Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
Episode 44. Hari pertunangan


__ADS_3

Hai reader tercinta Jangan lupa dukung author dengan like novel ini sebelum membaca ya reader terima kasih Selamat membaca 


_______________


Tiga hari kemudian, hari kepulangan Raffi dari rumah sakit sekaligus hari pertunangan Lian. Di rumah Denis, Raffa sudah tampil sempurna dengan setelan jas hitamnya. Dasi kupu-kupu berwarna merah pun telah melingkar rapi di kerah kemeja putihnya. Semua keluarga telah berkumpul. Vira, Seno dan Key juga sudah hadir di sana.


Raffi juga sudah rapi mengenakan setelan jas putih dan dasi kupu-kupu berwarna hitam. Ia melihat wajahnya sendiri dari cermin. Ia menarik sudut bibirnya dengan jari telunjuk. Raffi mencoba ikhlas untuk merelakan Lian bertunangan dengan Raffa. 


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" ucap Raffi mempersilakan. 


"Hai, Bro. Udah siap lihat pujaan hati jadi milik orang lain?" ejek Seno.


"Siap tidak siap. Aku yang selalu mendorongnya untuk memilih Raffa. Mungkin ini hukuman untukku karena selalu menyakiti hati Lian," ucap Raffi dengan sedih.


"Huffh, benar juga. Kau memang pria yang sangat jahat," ejek Seno kembali.


"Kau akan terus menabur garam di lukaku, hah? Sahabat yang sangat menjengkelkan," saut Raffi. Raffi menarik Seno keluar dan turun ke lantai bawah. Mereka semua berkumpul di taman belakang rumah Denis.


Raffi tersenyum menatap wajah Lian yang begitu cantik, anggun dan tersenyum manis di samping Raffa. Dress putih yang dipakai Lian hari ini begitu pas dengan make-up minimalis di wajahnya. Raffi kehilangan senyumnya saat melihat Lian dan Raffa tersenyum begitu bahagia. Raffi terpaku menatap mereka dari tengah pintu belakang. 


Karena Raffi berhenti, Seno melangkah mendahului Raffi yang terpaku di tengah pintu teras belakang rumah. 


"Setidaknya dia tersenyum bahagia. Aku juga akan ikut bahagia untuknya," gumam Raffi pelan. Raffi menarik napas berulang-ulang untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Setelah sedikit lega, Raffi melangkah dengan senyuman manis yang dipaksakan. 


"Ekhem, baiklah! Karena seluruh keluarga dan kerabat telah berkumpul, maka kita mulai acara pertunangan ini. Raffa, sudah dipersiapkan cincinnya?" tanya Denis. Hari ini, Denis adalah orang yang akan memimpin acara. 


"Sudah, Kek," jawab Raffa. Ia mengeluarkan kotak beludru warna merah dari saku jasnya. 


"Ya, sudah kalau begitu dimulai saja. Silakan pakaikan cincinnya di jari manis Lian!" ucap Denis.


Raffa tersenyum dan menyematkan cincin di jari manis Lian. Semua bertepuk tangan, semua tersenyum bahagia kecuali dua orang yang hari ini merasa sesak napas. Hati mereka bagaikan sedang diiris-iris silet yang sangat tipis dan tajam. Mereka adalah Raffi dan Vira. Mereka memandang senyuman Raffa dan Lian dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.


"Sekarang giliran Lian! Ayo, pakaikan cincinnya!" ucap Denis. 


Lian menoleh ke arah Raffi yang berdiri dengan jarak tiga langkah dari Raffa. Mereka saling pandang dengan ekspresi yang berbeda. Raffi menatap Lian dengan pandangan sedih, tetapi Lian menatap Raffi dengan senyuman. Lian yang sudah memegang cincin itu melangkah perlahan ke arah Raffi.


Raffi terkejut karena Lian justru melangkah ke arahnya. Raffi melihat sekeliling, tidak ada yang terlihat heran saat melihat Lian menghampiri dirinya. Raffi pun akhirnya menoleh ke arah Raffa dengan pandangan seakan bertanya.


"Apa? Kenapa melihatku?" tanya Raffa sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

__ADS_1


Raffi melihat ke arah Lian yang semakin mendekat. Raffi juga melihat ke arah Juan dan Daisy, tetapi mereka hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Cincin itu kebesaran di jariku. Jadi aku serahkan cincin dan calon tunanganku padamu. Awas saja jika kau berani membuatnya menangis lagi!" Raffa mengancam Raffi, tentu saja hanya sebagai gurauan. 


Lian menadahkan tangan dan meminta Raffi membuka jemarinya. Raffi tersenyum, begitupun semua orang, termasuk Vira, Seno dan Key. Lian menyematkan cincin itu di jari manis Raffi dan semuanya kembali bertepuk tangan. Kali ini tepuk tangan itu lebih meriah. Raffi yang tidak bisa menahan rasa bahagia itu pun lalu memeluk Lian.


Kembali ke dalam ingatan dua hari yang lalu. Hari itu setelah Raffa dan Lian membeli cincin. Mereka makan siang bersama dan Raffa mengatakan sebuah kejujuran. Kalimat yang Raffa ucapkan, telah merubah wajah murung Lian menjadi senyuman.


"Li, tahu tidak kenapa aku membeli cincin itu, padahal tidak pas di jariku?" tanya Raffa. 


"Tidak tahu." Lian menjawab pendek dengan wajah menunduk lesu.


"Karena jari Raffi lebih besar dari jariku."


"Apa urusannya dengan Kak Raffi?" tanya Lian dengan pandangan tidak suka. Lian tidak suka jika Raffa menggunakan nama Raffi sebagai gurauan. 


"Karena itu cincin milik Raffi. Cincin itu dan juga hatimu hanya milik Raffi." Raffa mengatakannya dengan senyuman.


"Apa maksud Kak Raffa?" Lian mengernyit heran. Ia masih kurang paham dengan arah pembicaraan Raffa.


Pletak!


"Aww! Sakit! Kak Raffa kenapa sih, kok jidatku disentil?" Lian bertanya sambil mengusap keningnya yang terasa sakit.


Senyum Lian mengembang. Aura suram yang sedari tadi menghias wajahnya, kini berganti senyum cerah. 


Satu jam sebelum pesta dimulai. Raffi masih duduk di dalam kamarnya. Memandang setelan jas putih yang disiapkan oleh ibunya. Rupanya, malam hari sebelum Raffi pulang, Raffa sudah menceritakan segalanya pada ayah dan ibunya.


 Dan sebelum Raffi turun, sebelum Vira datang, Raffa sudah mengatakan pada semua anggota keluarga dan juga kerabat yang datang. Raffa berkata jika ini adalah pesta kejutan menyambut kepulangan Raffi dari rumah sakit sekaligus hari pertunangan Lian dan Raffi. Itulah sebabnya tidak ada yang terkejut saat Lian menghampiri Raffi. Hanya Raffi dan Vira yang tidak tahu skenario itu.


"Ekhemm! Kalau kita menunggu yang berpelukan, bisa-bisa kita semua pingsan karena terlalu lama berdiri." Denis dan para tamu undangan tertawa terbahak.


Raffi dan Lian baru sadar kalau mereka sedari tadi berpelukan. Lian mundur dan melepaskan pelukan Raffi dengan senyum malu yang menghias bibirnya. 


Semua undangan pun dipersilakan memberikan ucapan selamat serta doa untuk Lian dan Raffi. Lalu mereka menyantap hidangan yang disediakan. Raffi dan Lian tersenyum bahagia.


"Kamu kerja sama dengan Raffa untuk membohongi Kak Raffi?" bisik Raffi di telinga Lian.


Sontak Lian berjingkat saat merasakan embusan napas Raffi di telinganya. Lian hanya menjawabnya dengan senyuman geli.


Sementara Raffa menghampiri Vira yang sedang meminum jus jeruk. Vira menyesap minumannya untuk membasahi kerongkongan yang terasa kering. Raffa berdiri di belakang Vira dan berbisik di telinga Vira.

__ADS_1


"Mereka sudah bertunangan. Jadi, kapan kita akan bertunangan?" goda Raffa.


"Fuuhhh! Uhukk uhuukk." Vira tersedak mendengar ucapan Raffa di telinganya.


Vira batuk, dan dengan lembut Raffa menepuk tengkuk Vira. ia mencoba membantu agar Vira merasa lebih baik.


"Hei, hati-hati kalau minum. Lagipula aku hanya bercanda," ucap Raffa.


"Aku tahu!" ucap Vira kesal. Awalnya Vira tersenyum karena mengingat ucapan Raffa, tetapi Raffa malah menggoda Vira.


"Tapi … kalau diterima, itu lebih baik." Raffa menatap wajah Vira.


 Deg!


Vira merasakan wajahnya memanas dan pipinya pun bersemu merah merona karena godaan Raffa. Karena gugup, Vira pun menjauh dari Raffa dan duduk di samping Lian.


"Imut sekali," gumam Raffa saat melihat Vira lari. Ada suatu kebahagiaan tersendiri di hatinya saat melihat wajah malu-malu yang Vira tunjukkan. Sepertinya dewa asmara telah selesai mendekatkan jodoh Raffa dan Raffi.


___________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu (END)


-Penjara Cinta Sang Presdir


-Nazein & Darlan 


-Serpihan Hati Yang Hancur (END)

__ADS_1


 I Love you, readers ♥️♥️♥️


__ADS_2