal itu ada tumpukan pakaian bersih yang belum sempat dia lipat. Jiang Lizqi menatap wajah pulas Steven Lou penuh haru.
"Kamu melakukannya?" Meski tahu Steven Lou tidak akan menjawab, dia tetap bertanya sambil tersenyum lembut.
Jiang Lizqi berjongkok, kemudian dengan hati-hati menempelkan plester pada luka sayatan di kedua jari pemuda itu. Setelahnya, bangkit dan melangkah menuju ke kamar untuk memastikan sesuatu.
Saat pintu dibuka, untuk yang kesekian kali matanya harus menatap terpaku dengan sensasi yang sama; kaget, tidak percaya, bahkan takjub. Kamar itu terlihat sangat rapi. Seprai yang terbentang di atas kasur tampak kencang, seperti baru dipasang dan belum pernah ditiduri sebelumnya. Padahal, itu seprai yang sama dengan yang kemarin. Biasanya saat dia pulang, tempat tidur itu masih dalam kondisi berantakan.
Puas memandangi kerapian pembaringan yang memesona hatinya, manik kelam penuh binar itu kini berlarian mengarungi seluruh ruangan. Semua yang terlihat telah membuatnya takjub. Buku-buku di atas meja belajar tersusun rapi sesuai panjang dan ketebalan. sovenir miniatur rumah dan miniatur bangunan-bangunan apartemen---cukup banyak jumlahnya---yang jarang dia urus, kini berjajar teratur di dalam kotak kaca tempatnya berada. Lantai kayu berwarna cokelat yang biasanya kusam karena akhir-akhir ini jarang dibersihkan, terlihat bersih mengilap.
Jiang Lizqi menghentikan langkah tepat di depan almari pakaian. Bibirnya berkedut mengukir senyum kecil. "Apa dia merasa sayang untuk merusak hasil kerja kerasnya? Makanya tidur di sofa."
__ADS_1
Memikirkan hal itu, Jiang Lizqi merasa geli sendiri dan tanpa sadar terkekeh. "Sulit dipercaya. Aku sungguh tidak menyangka, kamu bisa melakukan semua ini," gumamnya sambil membuka pintu almari dan berseru, "Waooow! Kamu bahkan bisa melipat pakaian dan menyusun dengan sangat rapi."
Dada Jiang Lizqi seketika menghangat dan mata pun tiba-tiba mengembun. Apa yang telah Steven Lou lakukan mungkin tidak seberapa, tetapi bagi Jiang Lizqi, itu sangat berarti. Apalagi dalam kondisi tubuh penat setelah seharian penuh beraktivitas, bantuan kecil itu sangat besar artinya.
"Terima kasih, Steven," gumamnya setulus hati.
Setelah itu, dia segera mengambil selimut dan bergegas membawanya ke luar untuk menyelimuti tubuh Steven Lou. Sejenak, Jiang Lizqi menimbang antara membetulkan posisi kepala Steven Lou atau tidak. Dia hanya tidak ingin tidur pemuda itu terganggu, tetapi bila tidak dibetulkan lehernya akan sakit. Dengan segala pertimbangan, pada akhirnya dia memutuskan untuk membetulkannya.
Seharusnya Jiang Lizqi segera pergi setelah menyelimuti dan memperbaiki posisi kepala pemuda itu, tetapi entah mengapa dia justru duduk di tepi sofa dan memandangi wajahnya.
Obrolan konyol yang kemarin malam pun kembali terngiang di telinga dan membuatnya tersipu hingga pipi merona. Dasar konyol.
Setiap hari bertemu, tetapi entah mengapa rasa-rasanya, seperti baru kali ini dia melihat atau lebih tepat dikatakan baru menyadari bila si arogan itu ternyata sangat tampan. Jauh lebih tampan dari waktu pertama kali bertemu.
Kulit seputih susu terlihat lembut, halus bagai tanpa pori-pori. Alisnya hitam nan tebal. Hidung mancung dengan ujung mungil menggemaskan, bahkan Jiang Lizqi harus menahan hasrat supaya tidak mencolek atau memencetnya.
Entah sadar atau tidak, leher Jiang Lizqi terlihat naik turun saat dia meneguk ludah. Gadis itu seperti sedang mengalami kemarau pada kerongkongan hingga harus meneguk berkali-kali dan pada akhirnya hal tersebutlah yang menariknya kembali dari awang-awang.
"Astaga," ucapnya kaget sembari kembali meneguk ludah untuk membasahi kerongkongan yang semakin terasa kering kerontang.
Apa yang barusan aku lakukan? Wajah Jiang Lizqi tiba-tiba terasa panas dan semakin merona seperti kepiting rebus.
Hanya memperhatikan wajah, kenapa harus malu? Bukankah setiap malam kita tidur bersama dan aku juga pernah melihatnya telanjang dan---aaarrrggghhh! Apalagi yang aku pikirkan ini? Dasar konyol.
Sembari bersungut-sungut dalam hati, Jiang Lizqi bangkit dari duduk dan menyambar tasnya, kemudian melangkah bergegas menuju ke kamar.
Pukul sembilan keesokan paginya, Steven Lou terbangun. Pengaruh alam bawah sadar belum sepenuhnya sirna, pemuda itu duduk linglung dengan kepala menunduk dan kelopak matanya pun masih terasa berat untuk dibuka.
Tidak lama kemudian dia menguap dan refleks tangan kirinya menutup mulut. Saat itulah, dia menyadari bahwa luka sayatan di jarinya telah dibalut dengan plester. Matanya pun seketika segar.
__ADS_1
"Jiang Lizqi," gumamnya sambil menatap selimut yang teronggok di pangkuan. "Terima kasih," tambahnya dengan senyum kecil menghiasi bibir. Setelah itu dia pun beranjak.
Dengan langkah sedikit sempoyongan, Steven Lou berjalan menuju kamar sambil memeluk selimutnya. Berpikir bahwa Jiang Lizqi telah berangkat kuliah, dia membuka pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara berisik. Segera setelahnya mata melebar maksimal saat mendapati si Tukang Senyum itu ternyata masih tidur nyenyak layaknya mati.
Dengan cepat otaknya berpikir. Hari apa ini? Jam berapa sekarang? Setelah mendapat jawaban dan teringat bahwa Jiang Lizqi sangat anti membolos, Steven Lou segera tergopoh-gopoh menghampiri.
"Tukang Senyum, bangun! Tukang Senyum bangun! Woeee, Jiang Lizqi, banguuun!" Dia berteriak-teriak sambil menggoyang bahu Jiang Lizqi dengan kasar. "Jiang Lizqi, woeee bangun woeee!"
Raga yang jiwanya masih mengembara di alam mimpi itu menggeliat dan mengerang sebentar, lalu kembali diam dan terlelap saat Steven Lou berhenti mengusiknya.
Pemuda itu panik. Dia ngeri membayangkan Jiang Lizqi akan sangat menyesal dan tidak akan berhenti menyalahkan diri sendiri bila sampai bolos kuliah. Belum lagi nanti dia juga ikut disalahkan dan diomeli. Dengan pemikiran seperti itu, niat untuk membangunkannya semakin membara.
Dia kembali menggoyang bahu Jiang Lizqi sambil berteriak memanggil. Steven Lou melakukannya dengan volume lebih tinggi dari sebelumnya, tetapi sama sekali tiada guna. Jiang Lizqi hanya akan sedikit bergerak dan mengerang, lalu kembali tenang.
Steven Lou menatap putus asa, tidak tahu lagi harus bagaimana membangunkan si Tukang Senyum itu. "Kamu ini benar-benar makhluk langka. Setiap hari bisa bangun lebih awal hanya dengan suara alarm, tapi diguncang gempa malah tidak mempan," gerutunya. "Baik, kalau begitu jangan salahkan aku ...."
Steven Lou memutar badan hendak ke luar dengan tujuan untuk mengambil segelas air. Dia ingin membangunkan Jiang Lizqi dengan cara sedikit sadis, yaitu menyiram wajahnya dengan air.
Akan tetapi, sebelum sempat melangkah matanya tanpa sengaja melihat secarik kertas yang tertempel di pintu almari, bertuliskan kalimat pesan dengan tinta spidol hitam besar.
AKU LIBUR. JANGAN BANGUNKAN. OH IYA, TERIMA KASIH SUDAH MEMBANTUKU MENGERJAKAN SEMUANYA.
Selesai membaca, Steven Lou langsung mengacak rambut sambil tersenyum bodoh. Merasa konyol dan geli, dia pun akhirnya terkekeh ringan. Dia berbalik dan melangkah menghampiri Jiang Lizqi yang masih meringkuk pulas, lalu membetulkan selimut yang merosot karena ulahnya tadi.
"Maaf," bisiknya.
Entah nyata atau hanya perasaannya saja, Steven Lou seperti melihat seulas senyum tipis di bibir gadis itu.
[Bersambung]
__ADS_1