Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
8. Pertandingan (2)


__ADS_3

Pertandingan berakhir dengan skor 52:50. SMA Dewi Sartika memenangkan pertandingan basket tim putra. Kini giliran tim putri, Lian sudah bersiap-siap di pinggir lapangan. Ia melakukan stretching sebelum pertandingan dimulai. Vira dengan setia duduk di kursi dan memegang botol air mineral.


"Li, kamu baik-baik saja, kan? Aku khawatir." Vira akhirnya melontarkan pertanyaan yang sedari tadi menari di pikirannya. Hati Lian yang sedang patah membuat Vira khawatir. Khawatir kalau Lian tidak fokus dan celaka. Vira berdoa dalam hati semoga sahabatnya ini baik-baik saja dan bisa bertanding dengan maksimal.


"Kenapa? Aku baik-baik saja. Kamu pikir karena patah hati terus aku akan kalah. Kamu ingat kan, selama ini aku tidak pernah kalah. Empat babak pertandingan basket hari ini, aku … akan memenangkan kembali." Lian berucap dengan penuh percaya diri. Selama tiga tahun ia duduk di bangku SMA, Lian tidak pernah kalah jika bertanding basket. Tim Lian sangat tangguh, mereka selalu memenangkan setiap pertandingan yang diadakan pihak sekolah. Kali ini dengan mantap Lian berucap akan menang kembali.


Tessa, kapten tim basket putri SMA Bhineka 1 menghampiri Lian.


"Lo, yang namanya Lian?" 


"Ya. Saya Lian, ada apa?"


"Gue Tessa. Gue peringatin sama lo, jangan kecentilan sama Mondy. Mondy itu cowok gue. Jadi, lo gak usah deketin dia, ngerti!" 


Mendengar ancaman Tessa membuat Lian tersenyum. Bagaimana mungkin Lian mau mengambil perhatian Mondy. Lian malah sangat ingin menghajar Mondy karena selalu membuat Lian kesal saat bertemu. Tetapi, Lian sangat tidak suka mendapatkan ancaman. Bukannya mengelak, Lian justru menantang Tessa.


"Kalau saya tidak mau, bagaimana? Asal kamu tahu, cowok kamu itu sudah terpikat dengan kecantikanku." Lian memanasi perasaan Tessa. Tessa mengeratkan kepalan tangannya, rahangnya mengeras menahan amarah yang memuncak. Namun Lian masih belum merasa puas, ia sengaja memanggil Mondy dan melambaikan tangan sambil tersenyum manis.


"Mondy, hai." Lian melambai dan Mondy di seberang lapangan tersenyum membalas lambaian tangan Lian. "Kamu lihat, kan. Di depan kamu yang katanya pacarnya, Mondy berani loh buat membalas lambaian tanganku."


"Awas saja! Gue gak akan membiarkan Mondy mendekati lo lagi." 


Peluit ditiup, pertandingan akan segera dimulai. Kedua tim sudah bersiap di tengah lapangan. Lian dan Tessa saling menatap tajam. Tim Lian mendapat giliran pertama untuk memulai pertandingan setelah mengundi dengan koin. Peluit kembali ditiup sang wasit dan pertandingan pun dimulai. Mereka saling mengejar dan menghadang agar tim lawan masing-masing tidak sampai mencetak angka.


***


Di luar gerbang, setelah Raffi memarkir mobilnya di tikungan gang sekolah ia pun melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah dan bertanya pada satpam.


"Permisi, Pak."

__ADS_1


"Ya. Ada apa Pak?" tanya satpam.


"Saya, kakak salah satu siswa yang katanya hari ini bertanding basket. Bolehkah kalau saya melihat adik saya bertanding?"


"Oh, boleh. Silakan Bapak jalan ke sisi kiri sekolah. Lapangan basketnya di ujung sana, masuk ke dalam. Lapangannya di dalam gedung itu." Satpam itu menunjukkan jalan pada Raffi.


"Terima kasih, Pak. Saya kesana kalau begitu."


"Sama-sama."


Raffi melangkah pelan. Seakan ia melangkah diatas sungai yang membeku di musim salju. Ia takut lapisan es itu retak dan menenggelamkan dirinya di dasar sungai. Raffi merasa was-was. Ia takut ketahuan atau kepergok oleh Lian. Ia menggulung lengan kemejanya dan melangkah kembali dengan waspada agar tidak ada yang curiga padanya. Raffi sengaja menaruh jas dan dasinya di dalam mobil. Agar jika Lian memergokinya, ia bisa berpura-pura menjadi Raffa. 


Ia berdiri cukup lama di depan pintu masuk gedung olahraga. Keraguan merayapi setiap helaan napasnya tetapi kerinduannya juga mengalir deras mengiringi setiap desiran darahnya. Raffi menarik napas dalam sebelum kembali melangkah. Masuk ke dalam gedung, ia langsung bisa melihat Lian yang sedang berlarian kesana kemari. Raffi berdiri di barisan paling atas dari tempat duduk penonton. Ia tersenyum menatap Lian, menatap orang yang ia khawatirkan semalaman ternyata baik-baik saja. Raffi terus tersenyum mengikuti kemana arah Lian berlari.


Tiba-tiba Lian menoleh ke arah Raffi. Raffi yang sedang terlena dengan lamunannya itu pun tersentak dan tersenyum kikuk karena ditatap oleh Lian. Raffi mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke atas sambil tersenyum. Raffi mengisyaratkan dengan tangan terkepal agar Lian semangat. Lian malah jadi kaku dan tidak bergerak kemanapun. Ia menatap Raffi dengan berkaca-kaca, membuat Vira mengikuti arah pandangan Lian.


Bola basket melayang mengenai punggung Lian hingga Lian tersungkur jatuh dan terduduk di lantai. Semua orang berlarian mengerumuni Lian. Raffi segera pergi dari gedung olahraga sementara Lian terhalang oleh para siswa yang menanyai Lian dengan khawatir. Lian segera berdiri dan menatap ke arah Raffi berdiri tadi, tapi tempat itu sudah kosong.


"Li, kamu tidak apa-apa?" Vira bertanya dengan khawatir sedang orang yang dikhawatirkan tidak mau menjawab dan langsung berlari keluar. "Li, mau kemana? Pertandingannya belum selesai. Li!" Vira meneriaki Lian yang berlari kencang keluar dari gedung olahraga. Lian mencari Raffi di setiap sudut sekolah sampai ke parkiran, tetapi Lian tidak melihat mobil Raffi. Dengan napas terengah-engah Lian pergi ke pos satpam.


"Pak, tadi lihat mobil putih keluar dari sini tidak?"


"Tidak ada, Neng Lian." 



Raffi masih berada di area sekolah. Ia bersembunyi di belakang pos satpam dan mendengar suara Lian yang bertanya pada satpam. Raffi terpaku di tempatnya.


"Li, pertandingan sudah ditunda lima menit. Cepat kembali atau tim kita didiskualifikasi." Vira menarik tangan Lian tetapi Lian menepisnya. 

__ADS_1


"Vie, tadi ada Kak Raffi. Kak Raffi tadi … dia ada di sini." Lian terisak karena tidak menemukan Raffi dimanapun. 


"Itu cuma halusinasi. Tidak mungkin Kak Raffi ada di sekolah kita. Dia pasti sedang berada di kantornya." Vira menenangkan Lian yang mulai menangis tersedu-sedu. 


Hati Raffi bagai tengah diiris-iris sembilu dan tidak terasa, Raffi juga meneteskan airmata mendengar tangisan pilu Lian. Vira menuntun Lian kembali ke dalam gedung olahraga. Saat Lian sudah masuk bersama Vira, Raffi keluar dari persembunyiannya dan berpamitan pada satpam. Ia melangkah dengan kaki yang terasa berat menuju tikungan gang, tempat dimana ia memarkir mobilnya. Dada Raffi terasa sesak bagai ada ribuan gram batu menghimpit dadanya. Ia masuk ke dalam mobilnya dan melaju kembali ke kantor.


--------------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 


 I Love you, readers ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2