Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
Episode 14. Ratapan hati Lian


__ADS_3

Raffi duduk di ranjang rawat setelah mendapat penanganan di ruang UGD. Semua keluarganya dan juga keluarga Lian sudah berkumpul dan bertanya pada Raffi dengan khawatir.


"Raffi, maafkan Om, ya. Kalau saja Om tidak menyuruhmu memasang lampu itu, pasti kamu tidak akan terjatuh." Steve berkata dengan wajah tertunduk penuh penyesalan.


"Raffi yang kurang hati-hati, Om. Semua bukan salah Om," ucap Raffi sambil tersenyum.


"Ya, tidak ada yang salah. Ini semua cuma kecelakaan." Juan menambahkan ucapan Raffi.


"Tetap saja, aku merasa bersalah, Kak Juan. Semua ini karena Lian malah melimpahkan tugasnya pada Jason." Steve menatap dengan kesal pada Lian.


Lian tertunduk saat ayahnya melihat ke arahnya. Lian merasa ucapan ayahnya itu memang benar. Jika saja ia tidak menghindari Raffi, lalu menyerahkan tugasnya pada Jason, mungkin Raffi tidak akan terjatuh dan terluka seperti itu. Raffa berdiri di samping Lian dan memeluk pundak Lian.


"Sudah, jangan terlalu bersedih seperti itu. Raffi juga baik-baik saja, ya, kan, Fi?" tanya Raffa pada Raffi yang terus menatap ke arah Lian. Namun, Lian selalu menunduk saat berhadapan dengan Raffi. 


"Ya, aku tidak apa-apa," jawab Raffi.


"Tuh, kan, kamu dengar sendiri, Raffi tidak apa-apa." 


"Lian, malam ini kamu menginap di sini. Itu hukuman buat kamu karena melalaikan tugas dari Papa," ucap Steve.


"Papa boleh hukum Lian, tapi hukuman yang lain saja. Kak Raffi sudah ada Tante, Om, dan Kak Raffa yang menjaga. Lian terima hukuman dari Papa, selain menginap di sini," ucap Lian.


Raffi sedikit terluka dengan ucapan Lian yang menolak untuk menemaninya di rumah sakit. Dulu, Raffi sangat ingin membuat Lian membenci dirinya dan menjauhinya. Kini setelah Lian menjauhinya, hatinya sangat sakit.


"Ekhem, kalian semua pulang saja. Aku ingin sendirian malam ini, aku tidak nyaman jika tidur di depan banyak orang." Raffi mengusir semuanya agar pulang.


Raffi berbaring dan memejamkan matanya setelah mengucapkan kalimat itu. Mereka tidak ingin membuat Raffi terganggu, mereka memutuskan untuk pulang semuanya. Tinggal Raffi sendirian di ruang perawatannya. 


Mereka sudah sampai di lobby rumah sakit, Lian berhenti melangkah dan memanggil ayahnya.


"Pa, Lian tidak ikut pulang."


"Tadi katanya tidak mau menginap? Kenapa sekarang tidak mau pulang?" tanya Steve dengan heran.


"Lian ingin meminta maaf pada Kak Raffi dan menebus kesalahan Lian dengan menjaga Kak Raffi," ucap Lian.


"Aku temani ya?" tanya Raffa.


"Tidak usah, kalian semua pulang, Kak Raffa juga pulanglah. Besok Kakak harus bekerja bukan? Lian tidak apa-apa sendiri." Lian berbalik arah dan pergi kembali ke ruang rawat Raffi.


Raffa hanya bisa menunduk sedih melihat Lian memilih pergi menemani Raffi tanpa dirinya. Raffa tidak bisa memaksa Lian untuk pulang karena itu akan membuat Lian marah, akhirnya Raffa hanya menghela napas berat dan pulang ke rumah bersama Juan dan Daisy. Jason juga pulang bersama Steve dan Violet.

__ADS_1


Saat Lian tiba di ruang rawat Raffi, Lian melihat Raffi terduduk di lantai dan sedang kesulitan untuk bangun. Selain tulang rusuknya retak, tulang betisnya juga sedikit bergeser. Hal itu membuat Raffi kesulitan untuk berdiri. Lian segera berteriak dan berlari menghampiri Raffi.


"Kak Raffi!" Lian segera membantu mengangkat tubuh Raffi untuk duduk kembali di ranjang.


"Kenapa kamu kembali?" tanya Raffi dengan ketus. Padahal hatinya bahagia melihat Lian kembali, tetapi Raffi harus tetap acuh tak acuh terhadap Lian, agar Lian tidak lagi mengejar cinta Raffi.


"Papa tidak mengizinkan aku untuk pulang." Lian bicara tanpa menatap wajah Raffi. Padahal ia sendiri yang tidak ingin pulang. 


"Kenapa tidak mau menatapku?"


"Aku sudah menatapmu selama bertahun-tahun, aku sudah lelah menatapmu," ucap Lian.


"Apa kita tidak bisa seperti dulu lagi? Bersikaplah seperti biasanya. Aku melarangmu untuk mencintaiku, tapi bukan berarti kita harus bermusuhan bukan?"


"Aku tidak menganggapmu sebagai musuh. Hanya saja, menatapmu membuat hatiku sakit," ucap Lian.


Raffi tersenyum getir menanggapi ucapan Lian. Raffi berdiri dan hampir terjatuh kembali. Untung saja Lian menahan tangannya.


"Mau kemana?" tanya Lian.


"Ke kamar mandi," jawab Raffi. 


***


Di perjalanan, Raffa mengungkapkan kegundahan hatinya pada kedua orang tuanya. 


"Ma, Mama masih ingat, kan, janji Mama sama Raffa dulu?"


"Janji yang mana, Sayang?" tanya Daisy.


"Mama dan Tante Violet akan melakukan pesta pertunangan Lian dan Raffa setelah Lian lulus SMA," ucap Raffa mengingatkan Daisy.


"Oh, itu. Iya, Mama ingat. Kenapa? Lian kan belum lulus sekolah," jawab Daisy.


"Kalau … pertunangannya dilakukan segera, apa Mama dan Tante setuju?" tanya Raffa.


Daisy sedikit ragu untuk menjawab, karena antara Daisy dan Violet, mereka sama sekali belum membicarakannya dengan Lian. Bagaimana jika seandainya Lian menolak Raffa. Daisy masih ingat dengan jelas saat Raffa mencoba meminum cairan pembersih lantai berbahan karbol.


"Em, coba besok Mama tanyakan dulu sama Tante Violet, ok," ucap Daisy.


"Ya," jawab Raffa singkat.

__ADS_1


Setengah jam kemudian mobil Juan sudah sampai di garasi rumahnya, mereka turun dan masuk ke dalam kamar masing-masing. Malam sudah terlalu larut, Juan dan Daisy sudah lelah dan ingin segera beristirahat. Sementara Raffa duduk termenung di dalam kamarnya.


"Lian menyukai Raffi, bagaimana dengan perasaan Raffi kepada Lian? Apa Raffi juga menyukai Lian?" Kebimbangan menyelimuti hati Raffa, ia ingin menjadikan Lian miliknya meskipun Raffa tahu dengan jelas siapa yang Lian sukai. Asalkan Raffi tidak menyukai Lian, tidak masalah bagi Raffa jika Lian menerima lamarannya karena terpaksa. "Besok, aku harus bertanya pada Raffi, apa dia menyukai Lian atau tidak?"


***


Raffi keluar dari kamar mandi dengan bersandar pada dinding. Lian membantunya berjalan menuju ranjang dan membaringkannya. Lian menyelimuti Raffi lalu berjalan ke sofa, Lian berbaring di sofa dengan posisi membelakangi ranjang tempat Raffi berbaring.


Raffi berbaring sambil menatap punggung Lian dengan sedih. Ingin sekali rasanya Raffi membelai rambut Lian. Ia menjulurkan tangannya seolah tangannya itu bisa mencapai rambut Lian. Namun, kenyataannya jarak antara ranjang dan sofa itu lebih jauh dari panjang tangan Raffi. Tangan Raffi mengelus udara hampa lalu tangan itu mengepal kuat. Raffi kemudian berbalik membelakangi sofa, mereka pun tidur dengan posisi saling membelakangi. 


Satu jam kemudian, Raffi tertidur. Lian berbalik dan menatap Raffi yang sekarang tidur telentang. Napasnya yang berhembus teratur menandakan bahwa Raffi sudah tertidur pulas. Lian bangun dan melangkah perlahan mendekati ranjang rawat. Lian berhenti di samping ranjang. Ia menatap wajah Raffi dengan air mata yang mulai menetes.


"Sangat sulit untuk menghindar darimu, semakin aku mencoba, semakin hatiku terasa terkoyak. Sangat sakit, Kak." Lian bergumam pelan.


Tanpa Lian sadari, Raffi terjaga dan mendengar semua ratapan pilu Lian. 


_________________________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu (END)


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You


-Serpihan Hati Yang Hancur (END)


 I Love you, readers ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2