
Seperti biasanya, readers mohon dukungannya. Klik like novel ini sebelum membaca ya reader
terima kasih
Selamat membaca ya
____________
Raffi meminta pelayanan kamar untuk membawakan obat memar dan kasa, ia mengobati lukanya sendiri. Raffi menyewa jasa sopir pengganti untuk mengemudikan mobilnya. Masih ada waktu satu hari sebelum pertunangan Raffa dan Lian lusa. Raffi masih ingin mencoba mengungkapkan perasaannya pada Lian. Jika Lian sudah tidak mencintai Raffi dan tetap memilih bertunangan dengan Raffa, maka Raffi hanya bisa mendoakan mereka.
Tok! Tok! Tok!
Raffi membuka pintu kamar hotel, dua orang sopir pengganti sudah berdiri di depan Raffi.
"Anda yang memanggil kami, Tuan?" tanya salah satu dari sopir itu.
"Iya. Saya mau kalian antarkan mobil dan koper saya ke Jakarta. Saya ada keperluan mendesak jadi akan naik pesawat malam ini. Ini alamat, berikut uang muka untuk kalian berdua. Setelah kalian sampai di Jakarta, baru akan saya lunasi. Bagaimana, apa kalian bersedia?"
"Baik, Tuan. Kami akan antarkan mobil Tuan dengan mulus," ucap sopir yang satu lagi.
"Ok, ini kuncinya. Mobilku ada di parkiran bawah," ucap Raffi.
Mereka mengambil kunci mobil Raffi lalu berpamitan. Mereka mencari mobil yang berbunyi saat mereka menekan tombol kunci. Mereka menemukan mobil Raffi terparkir di ujung parkiran. Mereka pun segera pergi membawa mobil Raffi, meninggalkan parkiran bawah tanah hotel rose.
Raffi memesan tiket pesawat untuk malam hari nanti. Ia menelepon Leni untuk membantunya mengajak Lian bertemu di resto.
***
Sementara itu, Lian dan Raffa sudah tiba di bandara setelah menempuh penerbangan selama 1 jam 55 menit dari I Gusti Ngurah Rai International Airport. Lian dijemput oleh Mang Parman, sopir keluarga Steve.
"Kak Raffa, mobil Kak Raffa ditinggalkan?"
"Kakak cuma menyewa selama di sana. Perjalanan Jakarta ke Bali hampir satu setengah hari kalau lewat jalur darat. Kakak bisa pingsan di jalan, haha," kelakar Raffa.
"Benar juga. Kenapa dia menyiksa diri sendiri dengan pergi melalui jalur darat?" gumam Lian. Ia membayangkan betapa lelahnya Raffi yang menempuh perjalanan satu setengah hari.
"Kamu bicara apa?"
"Ah, tidak. Bukan apa-apa, Kak. Kalau begitu Kak Raffi ikut Lian, nanti Mang Parman yang mengantar Kakak pulang," ucap Lian.
"Raffa, Lian. Aku Raffa, bukan Raffi."
"Heh? I-ya, maksud Lian Kak Raffa. Lian tadi tidak bilang Raffi," ucap Lian membela diri.
__ADS_1
Raffa tersenyum masam. Jelas-jelas Raffa mendengar Lian memanggilnya Raffi.
Tidak lama kemudian, Parman datang dan membukakan pintu mobil untuk Lian dan Raffa. Lian duduk di kursi belakang, sedangkan Raffa duduk di samping kemudi, di sebelah Parman. Kirman melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali Parman memperhatikan wajah anak majikannya itu. Parman tahu hanya ada satu hal yang bisa membuat Nona-nya itu bersedih. Parman menghela napas.
Malam hari
Raffi berangkat ke bandara dengan memesan taksi online. Jam tujuh malam pesawat yang ditumpangi Raffi terbang menuju Jakarta. Dengan tekad kuat untuk segera mengungkapkan perasaannya pada Lian. Setidaknya Raffi berusaha untuk memperjuangkan cintanya.
Pesawat mendarat jam delapan tiga puluh. Raffi menelepon Leni.
"Halo, Len. Apa kau sudah mengajak Lian ke tempat yang saya tunjukkan?"
"Saya baru sampai di depan gerbang rumahnya, Presdir. Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk mengajak Mbak Lian kesana," ucap Leni di balik telepon.
"Saya akan menunggu disana," ucap Raffi lalu mematikan ponselnya. Raffi pergi ke rumah makan favorit keluarga Steve dan Juan. Rumah makan yang terkenal dengan gurame bakar madunya. Ia ingin mengajak Lian makan malam disana sekaligus ingin mengungkapkan cintanya pada Lian.
Di rumah Lian
Lian baru saja selesai merapikan baju dari koper ke dalam lemari.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" ucap Lian mempersilakan.
"Sayang, makan malam sudah siap. Oh, iya, ada teman Lian juga di teras. Dia mau ketemu sama Lian tapi tidak mau masuk," ucap Violet.
"Bukan, tapi Leni. Temui dulu sana! Ajak dia makan malam bersama kita!" ucap Violet kembali.
"Mba Leni, tumben?" Lian keluar dan menemui Leni di teras. Saat Lian keluar, Leni sedang duduk di teras.
Leni bangun dan tersenyum menyapa Lian. "Mba Lian." Leni malam itu terlihat sangat cantik, dengan kemeja lengan pendek berwarna kuning dan rok berwarna hitam selutut.
Ini pertama kalinya untuk lian dan Leni bertemu di luar kantor Raffi. Lian sedikit heran melihat Leni datang ke rumah Lian.
"Mba Leni, ada apa? Tumben," ucap Lian.
"Mba Lian, bisakah Mba menemani saya ke resto. Harusnya saya pergi dengan tunangan saya, tapi dia tidak ada. Kebetulan saya lewat kesini, jadi dari pada saya makan sendiri. Mau kan, Mba?" Leni berusaha mengambil simpati Lian agar ia bisa membuat Lian kasihan padanya. Benar dugaan Leni, Lian tidak tega melihat wajah sedih Leni.
"Ya, sudah, tapi Lian izin dulu sama mama."
"Ya. Saya tunggu disini," ucap Leni. Setelah Lian kembali ke dalam rumah, Leni segera mengirim pesan pada Raffi.
Sepuluh menit kemudian Lian keluar dari rumah dengan memakai dress selutut berwarna putih tanpa lengan. Lian bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat Leni harus mengajak Lian. Kalau Leni tidak jadi makan malam dengan kekasihnya, harusnya Leni mengajak temannya. Meskipun Lian dan Leni sudah saling kenal, tetapi mereka tidak berteman akrab. Arah rumah Leni juga tidak melewati rumahnya Lian. Namun, Lian tidak berani bertanya karena takut menyinggung perasaan Leni. Lian-pun hanya bisa mencoba menepis kecurigaan pada Leni.
__ADS_1
Setengah jam kemudian kemudian Lian dan Leni tiba di tempat tujuan. Lian terpaku menatap resto di depannya. Kenapa Leni membawanya kesini? Hati Lian bertanya-tanya curiga. Lian takut kalau Leni membohonginya dan mempertemukan dirinya dengan Raffi.
"Tidak mungkin kalau Mba Leni mengajakku bertemu dengan Kak Raffi. Kak Raffi masih di Bali," gumam Lian. Ia masih duduk di dalam mobil, sementara Leni sudah berdiri di luar. Lian keluar dari mobil dan melangkah pelan bersama Leni ke dalam resto.
Leni membawa Lian ke ruang makan khusus keluarga. Ruang makan khusus keluarga itu ada tiga ruangan. Ruang tertutup ber-AC itu mempunyai tarif yang lumayan untuk kelas karyawan seperti Leni. Karena ruangan itu mempunyai pelayan dan koki khusus. Lagipula, Leni dan Lian hanya berdua. Rasanya aneh kalau Leni harus mengajak Lian makan disana. Mereka bisa makan di meja biasa yang ada di depan resto.
"Silakan, Mba!" Leni membuka pintu dan mempersilakan Lian masuk.
Lian melangkah dengan ragu. Ia takut kalau mungkin ada Raffi di dalam, tetapi saat masuk ke dalam Lian tidak melihat siapapun. Lian menghela napas lega. Saat ini, Lian sedang tidak ingin melihat atau bicara dengan Raffi. Lian duduk di samping Leni dan pelayan itu mengatakan sesuatu yang membuat Lian tertegun.
Pelayan itu membuka pintu sambil mendorong troli makanan. Ia juga mengatakan kalau orang yang ditunggu sudah datang.
"Silakan, Tuan. Tamu Anda sudah tiba," ucap pelayan itu.
"Terima kasih," jawab Raffi.
Lian berdiri dan menatap ke arah Leni. Tatapan yang mengandung bahasa isyarat seolah Lian bertanya dengan tatapannya. "Kenapa ada Kak Raffi?"
"Pak Raffi, saya sudah melakukan tugas saya. Sekarang, saya permisi."
Lian menganga melihat Leni justru pergi meninggalkan mereka berdua. Lian mengambil tasnya dan melangkah hendak pulang. Namun Raffi mencekal tangan Lian dan menahannya agar tidak pergi.
___________________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Penjara Cinta Sang Presdir
-Nazein & Darlan
__ADS_1
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
I Love you, readers ♥️♥️♥️