
Jangan lupa ya, dukung author dengan like novel ini sebelum membaca ya
Terima kasih🙏🙏
Selamat membaca ya 😘😘
----------------------------
Lian menoleh ke arah Raffi yang duduk di sampingnya sambil menunduk memperhatikan ponselnya. Lian memalingkan wajahnya saat Raffi menoleh padanya. Tidak ada suara yang keluar dari mulut Lian dan Raffi. Hanya suara jangkrik dan burung hantu dari hutan di samping rumah Nenek Saidah.
Tok! Tok! Tok!
Raffi membuka pintu. Nenek Saidah membawakan makanan dan minuman hangat untuk mereka. Setelah Saidah memberikan nampan berisi makanan itu pada Raffi, ia pun pergi dan kembali ke dalam rumahnya.
"Makan dulu," ucap Raffi. Rencana mereka makan malam bertiga tidak terlaksana dan Lian memang merasa sedikit lapar. Lian mengambil roti dan teh hangat yang diberikan Raffi. Raffi menyesap teh hangatnya dan kembali menatap ponselnya. Ia masih berharap ada sinyal yang tertangkap oleh ponselnya agar dia bisa menghubungi Raffa.
***
Di cafe, Raffa sudah menunggu sejak satu jam yang lalu. Namun ia tidak melihat tanda-tanda kedatangan Raffi dan Lian. Raffa tersenyum masam.
"Kalian bermain di belakangku," guma Raffa. Raffa tahu kalau Raffi dan Lian saling mencintai. Tidak ada rasa khawatir dalam hati Raffa saat mereka tidak datang. Hanya ada rasa kecewa dan sakit hati karena Raffa pikir mereka pergi berkencan. Raffa membayar makanan yang sudah dipesannya tanpa menyentuhnya sedikitpun.
Raffa kembali ke hotel tempat dirinya menginap. Ia langsung menuju kamarnya setibanya di hotel. Ia berdiri di balkon kamar, menatap kerlap-kerlip lampu kota dari kejauhan. Wajah Raffa terlihat muram, ia merasakan sesak di dadanya. Seakan paru-parunya kehabisan oksigen. Raffa kesulitan untuk bernapas karena separuh napasnya adalah Lian.
"Kenapa? Kenapa rasanya sakit sekali?" ucap Raffa pelan sambil menyentuh dadanya. Raffa tidak bisa hidup tanpa Lian, tetapi Lian tidak bisa hidup tanpa Raffi. "Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa melepasmu, Lian."
***
"Sudah malam, tidurlah!"
"Kak Raffi saja yang tidur. Kakak harus mengemudi besok, kalau Kak Raffi tidak tidur dan mengantuk di perjalanan akan bahaya. Lian tidak apa-apa duduk di sini," jawab Lian.
"Lian juga harus tidur. Kalau begitu tidur berdua saja."
__ADS_1
"Apa?"
"Maksud Kak Raffi, kita … tidur dengan dibatasi bantal. Hanya ada satu tempat tidur di sini, jadi kita tidur seranjang dengan dibatasi bantal di tengah-tengah," ucap Raffi menjelaskan.
Meskipun canggung, tetapi Lian menuruti kata-kata Raffi. Ia menempatkan bantalnya di tengah dan berbaring membelakangi Raffi. Jantung Lian berdetak kencang. Pertama kali bagi Lian bisa sedekat ini dengan Raffi sejak Lian menyatakan cintanya. Sekarang ia tidur seranjang dengan Raffi, Lian yakin ia tidak akan dapat tidur. Terdengar suara air yang mulai turun kembali menyapa bumi. Suara air yang menetes di atap membuat Lian semakin tidak bisa memejamkan matanya. Semakin lama hujan turun semakin deras disertai kilat yang bercahaya menembus dinding kamar yang terbuat dari anyaman bambu.
Lian sangat takut melihat cahaya kilat apalagi jika diiringi suara petir menggelegar. Lian bangun dan duduk bersandar di ranjang dengan punggung yang terasa dingin saat menempel di dinding. Angin yang menembus dinding anyaman bambu itu menyusup ke balik daster yang Lian pakai. Ia memejamkan matanya karena tidak ingin melihat cahaya kilat.
Melihat Lian bangun, Raffi ikut terbangun dan duduk di samping Lian. Ia melihat kedua mata Lian yang dipejamkan dengan kuat. Raffi tahu Lian sedang ketakutan, tetapi Raffi hanya bisa melihat dengan iba. Andai ia adalah Raffa, mungkin Raffi akan segera memeluk Lian dan melindunginya dari rasa takut terhadap kilat.
JEDAARR!
"Akhh …." Lian berteriak dan memeluk Raffi sambil terisak ketakutan.
Deg!
Jantung Raffi seketika berdetak dengan cepat. Ia diam terpaku dan tidak membalas pelukan Lian. Kembali ingatan Raffi berputar ke masa lalu, saat itu hujan lebat disertai petir yang menyambar sama seperti saat ini.
"Akhh … hiks, hiks. Kak, Lian takut."
Teriakan Lian membuat Raffi tersadar dari bayangan masa lalu, dan spontan ia memeluk Lian yang menangis ketakutan.
"Tidak perlu takut! Ada Kakak," ucap Raffi sambil mengelus rambut dan punggung Lian. Debaran jantung Raffi semakin tidak beraturan saat ia memeluk Lian. Raffi yakin Lian juga bisa mendengar detak jantungnya saat ini.
"Jantung Kak Raffi berdetak kencang sekali, sama seperti detak jantungku saat ini. Dada Kak Raffi sangat bidang, rasanya nyaman bersandar di dadanya. Ya, Tuhan, bisakah aku meminta agar waktu berhenti saat ini? Aku tidak ingin saat ini berakhir, aku ingin memeluknya lebih lama lagi. Kumohon jangan buat hujan ini berhenti, Tuhan." Lian berdoa dalam hati agar ia mempunyai kesempatan lebih lama memeluk Raffi, memeluk pujaan hatinya, pangeran pengisi mimpi-mimpi indahnya. Lian menengadah melihat wajah Raffi yang begitu dekat dengan wajahnya.
Raffi tidak tahu kalau Lian sedang menatapnya karena ia memejamkan mata. Raffi memejamkan mata untuk meredam debaran di dadanya. Merasakan embusan napas Lian di wajahnya, Raffi perlahan membuka mata. Pandangan mereka bertemu, mereka sama-sama terpaku. Lian ataupun Raffi tidak ingin mengalihkan pandangannya. Kedua pasang manik mata coklat itu saling memandang dengan rasa cinta yang terpendam.
Entah dorongan dari mana, tangan Raffi terulur dan mengusap pipi Lian. Seketika jantung Lian berdetak semakin cepat. Raffi tersenyum menatap lekat wajah Lian. Jemari tangan Raffi menjelajah kening, hidung dan berhenti di bibir Lian. Ibu jari Raffi mengusap lembut bibir tipis merah muda milik Lian.
Deg! Deg! Deg!
Lian menatap senyum Raffi yang begitu tulus, seakan Lian melihat ada rasa cinta dan sayang dalam senyum dan pandangan lembut Raffi. Seketika itu Lian sadar, pasti Raffi sedang membayangkan orang yang dicintainya diam-diam. Yang Lian tidak tahu adalah nama gadis yang dicintai Raffi dengan diam-diam itu adalah dirinya, Lian. Lian segera menarik diri dari dekapan Raffi, tetapi suara petir kembali terdengar.
__ADS_1
JEDDAARRR!
"Akhh …." Lian menghambur kembali ke dalam pelukan Raffi.
Gejolak cinta dalam hati Raffi bagaikan bendungan yang sudah retak, perlahan tapi pasti retakan itu semakin lebar. Puncaknya, bendungan itu jebol dan Raffi tidak bisa lagi menahan perasaannya. Ia menarik tengkuk Lian dan mengecup bibir tipis merah muda milik Lian. Kecupan itu begitu lembut, hangat dan basah bibir Lian membuat Raffi semakin terhanyut. Raffi memperdalam kecupannya.
Lian membelalak saat Raffi mengecup bibirnya. Ingin rasanya Lian mendorong Raffi, tetapi hatinya menolak. Lian justru memejamkan matanya dan membalas kecupan Raffi. Mereka saling berpagut mesra, perlahan tangan Lian merayap naik ke leher Raffi dan melingkar erat.
______________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Penjara Cinta Sang Presdir
-Nazein & Darlan
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
I Love you, readers ♥️♥️♥️
__ADS_1