Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
Episode 38. Rasa yang tak nyaman


__ADS_3

Hai reader tercinta Jangan lupa dukung author dengan like novel ini sebelum membaca ya reader. Novel ini akan tamat di episode 45. So, jangan ketinggalan kisah Raffi dan Raffa ya😘🙏🙏terima kasih


Selamat membaca ya 


_______________


Pagi hari, Daisy membaca pesan dari Raffa. Ia syok dan tubuhnya terduduk di lantai seketika. Ia mengerti sekarang, kenapa ia begitu cemas pada kedua putranya. Daisy menangis Sambil menggenggam ponselnya erat.


Juan yang baru selesai mandi, kebingungan melihat sang istri. 


"Ada apa, Sayang? Kenapa menangis?" Juan membantu Daisy untuk bangun lalu memeluk istrinya yang terus menangis. Setelah sedikit lebih tenang, Daisy pun bercerita. Juan ikut panik mendengarnya. Ia segera mengganti handuk mandinya dengan setelan kemeja panjang dan celana panjang dengan warna navy senada. Juan mengambil kunci mobilnya dan pergi ke rumah sakit bersama Daisy.


Disisi lain, Lian menangis tersedu-sedu melihat pesan dari Raffa.


Tok! Tok! Tok!


"Li, kamu sudah bangun?" Vira bertanya di depan pintu kamar. Vira mendengar suara tangisan, tetapi Vira tidak langsung masuk karena takut kalau Lian hanya mengigau. Karena tidak ada jawaban, Vira pun membuka pintu dan melihat Lian duduk di tengah ranjang sambil menatap ke arah ponsel yang tergeletak di depannya. Vira penasaran karena Lian tidak menjawabnya dan terus menangis. Vira mengambil ponsel Lian dan membaca pesan yang masih terbuka.


"Itu gara-gara aku. Itu … salahku, hiks," ucap Lian sambil terisak. Ia menyalahkan diri sendiri karena kecelakaan Raffi terjadi tadi malam. Lian berpikir karena penolakan dirinya yang akhirnya membuat Raffi ugal-ugalan di jalan dan kecelakaan. 


"Li, jangan menyalahkan diri sendiri kaya gini! Lebih baik sekarang kamu mandi! Aku antar kamu ke rumah sakit," ucap Vira.


Lian menuruti perintah Vira. Ia segera mandi dan berganti baju. Karena Lian tidak membawa baju ganti, Lian jadi meminjam baju Vira. Setelah selesai, Vira segera mengantarkan Lian ke rumah sakit dengan mobil merahnya.


***


"Fa, bagaimana keadaan Raffi, Sayang? Kenapa Raffi bisa kecelakaan?" Daisy bertanya dengan ketakutan. Ia sangat takut kehilangan anaknya lagi. Ia hanya memiliki dua putra setelah Reva, kembaran Raffi dan Raffa itu meninggal. Ia tidak sanggup kalau harus kehilangan anak kembali. Kehilangan Reva saat bayi telah membuat Daisy ketakutan sampai sekarang. Daisy selalu ketakutan jika salah satu diantara Raffa dan Raffi sakit.


"Menurut Dokter, Raffi mengemudi dalam keadaan mabuk, Ma. Mobilnya menabrak pembatas jalan dan terguling," jawab Raffa.


"Raffi, mabuk? Ada apa dengannya? Bukannya dia ada di Bali?" tanya Daisy heran. 

__ADS_1


Raffi belum pulang ke rumah dan juga tidak memberitahu keluarganya kalau ia pulang dari Bali lebih awal. Setelah tiba di bandara, Raffi langsung menuju resto untuk bertemu Lian. 


"Raffa kurang tahu, Ma. Keadaan Raffi saat ini belum bisa dipastikan. Dokter bilang kalau kita harus menunggu Raffi sadar, baru Dokter bisa memeriksa lebih lanjut," jawab Raffa. Pikiran Raffa menerawang, ia berpikir "mungkinkah karena pertunanganku dengan Lian yang membuat Raffi mabuk-mabukan dan kecelakaan seperti ini?"


Tap! Tap! Tap!


Suara langkah kaki yang cepat menggema di sepanjang koridor menuju ruang ICU. Daisy, Juan dan Raffa menoleh bersamaan. Mereka melihat ke arah Lian dan Vira yang berlari menghampiri mereka. Raffa tersenyum getir melihat betapa khawatirnya wajah Lian, raut wajah cemas juga sangat terlihat. Raffa kecewa, karena di hati Lian hanya ada Raffi dan tidak pernah ada dirinya di sana.


"Kak Raffa, kenapa Kak Raffi bisa kecelakaan? Kenapa dia ada di sini, bukan di Bali?" Lian bertanya sambil terisak sedih. 


"Lian, tahu kalau Raffi ke Bali?" Daisy mengernyit mendengar percakapan Raffa dan Lian.


"Sebenarnya, kami bertemu dengan Raffi di Bali, Ma," jawab Raffa. Ia menceritakan bagaimana mereka bertiga bertemu di Bali, semuanya kecuali soal ciuman Raffi dan Lian.


"Jadi, Raffi berbohong sama Mama? Untuk apa?" Daisy kecewa karena Raffi membohonginya. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada putranya itu? Sikap Raffi semakin lama semakin membuat Daisy bingung. Sebelum pesta ulang tahun Jason, Raffi tiba-tiba menangis di pangkuannya. Setiap kali melihat wajah Raffi, Daisy melihat seperti ada beban batin yang mengganggunya. Kenapa Raffi tidak bicara secara terbuka kepada ibunya seperti Raffa.


"Karena Mama pasti tidak mengizinkan kalau Raffi pergi jauh mengendarai mobil. Jadi Raffi berbohong, sepertinya begitu, Ma."


"Kak Raffa belum menjawab pertanyaan Lian. Bagaimana keadaan Kak Raffi? Apa dia baik-baik saja?" tanya Lian.


Lian menangis, terisak pilu sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Raffa. 


Sementara itu, Vira merasa tidak nyaman melihat mereka berpelukan. Entah karena ia tidak suka kalau Lian bersama Raffa? Atau karena apa? Dia sendiri tidak tahu. Tiba-tiba saja, Vira merasa tidak nyaman saat Lian memeluk Raffa. Vira mundur dua langkah dan berbalik pergi.


Raffa melihat punggung Vira yang semakin menjauh. Sedikit senyum manis tersungging di bibir Raffa saat melihat Vira pergi dengan wajah tertunduk. Ia merasa ada yang aneh dari sikap Vira. Tidak biasanya dia menghindari Raffa dan Lian. Vira selalu paling dekat dengan Lian saat Lian terpuruk.


Vira duduk di kantin rumah sakit. Ia membeli satu botol air mineral dingin dan meminumnya sampai habis separuh isi dari botol itu. Ia menepuk pipinya dengan keras.


Puk! Puk! Puk!


"Ada apa denganku? Kenapa tiba-tiba aku merasa seperti ini? Ini tidak benar," gumam Vira pelan. Vira menelungkupkan wajahnya di atas meja. Vira bingung dengan perasaan tak nyaman itu. Selama ini, perasaan Vira biasa saja saat melihat Lian dan Raffa karena Vira tahu kalau mereka sudah bersama sejak kecil. Baru kali ini dia merasakan hal itu. Ia membentur-benturkan keningnya ke atas meja, sampai tiba-tiba permukaan meja itu terasa tidak datar lagi melainkan bergelombang. Vira merasa heran, "apa karena ia membenturkan kepalanya terlalu keras, jadi permukaan meja itu menjadi tidak datar. Tidak mungkin! Itu konyol," gumam Vira dalam hati. Karena rasa penasaran Vira pun mengangkat wajahnya.

__ADS_1


Vira terkejut melihat di depannya ada telapak tangan yang menghalangi kepala Vira agar tidak membentur permukaan meja. Vira menelusuri arah tangan yang ternyata ada Raffa berdiri di belakangnya. Saking terkejutnya, Vira hampir saja terjatuh bersama kursi yang didudukinya. Untung saja Raffa sigap menahan kursi itu dan kursi itu tidak jadi terguling.


"Kak Ra-ffa?" ucap Vira dengan gugup.


"Kenapa kamu membenturkan kepala ke meja?" 


Deg!


Raffa bertanya tepat di samping telinga Vira, membuat jantung Vira seolah berhenti berdetak sejenak. Kini debaran di dadanya berganti dengan detakan cepat yang membuat Vira terasa sesak saat bernapas. Vira merasakan embusan napas Raffa di pipinya. Wajahnya merah merona, dia terdiam kaku. Jangankan untuk bicara dan menjawab pertanyaan Raffa, untuk mengatur napasnya saja sulit. Seakan suaranya tercekat di tenggorokan, bibir Vira pun kelu dan tak mampu mengucapkan apapun.


___________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir juga di sini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu (END)


-Penjara Cinta Sang Presdir


-Nazein & Darlan 

__ADS_1


-Serpihan Hati Yang Hancur (END)


 I Love you, readers ♥️♥️♥️


__ADS_2