
Hai reader tercinta Jangan lupa dukung author dengan like novel ini sebelum membaca ya. jngn lewatkan 4 bab terakhir novel ini😘 reader terima kasih
Selamat membaca
__________________
Lian masih saja tidak mau melepaskan Raffi. Semakin lama, air mata Lian semakin membasahi dada Raffi. Air mata itu mengalir ke arah leher Raffi.
Deg! Deg! Deg!
Lian berhenti menangis saat ia mendengar detak jantung Raffi di telinganya. Mesin detektor detak jantung juga kembali bergelombang. Lian mengangkat wajahnya dari dada Raffi. Senyum manis merekah seketika saat melihat Raffi membuka mata perlahan-lahan.
Dokter segera memeriksa keadaan Raffi. Dan Raffa menarik Lian keluar dari ruang ICU. Kali ini Lian tidak memberontak, ia menurut dan keluar bersama Raffa.
Raffi menoleh ke arah Lian, pandangannya masih kabur tetapi ia mendengar suara Lian dengan jelas. Raffi menatap samar punggung Lian dan Raffa sampai menghilang di balik pintu.
Di luar, Lian duduk menunggu dengan senyum bahagia.
"Kak Raffi sadar, Kak," ucap Lian pada Raffa yang duduk di sampingnya.
"Ya, syukurlah dia sadar," jawab Raffa dengan senyuman yang sama bahagianya.
Raffa bisa bernapas lega melihat wajah Lian yang tersenyum. Raffa sangat khawatir melihat Lian saat menangisi kepergian Raffi. Untung saja Raffi tidak benar-benar pergi, jika Raffi benar-benar pergi, Raffa tidak sanggup membayangkan seperti apa Lian nantinya. Ia bersyukur masih bisa melihat saudaranya.
Tap! Tap! Tap!
Daisy dan Juan berlari sepanjang koridor. Di belakang mereka, Denis menyusul dengan kursi roda yang didorong oleh perawatnya.
"Itu Raffa!" ucap Juan saat melihat Raffa dan Lian yang duduk di depan ruang ICU. Juan dan Daisy segera menghampiri mereka.
__ADS_1
Dalam kesedihan dan kekalutan, kaki Daisy mulai terasa lemas. Hampir saja Daisy terjatuh. Juan yang menggandeng lengan Daisy itu sampai terkejut, dengan sigap Juan menahan tubuh Daisy. Daisy terisak dan melangkah perlahan mendekati Raffa. Namun, Daisy tidak melihat kesedihan di wajah Raffa. Melihatnya tersenyum bersama Lian, Daisy menjadi emosi.
"Kalian bahagia Raffi meninggal? Hah, saat Raffi terbaring koma, kalian seolah sangat peduli. Begitu Raffi meninggal kalian tertawa bahagia. Apa kalian punya hati nurani? Hiks hiks." Daisy menangis histeris sambil memarahi Lian dan Raffa. Ia tidak menyangka mereka bahagia dengan kematian Raffi. Hati Daisy sakit melihat senyuman mereka.
"Bukan begitu, Ma. Tapi …." Ucapan Raffa dipotong oleh Denis.
"Tapi apa? Kakek tahu kalau Raffi mungkin saingan cintamu, tapi … apa kau pantas berbahagia di saat saudara kembarmu meninggal? Kakek kecewa padamu," ucap Denis dengan wajah berpaling dari Raffa.
Raffa tersenyum getir mendengar kata-kata makian dari ibu dan kakeknya. Raffa seakan terlihat seperti orang yang sangat jahat di mata mereka. Tanpa mendengarkan penjelasan dari Raffa, mereka memarahi Raffa di depan Lian. Apa mereka tidak mengenal siapa Raffa? Pertanyaan itu terlintas dalam benak Raffa. Sejahat itukah Raffa saat ini di mata orang tuanya?
"Tante, Kak Raffi masih hidup. Dokter sedang melakukan pemeriksaan. Kak Raffi sempat meninggal sebentar lalu hidup kembali dan sadar dari koma," ucap Lian menjelaskan.
Raffa pergi saat Lian menjelaskan. Raffa kecewa, ternyata keluarganya saja tidak memahami dirinya. Raffa bukanlah orang jahat. Akan tetapi ucapan ibu dan kakeknya sangat melukai hati Raffa. Ia pergi ke parkiran dan duduk di salah satu bangku yang ada di taman. Raffa duduk melamun di sana dengan rasa kecewa di hatinya.
Denis menyusul Raffa ke taman di samping parkiran. Ia telah ikut memarahi Raffa tanpa bertanya dulu apa yang terjadi. Denis merasa sangat bersalah. Bagaimana bisa ia menjadi sejahat itu memarahi Raffa. Denis melihat Raffa dari kejauhan.
"Raffa!"
"Kakek," jawab Raffa. Ia tersenyum menyapa kakeknya.
"Maaf, Kakek tadi memarahimu."
"Tidak apa-apa, Kek. Raffa memang salah. Walaupun Raffi masih hidup, tapi dia masih terbaring sakit. Memang tidak seharusnya Raffa merasa bahagia. Apa lagi … Raffa tahu kalau Lian dan Raffi saling mencintai. Percayalah! Kek, Raffa akan memperbaiki semuanya. Raffa ingin semuanya bahagia. Raffa tidak mau ada yang terluka." Raffa mengeluarkan semua isi hatinya pada Denis. Raffa sejak kecil memang sangat dekat dengan ibu dan kakeknya. Sementara Raffi sedikit tertutup pada keluarganya. Raffi tidak terlalu dekat dan manja pada orang tuanya, berbeda dengan Raffa. Karena itu Raffa kecewa karena ibu dan kakeknya itu tidak mengenal sifat Raffa.
"Kakek percaya, kamu cucu Kakek. Kakek percaya semua cucu Kakek anak-anak yang baik. Raffa, Raffi dan Lian kalian semua cucu Kakek. Kakek mengharapkan semua yang terbaik untuk kalian bertiga." Denis menepuk pundak Raffa dan tersenyum.
Raffa membalas senyuman Denis dengan senyum yang tidak kalah manis. Raffa dan Denis duduk di taman untuk berjemur sejenak. Mentari pagi masih sangat ramah menyapa kulit mereka. Kedua pria tampan berbeda masa itu tersenyum dengan mata terpejam menikmati cahaya sang surya yang bersinar cerah di pagi ini.
Dokter keluar dari ruang ICU. Ia memberitahukan kabar kalau Raffi telah melewati masa kritis dan akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Semuanya menghela napas lega. Daisy dan Juan tersenyum bahagia mendengarnya. Kemudian Daisy sadar kalau ia telah memarahi Raffa dan Lian. Daisy meminta maaf pada Lian, tetapi ia kebingungan mencari sosok Raffa. Daisy meminta izin pada Juan untuk mencari Raffa.
__ADS_1
Daisy berkeliling di dalam rumah sakit sampai ke kantin, tetapi masih belum menemukan Raffa. Daisy berpikir untuk mencarinya ke parkiran. Di pintu lobby rumah sakit, Daisy melihat perawat yang ia sewa untuk merawat ayahnya. Daisy bertanya dimana ayahnya, kenapa perawat itu duduk sendirian di kursi lobby rumah sakit? Perawat itu menunjukkan di mana Denis berada.
"Terima kasih." Daisy pergi ke taman dan melihat Raffa yang sedang berjemur bersama ayahnya. Daisy menghampiri dan meminta maaf pada Raffa. Daisy duduk di samping Raffa, ia meneteskan air mata penyesalan. Daisy menyesal telah memarahi Raffa. Namun, Raffa justru memeluknya dan mengatakan jika Daisy tidak salah tetapi Raffa yang salah. Daisy semakin terharu dan menangis memeluk putranya itu. Daisy semakin bangga karena memiliki anak-anak yang sangat baik dan penurut kepada orang tuanya.
_________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir juga di sini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Penjara Cinta Sang Presdir
-Nazein & Darlan
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
I Love you, readers ♥️♥️♥️
__ADS_1