
"Senang sekali bisa bertemu kembali denganmu, Lian."
Lian tidak menyambut uluran tangan pria itu. Vira segera mendorong tangan Lian agar menyambut tangan siswa itu. Dengan terpaksa Lian menjabat tangannya. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Lian bertanya.
"Siapa kamu? Apa kita saling kenal?" tanya Lian sambil menarik tangannya kembali.
"Tepatnya, hanya aku yang mengenalmu. Sekarang, bisakah kita berkenalan dengan resmi?"
"Tidak perlu. Jika kita tidak saling mengenal, aku tidak berniat untuk berkenalan denganmu. Lagipula kamu itu dari sekolah mana? Kenapa bisa masuk ke dalam sekolah dan berkeliaran dengan bebas disini?" tanya Lian.
"Kami dari SMA Bhineka 1, lawan dari tim basket kalian di pertandingan hari ini," jawab teman si pria.
"Hei, Lian. Aku sudah tahu nama panggilanmu, hanya butuh kamu katakan nama panjangmu saja." Pria itu menatap wajah Lian dengan intens.
"Nama lengkapnya Lilian Robertine," jawab Vira sambil tersenyum memandangi wajah si pria.
"Vie!" bentak Lian. Lilian tidak percaya jika Vira mengkhianatinya, dan memberitahukan nama lengkap Lian.
"Maaf, tapi aku cuma ingin tahu siapa namanya," bisik Vira.
"Kenapa harus pakai namaku kalau begitu." Lian mengomeli Vira dengan suara berbisik pula.
Vira penasaran dengan nama si pria. Vira pun bertanya, " Siapa namamu?" tanyanya.
"Mondy." Pria itu akhirnya menyebutkan namanya.
"Mondy? Tunggu! Kamu, Mondy, pria yang menguntit kami kemarin malam?" tanya Lian. Ia mengingat nama Mondy.
"Siapa yang menguntit, sih? Aku kemarin terang-terangan mengajakmu berkenalan, seperti sekarang. Jadi, aku bukan penguntit," jawab Mondy.
Vira ternganga tidak percaya. Pria yang membuat ia terpesona adalah pria yang ia maki kemarin malam. Vira seperti habis terbang ke awan dan didorong jatuh ke tanah. Perasaan sukanya mendadak sirna dan hancur. Ia segera menarik tangan Lian untuk pergi.
"Ayo kita pergi!" Vira menarik Lian menjauh dan pergi dari kantin. Setibanya di dalam kelas, Vira langsung memarahi dirinya sendiri dalam hati. Kenapa ia tidak mengingat wajah pria brengsek yang menguntit mereka kemarin, dan Vira juga sampai terpesona oleh paras Mondy.
"Vie, kalau kamu mau berkenalan dengan dia, harusnya kamu langsung ajak kenalan saja. Kenapa menjadikan namaku sebagai alasan?" Lian memarahi Vira yang berani menyebutkan namanya pada Mondy.
"Maaf, Li. Aku tidak ingat jika dia adalah pria menyebalkan yang menguntit kita kemarin. Aku menyesal, sungguh. Aku minta maaf, ya, ya." Vira menyatukan kedua tangannya di depan dada. Vira sangat menyesal telah menyebutkan nama Lian pada Mondy.
__ADS_1
"Huffh, mau bagaimana lagi. Dia sudah tahu namaku dari awal, apa bedanya dia tahu atau tidak sekarang. Keadaannya akan sama saja," ucap Lian. Ia meliha jam di layar ponselnya. Sudah jam satu siang, Lian pergi ke ruang ganti untuk bersiap-siap dan memakai seragam olahraganya.
***
Raffi masih di perjalanan menuju sekolah Lian. Ia mengendarai mobilnya dengan pelan, seraya berpikir bagaimana caranya agar ia bisa melihat Lian tanpa ketahuan. Pikirannya pun menerawang ke masa-masa mereka kecil dulu.
Sepuluh tahun yang lalu, setelah pulang dari resto favorit mereka. Lian, Raffa dan Raffi bermain di halaman belakang rumah Denis seperti biasanya. Juan, Daisy dan Steve juga Violet duduk di teras belakang. Mereka mengobrol sambil melihat anak-anak mereka bermain di bawah pohon mangga.
"Kak Raffi, kalau Lian dan Kak Raffi sudah besar, boleh menikah, kan?" tanya Lian yang masih berumur delapan tahun kala itu.
"Tidak boleh, Lian harus menikah dengan Kak Raffa," ucap Raffa menghalangi.
"Kalau aku mau menikah dengan Lian, bagaimana?" tanya Raffi menggoda Raffa.
"Lian harus memilih, Lian mau pilih siapa? Pilih Kak Raffi atau Kak Raffa?" tanya Raffa pada Lian.
Lian menatap mereka bergantian. Lian yang masih polos tidak mengerti apa maksud dari ucapan Raffa. Ia pun bertanya pada sang ibu.
"Mama, kalau Lian menikah dengan Kak Raffa dan Kak Raffi, apa boleh?" tanya Lian polos. Mereka semua tertawa mendengar pertanyaan polos Lian. Raffa dan Raffi juga menertawakan Lian.
"Mana boleh. Lian lihat! Mama Lian, cuma punya satu suami, dan Mama Kak Raffi juga punya satu suami. Lian juga cuma boleh punya satu suami," ucap Raffi sambil mengusap rambutnya.
Untuk menghilangkan kesedihan Lian, Raffa dan Raffi duduk disamping kiri dan kanan Lian. Tangan Raffi memeluk pinggang Lian dan tangan Raffa memeluk pundak Lian.
"Lian akan selalu jadi bidadari buat Kak Raffa dan Kak Raffi, ya, kan, Fi?" tanya Raffa sambil tersenyum melirik Raffi.
"Ya, Lian adalah bidadari di hati Kakak dan Kak Raffa. Jadi Lian jangan bersedih lagi, ok." Raffi, Raffa dan Lian berpelukan erat bertiga seperti saudara.
Tiiddd!
"Astaga." Raffi reflek membanting setir ke kiri saat mobilnya hampir saja menabrak sepeda motor yang menyalip mobilnya. Klakson motor itu membuyarkan lamunan Raffi tentang masa indahnya dengan Lian dan Raffa dulu. Saat melihat sekeliling, ternyata Raffi sudah tiba di dekat gedung sekolah Lian. Raffi mencari tempat yang agak jauh dari gerbang sekolah untuk memarkir mobilnya.
***
Di gedung arena basket, Lian dan Vira sudah duduk di bangku penonton. Pertandingan basket ini bertujuan untuk menjalin kerukunan antara SMA Dewi Sartika dan SMA Bhineka 1 yang sering terlibat tawuran di luar sekolah. Pertandingan pertama diawali oleh tim siswa, dari SMA Dewi Sartika dipimpin Aris. Siswa paling tampan dan tinggi pastinya. Karena sering bermain basket. Dari SMA Bhineka 1 dipimpin Mondy dan kawan-kawannya.
Kehadiran kapten kedua tim basket yang sama-sama tampan membuat para siswi riuh memuji kedua kapten tim basket. Tidak sedikit yang berharap bisa menjadi kekasih sang kapten. Lian dan Vira hanya tersenyum geli dengan obrolan para siswi di belakang mereka.
__ADS_1
"Li, kenapa kamu tidak dengan si Aris saja? Dia suka sama kamu, Li. Daripada mengharap Raffi," ucap Vira.
Lian hanya diam, ia malas membalas ucapan Vira, karena Vira pasti akan menceramahi Lian panjang lebar. Sementara Vira sama sekali tidak mengerti hati Lian yang tidak bisa berpaling. Lian melihat ke tengah lapangan basket, pertandingan sudah dimulai.
Sebelum mulai, Mondy mengerlingkan sebelah matanya pada Lian dan Aris melihatnya. Lian memalingkan wajahnya saat Mondy menatapnya. Aris merasa cemburu dan marah pada Mondy. Tangan Aris terkepal seraya mengancam dalam hati.
"Kurang ajar, beraninya menggoda Lian. Akan kuhajar kau," gumam Aris dalam batin.
Pertandingan dimulai. Kedua tim sama-sama kuat dan hebat dalam permainan hari ini. Sesekali Aris mendorong Mondy, tetapi wasit tidak melihat ada pelanggaran. Mondy sedikit paham kenapa Aris terlihat kesal saat mereka saling berhadapan untuk merebut bola. Aris terang-terangan mengancam Mondy sambil mendrible bola dan mempertahankannya agar tidak direbut oleh Mondy.
"Jauhi Lian! Atau kau akan menyesal." Aris mengoper bolanya pada timnya dan berlari menjauh dari Mondy.
Mondy mendecih mendengar ancaman Aris. Ternyata gadis yang ia incar adalah gadis tercantik di sekolah itu. Gadis yang lumayan banyak penggemar dan banyak yang menyukainya termasuk, Aris, pria yang baru saja mengancam dirinya. Bukannya ingin menyerah, tetapi perasaan ingin memiliki Lian di hati Mondy justru semakin kuat.
--------------------------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
__ADS_1
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏