Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
6. Kesal


__ADS_3

Vira mengantarkan Lian ke rumahnya untuk mengambil baju olahraganya. Vira masih saja merasa khawatir pada Lian.


"Li, aku tunggu di mobil saja." Vira menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Steve.


Steve tinggal di apartemen saat ia baru saja menikah dengan Lola Violetta Martins. Violetta menghilangkan nama depannya karena ia tidak menyukai nama itu. Setelah memiliki Lilian, Steve membeli sebuah rumah besar dan mereka pindah dari apartemen pemberian Denis.


Lilian masuk ke dalam gerbang dan menyapa satpam yang membukakak pintu gerbang. Lian melangkah masuk dan menyapa ibunya yang sedang melamun memikirkan nasib Lian yang pergi tanpa kabar. 


"Aku pulang, Ma. Mama sedang apa?" tanya Lian. Ia melangkah mendekati Violetta. 


"Kamu mau membuat Mama mati muda, hah? Kemana kamu kemarin?" tanya Violet dengan kesal.


"Maaf, Mama. Lian menginap di rumah Vira, tuh, Vira ada di depan. Kalau Mama tidak percaya, Mama bisa tanyakan pada Vira," jawab Lian sambil memeluk Violet. 


"Lain kali, jangan membuat Mama khawatir seperti ini, mengerti." 


"Lian janji, Ma. Tapi sekarang, Lian ada pertandingan basket, jadi Lian mau mengambil baju olahraga dan kembali ke sekolah," ucap Lian. Ia kemudian naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar. Ia melihat jam dinding, jam sebelas. Ia merasa lapar, tetapi ia malas untuk makan. Ia mengingat kejadian kemarin. Saat Lian membawakan makan siang untuk Raffi. Lian sampai malas untuk makan siang jika mengingat ucapan Raffi. 


Lian selesai memasukkan baju olahraga, handuk kecil dan satu setel pakaian ganti. Lian kembali berpamitan pada Violet dan berlari menghampiri mobil Vira. Mereka segera kembali ke sekolah.


***


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" 


"Pak Raffi, mau saya pesankan makan siang?" tanya Leni, sekretaris Raffi. 

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku akan pergi dan makan di luar," jawab Raffi. 


"Baiklah. Saya permisi." Leni keluar dari ruangan Raffi dan bersiap pergi untuk makan siang bersama staf yang lain. 


Raffi masih duduk merenung di kursinya. Ia belum melihat keadaan Lian hari ini. Pikirannya terbagi antara pergi melihatnya atau tetap diam di tempatnya. Keraguan mengombang-ambingkan perasaan Raffi. Ia bagai di tengah lautan luas dalam sebuah perahu kecil tanpa dayung. Ia ragu untuk memilih, apakah ia harus berenang ke tepian atau mengayuh perahu dengan tangan sampai ke tepian, ataukah ia hanya bisa pasrah menunggu perahunya menepi ke pantai. Tetapi kapan? Kapan perahunya bisa menepi? Raffi tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu.


Perasaannya pada Lian kini seperti perahu itu. Perahu itu sangat mendamba untuk dapat berpijak di pantai. Dan Lian ibarat pantai indah yang sebenarnya sangat ia inginkan untuk ia pijak. Namun di sekitar bibir pantai terhalang kawat berduri yang menghalangi langkahnya. Bukan karena hati Raffi begitu lemah dan rapuh, hingga ia tidak mampu menembus duri penghalang itu. Tetapi orang lain yang mungkin akan terluka oleh duri itulah yang membuat Raffi enggan untuk berlabuh, meski hatinya sudah lelah terdampar di tengah lautan.


"Apakah dia baik-baik saja," gumam Raffi. Ia melihat jam di layar ponselnya. Raffi membuka galeri di ponselnya, ia membuka file foto Lilian saat SMA. Raffi tersenyum sambil mengusap pipi Lian di layar ponselnya. Foto Lian yang tersenyum manis menatap dirinya. Andai waktu bisa diputar kembali, Raffi akan menyatakan perasaannya pada Lian, sebelum semua terlambat seperti sekarang. 


Raffi menelepon ke rumah Lian, seperti biasanya. Jika terdengar suara Lian, ia akan menutup telepon kembali, jika pembantunya yang mengangkat, barulah Raffi berbicara. Bersyukur yang mengangkat telepon Raffi adalah pembantunya. Pembantu di rumah Steve memberitahu Raffi bahwa Lian sudah pulang tetapi berangkat lagi ke sekolah. Raffi segera pergi ke sekolah dengan diam-diam. 


***


Di sekolah.


"Vie, aku malas makan. Kamu saja," tolak Lian secara halus. Ia tidak memiliki selera makan. 


"Terserah. Kalau kamu menolak permintaanku, maka jangan lagi menganggapku teman," ucap Vira dengan kesal. Vira pergi meninggalkan Lian.


"Huffhh." Lian mengembuskan napas dengan berat. Ia tidak punya pilihan lain jika Vira sudah mengancam seperti itu. Dengan malas, Lian melangkah untuk mengejar Vira. Tiba-tiba Lian berteriak kencang.


"Aahhh."


Vira seketika berhenti berjalan dan segera menoleh ke belakang. Ia kemudian berlari menghampiri kerumunan siswa siswi yang mengelilingi Lian. Vira menerobos kerumunan dan terkejut sampai menutup mulutnya yang menganga.


Lian terbaring di lantai, di bawah kungkungan siswa dengan seragam yang berbeda dengan seragam sekolah SMA Dewi Sartika. Lian terdiam saking terkejutnya. Kemudian ia tersadar setelah Vira menegurnya.

__ADS_1


"Li, kamu sedang apa dengan dia?" tanya Vira.


Lian segera tersadar dan mendorong pria itu. Ia kemudian bangun bersamaan dengan pria itu.


"Kamu kurang ajar, cepat minta maaf!" Lian berteriak pada siswa itu.


"Aku tidak melakukan apapun. Kenapa aku harus meminta maaf. Tadi yang narik aku itu, kamu, kan." Siswa itu bersedekap sambil melangkah mendekati Lian.


"Wuuu, Lian bisa aja, nih. Kalau mau mesra-mesraan sama pacarnya, jangan disini dong, hahaha." Semua siswa siswi menjadi meledek mereka berdua .


"Aku narik baju kamu, karena ka-mu membuat aku kaget. Kamu tiba-tiba datang dan menabrakku," ucap Lian membela diri.


"Tetap saja, kalau kamu tidak menarik bajuku, aku tidak akan jatuh diatas tubuhmu. Aku tidak mau meminta maaf, dadah," ucap siswa itu.


Lian menghentakan kaki dengan kesal. Para siswa dan siswi yang mengerumuni mereka juga membubarkan diri. Tinggal Lian dan Vira yang masih berdiri disana.


"Li, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Vira.


"Aku tidak apa-apa, tapi hatiku yang kenapa-kenapa." Lian menjawab dengan kesal. Lian melihat siswa itu beserta teman-temannya pergi menjauh tanpa menoleh kembali ke arah Lian. 


Vira menggamit lengan Lian dan mengajaknya pergi ke kantin. Lian masih cemberut karena insiden tadi. Saat tiba di kantin, Lian dan Vira kembali bertemu dengan ketiga siswa itu. Siswa yang salah satu diantaranya telah membuat Lian kesal setengah mati. Lian malas untuk masuk ke dalam kantin karena melihat mereka yang duduk di sana. Lian berbalik hendak pergi, tapi suara panggilan dari siswa itu menghentikan langkah Lian. 


"Lian," ucap siswa itu.


Lian menoleh ke arah suara itu. Ia mengerutkan dahinya. Lian tidak mengenali pria yang memanggilnya. Siswa yang memanggil Lian itu berdiri dan melangkah menghampiri Lian. Lian tertegun dengan pikiran melayang, ia mencoba mengingat wajah dan nama siswa itu. Namun, Lian tidak memiliki ingatan apapun tentang siswa itu. 


Pria itu sampai di depan Lian dan berdiri sambil tersenyum pada Lian. Vira terpesona melihat senyuman manis pria itu. Pria itu mengulurkan tangannya. 

__ADS_1


"Senang sekali bisa bertemu denganmu kembali, Lian." 


__ADS_2