
Raffi melepaskan tangan Lian dan membukakan pintu mobil. Lian menatap mobil itu dengan takjub.
"Ini … mobil yang selalu terparkir di garasi rumah Kak Raffi kan?"
"Hem. Masuklah!" ucap Raffi dengan lembut.
Lian menatap lekat wajah Raffi yang bicara sambil tersenyum. "Apakah ini benar-benar dia? Apa karena aku calon tunangan Kak Raffa, jadi dia bersikap lembut padaku?" Pertanyaan itu sangat ingin Lian lontarkan pada Raffi saat ini. Namun, Lian takut mendengar jawaban Raffi. Lian melamun sampai Raffi harus mengibaskan tangannya di depan wajah Lian.
"Hei, Lian ada apa?" tanya Raffi.
"Hah? Oh, ya, Lian tidak apa-apa." Lian segera masuk dan duduk di dalam mobil sport yang selalu Raffi simpan rapi di garasi. Ini pertama kalinya Lian melihat Raffi mengemudikan mobil kesayangannya itu. Pertama kalinya juga Lian merasakan duduk di samping Raffi yang sedang mengemudi.
Raffi fokus menyetir, memperhatikan jalan yang dilalui untuk sampai di tempat tujuan. Sementara Lian tidak henti tersenyum sambil menatap wajah Raffi. "Apa Lian bisa kenyang kalau terus menatap wajah kakak?"
"Siapa yang sedang melihat wajah Kak Raffi, dasar narsis," ucap Lian. Ia segera berpaling ke arah jendela. Semua sikap lembut Raffi bagaikan sebuah mimpi indah baginya. Jika Lian dapat memilih, maka ia memilih untuk tidak terbangun dari tidurnya. Asalkan Lian bisa terus bisa melihat Raffi bersikap lembut padanya seperti sekarang. Tidak apa bagi Lian meskipun Raffi tidak membalas perasaannya, asalkan Raffi tidak menghindari dan mengusir Lian, itu sudah lebih dari cukup.
Mobil Raffi berbelok dan masuk ke area parkir sebuah resto khas Bali. Lian dan Raffi keluar dari mobil lalu melangkah bersama ke dalam resto. Raffi memilih duduk di meja lesehan. Mereka naik ke atas gazebo dan duduk di tikar yang menjadi alas. Resto yang mengapung di atas danau itu sangat sejuk dan indah pemandangannya. Raffi memesan dua porsi ayam betutu dan dua gelas jus jeruk. Raffi tersenyum menatap Lian yang serius melihat ikan-ikan yang berenang lincah di danau.
Lian tersenyum melihat ikan mas yang berukuran besar itu berenang kesana kemari. Di gazebo itu tersedia umpan ikan dalam toples. Pemilik resto sengaja menyediakannya untuk pengunjung yang ingin melihat ikan mas berukuran sebesar bayi yang berusia kurang lebih lima bulan. Lian mengambil umpan dan memberi makan ikan-ikan itu. Lian tersenyum lebar saat melihat ikan-ikan muncul ke permukaan dan memakan umpan yang Lian tebarkan di air danau. Semilir angin menerbangkan rambut panjang sepinggang milik Lian.
Raffi terkesima melihat Lian. Lian terlihat sangat cantik dan mempesona. Andai Lian adalah kekasihnya, ingin sekali Raffi memeluknya dari belakang. Namun, Raffi tersenyum getir saat ia kembali sadar dari lamunannya. Lian tidak akan bisa menjadi miliknya. Selamanya, Lian hanya bisa menjadi ratu penguasa mimpi-mimpi indah Raffi.
"Silakan Mas, Mbak, selamat menikmati." Suara pelayan yang mengantarkan pesanan mereka membuat Lian dan Raffi menoleh.
"Terima kasih," ucap Lian.
Raffi tersenyum pada pelayan itu. Kali ini Lian yang terpesona saat melihat Raffi tersenyum. Senyum yang jarang terlihat di wajah Raffi mebuat Lian ikut tersenyum. Sedetik kemudian senyum Lian menghilang karena Raffi menggodanya.
"Senyum-senyum sendiri, kehabisan obat?" Raffi tersenyum menggoda Lian.
"Huh, dasar Kak Raffi jelek." Lian mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Kalau kakak jelek, kenapa Lian suka?" tanya Raffi.
Lian tertegun mendengar pertanyaan Raffi. Sejenak kemudian Raffi tersadar dengan ucapannya.
"Ayo makan! Lupakan ucapan kakak! Kakak hanya bercanda," ralat Raffi.
"Aku tahu," ucap Lian. Lian tersenyum canggung. Sebenarnya Lian juga bingung jika harus menjawab pertanyaan Raffi. Lian sendiri tidak tahu apa yang membuat ia begitu mencintai Raffi. Yang jelas bukan karena wajah tampannya. Jika karena wajah tampan, lelaki tertampan di SMA Dewi Sartika saja pernah menyatakan cinta pada Lian. Namun, hati Lian tidak tergerak sedikitpun. Cintanya untuk Raffi seakan terpatri kuat di dalam hati.
Raffi memakan makanannya dengan pikiran yang terus tertuju pada Lian. Raffi berdoa semoga saja Lian melupakan pertanyaannya barusan. Akan sangat canggung baginya jika Lian menjawab pertanyaan yang ia lontarkan. "Apa makanannya enak?" tanya Raffi. Ia mencoba mencairkan suasana canggung diantara mereka berdua.
"Em, ini sangat enak," jawab Lian sambil tersenyum.
Sambal yang lumayan pedas itu sangat menyiksa Raffi. Lian tersenyum menertawakan Raffi.
"Dasar jelek. Kamu berani menertawakan kakak?"
"Hahaha, lagian kenapa Kak Raffi coba-coba makan pakai sambal. Dari dulu kan Kak Raffi tidak suka sambal," ucap Lian sambil tertawa.
"Bagi pecinta pedas seperti Lian ini, kalau makan tanpa sambal mana sedap. Sini! Biar Lian bantu pisahkan sambalnya," ucap Lian. Ia menarik piring Raffi dan membantu menyisihkan sambal yang menempel di ayam betutu itu. Setelah selesai, Lian mengembalikannya pada Raffi. "Sudah Lian pisahkan sambalnya, makanlah!"
"Terima kasih," ucap Raffi sambil tersenyum.
"Sama-sama."
Seusai makan siang, mereka kembali ke hotel. Di dalam lift keduanya tidak henti tersenyum bahagia. Lian dan Raffi sama-sama sedang bahagia. Lian keluar lebih dulu dari lift karena kamar Raffi ada di lantai berikutnya. Setelah Lian keluar, pintu lift bergerak menutup kembali. Sebelum benar-benar tertutup, Raffi menahan pintu lift dan memanggil Lian yang belum jauh melangkah.
"Lian!"
"Ya. Ada apa, Kak?"
"Makan malam nanti, kita makan bareng lagi. Kamu mau, kan?"
__ADS_1
"Boleh,"ucap Lian.
Raffi melepaskan tangannya dan pintu lift tertutup. Raffi tersenyum lebar memikirkan nanti malam dia akan makan malam bersama Lian. "Izinkan aku menjadi egois sekali saja. Selama Lian di sini, biarkan aku bersama Lian sejenak. Agar aku tidak memiliki penyesalan saat Lian sudah bertunangan dengan Raffa. Setelah Lian dan Raffa bertunangan, aku akan pergi menjauh, sejauh mungkin yang aku bisa."
Tidak hanya Raffi saja yang tersenyum sumringah. Lian juga bahagia karena bisa dekat dengan Raffi. Lian cukup bahagia walau hanya sekedar makan dan berbicara dengan Raffi. Jika Raffi membalas perasaan Lian tentunya itu lebih membuat Lian bahagia, tetapi Lian sadar kalau dirinya sudah menerima lamaran Raffa. Biarlah Lian menjadi orang yang egois selama seminggu ini. Selama liburan di sini, ia ingin menghabiskan waktunya bersama Raffi.
---------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Penjara Cinta Sang Presdir
-Nazein & Darlan
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
I Love you, readers ♥️♥️♥️
__ADS_1