
"Fi! Kamu dimana?" seru Raffa dari ujung tangga.
Raffi sedang berenang di kolam renang. Laki-laki itu menyahut dengan malas. Saudara kembarnya memanggil seolah akan ada perang dunia, membuat hatinya semakin kesal.
Tap! Tap! Tap!
"Kenapa masih berenang? Mereka sudah di jalan, kamu tidak takut?"
"Sudah di jalan?" tanya Raffi dengan mata membelalak. "Gawat!" Ia segera naik dan pergi ke kamar. Memakai baju casual dan celana hitam longgar.
"Kak Raffi!"
"Kak Raffa!"
Kedua gadis itu sudah tiba di teras rumah. Raffa dan Raffi tinggal berdua di rumah itu sejak dua bulan yang lalu. Semua berawal dari peristiwa tiga bulan yang lalu.
Saat itu, Daisy dan Juan membawa pulang seorang gadis. Dia yatim piatu dan tidak memiliki tempat tinggal. Karena ada seorang gadis di rumah, kedua kekasih si kembar selalu cemburu. Akhirnya, si kembar tinggal di rumah terpisah.
Raffi yang membeli rumah itu. Ia berencana tinggal bersama Lilian di rumah itu setelah mereka menikah nanti. Saat ini, Lilian baru menempuh pendidikan di tahun kedua.
"Kalian? Kenapa datang kesini?" tanya Raffa dengan wajah pucat. Wajahnya memudar saat melihat Price yang datang bersama Lilian dan Vira. "Price!"
Vira dan Lilian pun bertukar pandang. Raffa mengenal wanita hamil itu. Lalu, bagaimana dengan Raffi? Apakah dia mengingat apa yang terjadi pada Price?
"Kamu … kenapa berani mencariku?"
Raffi menuding Price di depan Lilian. Ia sepertinya mengetahui tujuan wanita itu mencarinya. Kata-kata Raffi seolah memberitahukan, bahwa ia memang telah berbuat salah kepada Price.
"Maaf, Pak, saya …."
"Cukup! Kalau kalian berbuat salah, kalian harus berani bertanggung jawab. Kak Raffi! Kak Raffa! Lian kecewa pada kalian," ucap Gadis itu sambil berlari pergi, disusul Vira yang tidak mampu berbicara.
Kedua gadis itu menangis karena merasa dikhianati oleh orang yang sangat mereka percaya. Mereka hendak naik ke mobil, tapi pintu gerbang dihalangi oleh beberapa orang yang membawa spanduk bertuliskan 'Happy Aniversary'. Lilian menoleh ke arah kekasihnya.
Price melepaskan perut palsunya dan tersenyum. Ternyata kehamilannya itu hanyalah kebohongan. Ia diperintahkan melakukan itu demi membuat kejutan untuk Lilian dan Vira.
"Happy Aniversary, Sayang," ucap Raffi sambil membuka tangan lebar.
__ADS_1
Ada lebih dari dua belas orang yang menghadang pintu gerbang. Selain spanduk, mereka juga membawa kue tart, sebuah kotak hadiah yang sangat besar. Lian menangis semakin kencang.
"Eh? Kenapa tambah kenceng nangisnya?" tanya Raffa dengan aneh.
"Bagaimana tidak menangis? Kalian mengerjai Lilian terlalu ekstrim," gerutu Vira sambil menjewer telinga Raffa. Ia juga sangat terkejut saat mendengar si kembar menghamili gadis yang sama.
"Aw! Sakit, Vi," pekik Raffa.
"Biarin! Salah sendiri," balas Vira dengan bibir mengerucut.
"Kamu… marah?"
Vira menggelengkan kepala. Namun, butiran kristal di matanya tidak mampu mendustai Raffa. Laki-laki itu memeluknya dan tangis Vira akhirnya pecah.
"Maaf, kakak sudah mengerjai kamu. Jangan nangis, ya," bujuk Raffa.
Raffi menggerutu, "Kejutan untuk perayaan satu tahun pertunangan kita, tapi mereka yang menjadi bintang."
Plak!
Senyuman Vira selalu menjadi kekuatan saat Lian sedang bersedih. Namun, wajah itu lebih sering murung. Terkadang sangat sensitif dan menangis karena alasan sepele.
Raffi menangkap dagu Lilian, menengadahkan pandangan gadis itu padanya. Ia mengambil sebuah kotak kecil dari saku celananya. Menyerahkannya kepada Lilian sambil berucap.
"Happy Anniversary, Sayang," ucapnya sambil membuka kotak di tangan gadis itu.
"Wah! Indahnya," ucap Lilian dengan mata berbinar. Kalung berlian dengan rantai kecil dan liontin berbentuk hati, membuat Lilian terus mendecak kagum. Di tengah-tengah liontin hati, terukir nama Raffi dan Lian. "Terima kasih banyak, Kak."
"Hem. Apa kau menyukainya?"
"Suka. Sangat suka."
Lilian menjawab tegas. Ia bukan hanya menyukai, tapi terharu. Ia memeluk Raffi lebih erat.
Tiba-tiba, orang yang memegang spanduk memekik melihat Raffa berlutut dengan satu kaki menempel di tanah. Ia juga mengeluarkan kotak merah dan membukanya.
"Maukah kamu menikah denganku, Vira?"
__ADS_1
Vira menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut yang menjuntai. Kedua tangan gadis itu mengepal kuat di samping tubuh. Suasana hening dan menegangkan.
Bukan hanya Raffa yang tegang, tapi semua memandang ke arah mereka dengan tegang. Mereka berdua sudah menjalin hubungan sebagai kekasih sejak setahun yang lalu. Rasanya wajar jika Raffa ingin melamar sang kekasih pujaan hati.
"Maaf. Aku tidak bisa," ucapnya kemudian.
"Hah! Vi! Kamu serius menolak lamaran kak Raffa?" tanya Lilian dengan pandangan tak percaya.
Vira bergeming. Tidak mengangguk atau menggeleng. Jangankan menjelaskan, menatap wajah Raffa dan yang lainnya saja tidak.
"Aku tahu, kenapa kamu minta putus dariku beberapa bulan yang lalu. Kedua orang tuamu terlibat kasus korupsi di luar negeri. Perusahaan bangkrut, kedua orang tua dipenjara. Itu kan, alasan kamu minta putus dariku?"
Lilian dan Raffi menganga. Mereka tidak tahu berita itu sama sekali. Pantas saja, Vira keluar dari kampus dan membuka toko bunga. Ternyata gadis itu sedang mempunyai masalah besar.
"Aku bisa membiayai kuliahmu, Vi. Kenapa kamu memilih keluar dari kampus?"
"Dan mendapat julukan cewek matre yang dibiayai kekasihnya? Tidak, Kak. Aku ingin mendapatkan segala sesuatu dengan kemampuanku sendiri."
"Aku tahu. Kamu pasti menolak bantuan dariku, karena itu aku melamarmu. Kalau kau sudah menjadi istriku, kau bisa memakai uangku tanpa takut diejek matre."
Vira menggelengkan kepala.
"Tidak. Aku ingin sukses dalam karir dan pendidikan dengan uangku sendiri. Lagipula, aku sudah berjanji untuk menikah di hari yang sama dengan Lian."
Raffa dan Raffi menoleh ke arah Lilian. Gadis itu hanya tersenyum saat kedua laki-laki itu menatapnya. Janji itu terucap jauh sebelum mereka menjadi kekasih si kembar. Tidak disangka, Vira masih mengingat janji itu.
Vira membantu Raffa bangun. Ia tidak mau menjadi beban bagi orang yang dicintainya. Karena itu ia tidak mengatakan masalah yang menimpanya, baik kepada Raffa ataupun Lian.
"Kalian kapan menikahnya?" tanya Raffa.
Raffi dan Lian mengedikkan bahu. Lilian masih ingin fokus kuliah dan belum memiliki rencana untuk menikah. Namun, ia tidak menampik saat Raffa mengusulkan untuk segera menikah setelah lulus kuliah.
"Ok! Sudah diputuskan. Kita menikah di hari yang sama dengan mereka. Dan kalian … harus segera menikah setelah Lian lulus dan wisuda. Jangan membuatku terlalu lama menunggu kalian. Aku tidak tahan," ucap Raffa sambil melirik kekasihnya. Ucapannya mendapatkan hadiah cubitan di pinggang. "Aw! KDRT terus, sih, Sayang."
Semua tertawa melihat Raffa menggerutu. Mereka masuk ke rumah, merayakan hari jadi pertunangan Raffi dan Lian, serta mengadakan pesta barbeque di tepi kolam renang. Orang-orang yang memegang spanduk itu adalah staf di perusahaan Raffi. Mereka juga ikut memeriahkan acara bersama Price dan yang lainnya.
*BERSAMBUNG*
__ADS_1