
Hai reader tercinta
Jangan lupa dukung author dengan like novel ini sebelum membaca ya reader terima
Selamat membaca ya
____________
Lian keluar dari kamar dan sudah memakai kembali dressnya.
"Ayo! Sarapan dulu," ucap Saidah sambil menarik tangan Lian. Raffi berjalan di belakang Lian dan Saidah.
"Em, Nek, kami belum mandi. Jadi, Nenek dan Kakek sarapan duluan saja," ucap Lian.
"Kalian bisa mencuci wajah dan gosok gigi saja dulu di kamar mandi. Masih ada satu ember air di sana. Biasanya nanti siang ada yang mengambilkan air untuk Nenek, kalian pakai saja!" ucap Saidah.
Raffi dan Lian pergi ke kamar mandi dan menggosok gigi. Di sana ada pasta gigi dan sikat gigi baru, bukan cuma satu atau dua buah melainkan satu pack. Sepertinya Saidah sering kedatangan tamu yang seperti Lian dan Raffi. Dari baju, bensin, dan perlengkapan mandi, semua tersedia di rumah kecil Saidah itu. Raffi menunggu Lian yang sedang menggosok gigi lalu mencuci wajahnya.
"Li, kita lihat air terjun sebentar yuk!"
"Boleh," jawab Lian.
"Setelah sarapan kita pergi." Raffi mencuci wajahnya setelah menggosok gigi.
Mereka sarapan berempat. Selesai sarapan, Raffi menggandeng tangan Lian mengajaknya ke air terjun. Raffi menanyakan arah menuju air terjun itu kepada kakek. Dengan mudah mereka menemukan air terjun itu karena jaraknya memang tidak terlalu jauh dari rumah Saidah dan jalannya mudah untuk dilalui. Raffi menapaki jalan berbatu dan berdiri di bawah air terjun bersama Lian. Mereka berfoto bersama di bawah air terjun dengan posisi Lian yang memeluk pinggang Raffi.
Senyum bahagia menghias bibir keduanya. Mereka ingin menghabiskan waktu yang tersisa sebelum kembali ke kota. Setengah jam kemudian, Raffi mengajak pulang karena mereka sedang menunggu mobil derek.
"Lian, kita pulang! Barangkali mobil dereknya sudah tiba." Raffi melangkah melewati bebatuan besar di sungai sambil menggandeng tangan Lian.
"Akhh!" Lian berteriak karena kakinya tergelincir dari batu. Untung saja Raffi menangkap pinggang Lian tepat waktu dan menarik Lian ke dalam pelukannya. Mereka saling bertatapan dan mereka berciuman di bawah air terjun.
Di seberang sungai, Raffa mengepalkan kedua tangannya. Hati Raffa benar-benar hancur melihat Lian dan Raffi yang berciuman mesra, saling berpagut lembut dengan mata terpejam. Raffa berbalik dan kembali ke rumah Saidah. Ia melangkah lesu, menapaki jalan berbatu pedesaan menuju rumah Saidah.
__ADS_1
Sementara Raffi dan Lian saling berpandangan setelah mereka puas berciuman.
"Kak Raffi, kenapa Kak Raffi mencium Lian?" Lian menatap kedua mata Raffi.
"Kak Raffi sudah bilang sejak semalam, jangan tanyakan apapun pada Kakak. Kenapa Lian tetap bertanya? Kakak mohon, jangan menyuruh Kak Raffi menjawab," ucap Raffi.
Lian menepis tangan Raffi dan melangkah cepat menyebrangi sungai yang dangkal. Lian marah mendengar ucapan Raffi. Bagaimana mungkin Lian tidak marah? Mereka sudah dua kali berciuman tanpa tahu alasan Raffi mencium Lian, tanpa tahu status Lian dihati Raffi.
"Li! Lian!" Raffi mengejar Lian sampai Lian naik ke darat.
Lian tidak berhenti dan melangkah lebih cepat. Raffi berlari dan mencekal pergelangan tangan Lian.
"Li, jangan marah. Kakak benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan Lian karena itu Kakak minta Lian tidak bertanya," ucap Raffi mencoba menjelaskan.
"Lalu? Lian harus terima Kakak mencium Lian tanpa tahu apakah Kakak mempunyai perasaan atau tidak pada Lian. Lian butuh kejelasan, kalau Lian tidak berarti apa-apa, tidak mempunyai tempat apa-apa dihati Kak Raffi, hiks. Lian tidak jauh berbeda dengan pela*ur, hiks," ucap Lian sambil terisak.
Raffi menarik Lian ke dalam pelukannya. Lian terisak sedih, air matanya membasahi kaos Raffi. Raffi merasa sakit mendengar tangisan Lian, dadanya sesak menahan tangis. "Apa yang harus kulakukan?" gumam Raffi dalam hati. Perlahan Lian berhenti menangis dan mengusap air matanya dengan telapak tangan.
"Jangan dekati Lian lagi! Jangan membuat Lian menyalahartikan perhatian dan perasaan Kak Raffi." Lian melangkah pergi dengan hati kecewa. Lian pikir Raffi telah membuka hatinya untuk Lian. Lian pikir Raffi telah membalas perasaan Lian, tetapi harapan Lian berakhir dengan kekecewaan.
Saat tiba di rumah Saidah, Lian melihat Raffa berdiri di samping mobil hitamnya. Lian menarik sudut bibirnya agar Raffa tidak tahu kalau dia baru saja menangis. Lian berlari dan memeluk Raffa. Raffa tersenyum dan membalas pelukan Lian.
"Apa kau merindukan Kakak?" tanya Raffa.
"Narsis. Maaf, semalam tidak jadi makan malam. Apa Kak Raffa lama menunggu?" Lian menggamit lengan Raffa dengan tangan gemetar. Lian melakukannya agar ia bisa melupakan kekecewaannya pada Raffi. Namun, saat melihat Raffi, hati Lian kembali merasa sedih.
"Hei, Fi. Baru saja aku berencana menyusul kalian. Aku bertanya pada Nenek Saidah , katanya kalian sedang pergi melihat air terjun. Bagaimana mobilnya?" tanya Raffa. Raffa bersikap seolah-olah tidak melihat apapun. Toh, Lian dan Raffi tidak melihat Raffa tadi.
"Tidak apa-apa, hanya terperosok ke dalam parit saja, jadi harus menunggu mobil derek untuk memindahkannya." Raffi melihat tangan Lian yang menggenggam lengan Raffa dengan erat.
Lian memalingkan wajahnya, ia tidak ingin melihat Raffi. Terlalu menyesakkan dada bagi Lian. Lian masuk ke dalam kamar dan mengambil tasnya.
"Kak Raffa, Lian pulang sama Kak Raffa saja," ucap Lian.
__ADS_1
"Boleh. Tidak apa-apa kan, Fi, kalau kami pulang duluan ke hotel? Lagipula mobil dereknya sudah tiba, kau bisa menyusul setelah mobilmu dipindahkan," ucap Raffa.
"Ya, pulang saja. Aku menyusul nanti," jawab Raffi. Ia memandang punggung Lian dengan sedih. Lian melangkah dengan tertunduk, Raffi berharap Lian menoleh padanya. Namun, Raffi kecewa karena Lian sama sekali tidak lagi mau menoleh ke belakang.
"Kalian berjodoh. Sejauh apapun kalian menghindar, kalian tetap akan bertemu," ucap Saidah. Ia tersenyum menatap Raffi.
"Sepertinya tidak, Nek," jawab Raffi pelan. Ia pamit pada Saidah setelah mobilnya dipindahkan ke jalan.
Sepanjang jalan ia melamun mengenang kebersamaannya dengan Lian kemarin malam. Itu adalah kenangan paling indah antara dirinya dan Lian. Setelah peristiwa kemarin malam, Raffi semakin mencintai Lian, ia ingin memiliki Lian, ingin mengungkapkan cintanya pada Lian. Apalagi Raffi tahu dengan sangat jelas kalau Lian mencintainya. Ià mengeluarkan kalung dari saku celananya. Kalung yang dititipkan oleh Elvi agar diberikan pada Lian.
Namun, melihat nama di dalam bandul kalung itu adalah namanya, Raffi tidak memberikan kalungnya pada Lian dan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Raffi menepikan mobilnya dan menatap kalung itu cukup lama. Setelah setengah jam, Raffi memantapkan hatinya, ia ingin mengatakan kebenaran pada Raffa. Walaupun Raffi tidak tahu apa yang mungkin terjadi di antara dirinya dan Raffa nanti. Asalkan ia sudah mengatakannya pada Raffa, apapun yang Raffa lakukan padanya nanti, Raffi rela menerimanya.
_______________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Penjara Cinta Sang Presdir
-Nazein & Darlan
__ADS_1
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
I Love you, readers ♥️♥️♥️