Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
Episode 42. Memohon


__ADS_3

Hai reader tercinta Jangan lupa dukung author dengan like novel ini sebelum membaca ya reader terima kasih


Selamat membaca.


______________


Dokter keluar dari ruang ICU setelah memeriksa keadaan Raffi. Raffi menatap Lian yang berdiri di depan kaca. Ia tersenyum tipis. Raffi merasa sangat bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan pada Raffi untuk melihat wajah orang-orang yang dicintainya. 


Lian membalas senyuman Raffi lalu pergi meninggalkan ruang ICU. Lian pergi ke kantin dan mencoba menelepon Vira. Namun, tidak ada jawaban apapun dari Vira. Lian semakin tidak bisa mengerti ada apa sebenarnya dengan Vira? Lian mengingat sikap Vira saat menolak kue yang Raffa berikan. 


"Apa aku melewatkan sesuatu? Kenapa aku merasa kalau Vira mempunyai perasaan pada Kak Raffa?" Lian bergumam dan bertanya pada diri sendiri. Lian tidak menyadari kalau fi belakangnya berdiri seseorang yang tersenyum mendengar gumaman pelan Lian.


"Benarkah? Kau yakin kalau teman imutmu itu menyukaiku?" tanya Raffa.


"Astaga! Kak Raffa, mengagetkan saja!" ucap Lian sambil mengerucutkan bibirnya. Raffa duduk di depan Lian dan memandang wajah Lian begitu lama. Lian sampai merasa canggung karena Raffa terus menatapnya.


"Aku akan melepasmu, Lian. Aku akan melepas cintaku padamu. Sepertinya apa yang aku rasakan padamu bukanlah cinta. Aku hanya merasa ingin memilikimu, tanpa berpikir apakah kau akan menyukaiku atau tidak." Raffa menggumam dalam batinnya. 


Lian mengibaskan tangan di depan wajah Raffa karena Raffa bengong sambil menatap Lian. Namun, terlihat jelas di mata Raffa kalau dia sedang memikirkan sesuatu yang rumit. Lian berkali-kali memanggil nama Raffa, tetapi Raffa tak bergeming. Hati Lian pun menjadi penasaran dan ingin menggoda Raffa.


"Eh, Vi! Kamu kembali kesini? Ada apa?"


Deg! 


Raffa berpaling ke arah Lian menatap. Mendengar nama Vira, jantung Raffa tiba-tiba menjadi berdetak dengan cepat. Ia gugup saat mendengar Lian menyapa Vira. Namun, ketika Raffa menoleh ke belakangnya, di sana sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan Vira. Raffa menatap Lian yang tertawa karena berhasil membuat Raffa seperti terkena serangan jantung saking terkejutnya. Sedetik kemudian Raffa tersenyum menyadari kebodohannya.


"Kenapa aku langsung gugup digoda Lian seperti itu. Apa mungkin kalau aku menyukai Vira? Selama ini aku hanya serius ingin menjadikan Lian pendamping hidupku, tetapi aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Seperti inikah rasanya disukai seseorang? Tapi, apa benar Vira menyukaiku?" 


Raffa kembali melamun, sampai ia pun tidak sadar kalau Lian sudah tidak ada di hadapannya. Raffa pun melangkah meninggalkan kantin sambil tersenyum geli. Banyak orang berkata, jika seseorang jatuh cinta ia akan terlihat bodoh. Sepertinya kata-kata itu bisa dilihat dari tingkah Raffa saat ini. Seseorang yang pintar seperti Raffa, dengan bodohnya percaya dengan ucapan Lian. Padahal Raffa tahu kalau Vira sudah pulang. Butuh waktu sekitar setengah jam dari rumah Vira ke rumah sakit. Tapi, dengan gugupnya Raffa segera bangun dan ingin melihat Vira.

__ADS_1


***


Raffi sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Semua keluarganya berkumpul termasuk keluarga Steve. Raffi selalu mencuri pandang ke arah Lian saat yang lain tidak melihat. Dalam keadaan antara hidup dan mati, Raffi mendengar tangisan Lian dan juga setiap kata yang keluar dari bibirnya. Raffi akan meminta Raffa untuk membatalkan pertunangan. Karena sudah jelas, Lian mencintai Raffi. Mereka tidak akan bisa bahagia dengan cinta sepihak seperti itu. 


Meskipun mungkin Raffa akan membenci dirinya, Raffi rela asalkan Lian bisa bersamanya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kehidupan kedua yang Tuhan berikan. Baginya kehidupan kedua ini seperti sebuah tanda bahwa Raffi diberi kesempatan untuk bisa bersama dengan cintanya. Saat Raffi melirik kembali ke arah Lian, Raffa melihatnya dan menghalangi pandangan Lian dan Raffi. 


"Fa, bisa kita bicara berdua?" 


Semua yang berada di ruangan itu saling pandang. Ada masalah rahasia apa diantara Raffa dan Raffi. Tapi, mereka tidak mau banyak mencampuri urusan pribadi mereka. Karena Raffi dan Raffa sudah dewasa dan mereka juga mempunyai hal pribadi yang tidak bisa dicampuri oleh kedua orang tuanya. Mereka Pun akhirnya keluar dari ruang rawat Raffi. Di sana tinggal Raffi, Raffa dan Lian.


"Li, Kakak ingin bicara berdua dengan Kak Raffa. Bisa Lian keluar sebentar?"


Lian melangkah hendak pergi, tetapi tangannya ditarik oleh Raffa.


"Tidak perlu pergi! Aku dan Lian akan tetap bertunangan." Raffa menahan Lian agar tidak keluar dari ruangan itu.


"Kak Raffa," ucap Lian menarik lengan Raffa. Lian ikut memohon pada Raffa agar membatalkan pertunangan. Lian berkata lewat tatapan mata. Ia tidak berani mengatakan secara langsung karena takut menyakiti hati Raffa.


"Terlambat, Fi. Saat aku akan melamar Lian, aku pernah bertanya padamu apa kau menyukai Lian? Jawabanmu tidak. Jadi, aku tidak akan melepaskan Lian," ucap Raffa. Ia lalu keluar dengan menyeret Lian.


Ceklek!


Pintu ruang rawat terbuka, Seno dan Key bertabrakan dengan Raffa dan Lian. Raffa mendorong mereka dan pergi meninggalkan ruangan itu bersama Lian. Key hanya memandang heran ke arah Raffa. Lain halnya dengan Seno yang tahu kalau Raffi mencintai Lian. Seno paham situasi yang terjadi, tetapi ia sudah berjanji untuk merahasiakan hal itu. Ia pun hanya bisa menghela napas berat. 


"Apakah mereka bertengkar karena Lian?" Seno bertanya-tanya sendiri dalam hati. Seno menghampiri Raffi dan Key yang sedang berbicara.


"Tadinya aku tidak akan menemuimu sampai kamu mati, karena kamu hidup lagi, terpaksa aku menjengukmu," ucap Key dengan raut wajah kesal.


"Jahat sekali kalian ini! Kalian ingin aku mati?" tanya Raffi sambil melemparkan bantal pada Key.

__ADS_1


"Kau yang ingin mati, kenapa menyalahkan kami? Sudah aku peringatkan jangan mengemudi sendiri! Kau malah kabur." Seno ikut memarahi Raffi. Ia mengambil bantal yang dilemparkan oleh Raffi dan mengembalikannya pada Raffi.


"Maaf, karena sudah membuat kalian khawatir. Aku pikir tidak apa-apa karena aku hanya sedikit mabuk. Yah, lagipula, aku kan masih hidup." Raffi mengembuskan napas sambil tersenyum menatap kedua sahabatnya. Raffi tersenyum, tetapi hatinya menangis. Raffa tetap keras kepala, bahkan setelah Lian ikut memohon pada Raffa. Rasanya Raffi benar-benar tidak bisa memiliki Lian. Raffi hanya bisa berdoa, semoga saja Raffa bisa berubah pikiran sebelum pesta pertunangan mereka minggu depan.


____________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu (END)


-Penjara Cinta Sang Presdir


-Nazein & Darlan 


-Serpihan Hati Yang Hancur (END)


 I Love you, readers ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2