Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
Episode 13. Terluka


__ADS_3

Jangan lupa jadwal update novel2 author, ya, reader😘


Cinta Ada Karena Terbiasa season3 SENIN, RABU, JUM'AT


Status Gantung Miss CEO SELASA, KAMIS, SABTU


Putri Yang Tergadai RABU, JUM'AT, MINGGU


stay terus ya reader, ikuti kelanjutan kisah2 mereka


l ♥️ U readers,


SELAMAT MEMBACA 😘


------------------------------


Lian selesai mandi dan berganti baju. Lian menghampiri Raffa dan membantunya memasang bunga plastik untuk hiasan tiang-tiang tenda. 


"Lian, sini sayang!" ucap Steve.


"Ada apa, Pa?"


"Tolong bantu pegangi tangga, Papa mau bicara dengan Mama sebentar. Kasihan kalau tangga tidak dipegangi, takutnya Raffi jatuh nanti," ucap Steve kemudian pergi meninggalkan Lian yang berdiri di samping tangga yang dipijak Raffi.


"Ya, Pa." Lian tidak ingin melakukannya, tetapi dia tidak bisa membantah perintah ayahnya.


Lian memegangi tangga dengan menunduk. Lian tidak bisa melihat wajah Raffi, ia takut tidak bisa mengontrol perasaannya. Meskipun sudah berkali-kali ditolak oleh Raffi dengan kasar, tapi perasaan cinta Lian pada Raffi masih tidak bisa dilupakan begitu saja.


Adik laki-laki Lian, Jason, datang dan bertanya pada mereka.


"Kak Raffa, Kak Raffi, Kak Lian, ada yang bisa Jason bantuin tidak?" tanya Jason.


"Tidak ada," jawab Raffa, karena ia memang tidak membutuhkan bantuan.


"Tidak ada," jawab Raffi. Ia juga tidak merasa butuh bantuan dari Jason.


"Kak Lian, butuh bantuan?" tanya Jason.


Raffi menatap wajah Lian dari atas. Raffi berharap Lian juga menjawab tidak, tetapi harapan Raffi pupus.


"Ya, dek. Tolong gantikan Kakak, pegangi tangga ini. Kakak banyak PR," ucap Lian. Lian melangkah pergi setelah Jason bersedia menggantikannya memegangi tangga.

__ADS_1


"Eh, Li, tunggu!" Raffa menghentikan langkah Lian.


"Ada apa Kak Raffa?"


"Aku haus, bisa bawakan minuman dulu sebelum mengerjakan PR-mu?"


"Ya, nanti Lian bawakan minuman dulu." Lian melanjutkan langkahnya dan pergi ke dapur. 


Raffi hanya bisa menatap punggung Lian dengan sedih. Raffi mengalihkan pandangannya saat Raffa menoleh ke arahnya.


"Kenapa aku merasa kalau Raffi mempunyai perasaan pada Lian? Tidak, Raffi jelas-jelas menolak Lian. Mana mungkin dia menyukai Lian, tapi pandangan itu apa artinya?" Raffa menggumam dalam hatinya. Raffa sudah menunggu Lian selama lima tahun. Menunggu Lian lulus SMA dan mereka akan bertunangan. Walaupun sampai saat ini Lian belum tahu tentang rencana lamaran Raffa. Namun, Raffa yakin kalau Lian tidak akan menolak.


***


Di dapur, Lian membuat teh lemon untuk Raffa dan kopi susu tanpa ampas untuk Raffi. Lian membawanya ke taman belakang lalu segera berbalik pergi tanpa menoleh setelah ia menaruh nampan di meja. Lian kembali ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamar. 


Ia duduk di kursi meja belajar dan menatap ke luar jendela. Kamar Lian jendelanya menghadap ke arah taman belakang. Lian memperhatikan Jason, Raffi dan Raffa yang sedang bekerja menghias tenda. Dari kamarnya, Lian bebas memandang Raffi, memandang orang yang sangat ingin dipeluknya.


"Kak Raffi, apakah aku seburuk itu dalam pandanganmu? Kenapa kakak tidak bisa memberiku kesempatan untuk membuktikan, cintaku bukanlah cinta seorang ABG labil. Meski aku memang masih belum dewasa, tapi cintaku tulus." Lian bergumam sambil memandang Raffi. Lian terperanjat saat melihat Raffi terjatuh dari tangga ketika akan turun. Lian segera berlari ke luar dari kamar dan menghampiri Raffi di taman belakang. 


" Kak Raffi, Jason minta maaf, Jason tidak memegang tangga dengan kuat," ucap Jason sambil berlutut di depan tubuh Raffi yang tergeletak.


"Ah …." Raffi meringis kesakitan. Tulang punggung Raffi seperti patah rasanya.


Lian yang awalnya hanya berdiri menatap Raffi dari jarak agak jauh, akhirnya mendekat karena Raffa terlihat kesulitan. Lian melingkarkan tangan Raffi du lehernya dan tangan Lian memeluk pinggang Raffi. Lian dan Raffa membawa Raffi ke mobil. Saat melewati ruang tamu, Steve dan Violet bertanya pada mereka dengan khawatir. 


"Lian, Raffa, ada apa dengan Raffi?" tanya Violet.


"Raffi terjatuh dari tangga Om, Tante. Kami akan membawanya ke rumah sakit," jawab Raffa.


Lian, Raffa dan Jason membawa Raffi ke mobil. Jason membantu membuka pintu belakang mobil Raffi. Lian duduk di samping Raffi dan Raffa yang mengemudikan mobilnya. Jason duduk di samping Raffa di kursi depan. Mobil pun melaju menuju rumah sakit.


Setelah mobil putih itu meninggalkan halaman rumahnya, Steve segera menelpon Daisy dan Juan untuk memberitahukan masalah Raffi. Selesai menelepon, Steve mengajak Violet menyusul mereka ke rumah sakit.


"Ayo, sayang. Aku sudah memberitahu Kak Juan dan Kak Daisy. Mereka juga akan segera kesana," ucap Steve.


"Ya, ayo, Pa." Violet mengambil tasnya dan menyusul Steve masuk ke dalam mobil. 


***


"Pa, Papa!" teriak Daisy setelah menutup panggilan suara dari Steve.

__ADS_1


Juan yang sedang bekerja di ruang baca itupun segera berlari menghampiri Daisy yang berteriak memanggilnya.


"Ada apa, Ma. Kenapa berteriak seperti itu?" tanya Juan.


"Raffi masuk rumah sakit, Pa."


"Kenapa dengan Raffi, kenapa bisa masuk rumah sakit?"


"Katanya terjatuh dari tangga. Ayo kita kesana, Pa."


"Ya, Papa ambil kunci mobil dulu," ucap Juan, ia berlari ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil.


"Bi," panggil Daisy pada pembantunya.


"Ada apa, Nya?"


"Saya titip Papa, kalau Papa mencari saya, bilang saja saya ke rumah sakit."


"Baik, Nya."


Juan sudah kembali dari kamar dan segera berlari bersama Daisy menuju garasi dan pergi menuju rumah sakit dengan mobil Juan.


***


Dalam perjalanan, Lian terus memeluk pinggang Raffi dan tangan Raffi masih melingkar di leher Lian. Raffi menatap wajah khawatir Lian dari jarak yang cukup dekat. Sementara Lian fokus menatap jalan. 


"Menatap wajahnya dengan jarak sedekat ini sungguh membuatku bahagia. Andaikan saja, aku bisa memelukmu, Lian," gumam Raffi dalam hati.


Lian kemudian sadar kalau tangannya masih melingkar di pinggang Raffi. Lian melepaskan tangannya dan menggeser duduknya sedikit menjauhi Raffi.


"Aku sudah berjanji untuk menjauh darimu, tapi kenapa malah semakin aku mencoba menjauhimu, semakin sering kita bertemu. Ini sangat menyiksaku," ucap Lian membatin.


Baik Raffi maupun Lian, mereka sama-sama merasa tersiksa. Sementara dari kaca di atas dashboard, Raffa memandang tingkah laku dua orang di jok belakang dengan pandangan bingung. Raffa tidak mengerti, sebenarnya kenapa dengan mereka berdua. Lian dan Raffi saling memandang ke arah jendela dan menghindari kontak mata. Raffa kembali fokus menatap jalan raya dan menambah kecepatan agar segera tiba di rumah sakit.


-----------------------------------------


Hy reader, masih dalam suasana lebaran nih.


Author mau ucapin 'mohon maaf lahir batin' lg.


🙏🙏🙏maafin kalau author ada salah ya😘😘😘

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like'nya buat novel ini😉


__ADS_2