
Selalu dukung author dengan like novel ini sebelum membaca ya reader
Selamat membaca ya
---------------------
Ditengah perjalanan turun hujan lebat. Jarak pandang Raffi berkurang dan dia salah melihat petunjuk jalan. Semakin lama mobil Raffi melaju, malah semakin sepi dan tidak ada rumah yang mereka lewati apalagi cafe tempat mereka janji berkumpul bersama Raffa.
"Kak Raffi, apa kita tersesat?"
"Entahlah, Lian. Kakak juga tidak tahu. Ini seperti arah ke hutan," ucap Raffi.
"Hah? Hutan? Aduh, bagaimana dong?" tanya Lian khawatir.
"Sebentar! Kak Raffi putar balik dulu. Semoga saja bensinnya cukup, kakak lupa tidak isi bensin tadi. Kakak pikir cukup untuk pulang pergi ke cafe, eh, malah nyasar begini." Raffi melihat kaca spion dan tidak ada kendaraan lain yang melintas. Raffi memutar balik arah laju mobilnya. Namun, karena jalanan yang licin membuat mobil Raffi terperosok ke dalam sebuah parit kecil di tepi jalan. Raffi mematikan mesin mobilnya karena ban yang masuk ke dalam parit tidak bisa berputar lagi. "Sial!"
"Benar, Lian memang pembawa sial buat Kak Raffi." Lian turun dan berjalan pergi menembus derasnya air hujan.
"Li, bukan maksud Kak Raffi seperti itu. Hei, mau kemana?" tanya Raffi saat Lian keluar dari mobil. Raffi keluar mengejar Lian dan menarik lengan Lian. "Jangan bertindak bodoh! Hujannya sangat deras dan kita sedang tersesat. Kamu pikir mau pergi kemana?" Raffi memarahi Lian yang sudah basah kuyup. Tubuh Raffi pun basah kuyup karena mengejar Lian. Raffi menyuruh Lian masuk ke dalam mobil lalu Raffi mengunci pintunya.
"Kakak tidak memarahi Lian, tapi mobilnya yang tidak mau bergerak. Bensin juga hampir habis. Kak Raffi tidak bilang Lian pembawa sial, jadi jangan bersedih dan jangan pergi kemanapun, ok!" ucap Raffi menjelaskan.
Lian terdiam. Ia kedinginan di dalam mobil karena AC mobil menyala. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. Tubuh Lian mulai menggigil dan wajahnya pucat pasi. Bibir Lian pun kelihatan membiru karena kedinginan.
Raffi melepaskan baju yang dipakainya dan memer*snya agar tidak terlalu basah lalu menggantungnya di atas setir. Raffi ingat dia menyimpan selimut di bagasi belakang jok. Ia memakainya untuk tidur saat istirahat di perjalanan dari Jakarta menuju ke Gianyar kemarin. "Buka jaketnya! Pakai selimut ini! Kak Raffi sudah mematikan mesin mobil dan juga AC-nya," ucap Raffi.
Lian menurut, ia membuka jaket jeans hitam yang dipakainya dan menutupi tubuh serta dressnya yang basah. Raffi mencoba menelpon Raffa untuk menjemput mereka, tetapi ternyata tidak ada sinyal di tempat itu. Lian mengambil ponselnya dengan tangan gemetar dan mencoba menghubungi Raffa, dan ternyata ponsel Lian juga tidak ada sinyal.
"Bagaimana, tersambung?" tanya Raffi.
Lian hanya menggeleng pelan. Hujan telah reda, tetapi Lian dan Raffi tetap tidak bisa pergi kemanapun. Jika saja ada sinyal, Raffi akan menelpon mobil derek dan menelpon Raffa juga. Dari arah kiri mobil Raffi terlihat sebuah cahaya yang berjalan mendekat. Cahaya itu adalah cahaya senter yang dipegang oleh seorang nenek berusia kurang lebih enam puluh tahunan. Raffi keluar saat nenek itu berdiri di depan mobilnya dan menyoroti Raffi dengan senter.
__ADS_1
"Mobilnya pasti terjebak di parit?" tanya nenek itu.
"Ya, Nek. Nenek warga sekitar sini?"
"Ya. Rumah Nenek ada di dalam hutan sana. Kalian menginap saja di rumah Nenek sambil menunggu pagi. Istrimu juga sepertinya sangat kedinginan." Si nenek yang entah siapa namanya itu menawarkan Raffi dan Lian agar menginap di rumahnya.
Raffi menoleh ke arah Lian yang sedang menggigil kedinginan. Raffi pun menerima tawarannya untuk menginap. Nenek itu tersenyum ramah. Raffi masuk ke dalam mobil dan membicarakannya dengan Lian. "Li, kita hanya bisa menunggu pagi, jadi lebih baik kita menginap dulu di rumah nenek itu," ucap Raffi. Lian mengangguk. Raffi membukakan pintu untuk Lian lalu mengunci mobilnya. Lian berjalan tertatih di belakang si nenek.
Raffi berjalan di belakang Lian dan memperhatikan Lian yang berjalan dengan gemetar. Karena tidak tega, Raffi memutuskan untuk menggendong Lian.
"Kak Raffi, Lian bisa jalan sendiri," ucap Lian.
"Sudah, tidak usah malu sama Nenek. Lagi pula yang menggendong kan suami sendiri," ucap nenek itu.
Lian menatap wajah Raffi dengan isyarat mata seakan bertanya apa maksud nenek itu. Raffi hanya tersenyum. Tidak berapa lama mereka sampai di rumah nenek itu. Sebuah gubuk kecil di tepi hutan tidak jauh dari tempat mobil Raffi terperosok. Gubuk itu mempunyai satu kamar dan sebuah kamar kecil yang terpisah di luar. Mereka masuk ke dalam gubuk dan di ruang tamu ada seorang kakek buta yang sedang duduk.
"Siapa itu?" tanya si kakek saat Raffi masuk bersama si nenek.
"Ini kami," jawab nenek itu.
"Ya. Seperti biasanya," jawab nenek.
Raffi masih menggendong Lian dan belum menurunkannya. "Maaf, Kek, kami jadi merepotkan Kakek dan Nenek." Raffi meminta maaf pada pasangan lanjut usia itu karena telah mengganggu mereka malam-malam begini.
"Kami sama sekali tidak merasa repot. Dia Kakek Sumiran, suami Nenek. Dan nama Nenek, Saidah. Kami sudah biasa melihat kejadian seperti kalian, mobil mereka terjebak di parit itu. Paritnya tidak terlihat karena tertutup rumput, jadi sering sekali menyebabkan kecelakaan seperti itu.
Kalian bisa menempati kamar yang di samping rumah. Kami takut kalian tidak merasa nyaman jika tidur di kamar kami. Nanti Nenek bawakan baju untuk kalian." Nenek Saidah menunjukkan kamar kosong di samping rumahnya. Karena seringnya terjadi hal seperti yang dialami Raffi, jadi Nenek Saidah membuat kamar terpisah di luar, khusus untuk mereka yang butuh tempat istirahat sementara.
"Ini kamarnya. Istirahatlah, sebentar Nenek akan ambilkan baju kering untuk kalian," ucap Saidah.
"Terima kasih, Nek. Kami jadi merepotkan Nenek," ucap Lian.
__ADS_1
"Jangan sungkan," ucap Saidah. Ia kembali ke dalam rumah untuk mengambil baju dan memberikannya pada Lian dan Raffi. Setelah memberikan baju dan air hangat untuk Raffi dan Lian, Nenek Saidah kembali ke rumahnya dan menutup pintu.
Setelah kepergian Saidah, Raffi menutup pintu kamar dengan ragu. Karena Raffi tidak enak bersama dengan Lian dalam satu kamar tertutup. Namun, Raffi harus menutup pintunya atau Lian dan dirinya bisa kedinginan. Raffi mengganti bajunya dengan baju yang Saidah berikan. Sementara Lian hanya memegang bajunya dengan canggung.
"Kak Raffi akan keluar sebentar kalau Lian mau ganti baju."
"Tidak perlu! Kakak balik badan saja!" ucap Lian.
Raffi membalikkan badannya membelakangi Lian. Lian mengganti dressnya dengan daster dari Saidah. Meskipun kain penutup bagian sensitif Lian masih basah, tetapi itu sedikit mengurangi rasa dingin dibandingkan dengan ia tetap menggunakan dress yang basah. Raffi dan Lian menggantung baju mereka yang basah itu di paku yang menempel di dinding kayu gubuk itu. Raffi memakai kain sarung dan kemeja pendek. Mereka duduk di tepi ranjang dengan jarak satu meter. Mereka tidak bisa duduk di tempat lain karena hanya ada satu ranjang saja di dalam kamar itu. Tidak ada kursi atau tikar yang bisa mereka pakai selain ranjang itu. Mereka duduk dengan canggung.
------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Penjara Cinta Sang Presdir
-Nazein & Darlan
__ADS_1
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
I Love you, readers ♥️♥️♥️