Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
Episode 28. Gagal


__ADS_3

Selalu dukung author dengan like novel ini sebelum membaca ya😘😘🙏🙏


Selamat membaca♥️♥️ 


------------------


Drrtt! Drrtt!


Ponsel di nakas bergetar. Lian sedang sibuk memilih baju untuk pergi makan malam bersama Raffi. Ia mengabaikan panggilan telepon itu. Namun, ponsel itu terus bergetar dan bergeser. Hampir saja ponsel itu terjatuh karena sudah sampai di tepian nakas. Lian mengambil ponselnya dan tertera ID Raffa yang menelpon nomor Lian. Lian menimbang cukup lama untuk menjawab atau menolak panggilan, tetapi ponsel itu terus bergetar. Akhirnya Lian putuskan untuk menjawab.


"Halo, Kak Raffa," ucap Lian saat panggilan itu terhubung.


[....]


Lian tercengang mendengar ucapan Raffa. Sedetik kemudian Lian menghampiri pintu dan membukanya. 


"Kak … Ra-ffa. Kakak ada di sini? Tahu dari mana kalau Lian di sini?" tanya Lian gugup. Entah kenapa, Lian merasa seperti seorang kekasih yang tertangkap selingkuh. Walaupun Lian tidak mencintai Raffa, tapi Lian adalah calon tunangan Raffa.


"Dari Vira. Tadi kakak telepon Vira dan nanyain Lian, katanya Lian di sini jadi kakak terbang kesini," ucap Raffa.


"Oh." Lian tersenyum canggung dan mempersilakan Raffa masuk ke dalam kamar. 


Raffa masuk dan duduk di tepi ranjang. Ia melihat baju-baju Lian terserak di tengah ranjang. Melihat arah pandangan Raffa, Lian segera membereskan semua bajunya. Lian melipat kembali baju-bajunya dan menyimpannya di lemari.


"Lian mau pergi?"


"Ya. Lian mau cari makanan buat makan malam," jawab Lian. Ia mengambil dress tanpa lengan berwarna coklat dengan jaket jeans hitam sebagai luaran untuk menutupi lengan Lian yang terbuka.


"Kalau Lian mau ganti baju, biar Kak Raffa keluar dulu," ucap Raffa. 


"Tidak apa-apa, Lian ganti di kamar mandi." Lian pergi ke kamar mandi dan duduk di atas toilet sambil memeluk bajunya. Apa yang harus Lian lakukan? Apa Raffa akan marah dan salah paham? Atau lebih parah, Raffa dan Raffi bertengkar? Isi kepala Lian penuh dengan pertanyaan itu. Lian tidak tahu harus bagaimana. Lian tidak pernah menginginkan kedua saudara kembar itu bertengkar. Cukup lama ia berdiam melamun di dalam kamar mandi, sampai Raffa menjadi khawatir.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


"Li, kamu baik-baik saja di dalam?"


"Ya, Kak. Lian baik-baik saja, hanya sedikit sakit perut," jawab Lian beralasan. 


Lian segera mengganti bajunya dan keluar dari kamar mandi dengan tersenyum. Ia menyapu wajahnya dengan sedikit bedak dan memoleskan lipgloss beraroma mawar di bibirnya. 


Tok! Tok! Tok!


Lian menatap ke arah pintu lalu beralih menatap Raffa. Lian membuka pintu dengan Raffa yang berdiri di belakangnya.


"Lian, sudah siap?" tanya Raffi saat pintu dibuka. Raffi tertegun melihat Raffa berdiri di belakang Lian. Tuhan seolah begitu tidak adil pada Raffi. Saat ia memohon agar bisa bersama Lian beberapa hari saja, Tuhan seakan enggan mengabulkan. Wajahnya yang semula ceria kembali murung. Raffi gagal mengajak Lian makan malam berdua karena kehadiran Raffa.


"Fi, kamu juga di sini? Wah, kebetulan kalau begitu. Kita bisa jalan-jalan dan makan bertiga seperti dulu," ucap Raffa.


Terselip rasa canggung dan tegang di hati Lian. Ia canggung menatap wajah Raffi dan ketakutan jika Raffa bertengkar dengan Raffi, tetapi mendengar Raffa menyapa Raffi dengan santai membuat Lian merasa lega. Meskipun rasa canggung Lian dengan keadaan saat ini tidak berkurang, yang penting Raffa dan Raffi tidak bertengkar saja sudah cukup melegakan.


"Ya. Kebetulan bertemu Lian kemarin, jadi mau mengajaknya makan malam bareng. Karena sudah ada kamu, aku pergi cari makanan sendiri saja," ucap Raffi sambil berbalik pergi.


Lian berdiri di depan pintu sambil menatap mereka yang berdiri di depan lift. Jarak yang sedikit jauh dari posisi Lian berdiri membuat Lian tidak bisa mendengar ucapan mereka. Rasa penasaran menggelayut di lubuk hati Lian, apa daya Lian hanya bisa melihat mulut mereka berdua yang tidak bisa diartikan oleh Lian. "Andai saja aku bisa membaca bahasa bibir, pasti aku bisa tahu tentang apa yang mereka bicarakan. Sungguh membuatku penasaran saja," gumam Lian.


Setelah berbicara dengan Raffi, Raffa menghampiri Lian dan menggenggam tangan Lian. Lian ingin menepisnya, tetapi ia takut menyakiti perasaan Raffa.


"Lian, karena Kak Raffa menginap di hotel yang lain jadi Lian berangkat ke resto bareng Kak Raffi. Kak Raffa menyusul kalian nanti, tidak apa-apa?" tanya Raffa.


"Tidak apa-apa," jawab Lian.


Raffa mengusap puncak kepala Lian lalu melangkah masuk ke dalam lift lebih dulu. Lian dan Raffi menyusul masuk kemudian.


"Fi, kenapa bohong sama mama? Bilangnya perjalanan bisnis, ternyata liburan." 


"Sudahlah, Fa. Memangnya kamu tidak tahu seperti apa mama? Mama pasti tidak akan mengizinkan kalau aku pergi jauh dengan mobil kecuali perjalanan bisnis," jawab Raffi.


Lian hanya diam mendengarkan obrolan mereka berdua. Lift berhenti di parkiran bawah tanah. Raffa merangkul pundak Lian dan melangkah keluar dari lift. Di belakang mereka, Raffi menghela napas berat. Seandainya saja jarak Bali-Jakarta dekat, mungkin Raffi lebih memilih pulang ke Jakarta daripada melihat Raffa dan Lian bersama. Ia melangkah lesu menuju mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Lian. 

__ADS_1


"Nanti Kak Raffa menyusul, ok. Fi, titip calon tunanganku, ya." Raffa berpamitan pada Lian dan Raffi.


"Ya." Raffi hanya sanggup menjawab singkat. Ia duduk di belakang kemudi setelah Lian duduk dan memasang sabuk pengamannya.


Wajah Lian juga tidak berbeda jauh dengan Raffi. Lesu dan tidak bersemangat. Rencana Lian dan Raffi sudah gagal total untuk makan berdua. Awalnya Raffi bahkan berniat mengajak Lian berjalan-jalan sebentar setelah makan malam, tetapi angan-angan Raffi kembali terhempas ke dasar. Angan Raffi tetap hanya sebuah angan hampa yang tidak bertepi. Mereka membisu sepanjang perjalanan ke cafe yang Raffa tunjukkan untuk mereka makan malam bertiga. 


Sekeras apapun Lian dan Raffi mencoba kembali ke masa lalu saat mereka bisa bebas berbicara dan bercanda bertiga, tetapi itu sia-sia. Hanya ada kecanggungan saat mereka berkumpul bertiga seperti di hotel tadi. Lian yakin saat makan malam nanti juga akan sama seperti itu. Apa boleh buat, semua sudah terlanjur. Mereka hanya bisa menuruti keinginan Raffa karena kalau tidak, Raffa akan curiga macam-macam tentang Lian dan Raffi.


------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu (END)


-Penjara Cinta Sang Presdir


-Nazein & Darlan 


-Serpihan Hati Yang Hancur (END)


 I Love you, readers ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2