
Hy reader, besok minggu dah lebaran nih, author mau ngucapin
Minnal Aidzin Walfaidzin, mohon maaf lahir batin, selamat hari raya Idul Fitri buat kalian semua yang merayakannya. Maafin author klo author ada salah, 😢😢🙏🙏🙏
Jangan lupa jadwal update novel2 author
Cinta Ada Karena Terbiasa season3 SENIN, RABU, JUM'AT
Status Gantung Miss CEO SELASA, KAMIS, SABTU
Putri Yang Tergadai RABU, JUM'AT, MINGGU
stay terus ya reader, ikuti kelanjutan kisah2 mereka
l ♥️ U readers,
SELAMAT MEMBACA 😘
-------------------------------------
Juan turun dari lantai atas dan mencari Daisy. Juan baru saja selesai mandi setelah pulang dari kantor. Juan tertegun saat melihat Raffi yang berbaring di sofa panjang sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Daisy. Pemandangan yang langka bagi Juan. Karena Raffi tidak pernah terlihat serapuh itu. Kini Juan melihat betapa menyedihkan Raffi saat ini yang menangis di pangkuan Daisy. Juan menghampiri mereka.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian menangis?
Raffi bangun dan mengusap air matanya. Ia malu karena ketahuan cengeng dan menangis oleh sang ayah.
"Ada apa dengan Raffi, Ma?" Juan mengulangi pertanyaannya.
"Raffi pamit pergi ke kamar, Pa, Ma. Maaf, Raffi tidak bisa menjawab pertanyaan Papa." Raffi melangkah menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Juan duduk di samping Daisy yang masih terisak setelah Raffi berlalu dari pandangannya.
"Ada apa dengan Raffi? Papa baru kali ini melihat Raffi seperti itu."
"Mama tidak tahu, Pa. Raffi tiba-tiba berbaring di pangkuan Mama dan menanyakan hal aneh," ucap Daisy sambil mengusap air matanya dengan tisu.
"Menanyakan hal aneh?" tanya Juan.
"Ya, tadi Raffi bertanya, apa yang dia lakukan itu benar. Mama tidak tahu dia bertanya tentang apa. Melihat Raffi begitu sedih sampai menangis, Mama jadi ikut sedih. Papa tahu sendiri kan, seperti apa Raffi selama ini. Ini tidak seperti dirinya yang biasa. Ada masalah apa yang membuat Raffi begitu tertekan? Mama benar-benar penasaran."
"Coba nanti Papa tanyakan pada teman-teman Raffi. Mungkin saja mereka tahu. Mama jangan terlalu banyak pikiran." Juan memeluk Daisy dan menenangkannya. Juan juga penasaran dengan tingkah Raffi.
***
__ADS_1
Lian dan Vira keluar dari kedai bakso. Pulang dari sekolah, Vira mengajak Lian makan bakso.
"Mau menginap lagi atau aku antar pulang?" tanya Vira.
"Antar pulang saja. Terima kasih, ya, Vi. Cuma kamu yang bisa aku ajak curhat. Dan cuma kamu yang selalu aku ganggu. Maaf, karena aku selalu membebanimu dengan masalahku."
"Coba bicara seperti itu sekali lagi, aku tidak akan mau berteman denganmu lagi!" ancam Vira. Vira tidak pernah merasa terbebani dengan curhatan Lian. "Aku tidak merasa kamu membebaniku, lalu kenapa kamu merasa itu sebagai beban. Li, aku tulus menyayangimu, sahabatku. Jangan pernah ragu atau merasa sungkan padaku, karena itulah yang justru menjadi beban untukku." Vira berpelukan dengan Lian dan sebuah suara yang tidak asing menginterupsi pelukan Lian dan Vira.
"Aku pikir, aku salah lihat. Ternyata benar, itu kamu, Lian."
Vira dan Lian melepaskan pelukannya. Mereka menoleh ke arah suara di belakang Lian. Senyum Lian mengembang.
"Kak Raffa, sedang apa disini?" tanya Lian.
"Kebetulan lewat. Aku merasa kenal dengan gadis yang sedang berpelukan di jalan, jadi aku berhenti untuk memastikan. Ternyata benar kamu. Oh, ya, kemarin kamu kemana?" tanya Raffa.
"Menginap di rumah Vira," jawab Lian.
"Iya, Kak. Lian menginap di rumah Vi kemarin." Vira membantu Lian menjelaskan.
"Oh. Kalian mau kemana sekarang?"
"Vira mau antar Lian pulang," jawab Vira.
Vira dan Lian berpisah. Vira langsung melaju dengan mobilnya, meninggalkan Raffa dan Lian. Raffa menggandeng tangan Lian dan mengajaknya menuju ke mobilnya di seberang jalan. Raffa dan Lian saling menanyakan kegiatan mereka seharian ini. Raffa sengaja melaju dengan kecepatan rendah. Raffa ingin bersama Lian lebih lama.
"Lian, nanti malam kita kumpul bareng, yuk! Sudah lama kita tidak berkumpul bertiga."
"Lian tidak bisa, Kak Raffa."
"Kenapa? Karena sudah ditolak Kak Raffi? Ayolah, Li. Kita kan bisa pura-pura tidak ada yang terjadi." Raffa merayu Lian agar mau kembali berkumpul bertiga seperti dulu.
"Bukan karena itu kok, Kak. Lian harus membantu Mama menyiapkan pesta ulang tahun Jason. Kak Raffa lupa ya?"
"Oh, iya. Ya, sudah kalau begitu Kakak ikut membantu Lian. Ulang tahunnya besok kan? Apa saja yang Lian butuhkan? Biar Kak Raffa bantu siapkan."
"Semuanya sudah ada, Lian tinggal membantu memasang saja. Rencananya Mama ingin buat pestanya di taman belakang."
Raffa mengangguk setuju. Raffa tidak jadi mengajak Lian berjalan-jalan dan melajukan mobilnya menuju rumah Lian. Setengah jam kemudian kemudian, mobil Raffa sudah tiba di halaman rumah Steve. Disana terparkir juga mobil Raffi. Lian merasa gugup dan tegang saat melihat mobil putih Raffi.
Setelah menangis di pangkuan Daisy, Raffi pergi ke kamarnya dan mandi. Selesai mandi, Raffi mendapat telepon dari Steve. Steve meminta Raffi untuk makan malam bersama sambil mempersiapkan acara ulang tahun Jason. Dan sekarang Raffi sedang memasang lampu di taman belakang.
Sementara Raffa dan Lian saling pandang lalu turun dari mobil. Lian dan Raffa melangkah masuk ke dalam rumah, tetapi mereka tidak menemukan keberadaan Raffi. Hanya ada Violet yang sedang menyiapkan makan malam di dapur. Lian menghampiri dan menanyakan Raffi pada ibunya.
__ADS_1
"Ma, ada Kak Raffi ya? Kok mobilnya ada tapi orangnya tidak ada."
"Raffi sedang memasang lampu di taman belakang dengan Papamu."
"Oh, kalau gitu, Raffa dan Lian kesana dulu ya, Tan," ucap Raffa sambil menggandeng tangan Lian.
Violet hanya mengangguk. Lian dan Raffa melangkah menuju taman belakang rumah. Lian tidak menepis tangan Raffa karena mereka sudah biasa seperti itu. Dulu, bahkan Raffi juga sering menggandeng tangan Lian. Raffa menyapa Steve dan Raffi yang sedang memasang lampu warna-warni. Terlihat tiga orang yang lain juga yang sedang merapikan tenda. Tenda selesai dipasang, mereka bertiga pamit pulang pada Steve. Untuk dekorasi, Steve dan Violet selalu mendekornya sendiri.
"Pa, sudah selesai?" tanya Lian.
"Eh, Lian, Raffa, kalian datang. Kenapa lama sekali? Papa dan Raffi sudah dari sejam yang lalu mendekor semuanya berdua saja."
Raffi melirik tangan Lian yang masih berpegangan dengan Raffa. Lian menatap kedua mata Raffi dan sadar kemana arah pandangan Raffi. Lian segera menarik tangannya.
"Pa, Kak Raffa, Lian mau mandi dan ganti baju dulu. Nanti baru Lian membantu kalian," ucap Lian. Lian masuk kembali ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya. Lian membasuh tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat setelah bertanding basket.
Sementara Raffa mulai membantu memasang bunga plastik untuk hiasan tiang-tiang tenda. Raffi dan Steve selesai memasang lampu di tengah tenda. Raffi turun dari tangga lipat dan memindahkan tangga lipat itu ke samping. Raffi akan memasang lampu tumbler di sekeliling sudut tenda. Sesekali Raffi menoleh ke arah pintu, ia berharap Lian segera keluar dari sana.
-----------------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
I Love you, readers ♥️♥️♥️
__ADS_1