
Hai readers, author berterima kasih buat pembaca setia novel ini. Karena ada sesuatu hal, hari sabtu kemarin author gak up, maaf ya.
Selamat membaca ya, semoga suka.
_____________________________
Lian sudah rapi memakai seragamnya. Sebenarnya mereka sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar, tetapi hari ini adalah hari pembagian nomor bus dan kursi penumpang. Lian menarik kursi di depan meja rias. Hari ini Lian ingin terlihat sangat cantik dan segar. Tidak akan ada yang menegurnya jika ia berdandan ke sekolah, karena ini hari bebas.
"Vi, kok belum bangun? Ayo bangun, Vi!" Lian memanggil Vira yang masih terbaring di ranjang Lian. Sementara Lian sudah selesai merias wajahnya. Lian bangun dari kursi dan melangkah ke dekat ranjang. "Vi, ada si Mondy, tuh," ucap Lian menggoda Vira.
"Hah, berani sekali dia menjemputmu kemari." Vira mendadak bangun dan turun dari ranjang. Vira menggulung lengan piyama panjangnya itu dan bersiap pergi keluar dari kamar Lian.
"Salah jalan, jalannya ke sana," ucap Lian menunjuk ke arah kamar mandi.
"Kamu mengerjaiku? Awas! Ya," ucap Vira sambil melangkah mendekati Lian. Mereka jadi kejar-kejaran di dalam kamar. Lian tidak kalah gesit menghindari amukan Vira. "Sini, kamu! Aku cubit pipi merah kamu biar berantakan lagi," ucap Vira sambil tersenyum mengejar Lian. Vira berdiri dan melihat wajah Lian yang berbeda dari biasanya.
"Sudah, cepat mandi sana! Aku tunggu di bawah," ucap Lian. Lian keluar dari kamar dan melangkah menuju dapur. Hati Lian boleh bersedih, tetapi wajah sedihnya hanya terlihat di hadapan Vira. Lian tidak pernah menunjukkan di hadapan kedua orang tuanya. Lian selalu terlihat sebagai gadis yang ceria.
"Selamat pagi, Sayang. Di mana Vira?" tanya Violet. Ia sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
"Oh, Vira baru bangun. Dia sedang mandi. Papa mana, Ma?"
"Papa di sini. Ada apa mencari Papa?" tanya Steve. Steve menarik kursi dan duduk di samping Violet. Sementara Lian duduk di depan mereka dan di meja sudah tersedia nasi goreng pedas kesukaan Lian.
"Pa, Lian hari sabtu ini akan pergi berwisata bersama teman-teman sekolah Lian. Lian mau minta izin sama Papa juga sekalian minta uang," ucap Lian.
Steve dan Violet saling melempar pandangan. Mereka baru pertama mendengar Lian meminta uang karena biasanya mereka mentransfer uang jajan bulanan Lian. Lian selalu bilang masih punya uang, terkadang Lian menyuruh Steve untuk jangan menambah uang jajannya karena masih tersimpan dengan aman di ATM.
"Tumben minta uang. Sudah habis uang tabungannya?" tanya Steve.
"Iya, Pa. Dua hari lalu Lian pakai buat belanja, dan juga Lian mau minta izin pulang belakangan … Lian mau menginap seminggu di sana," ucap Lian. Ia ingin berlibur dan melepas penat setelah ujian. Bukan ujian sekolah yang membuat Lian penat, tetapi ujian hidupnya yang tidak beruntung dalam cinta.
"Kamu liburan sendiri?"
"Tidak, Pa. Lian akan mengajak Vira, karena itu Lian minta uang tambahan sama Papa. Boleh, kan?" tanya Lian.
"Tentu saja boleh. Sebentar!" Steve mengambil ponselnya di saku jas dan membuka akun m-banking. Ia mentransfer sejumlah uang pada rekening Lian. "Sudah Papa transfer. Lima puluh juta cukup kan?"
__ADS_1
"Cukup, Pa. Cukup banget malah, terima kasih, Pa." Lian tersenyum.
Tidak lama kemudian Vira turun dan sudah rapi dengan baju seragamnya.
"Pagi, Om, Tante," sapa Vira.
"Pagi, sayang. Sini sarapan dulu sebelum berangkat sekolah," ucap Violet.
"Terima kasih, Tante." Vira duduk di samping Lian. Mereka menyantap sarapan pagi dan berpamitan setelah selesai. Vira dan Lian pun berangkat ke sekolah.
***
Raffi keluar dari kamar dan turun mencari orang tuanya. Tidak terlihat siapapun di ruang keluarga. Raffi melangkah dengan perlahan, ia mencari Daisy yang biasanya sedang berada di dapur. Benar saja, Daisy sedang di dapur bersama pembantu mereka.
"Selamat pagi, Ma. Papa sudah berangkat?"
"Pagi, Sayang. Ya, papa baru saja berangkat ke kantor. Apa kamu membutuhkan sesuatu?"
"Tidak. Raffi hanya ingin menggerakkan kaki Raffi supaya tidak kaku. "
***
Dalam perjalanan tiba-tiba mobil Vira mogok.
"Yah, kok mogok sih," ucap Vira. Mobil itu berhenti di tengah-tengah jalan.
"Aduh, mana di tengah jalan begini," sahut Lian.
Vira menelpon mobil derek untuk membawa mobilnya ke bengkel. Sementara menunggu, Lian berniat keluar dari mobil dan menunggu taksi di tepi jalan. Saat Lian membuka pintu dan hendak melangkah. Sebuah mobil hitam sedang melaju kencang dan hampir saja menabrak Lian. Lian terkejut dan menutup mata. Saat merasa dirinya baik-baik saja, Lian membuka mata. Vira juga terkejut dan segera menghampiri Lian.
"Li, kamu tidak apa-apa?" tanya Vira khawatir. Ia lalu menghampiri mobil hitam yang hampir saja membuat Lian celaka. "Hoi, turun! Bisa lihat tidak kalau ada mobil mogok? Kenapa masih ngebut-ngebut di jalanan seperti ini," maki Vira.
Ternyata mobil hitam itu adalah milik Mondy. Mondy keluar dan segera menghampiri Lian. Vira kesal sekali karena ucapannya tidak dijawab dan Mondy mengabaikan keberadaannya.
"Li, maaf aku tidak sengaja. Aku minta maaf. Kamu baik-baik saja?" tanya Mondy.
"Aku baik-baik saja," jawab Lian.
__ADS_1
"Mobilnya mogok?" tanya Mondy lagi.
"Ya. Itu mobil milik Vira." Lian mundur dua langkah karena jarak antara dirinya dan Mondy terlalu dekat.
Vira hanya memandang tidak suka pada Mondy. Meskipun Mondy tampan dan tinggi, tetapi Vira tidak suka jika dia mengganggu Lian. Saking pedulinya Vira pada Lian, banyak teman sekelasnya yang sering meledek Vira sebagai penyuka sesama jenis. Namun, persahabatan Vira dan Lian memang sudah seperti saudara saja. Tiba-tiba sebuah mobil hitam yang lainnya berhenti di belakang mobil Mondy. Vira segera menoleh dan melihat pria yang keluar dari mobil itu.
"Kak Raffa," sapa Vira dan Lian.
Mondy menatap wajah Lian yang berbinar senang saat melihat Raffa. Tersirat kecemburuan dibalik mata Mondy. Lian tidak pernah terlihat senang seperti itu saat bertemu dengannya.
"Vi, Li, kenapa mobilnya?" tanya Raffa pada mereka berdua. Tatapan mata Raffa tertuju pada siswa SMA yang berdiri di depan Lian. Raffa menghampiri Lian dan menggenggam tangan Lian. "Li, tidak dikenalkan temannya?" Raffa pura-pura bertanya, padahal di dalam hatinya ia tidak berniat untuk berkenalan dengan Mondy.
__________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Putri Yang Tergadai
-Nazein & Darlan
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
I Love you, readers ♥️♥️♥️
__ADS_1