
Hai reader tercinta Jangan lupa dukung author dengan like novel ini sebelum membaca ya reader terima kasih Selamat membaca.
Akhirnya, sesuai dengan jadwal, hari ini, chapter ini adalah chapter terakhir 'Cinta Ada Karena Terbiasa season 3' kisah Raffi&Lian. Terima kasih, kalian sdh mendukung novel ini dr episode awal smpe akhir. Makasih buat like, rate, vote, dan bintang yg kalian kasih buat Raffi&Raffa. 🙏🙏🙏😘😘😘😘
____________________
Tiga hari setelah pesta pertunangan Raffi dan Lian. Hari ini adalah hari pengambilan ijazah dan juga pesta kelulusan Lian dan Vira. Acara pesta kelulusan diadakan di gedung arena basket yang sudah dihias sedemikian rupa.
Vira memakai dress pink berkerah tali spaghetti. Ia menata rambutnya dengan jepit rambut mutiara berwarna pink senada warna dress. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Vira berputar untuk melihat bagian belakang bajunya sudah rapi atau belum. Setelah yakin kalau penampilannya telah sempurna, ia pun turun ke bawah. Hari ini sebenarnya Vira ingin berangkat ke sekolah dengan mobilnya seperti biasa, tetapi Lian memaksa agar Vira berangkat bersama Lian. Mereka diantar Pak Parman ke sekolah. Setelah Vira dan Lian turun dari mobil, Pak Parman kembali ke rumah Denis.
Lian memakai dress berwarna biru dengan leher berbentuk v yang tidak terlalu rendah belahannya. Lian memakai cardigan lengan panjang berwarna putih untuk menutupi pundaknya yang terbuka.
Berbeda dengan Vira yang mengumbar pundak dan punggung bagian atasnya dengan bebas. Vira memang sudah biasa berpakaian lebih terbuka jika pergi ke pesta. Baginya itu bukanlah hal yang aneh. Mereka masuk ke dalam ruang pesta. Vira dan Lian menyapa guru-guru mereka, lalu mengambil ijazah dan menandatangani daftar hadir.
"Selamat ya, Vira, Lian. Kalian sudah lulus," ucap Pak Endang, guru BK yang dulu menghukum Lian berdiri di bawah tiang bendera. Karena hari itu Lian terlambat datang ke sekolah setelah menyatakan cinta pada Raffi.
"Ya, Pak. Terima kasih untuk tidak lelah mengajari kami menjadi anak-anak yang lebih baik," ucap Vira dan Lian bergantian.
Setelah berbicara dengan guru, Lian dan Vira menikmati minuman ringan yang disediakan di meja. Suara musik yang dimainkan oleh grup band sekolah itu menggema, menghentak keras gendang telinga Lian. Bagi Vira hal seperti itu sudah biasa, tetapi bagi Lian itu membuatnya tidak nyaman. Bukan karena Lian tidak suka lagu pop, tetapi musik yang terdengar terlalu keras itu tidak enak di dengar. Karena hanya kebisingan yang terdengar jelas, tetapi musik dan lirik lagunya tidak dapat terdengar jelas.
Lian melirik jam tangannya, sudah jam sepuluh malam. Ia menelepon Raffi agar menjemput mereka karena pesta akan berakhir jam sepuluh lebih lima belas menit.
"Vi, aku sudah menelepon Kak Raffi. Tidak apa-apa kan kalau kamu pulang bareng aku sama Kak Raffi?"
"Aku bisa pulang naik taksi. Kalau kamu dijemput Kang Mas kesayangan, masa iya aku jadi nyamuk kesayangan," goda Vira.
"Apa sih? Kamu harus pulang bareng aku, gak boleh nolak! Aku gak mau kamu kenapa-kenapa di jalan," ucap Lian.
Vira pun mengalah dan setuju untuk pulang bersama Lian. Sementara menunggu Raffi datang, mereka masih duduk di bangku plastik sambil menikmati cemilan dan minuman ringan. Asha yang awalnya sudah keluar dari ruang pesta tiba-tiba masuk kembali ke dalam dan berbicara keras dengan temannya. Membuat semua gadis yang sedang menikmati pesta itu pun berkumpul mendengarkan cerita Asha. Lian dan Vira yang notabene adalah musuh bebuyutan Asha, mereka hanya mencibir.
"Ya, ampun. Dia selalu saja mencari perhatian," ucap Vira.
"Iya," jawab Lian pendek.
Vira dan Lian tetap duduk di tempat mereka. Namun, suara lantang Asha membuat Lian dan Vira bisa mendengar dengan jelas ucapan Asha.
__ADS_1
"Di luar, ada dua cowok berjas. Mereka ganteng banget, kembar lagi. Ya, ampun gue pengen banget gaet salah satu dari mereka. Mobil sport mereka juga sangat keren. Sempurna sekali buat jadi calon suami gue," ucap Asha.
Semua gadis penasaran dan pergi keluar untuk membuktikan ucapan Asha. Asha juga ikut keluar dan berkumpul di parkiran bersama gadis-gadis lainnya yang sedang memandang dua pria yang duduk di kap depan mobil dengan tangan bersedekap. Mereka semua terpana dan saling berbisik membicarakan ketampanan kedua pria itu.
Di dalam ruang pesta, Vira dan Lian saling melempar pandangan.
"Kembar?" tanya Lian pada Vira.
"Sepertinya tadi Asha memang bilang kembar," jawab Vira.
"Apa mungkin …."
Lian segera menarik tangan Vira dan berlari ke parkiran. Benar dugaan Lian dan Vira. Kedua pria kembar yang tampan itu adalah Raffa dan Raffi. Vira dan Lian berdiri di barisan paling depan. Raffi dan Raffa menghampiri mereka.
"Sudah selesai pestanya, Sayang?" tanya Raffi pada Lian.
"Wuuhhh!" Riuh sorak dari para gadis yang mendengar ucapan Raffi yang begitu mesra pada Lian. Asha hanya memandang kesal lalu pergi meninggalkan parkiran.
"Sudah, Kak," jawab Lian.
"Ayo, pulang!" ucap Raffi sambil mengulurkan tangannya pada Lian. Lian menyambut uluran tangan Raffi dan melangkah pergi meninggalkan Vira dan Raffi di parkiran.
Raffa melepas jasnya dan memakaikannya pada Vira, untuk menutupi pundak dan punggung Vira yang terlalu terbuka. Vira terpaku menatap wajah Raffa.
"Ekhem, terima kasih, Kak Raffa." Vira tersentuh dengan perhatian Raffa.
"Aku antar kamu pulang," ucap Raffa.
Vira hanya mengangguk. Setelah Vira masuk ke dalam mobil sport Raffa, Raffa maju dan mendekatkan wajahnya ke wajah Vira. Degup jantung Vira pun naik drastis. Vira sampai menahan napas karena terlalu gugup menatap wajah Raffa yang begitu dekat dengan wajahnya. Vira pikir kalau Raffa akan mengecupnya, tetapi rupanya Raffa hanya ingin memasang sabuk pengaman. Setelah sabuk pengaman itu terpasang, Raffa kembali duduk tegak di belakang kemudi.
Vira bisa bernapas lega setelah Raffa kembali menjauh. Mobil pun melaju dengan santai. Sesekali mereka saling mencuri pandang dan tersenyum canggung saat pandangan keduanya beradu.
"Jadi, kapan kita akan bertunangan?" tanya Raffa.
"Kak Raffa ini apa-apaan sih? Kita kan bukan pasangan seperti Lian dan Kak Raffi. Kena-pa Kak Raffa bertanya seperti itu?" Vira balik bertanya dengan gugup.
__ADS_1
Cekitt!
Raffa menepikan mobilnya dan memandang wajah Vira dengan intens.
"Bagaimana caranya supaya Vira bisa jadi pasangan Kakak?" tanya Raffa dengan serius. Raffa melepas sabuk pengamannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Vira. Semakin lama Raffa semakin mendekatkan wajahnya dan berniat mengecup bibir tipis yang dipoles lipstik pink itu. Namun, Vira menutupi bibirnya dengan telapak tangan kiri. Raffa menarik dan menggenggam tangan kiri Vira dan berusaha mengecup Vira kembali, tetapi Vira menutupi bibirnya dengan telapak tangan kanannya. Raffa juga menarik tangan kanan Vira dan menatap wajah Vira dengan pandangan lembut.
Detak jantung Vira dan Raffa sama-sama naik dan mereka juga dapat merasakan embusan napas mereka yang hangat menyapa wajah. Raffa kemudian mengecup kening Vira lalu turun ke hidung dan terakhir, kecupan itu mendarat lembut di bibir Vira. Beberapa detik lamanya Vira hanya terdiam kaku karena gugup. Namun, lama-lama Vira membuka mulutnya dan membalas pagutan mesra nan lembut dari bibir Raffa. Raffa tersenyum tipis sambil terus mengecup dan mengecap setiap sudut rongga mulut Vira. Setelah puas mengecup bibir Vira, Raffa melepaskan pagutannya dan kembali ke tempat duduknya.
"Mulai saat ini, Vira pasangan Kakak, milik Kakak. Jadi, Vira harus siap-siap untuk dilamar menjadi tunangan Kakak!" ucap Raffa. Ia melajukan kembali mobilnya, menembus jalanan Ibukota yang masih ramai meski jam sudah menunjukkan jam sebelas malam. Vira hanya tersenyum malu-malu sambil menatap keluar jendela. Senyum manis juga mengembang indah di bibir Raffa.
TAMAT
See you reader di next novel
_____________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Penjara Cinta Sang Presdir
-Nazein & Darlan
__ADS_1
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
I Love you, readers ♥️♥️♥️