Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
Episode 11. Berbaring dalam pangkuan ibu


__ADS_3

Dua puluh menit kemudian, Vira sudah memarkir mobilnya di parkiran gedung kantor Raffi.


"Mau aku temani ke dalam?"


"Tidak usah. Aku sendiri saja. Aku cuma sebentar," jawab Lian.


"Hem, hati-hati. Jangan sampai keluar dari sana dengan menangis! Karena aku akan langsung masuk dan menghajar si Raffi itu. Aku tidak peduli walaupun dia lebih tua dariku. Jika dia membuatmu menangis di hadapanku, dia akan berurusan denganku." 


Lian tersenyum mendengar ancaman Vira. Lian menarik napas dalam sebelum melangkah masuk ke dalam gedung kantor. Lian masuk ke dalam lift dengan hati berdebar dan gugup, ia menekan tombol menuju lantai lima. Lian menatap angka merah di atas pintu lift, setelah sampai di angka lima, lift berhenti dan pintu terbuka. Lian melangkah pelan menuju ruangan Raffi, tetapi Lian tidak ingin berhadapan langsung dengan Raffi.


"Mba Leni," sapa Lian pada Leni. Meja Leni berada di depan ruangan Raffi.


Raffi menoleh ke arah Leni dan terkejut melihat Lian sedang berdiri di samping Leni. Raffi terus menatap Lian.


"Eh, Mba Lian. Mau bertemu Presdir?"


"Tidak. Bolehkah Lian bertanya sama Mba?"


" Tentu saja boleh. Mba Lian mau tanya apa?"


"Kak Raffi, apa dia keluar dari kantor tadi?"


" Benar, Presdir keluar. Jam makan siang tadi, Presdir bilang mau makan siang di luar. Kenapa Mba?"


"Ah, tidak. Terima kasih, Mba. Lian, pamit pulang kalau begitu." Lian berbalik hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti saat matanya beradu pandang dengan Raffi di dalam ruangannya. Kaca transparan yang membatasi ruang kantor Raffi, membuat Lian bisa dengan jelas melihat Raffi yang tengah duduk memandangnya. Lian dan Raffi beradu pandang cukup lama. Baik Lian ataupun Raffi, keduanya tidak berpaling sedikitpun. Hingga akhirnya Lian kalah dan memalingkan wajahnya lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu. 


Baru kali ini Raffi merasa hampa saat Lian datang ke kantornya. Tidak seperti biasanya, kali ini Lian tidak ingin masuk ke ruangan Raffi dan berbicara langsung dengan Raffi. Lian pergi setelah bertanya pada Leni, karena Lian sudah berjanji untuk menjauh dari Raffi, sesuai keinginan Raffi. Setelah Lian tidak terlihat, Raffi menelepon Leni dan menyuruhnya masuk.


"Len, masuk!" ucap Raffi di pesawat telepon. 


Leni meletakkan gagang telepon dan masuk ke ruangan Raffi.


"Ada apa, Presdir?"


"Dia bicara apa denganmu?"


"Dia? Oh, maksud Presdir, Mba Lian. Mba Lian hanya bertanya, apakah Presdir keluar kantor hari ini."


"Hanya itu? Dia tidak mengatakan yang lainnya?"

__ADS_1


"Tidak, Presdir."


"Tumben, karena dia tidak masuk dan menggangguku?" gumam Raffi. 


"Apa perlu saya panggil Mba Lian kembali?"


"Tidak usah. Lanjutkan pekerjaanmu!"


Leni menundukkan kepalanya sejenak lalu keluar dan melanjutkan pekerjaannya. Raffi merasa kecewa melihat kepergian Lian. Raffi ingin mendengar suara Lian yang biasa memanggilnya. Meskipun Raffi akhirnya selalu menjawab dengan kasar, tetapi hatinya merindukan suara Lian. Dan kembali bayangan masa lalu mereka terlintas dalam lamunan Raffi.


Hari itu, setelah Raffi mengetahui Raffa menyukai Lian. Raffi mulai mengacuhkan setiap perkataan Lian. Sore itu, saat Raffa mengajak Lian kencan di depannya, hati Raffi merasa sakit, cemburu, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. 


"Kak Raffi ikut kan?"


"Fi, ikut nonton ya!" ucap Raffa.


"Tidak. Kalian saja. Aku capek habis main basket, mau mandi dan istirahat."


"Yah, ikut saja, Fi. Cuma duduk menonton saja, tidak capek kan?" tanya Raffa.


Raffi berbalik dan melangkah masuk, ia tidak mempedulikan pertanyaan Raffa. Raffi tidak melihat raut wajah Lian yang kecewa. Saat itu, Lian tidak mengerti arti kata kencan. Ia hanya menganggap kata kencan sebagai kata untuk mengajaknya main dan jalan-jalan seperti biasanya. 


Raffa pergi berdua saja dengan Lian. Tanpa sepengetahuan mereka, Raffi ternyata mengikuti mereka. Melihat Lian yang tersenyum bahagia saat berjalan-jalan di mall setelah menonton. Lian dan Raffa makan di resto langganan mereka, saat mereka berjalan-jalan bertiga. Raffi melihatnya dengan senyuman getir. Ia bahagia melihat mereka tertawa, tetapi hatinya sakit karena cintanya yang mulai tumbuh itu harus dikubur kembali.


"Halo," ucap Raffi.


[Fi, sudah menemukan Lian belum?]


"Aku tidak tahu, cari saja di rumahnya! Mungkin dia sudah pulang." Raffi segera menutup panggilan dan menaruh ponselnya kembali di meja. Orang yang meneleponnya adalah Raffa. Raffi merapikan meja dan mengambil kunci mobil serta ponselnya.


Leni juga sedang merapikan berkas yang selesai ditandatangani oleh Raffi. 


"Len, belum pulang?" 


"Sebentar lagi, Presdir. Apa Anda sudah akan pulang?"


" Ya. Setelah selesai, segeralah pulang!"


" Baik, Presdir. Sampai jumpa, hati-hati di jalan." 

__ADS_1


Raffi pulang ke rumah dengan pikiran penuh tentang Lian. Sikap Lian hari ini membuat Raffi merasa kehilangan. Betapa Raffi merindukan masa-masa sepuluh tahun lalu. Ketika Raffi bisa dengan leluasa mengelus rambut lembut Lian, bercanda dan melihat senyuman Lian setiap hari. Tidak terasa ia telah sampai di depan rumah. Raffi memarkir mobilnya di garasi dan masuk ke dalam rumah. 


"Aku pulang." Raffi melewati ruang tamu dan melihat Daisy sedang melihat catatan keuangan klinik yang ia bangun di tempat terpencil. Ia tidak bisa meninggalkan ayahnya, Denis, sendirian di rumah karena itu kliniknya diserahkan pada asistennya.


"Eh, Fi, sudah pulang? Kemana kamu kemarin, sayang? Kenapa tidak pulang?"


"Ada pekerjaan di luar kota, Ma. Mama sedang apa?" Raffi menghampiri Daisy dan duduk di samping ibunya.


Daisy melihat wajah Raffi yang terlihat sangat lelah dan seperti ada beban berat. Daisy menutup buku kas klinik dan menatap wajah Raffi.


"Ada apa? Kenapa wajahmu murung? Apa pekerjaannya sangat berat?" tanya Daisy sambil mengelus pipi putranya.


Raffi tidak menjawab, ia justru menggeser duduknya sedikit menjauh lalu merebahkan kepalanya di pangkuan sang ibu. Daisy merasa heran dengan tingkah Raffi yang tidak seperti biasanya. Daisy mengelus rambut Raffi dengan penuh kasih sayang. Entah kenapa, hati Daisy seolah merasakan kesedihan Raffi.


"Ma, katakan pada Raffi kalau … apa yang Raffi lakukan itu benar, Ma! Katakan jika Raffi benar!" pinta Raffi. Ia meneteskan air mata.


Daisy merasa sesak mendengar suara berat Raffi yang sedang menahan tangis. Daisy terenyuh dengan ucapan Raffi. Raffi, di mata Daisy saat ini terlihat seperti anak kecil yang sedang sakit. Hanya saja bukan badannya yang sakit, tetapi hatinya. 


"Mama tidak tahu ada apa denganmu, sayang. Tapi … Mama yakin apapun yang Raffi lakukan, itu benar. Anak-anak Mama, tidak akan melakukan sesuatu yang salah." Daisy meneteskan air mata. Raffi yang selama ini terkesan cuek dan hanya bicara seperlunya pada Daisy. Kini ia sedang menangis dalam pangkuannya. Daisy hanya bisa menerka-nerka apa yang telah terjadi pada putranya ini.


------------------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu (END)


-Putri Yang Tergadai 

__ADS_1


-Aunty Opposite Door I Love You 


 I Love you, readers ♥️♥️♥️


__ADS_2