Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
Episode 9. Terakhir berkumpul


__ADS_3

Raffi tiba di kantor kembali. Dia melangkah dengan lunglai menuju ruangannya. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa dan duduk melamun. Pikirannya melayang ke masa lima tahun yang lalu, saat Lian kelas dua SMP, Raffi dan Raffa kelas 12 SMA.


"Hai, Kak Raffa, Kak Raffi." Lian menyapa mereka dengan ceria seperti biasanya. 


Hari itu hari terakhir Raffi bisa dekat dan bercanda bertiga. Mereka bermain di taman belakang rumah Denis seperti saat masih kecil, hanya bedanya mereka tidak lagi memainkan permainan rumah-rumahan seperti anak kecil. Mereka bermain basket bertiga secara bergiliran, berlomba mencetak angka paling banyak.


"Lian, Fi, aku ke dalam dulu. Kalian lanjut saja dulu," ucap Raffa.


"Ok." Raffi menjawab singkat. Ia dan Lian bermain berdua tanpa Raffa. Raffa menghilang di balik pintu belakang. Saat itu, Raffi tidak tahu kenapa Raffa pergi ke dalam. Biasanya jika mereka sudah berkumpul dan bermain bertiga, mereka sampai lupa waktu. Namun, Raffi tidak ambil pusing, ia melanjutkan permainan tanpa Raffa.


"Lian capek, Kak. Kita istirahat dulu sambil menunggu Kak Raffa." Lian duduk di rumput seperti saat masih kecil, padahal di taman itu ada kursi.


"Bangun! Sudah besar masih saja duduk di tanah. Kita duduk di kursi taman." Raffi mengulurkan tangannya ke arah Lian sambil berdiri. Lian menengadahkan wajahnya ke atas. Entah sejak kapan rasa suka di hati Raffi dan Lian tumbuh. Yang jelas hari itu, hati mereka sedang berbunga-bunga. Lian menyambut uluran tangan Raffi dan berpegangan untuk bangun. Namun, Raffi yang tidak berdiri dengan tegak itu pun malah terjatuh dan menimpa tubuh Lian.


Lian berdebar-debar saat Raffi berada di atas tubuhnya. Dengan jarak wajah yang hanya beberapa inchi saja. Lian sampai bisa mendengar helaan napas Raffi dan embusan napasnya di wajah Lian pun bisa Lian rasakan. Wangi maskulin dari tubuh Raffi begitu menggelitik indra penciuman Lian.


Setelah terjatuh di atas tubuh Lian, Raffi tidak segera bangun karena terpesona memandang wajah Lian. Raffi tersenyum, matanya menelusuri wajah Lian. Mulai dari kedua alis Lian yang hitam dan rapi, hidung yang sedikit mancung, pipi yang merah merona dan bibir tipis berwarna pink. Wangi strawberry dari lipgloss Lian pun tercium segar di hidung Raffi. Setelah lima menit mereka terpaku di posisi itu, Raffi bangun dari tubuh Lian.


"Aku susul Raffa dulu. Sekalian aku ambilkan minum." Raffi segara berlari masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Lian sendiri di halaman belakang. 


Lian bangun dan duduk di kursi. Ia masih merasakan debaran jantungnya yang tidak menentu.


"Ya, Tuhan, Kak Raffi benar-benar tampan saat dilihat dari dekat. Hatiku, kenapa memiliki rasa tertarik pada Kak Raffi? Tidak seperti pada Kak Raffa, hatiku sama sekali tidak memiliki rasa ketertarikan pada Kak Raffa." Lian bergumam dalam hati sambil memegangi dadanya. Semakin Lian memikirkan Raffi, jantungnya semakin berpacu cepat.


Di dalam rumah, di ruang keluarga. Raffa, Daisy dan Violet sedang berbincang. Raffi awalnya akan menyapa mereka bertiga yang duduk di sofa panjang dengan posisi membelakangi Raffi. Namun, obrolan mereka membuat langkah Raffi terhenti dan niat Raffi untuk menyapa juga ia urungkan.


"Ma, Raffa sangat menyukai Lian. Raffa mau Lian untuk jadi istri Raffa, jadi pendamping hidup Raffa." 


"Mama, tidak tahu apa Lian mau. Bagaimana Violet, apa kamu mau punya menantu seperti Raffa yang manja begini?" tanya Daisy. Tujuan Daisy tentunya untuk menggoda Raffa. Daisy dan Violet pun tertawa. Namun, ucapan Raffa selanjutnya membuat tawa mereka berhenti.


"Ma, Tante, kalau Raffa tidak bisa bersama Lian, Raffa lebih baik mati." Raffa langsung pergi ke kamar mandi di samping dapur dan berusaha menenggak cairan karbol pembersih lantai.


Untung saja, Daisy, Violet dan Raffi mengikuti Raffa. Sehingga aksi nekatnya tidak sampai terlaksana.

__ADS_1


"FA! Apa-apaan kamu. Kamu jangan berbuat konyol seperti ini!" Raffi mengambil botol karbol di tangan Raffa. 


"Sayang, kamu ini kenapa sih? Semua kan bisa dibicarakan baik-baik. Kenapa harus kaya gini?" Daisy memeluk Raffa dan terisak. Daisy sudah kehilangan Reva sejak bayi dan itu sangat membuat Daisy terpukul. Daisy tidak mau jika ia harus kehilangan anak lagi. "Mama sudah kehilangan Reva, dan Mama tidak mau kalau harus kehilangan Raffa juga." 


Raffi terpaku menatap sang ibu yang menangis ketakutan. Raffi yang awalnya ingin menyatakan perasaannya pada Lian setelah Lian lulus SMP nanti, terpaksa mengubur niatnya dalam-dalam. Bagaimana mungkin Raffi tega membuat Raffa patah hati dan membuat sang ibu menangis jika seandainya Raffa benar-benar bunuh diri. Raffi tidak bisa mementingkan perasaannya sendiri.


"Raffa, Tante setuju kok, kalau Raffa mau melamar Lian. Lagipula Lian sudah mengenal Raffa sejak kecil. Tante rasa, Lian pasti setuju. Kita adakan pesta pertunangan setelah Lian lulus SMA, bagaimana?" tanya Violet.


"Aku setuju." Daisy menyetujui usulan Violet.


Raffa tersenyum bahagia dan memeluk Daisy dengan erat.


"Terima kasih, Ma. Terima kasih, Tante." Raffa berlari masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri. Raffa merasa tubuhnya lengket oleh keringat setelah bermain basket.


Raffi pergi membuat es jeruk dan membawanya ke taman belakang. Setelah mandi dan mengganti bajunya, Raffa menyusul ke taman belakang dan duduk di samping Lian sambil merangkul pundaknya. Raffi hanya bisa menahan perasaan cintanya pada Lian. 


"Kak Raffa, rapi banget. Mau kemana?"


"Mau ajak Lian kencan. Lian mau, kan?" tanya Raffa.


"Ya, nonton seperti biasanya. Mau kan?"


"Kak Raffi ikut juga kan? Biasanya kita nonton bertiga." Lian melihat ke arah Raffi. Raffi berpaling dan menghindari tatapan Lian. Lian merasa heran dengan sikap Raffi. Lian pikir Raffi masih malu setelah tadi Raffi terjatuh di atas tubuh Lian. Namun, Lian tidak pernah menyangka, hari itu adalah hari terakhir mereka berkumpul bertiga.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Raffi. 


"Masuk!"


Leni masuk setelah mendapat izin dari Raffi. Leni menyerahkan beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Raffi.


"Ini beberapa berkas yang harus ditandatangani, Presdir. Dan … yang ini, perlu Presdir periksa dulu. Saya sudah baca semuanya, menurut saya prospeknya bagus, tapi saya kurang tahu menurut Presdir."

__ADS_1


"Kalau menurutmu bagus, biar aku tandatangani sekalian, tapi nanti saja. Kamu simpan saja dulu di meja saya!"


"Baik, Presdir." Leni menyimpan tumpukan berkas itu di meja kerja Raffi.


"Tolong buatkan kopi, Len!"


"Ya, Presdir. Mau yang seperti biasa atau mau rasa yang lain?"


"Yang biasa saja."


Leni keluar setelah mendapat jawaban dari Raffi. Leni pergi ke dapur kantor dan membuat kopi susu tanpa ampas untuk Raffi. Raffi tidak suka kopi buatan OB, karena itu Raffi selalu menyuruh Leni yang membuat kopi untuknya. Raffi bangun dari sofa dan melangkah ke meja kerjanya. Raffi mulai memeriksa setiap lembar berkas itu lalu menandatanganinya.


-----------------------------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu (END)


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 

__ADS_1


 I Love you, readers ♥️♥️♥️


__ADS_2