
Sore berganti malam, Vira sedang merias wajah Lian dengan sangat cantik. Lian merasa risih dengan kelakuan Vira. Lian yang akan pergi dan Vira yang sibuk sendiri.
"Vi, sudah! Jangan terlalu tebal," ucap Lian. Lian tidak suka memakai riasan yang terlalu mencolok, meskipun Vira mendandani Lian dengan riasan minimalis. Lian tidak ingin membuat Aris salah paham. Apa jadinya jika Aris beranggapan Lian tampil maksimal karena akan bertemu Aris.
"Ini juga sudah. Berangkat sana!"
"Kamu mengusir aku?" tanya Lian merengut.
"Tidak, tapi karena sejak setengah jam yang lalu Aris menunggumu di depan pintu kamar kita," ucap Vira.
"Kamu suruh dia menunggu? Kenapa tidak bilang dari tadi!" ucap Lian. Ia segera mengambil tas selempang warna coklat dan keluar dari kamar penginapan. Benar saja, Aris sedang berdiri membelakangi pintu kamar Lian dan Vira. Aris membawa sekuntum bunga mawar merah membuat Lian menyesal menerima ajakan Aris. Sepertinya Aris berpikir ini benar-benar sebuah kencan. "Ris, sudah lama?" tanya Lian basa-basi.
"Eh, Li. Enggak kok, baru saja. Oh, iya, ini untukmu."
"Terima kasih." Lian tersenyum canggung.
"Kita jalan sekarang?"
"Ya." Lian dan Aris pun pergi meninggalkan penginapan. Sesuai janji, Aris dan Lian berjalan menyusuri jalanan di dekat penginapan. Melihat ramainya pedagang kaki lima dan juga para seniman jalanan. Ada yang menyanyi, ada yang bersajak, ada juga yang melukis.
Lian sedikit takut saat melihat pengamen yang membaca sajak. Mereka berkumpul, ada sekitar lima orang yang membentuk lingkaran. Mereka terlihat menyeramkan karena seluruh tubuh mereka penuh dengan tato. Lian sedikit lebih mendekat ke arah Aris saat melewati mereka.
"Hei Nona manis, janganlah takut kepada kami. Kami terlihat keras di luar tapi lembut di dalam," ucap salah seorang dari mereka.
Lian tersenyum menanggapi ucapan mereka. Aris mengajak Lian mendekat.
"Gak mau," ucap Lian menolak.
"Ayo, jangan takut! Ada aku," ucap Aris.
Lian memegang ujung jaket yang dipakai Aris. Aris tersenyum melihat Lian yang begitu waspada. Aris melangkah maju mendekati mereka.
"Kesini cantik! Duduk di samping pacarmu dan dengarkan sebuah lagu dari teman kami," ucap orang yang tadi menggoda Lian.
Lian tersenyum dan duduk di samping Aris. Sebuah lagu dari Anji berjudul 'Dia' dinyanyikan dengan iringan gitar. Setelah mereka selesai, Aris memberikan uang pecahan lima puluh ribu rupiah dan meminjam gitarnya.
Aris menyanyikan lagu 'Cinta luar biasa' dari penyanyi Andmesh.
*Waktu pertama kali
Kulihat dirimu hadir
Rasa hati ini, inginkan dirimu
__ADS_1
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa
Geloranya hati ini, tak kusangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa, tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga, aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia, tulus padamu*
Lian tersenyum mendengarkan suara sumbang Aris. Aris menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aris mengembalikan gitar itu pada pemiliknya.
"Suaraku jelek, ya?" tanya Aris sambil tersenyum canggung.
"Bagus, kok."
"Apa?"
"Lagu tadi ... aku nyanyikan sebagai ungkapan perasaanku padamu. Sudah sejak lama, aku ... menyukaimu ... Lilian," ucap Aris sambil menggenggam tangan Lian.
Lian menarik tangannya dengan halus. "Maaf, Ris, hatiku ... sudah diisi oleh orang lain." Lian menolak perasaan Aris untuknya.
"Oh, begitu rupanya. Pantas saja, aku tidak pernah melihatmu berpacaran di sekolah. Dia bukan anak sekolah kita, kan?" tanya Aris. Meskipun hatinya sakit karena pernyataan cintanya ditolak, tapi Aris bisa berlapang dada. Aris menyesal, kenapa tidak sejak dulu ia ungkapkan cintanya pada Lian. Sekarang sepertinya sudah sangat terlambat untuk Aris jika ingin mengejar cinta Lian.
"Aku akan bertunangan dengan kakak sepupuku. Dua minggu lagi acara pesta pertunangan digelar. Aku harap kamu hadir," ucap Lian.
"Bertunangan dengan kakak sepupu? Dijodohkan?" tanya Aris penasaran. Aris tidak melihat rona kebahagiaan dalam ucapan Lian. Seharusnya Lian bahagia jika Lian akan bertunangan dengan orang yang dia cintai.
"Em, kira-kira seperti itu."
"Kau tidak mencintainya?"
"Asalkan dia mencintaiku," ucap Lian ambigu.
"Cinta harus disatukan atas dasar dua hati. Jika hanya setengah hati yang memiliki cinta, itu namanya bukan cinta, Li. Itu ambisi, ambisi calon tunangan kamu yang ingin memiliki kamu," ucap Aris.
__ADS_1
"Itu lebih baik daripada merasakan sakit hati ditolak orang yang sekian lama aku cintai," ucap Lian sambil bangun dan melangkah pergi.
Aris mengejar Lian dan mensejajarkan langkahnya di samping Lian. Aris mengerti sekarang, Lian sebenarnya memiliki cinta bertepuk sebelah tangan. Seandainya saja Lian mau membuka hatinya untuk Aris, mungkin Aris akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia.
***
Di hotel ROSE, Raffi baru saja selesai makan malam. Melihat langit yang begitu indah membuat Raffi ingin keluar berjalan-jalan menikmati bintang yang bertaburan di langit.
Raffi duduk di taman dekat parkiran hotel. Di taman itu banyak sekali pasangan muda-mudi yang sedang bermanja-manja dan bersenda gurau. Raffi mengedarkan pandangannya dan hanya dia saja yang duduk di sana tanpa pasangan. Raffi tidak enak hati, ia pun memilih melangkah pelan menyusuri jalanan malam hari di Gianyar. Raffi juga melewati penginapan tempat Lian dan anak-anak SMA Dewi Sartika menginap.
Tidak jauh dari penginapan itu ada sebuah toko oleh-oleh dan aksesoris. Raffi masuk ke dalam dan matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Raffi tertegun menatap seorang wanita yang berdiri bersama seorang laki-laki.
"Kenapa bayangan Lian tidak mau hilang? Bahkan kekasih orang juga terlihat seperti Lian." Raffi mengembuskan napas berat. Ia masuk ke tempat gantungan kunci, dimana Lian juga berada di sana bersama Aris. Raffi cuek dan tidak menyapa Lian karena Raffi pikir dirinya hanya berhalusinasi.
Lian tidak melihat keberadaan Raffi, dia asyik menunduk sambil memilih gantungan kunci. Tiba-tiba tangan mereka beradu karena akan mengambil gantungan kunci yang sama. Lian menoleh dan terperanjat melihat Raffi. Lian sampai menjatuhkan gantungan kunci yang sudah dilepas oleh Raffi. Lian mundur selangkah dan menabrak dada bidang Aris. Dengan sigap Aris menahan kedua pundak Lian.
Raffi juga ikut terkejut melihat reaksi Lian. Raffi sadar, ia tidak berhalusinasi. Gadis di hadapannya ini memang Lian. Raffi terdiam menatap kedua tangan Aris yang menempel di pundak Lian. Raffi bagaikan kayu yang sedang dibakar api. Cemburu, marah dan tidak senang melihat Lian dekat dengan pria lain.
_____________________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Putri Yang Tergadai
-Nazein & Darlan
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
I Love you, readers ♥️♥️♥️
__ADS_1