
Gadis itu terus melirik ke arah kanan dan kiri. Laki-laki yang ditunggunya masih tak kunjung datang. Kali ini, gadis itu sudah benar-benar marah.
"Taksi!"
Klek!
"Kemana, Mbak?"
"Vira Florist," jawab gadis itu.
Mobil melaju dengan kecepatan normal, menembus jalanan yang rupanya sangat padat. Hidup di kota besar memang harus siap mengalami hal-hal seperti kemacetan dan lain-lainnya. Ia mengerti, mungkin laki-laki itu terjebak kemacetan, tapi hari ini hari jadi pertunangan mereka.
Mereka sudah berjanji untuk merayakannya berdua dan janji itu sudah sejak seminggu yang lalu. Gadis itu pikir, kekasihnya bisa datang menjemputnya lebih awal agar tidak terjebak kemacetan. Namun, laki-laki itu terlambat lebih lama dari hari-hari biasanya.
Setiap hari, setidaknya gadis itu menunggu satu jam. Kali ini, ia sudah berdiri di depan kampus selama tiga jam. Bahkan dosennya tidak mengajar selama itu, tapi dia tetap sabar menunggu.
"Kamu keterlaluan, Kak. Aku sebel," gerutu gadis itu pelan.
"Sudah sampai, Mbak," kata sopir taksi.
"Terima kasih, Pak."
Saat kakinya menapak jalan, sebuah suara sudah menyambutnya dengan riang.
"Li!"
Taksi itu pergi dan gadis itu melenggang masuk ke toko bunga. Seorang pelayan segera menghampirinya dan mengambil tas dari tangan gadis itu. Pelayan itu menawarkan diri untuk membantu.
"Biar saya simpan tasnya, Mbak," kata pelayan itu sambil sedikit membungkuk.
"Terima kasih, Bi."
"Kenapa lagi, sih, Li? Wajahmu kusut sekali," celetuk gadis yang tadi memanggilnya.
"Gimana aku gak kesel, Vi? Dia sudah terlambat tiga jam, tapi tidak memberi kabar sama sekali."
"Apa?! Tiga jam? Keterlaluan. Biar aku telepon dia!"
Gadis itu mengambil ponselnya, hendak menghubungi tunangan dari sahabatnya. Namun, nomor ponselnya tidak aktif. Ia pun ikut kesal.
__ADS_1
"Kak Raffi itu benar-benar …. Kamu juga, sih. Ngapain coba, harus cinta mati sama cowok kulkas kaya gitu?"
"Vira, Cintaku, Manisku. Kamu selalu membahas itu. Sekarang aku yang tanya, kenapa kamu cinta sama Kak Raffa?"
"Dia berbeda dari tunanganmu. Jadi, jangan disamakan! Kak Raffa lebih pengertian daripada foto copy-nya," ucap Vira membantah ucapan Lilian.
"Apa bedanya? Muka sama, usia sama."
"Beda!" sanggah Vira.
"Sama!"
"Beda!"
"Huft! kamu menyebalkan!" Lilian memalingkan muka.
"Kamu juga! Huft!" Vira melakukan hal yang sama.
Hening sesaat. Lalu, mereka saling melirik dengan bibir mengerucut. Berkali-kali melirik dan akhirnya tertawa.
"Sebenarnya, aku juga sedang kesal dengan kak Raffa."
Gadis itu menutupi alasannya keluar dari kampus. Ia dan Lilian sudah bersahabat lebih dari tujuh tahun, tapi baru kali ini Vira tidak jujur kepada Lilian. Beberapa bulan yang lalu, gadis itu pernah meminta putus dari Raffa, tapi permintaannya ditolak laki-laki itu.
"Ada apa dengan kak Raffa?"
"Dia … ingin putus denganku. Dulu, saat aku minta putus, dia menolak. Tapi sekarang, justru dia yang mengajak putus. Kan, aneh," jawab Vira sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Iya, aneh? Coba aku tanyakan sama kak Raffi nanti," ucap Lilian sambil memeluk sahabatnya.
"Terima kasih, Li."
"Hem," jawabnya dengan gumaman pendek.
Lilian dan Vira duduk melamun dengan pandangan tertuju lurus, menatap bunga-bunga aneka warna dan rupa. Seorang wanita hamil datang ke toko itu. Ia tidak berniat membeli bunga, tapi mencari Lilian dan Vira.
"Selamat sore. Ada yang bisa dibantu?" tanya Vira dengan ramah.
"Apa saya bisa bertemu dengan mbak Vira dan mbak Lilian? Saya Price, sekretaris Pak Raffi."
__ADS_1
Wanita hamil itu mengulurkan tangan sambil memperkenalkan diri. Kedua gadis itu saling melempar pandangan. Mereka tidak mengerti, apa yang mereka lakukan sehingga wanita itu mencari mereka.
"Saya Vira dan itu Lilian. Sila duduk," ucap Vira.
"Terima kasih."
Wanita itu duduk di sofa tunggal, sedangkan Lilian dan Vira di sofa panjang. Price terlihat ragu-ragu saat akan membuka mulut. Seperti ada sesuatu yang membuatnya ketakutan.
"Ada apa, Mbak, mencari kami?" tanya Lian memecah kesunyian.
"Begini, sebenarnya saya kemari karena ingin berbicara kepada kalian berdua. Lima bulan yang lalu, perusahaan mengadakan pesta atas suksesnya kerjasama dengan klien dari luar negeri.
"Saat itu, pak Raffi dan pak Raffa mabuk berat, begitupun dengan saya. Kami bertiga menginap di ruangan istirahat pak Raffi. Karena pengaruh minuman keras, kami …."
Wanita itu tidak melanjutkan ucapannya. Namun, Vira dan Lian bukan anak kecil. Mereka tahu apa yang dimaksud oleh Price.
Kedua gadis itu membelalak dan menutup mulut yang menganga. Kini, Vira mengerti alasan Raffa tiba-tiba ingin putus dengannya. Lian pun begitu, ia kecewa karena ternyata kekasihnya sedang menghindar dari tanggung jawab, sehingga tidak menjemputnya di kampus siang ini.
"Jadi, a … anak yang ada di dalam kandungan, Mbak … anak mereka berdua?" tanya Lilian ingin memperjelas situasi. Ia harap, semua hanya kesalahan. Mungkin, Lilian dan Vira hanya salah dengar. Mereka mencoba menyangkal di dalam hati.
"Benar. Saya tidak bisa bertemu mereka. Bisakah, saya minta tolong kepada kalian?"
Vira dan Lilian menangis tanpa suara. Hanya air mata yang membanjir. Mereka seolah dijatuhkan dari pesawat yang tingginya beribu-ribu kaki di atas langit.
Hati mereka remuk tak berbentuk. Satu tahun setelah mereka resmi bersama, mereka dihadiahi berita yang menyakitkan. Lebih sakit dari yang dapat dilihat.
"Aku akan menelepon kak Raffi," ucap Lilian sambil beranjak pergi menjauh.
"Aku … akan menelepon kak Raffa," kata Vira. Ia pergi ke lantai atas.
Dua bersaudara itu tidak bisa dihubungi. Mereka terpaksa menelepon asisten laki-laki kembar itu. Dari sang asisten-lah, mereka tahu dimana keberadaan Raffa dan Raffi.
Setelah mengetahui keberadaan dua laki-laki itu, mereka pun membawa Price untuk menemui Raffa dan Raffi. Tidak dapat dibayangkan, saat anak itu lahir, ia memiliki dua ayah. Yang seharusnya menjadi paman, juga menjadi ayahnya.
*BERSAMBUNG*
Hai-hai reader's, aku datang buat kasih ekstra part untuk kalian semua. Semoga kalian terhibur.
Jangan lupa kasih dukungan biar aku semangat. Terima kasih.
__ADS_1