Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
Episode 37. Telepon tengah malam


__ADS_3

Hai reader tercinta Jangan lupa dukung author dengan like novel ini sebelum membaca ya reader terima kasih Selamat membaca ya 


______________


Raffi meminta sopir menjemput saat di resto. Setelah Raffi sampai di klub malam, ia menyuruh sopirnya  pulang. Dan kini, Raffi akan pergi entah kemana dengan mobilnya. Dalam keadaan mabuk, Raffi mengendarai mobilnya sendiri. Terlintas dalam ingatannya tentang semua sikap kasarnya pada Lian selama ini. Bagaimana Raffi menolak Lian dengan kasar tanpa berpikir apakah Lian akan sakit hati atau tidak. Jalanan yang sepi itu membuat Raffi memacu mobilnya dengan cepat.


Brukk!


Karena sedang mabuk Raffi menabrak pembatas jalan dan akhirnya mobil itu terbalik. Dengan keadaan terjepit di dalam mobil, Raffi mengambil ponselnya dan menekan tombol panggil. Raffi tidak tahu nomor siapa yang ditekan. Tangan yang berlumuran darah itu membuat layar ponselnya buram. Setelah menekan tombol panggil, Raffi terkulai tidak sadarkan diri.


***


"Ehm, siapa yang menelpon tengah malam begini?" Raffa meraba nakas dan mengambil ponselnya. Raffa sedikit mengucek matanya agar ia bisa melihat dengan jelas siapa yang menelpon. Ia melihat nomor Raffi yang memanggilnya. "Raffi? Ada apa?" Raffa bertanya-tanya sendiri. Ia menggeser tombol terima dan tidak mendengar suara apapun.


"Raffi! Halo. Hei, ada apa menelpon?" Raffa bertanya, tetapi tetap tidak terdengar apapun. Raffa berpikir Raffi mempermainkannya, Raffa pun menutup sambungan. Namun, entah mengapa hati Raffa begitu cemas, dadanya terasa sakit tiba-tiba. "Ada apa dengannya? Kenapa aku tiba-tiba merasa cemas? Tidak biasanya," gumam Raffa. Untuk memastikan dugaannya, Raffa menelpon Raffi, tetapi tidak ada jawaban. Raffa menjadi benar-benar cemas. 


Raffa segera bangun, mencuci wajahnya lalu mengganti baju. Raffa mengambil kunci mobilnya dan melangkah keluar dari kamar. Di ruang keluarga, Raffa berpapasan dengan Desi yang hendak mengambil air minum ke dapur.


"Raffa! Mau kemana? Ini sudah dini hari, mau pergi kemana?" Daisy memandang wajah Raffa yang terlihat cemas dan gugup.


"Em, itu, Ma. Raffa mau menjemput Raffi," jawab Raffa.


"Raffi? Kenapa harus dijemput? Dia kan kadang menginap di klub milik Key, itu sudah biasa. Dan juga, bukannya Raffi masih di Bali? Kenapa kamu harus cemas begitu, Sayang?" Daisy tersenyum melihat betapa sayangnya Raffa pada saudaranya Raffi. Sampai harus mengkhawatirkan keadaan Raffi.


"Iya, maksud Raffa, mau menyusul Raffi kesana. Raffa pamit, Ma." Raffa segera berlari menuju garasi dan keluar dengan mobilnya. Raffa menghidupkan GPS mobilnya yang tersambung dengan GPS milik Raffi. "Itu tidak jauh dari sini. Kenapa mobilnya berhenti dan tidak bergerak maju?" Raffa tidak hentinya menoleh ke arah GPS di mobilnya. Melihat mobil Raffi masih saja diam di tempat, yakinlah sekarang Raffa kalau dugaannya pasti terjadi sesuatu pada Raffi. Raffa sudah menduga dari awal kalau Raffi pasti menyusul mereka pulang ke Jakarta.

__ADS_1


***


Sementara di rumah Vira, Lian juga merasa tidak enak hati. Tiba-tiba ia memikirkan Raffi. "Kenapa aku harus memikirkan dia? Tidak ada gunanya," gumam Lian.


"Kamu masih belum tidur?" tanya Vira yang masuk ke kamar tamu, tempat Lian tidur. Awalnya Vira ingin melihat apakah Lian bisa tidur atau tidak? Dan ternyata Lian masih duduk di lantai dan melamun disana sedari tadi.


"Baru mau tidur," jawab Lian sambil mencoba bangun dan terjatuh lagi karena kakinya kebas.


"Lihat! Sudah berapa lama kamu duduk disana? Sampai kebas dan kesemutan," ucap Vira. Ucapan Vira hanya dijawab senyuman kecil oleh Lian. Vira menghela napas, setidaknya Lian masih bisa mencoba tersenyum walaupun dengan terpaksa. "Tidur atau aku bawakan obat tidur dan kupaksa kamu supaya minum!" Vira mengancam Lian.


"Iya, iya, bawel! Kali ini aku akan tidur, sungguh," ucap Lian. Vira pergi setelah mematikan lampu dan keluar dari kamar Lian. Lian berbaring dan memejamkan matanya. Ia ingin tidur, tetapi sangat sulit sekali. Lian memaksakan diri agar bisa tidur. Ia memejamkan mata dengan rapat dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. 


Di sisi lain, Raffa sudah menemukan lokasi Raffi dan terkejut melihat keadaan mobil yang terbalik di tepi jalan. Raffa segera mematikan mesin mobil dan berlari menghampiri mobil Raffi. Raffa melihat Raffi tergeletak dan tidak sadarkan diri. Raffa memeriksa napas dan denyut nadi Raffi.


Di kamarnya, Daisy mulai merasa cemas. Tidak biasanya Raffa gugup saat Raffi tidak pulang. Ia mondar-mandir dengan khawatir. "Apa terjadi sesuatu pada mereka? Ya, Tuhan, lindungi kedua putraku," ucap Daisy. 


Juan terbangun saat tangannya meraba tempat di sampingnya kosong. Ia melihat Daisy yang berdiri di dekat jendela dan menatap gerbang rumah. Juan menghampiri dan memeluknya dari belakang. "Ada apa, Sayang?"


"Raffa pergi mencari Raffi, tapi wajahnya sangat khawatir. Ia seperti sedang mencemaskan Raffi. Aku jadi sedikit khawatir." Daisy berbalik dan memeluk tubuh Juan dari depan. Seolah Desi sedang mencari ketenangan di dada Juan.


"Tidak perlu khawatir! Mereka pasti baik-baik saja. Tidur lagi saja! Kalau ada apa-apa, Raffa atau Raffi akan memberitahu kita," ucap Juan menenangkan Daisy. Ia menuntun Daisy kembali ke ranjang dan tidur berpelukan. Meskipun Juan menyuruh Daisy untuk tidak khawatir, tetapi sebagai seorang ibu, Daisy malah semakin cemas saat Juan menyuruhnya untuk tidak khawatir. Hanya saja Daisy tidak mau menunjukan pada Juan.


***


Raffa sudah duduk di depan ruang IGD. Raffa mengirim pesan pada Daisy dan Lian. Raffa tidak mau mengganggu mereka karena itulah Raffa lebih memilih mengirim sms daripada menelpon. Setelah satu jam, Dokter keluar dan mengatakan kalau kondisi Raffi kritis. Dokter menempatkan Raffi di ruang ICU. Luka luar tidak begitu berat, tetapi Raffi mengalami luka dalam. Terjadi pendarahan di organ dalam otak Raffi. Dokter belum bisa memastikan keadaan Raffi sebelum Raffi sadar. Untuk saat ini Dokter hanya menyuruh Raffa untuk banyak berdoa. Raffa mengusap wajahnya dengan frustasi. Ia tidak mengerti, kenapa Raffi bisa mengalami kecelakaan? 

__ADS_1


__________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir juga di sini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu (END)


-Penjara Cinta Sang Presdir


-Nazein & Darlan 


-Serpihan Hati Yang Hancur (END)


 I Love you, readers ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2