Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
EP 3


__ADS_3

 Empat tahun kemudian.


"Aya! Aya!"


Lilian memanggil putrinya, Kanaya Aprilia. Gadis kecil itu tidak ada di dalam rumah. Entah pergi kemana? Membuat orang satu rumah menjadi sibuk mencari.


"Aku ke halaman depan, kamu ke taman belakang," ucap Raffi dengan wajah panik.


Kanaya baru berusia satu tahun, tidak mungkin pergi jauh dari rumah. Namun, mereka tetap khawatir meski mengetahui hal itu. Pintu gerbang tertutup, artinya gadis kecil itu ada di sekitar rumah.


"Kanaya!" seru Lilian sambil berlari ke halaman belakang. 


"Aya!!" Lilian berteriak saat melihat gadis berusia satu tahun lebih itu sedang berusaha memanjat sebuah pohon. Ia berlari kencang untuk menghentikan gadis kecil itu. Kanaya sudah menempel di pohon, dua jengkal dari tanah.


Grep!


"Fuhh …." 


Lilian menghela napas lega. Ia menggendong gadis kecil itu ke dalam rumah. Kanaya terlalu aktif, sampai kedua orang tua dan pembantu di rumah itu selalu kewalahan menjaganya.


Saat Lilian pergi ke dapur, Kanaya sedang tidur. Ketika ia ingin melihat gadis kecil itu di kamar, rupanya Kanaya sudah pergi. Ia baru bisa berjalan, tapi langkahnya sangat gesit.


"Aya … ah, akhirnya ketemu. Dari mana kamu, Sayang?" tanya Raffi dengan napas terengah-engah setelah berlari kesana kemari mencari putrinya.


Gadis itu hanya tertawa kecil melihat wajah ayahnya yang berkeringat. Kanaya belum bisa berbicara. Giginya baru dua yang terlihat. Saat tersenyum, ia terlihat sangat menggemaskan. 


"Aku menemukannya di halaman belakang. Dia sedang memeluk pohon mangga kecil itu. Aku masih gemetaran, Pa." 


Lilian ketakutan karena Kanaya. Ia membayangkan, bagaimana jika gadis kecil itu terjatuh. Meskipun, jaraknya hanya dua jengkal dari tanah, tapi ada batu kali besar yang dijadikan pembatas kolam ikan.


"Naik pohon? Ck … dia seperti kamu, Ma," celetuk Raffi.


"Seperti papanya kali, masa seperti mama. Mama tidak merasa pernah naik ke pohon," balas Lilian.


"Kamu tidak ingat? Waktu itu, kamu juga jatuh, Ma. Papa yang menggendong Mama masuk ke rumah," kata Raffi mengingatkan.


Lilian mengingat-ingat masa kecilnya. Saat ia mengingatnya, kedua sudut bibir itu terangkat. Tidak disangka, ternyata selalu Raffi-lah yang menjaganya dengan baik.


"Ekhem! Jadi … Papa sudah jatuh cinta sejak kecil, ya, sama mama?" tanya Lilian dengan senyum menggoda. 


"Masih siang, Sayang. Kamu berani menggodaku … tidak takut kalau aku membalas," bisik Raffi di dekat wajah istrinya.

__ADS_1


"Memangnya … berani?" tanya Lilian menantang.


"Bi!"


"Iya, Tuan!"


Pengasuh itu keluar dari kamar, lalu mengambil Kanaya dari gendongan Raffi. Melihat hal itu, tentu saja Lilian menciut. Ia segera berlari untuk menghindari pembalasan Raffi. Namun, ia tidak berhasil melarikan diri.


"Mau kemana?"


"Ampun, Pa. Aku tidak akan menggodamu lagi," jawab Lilian dengan senyuman manis. Memohon dengan kedua tangan disatukan di depan wajahnya.


"Terlambat. Tadi sudah sangat berani menggodaku. Kenapa sekarang jadi takut? Lagipula, aku selalu memperlakukanmu dengan baik. Dijamin puas, haha …."


"Tidak mau! Masih siang, panas. Lepasin aku!" 


Lilian meminta sang suami melepaskan tangan yang sedang merangkul pinggang rampingnya. Sekeras apa pun Lilian memberontak, ia tidak berhasil lolos dari suaminya. Laki-laki itu mengangkat tubuh istrinya, menggendongnya masuk ke kamar.


Brakk!


Pintu dibuka dan ditutup dengan keras. Tubuh ramping itu dilempar ke tengah tempat tidur. Detik berikutnya, Raffi menimpa tubuh sang istri dan pembalasan atas godaan Lilian pun terjadi.


Wanita itu dibuat berkeringat di kamar ber-AC. Suaranya parau, napasnya terengah-engah, dengan wajah yang bersemu merah. Di sekujur tubuhnya memiliki tanda kepemilikan berwarna merah. Keduanya terbaring lunglai setelah memacu hasrat menuju puncak tertinggi.


"Tidak!"


"Lagi, deh …."


"Akh!"


Raffi menarik selimut sampai menutupi kepala. Pertempuran kembali terjadi. Kali ini, laki-laki itu benar-benar membuat Lilian terkulai lemas.


***


Vira sedang duduk di sofa sambil merangkai bunga. Hari ini toko bunganya memiliki pesanan lumayan banyak. Meski sedang hamil besar, ia juga tetap bekerja.


"Kenapa kamu sendiri yang merangkai bunganya?" tanya Raffa yang sengaja pulang lebih awal dari perusahaan yang bergerak di bidang fashion. Perusahaan yang diwariskan oleh Denis, kakeknya, sebelum meninggal.


"Intan sedang pulang ke rumah sebentar. Katanya ada tamu dari kampung," jawab Vira.


Sejak pagi, ia merasakan ada yang aneh dengan perutnya. Kehamilannya sudah memasuki bulan kesembilan. Mungkin, itu tanda-tanda waktu melahirkan sudah dekat? Vira sempat bertanya-tanya di dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa kamu sudah pulang, Kak?"


"Istriku sedang hamil tua, aku tidak tenang pergi bekerja seharian."


"Oh. Shh …."


Vira meringis saat perutnya tiba-tiba terasa sakit. Raffa panik melihat wanita itu meringis sambil mencengkeram pergelangan tangannya. Cengkeraman itu sangat kuat, menandakan sakit itu begitu hebat.


"Aku tidak tahu, Kak. Sejak pagi, sudah terjadi seperti ini. Kadang ada kadang hilang," jawabnya dengan susah payah. Namun, rasa sakit kali ini tidak juga hilang setelah sepuluh menit berlalu. 


"Kita ke rumah sakit sekarang!"


Raffa menggendong istrinya keluar dari toko bunga. Mereka berpapasan dengan Intan, salah satu pegawai Vira. Wanita itu membantu Raffa untuk membuka pintu mobil.


"Tolong urus pesanan yang sedang dikerjakan istriku! Aku harus membawanya ke rumah sakit," ucap Raffa dengan tergesa-gesa.


"Baik, Mas. Hati-hati di jalan. Semoga semuanya lancar," ucap Intan sambil menatap mobil yang sudah melaju pergi menuju rumah sakit.


Dalam perjalanan, Raffa mengirim pesan kepada orang tua, dan juga saudaranya. Tiba di rumah sakit, Vira langsung dibaringkan di brankar lalu dibawa ke ruang bersalin. Hari persalinan diperkirakan jatuh minggu depan, tapi sang bayi di dalam perut wanita itu sudah tidak sabar melihat dunia.


Raffa mondar-mandir di depan ruang bersalin dengan gusar. Ia ingin menemani sang istri, tapi keinginannya ditolak oleh sang istri. Terpaksa, ia hanya bisa menunggunya dengan cemas.


Raff, Lian, Juan, dan Daisy. Mereka sudah tiba di rumah sakit. Setelah mendapat telepon, mereka bergegas pergi ke rumah sakit. Lilian masih merasa lemas setelah digempur sang suami. Untuk melangkah cepat, ia tidak mampu. Karena itu, Raffi memapahnya.


"Lemes, ya?" tanya Raffi dengan senyuman tipisnya.


"Berisik! Kamu yang buat aku begini," gerutu Lilian.


Setelah cukup lama, terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin. Ungkapan rasa syukur pun terucap di bibir mereka. Setelah semua proses persalinan beres, dokter dan dua orang perawat itu mendorong Vira di brankar.


Sementara sang bayi kecil itu berada di pelukan Daisy, nenek dari bayi itu. Raffa menatap kedua mata pangeran kecilnya. Ya, anak pertama Raffa berjenis kelamin laki-laki. 


Perawat meminta kembali bayi kecil itu untuk dibawa ke ruang khusus bayi. Lilian, Daisy, Raffi, dan Juan, pergi mengikuti perawat. Sementara Raffa pergi ke ruang rawat inap, menemui istrinya yang sudah berjuang melahirkan putra pertama mereka.


"Bayi kita …."


"Mama dan yang lain mengantar bayi kita ke ruang perawatan. Kita memiliki seorang pangeran yang sangat tampan. Matanya mirip sekali dengan matamu. Terima kasih, Sayang. Kamu sudah merawat dan melahirkan putra kita dengan baik."


Cup!


Raffa mengecup kening sang istri dengan penuh perasaan. Dulu, Vira pernah meragukan cintanya. Menganggap laki-laki itu hanya menjadikannya pelarian karena penolakan Lilian. Namun, Raffa dengan sabar menunjukkan ketulusan cintanya kepada Vira. Kini, mereka sudah memiliki buah hati yang tercipta dari rasa cinta yang dalam.

__ADS_1


Mereka semua dipenuhi kebahagiaan yang berlimpah. Kasih sayang, ketulusan, kesabaran, membuahkan akhir cinta yang damai. Sempat diwarnai duka dan tangisan, tidak menjadikan mereka menyerah akan pasangan. Happy for all.


*TAMAT*


__ADS_2