Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
Episode 10. Tamparan


__ADS_3

Hy reader.


Mulai hari ini dan kedepannya, novel ini akn update setiap hari SENIN, RABU, JUM'AT. Semoga tidak ada halangan atau gangguan yang menghambat waktu update.


terima kasih, i love you reader 😘😘


SELAMAT MEMBACA 😊😊


--------------------------------------


Lian duduk di pinggir lapangan basket. Kekhawatiran Vira terbukti, tim basket Lian didiskualifikasi. Tessa menghampiri Lian dan mengejeknya.


"Dasar kapten tidak bertanggung jawab. Lo pergi ditengah-tengah pertandingan. Gara-gara tim Lo didiskualifikasi, tim gue dicap gak bisa ngalahin tim Lo karena tim gue menang terpaksa," ucap Tessa dengan emosi.


"Terus mau kamu apa? Yang mereka bilang bener kok. Kalau tim kami tidak didiskualifikasi, tim kalian tidak akan menang melawan tim kami. Terima saja kenyataan," jawab Lian dengan lemah. Ia sedang bersedih dan malas untuk meladeni Tessa, tetapi Tessa tidak terima dengan jawaban Lian dan membalas kembali ucapan Lian dengan sebuah tamparan.


Plakk!


"Lian!" Vira berteriak, terkejut melihat Lian ditampar dengan keras oleh Tessa. Vira tidak terima dan menjambak rambut Tessa. "Dasar nenek sihir." Vira menarik rambut Tessa hingga Tessa terjatuh dan terduduk di lantai.


"Vi, jangan!" Lian mencegah Vira yang hendak memukul Tessa.


"Kalo Lo berani, Lo lawan gue langsung. Dasar pengecut! Lo bisanya cuma ngerahin pasukan." Tessa bangun dan menantang Lian. Semua siswa-siswi yang hadir disana segera berkerumun mengelilingi Lian dan Tessa.


Mondy yang baru saja selesai berganti baju di toilet, merasa heran dengan murid yang tadi menonton pertandingan.


"Ada apa? Kenapa mereka berkerumun disana?" Mondy menuju ke arah seberang lapangan.


"Si Tessa barusan nampar Lian, kapten tim basket lawan mainnya tadi," jawab teman yang satu tim dengan Mondy.


"Apa?!" Mondy terkejut mendengar Lian ditampar. Mondy segera berlari menghampiri dan menerobos kerumunan murid-murid itu. "Permisi! Permisi!" Mondy segera menghampiri Lian setelah melewati barisan murid yang mengelilingi Tessa, Lian dan Vira.


"Eh, kalau bukan karena Lian mencegah gue, gue bakal robek mulut pedes Lo. Lian gak perlu pasukan buat ngelindungin dia, cukup gue, sahabatnya." Vira terus mencoba melepaskan tangan Lian yang menghalangi Vira.


"Tessa! Kamu apa-apaan?"


"Mon-dy," ucap Tessa dengan terbata. Dia tidak menyangka kelakuannya ketahuan oleh Mondy. Awalnya, Tessa mengira Mondy sudah pulang.


"Lian, kamu tidak apa-apa, kan? Aku antar kamu ke UKS, dimana UKS-nya?" tanya Mondy pada Lian dan Vira.


"Tidak perlu, aku tidak apa-apa." Lian menepis tangan Mondy yang memegang kedua pundak Lian dengan halus. Lian takut menyinggung perasaan Mondy.

__ADS_1


"Tidak usah deketin Lian! Semua ini juga gara-gara kamu!" Vira mendorong Mondy supaya menjauhi Lian.


"Karena aku?"


"Ya. Pacar kamu itu cemburu sama Lian jadi sejak tadi sebelum pertandingan sudah memancing keributan dengan Lian. Daripada mengganggu Lian, lebih baik kamu urus pacar kamu yang bar-bar itu!" Vira memarahi Mondy dengan kesal. Vira lalu membawa Lin pergi dari gedung olahraga dan mengajaknya ke kantin.


Sementara Mondy masih di tempatnya. Ia melangkah pelan menghampiri Tessa dengan tatapan tidak suka dan juga marah. Mana mungkin tidak marah jika gadis yang ia sukai ditampar tanpa sebab. Mondy berhenti dua langkah di depan Tessa.


Tessa ketakutan dengan tatapan tajam dari Mondy. "Mon, gu-gue melakukan itu, karena …." Tessa gelagapan saat bicara dan mencoba menjelaskan pada Mondy. Ucapannya terhenti karena Mondy membentaknya.


"Karena apa?!" 


"Karena … karena gue suka sama Lo"


"Suka? Sama gue? Bukannya Lo bilang sama Lian kalau gue pacar Lo? Sekarang gue tanya sama Lo, kapan gue jadian sama Lo?" tanya Mondy dengan tatapan mengejek.


Tessa terdiam saat Mondy bertanya seperti itu di hadapan orang banyak. Mereka yang masih berkerumun itu pun saling berbisik menghina Tessa yang tidak tahu malu, karena mengaku-ngaku sebagai pacarnya Mondy. Antara malu, kesal dan sakit hati karena secara tidak langsung Mondy menolak perasaan Tessa.


"Kenapa diam?" tanya Mondy kembali. Ia mendesak Tessa agar menjawabnya. 


"Gue benci Lo, Mon." Tessa berlari keluar dari gedung olahraga, disusul teman-temannya. 


"Mon, kita langsung pulang atau kumpul-kumpul dulu nih?" tanya teman Mondy.


"Kalian pulang saja duluan. Aku ada urusan sebentar," jawab Mondy.


"Ok, kita pulang duluan kalau begitu." 


Mondy berpisah dengan teman-temannya di depan pintu masuk gedung olahraga. Mondy melangkah menuju ke UKS dan teman-temannya melangkah menuju parkiran. Mereka pulang meninggalkan Mondy yang sedang mencari keberadaan Lian. Mondy masuk ke ruang UKS, tetapi Lian tidak ada disana. Mondy mencarinya ke kantin dan benar saja, Lian sedang duduk disana sendirian. Mondy menghampiri dan duduk di depan Lian.


Untuk pertama kalinya, Lian menyesali kebodohannya. Jika saja ia tidak menyapa Mondy sebelum Mondy bertanding tadi, Lian bisa mengusirnya seperti sebelumnya. Kini Lian tidak bisa begitu saja mengusir Mondy. Lian takut jika Mondy merasa diperalat untuk membalas kelakuan Tessa.


"Bagaimana pipimu, masih sakit?"


"Tidak begitu sakit. Terima kasih, sudah mengkhawatirkanku," jawab Lian.


"Sendirian? Temanmu mana?"


"Kenapa? Aku disini," jawab Vira yang baru saja datang membawa es batu yang sudah dibungkus oleh handuk kecil. "Li, tempelkan ini di pipimu. Masa temanku yang cantik ini jadi gemuk sebelah pipinya. Dan ini gara-gara pacar seseorang yang tidak dianggap." Vira menatap tajam ke arah Mondy saat menyinggung tentang Tessa.


"Dia bukan pacarku."

__ADS_1


"Siapa juga yang peduli. Kita pulang, Li!" Vira menarik tangan Lian dan mengajaknya pergi. Saat melewati Mondy, satu tangan Lian yang lain dicekal Mondy sehingga Lian berhenti melangkah.


"Maaf, aku akan pastikan Tessa meminta maaf padamu," ucap Mondy.


"Lepasin tangan Lian! Jangan sentuh-sentuh!" Vira menepis tangan Mondy yang mencekal tangan Lian.


"Vi. Em, Mon, aku pulang dulu." Lian berpamitan pada Mondy lalu menarik tangan Vira dan pergi dari kantin. Lian berjalan sambil menempelkan handuk yang dililit dan diberi es batu itu di pipinya. Lian masuk ke dalam mobil Vira. Vira segera tancap gas meninggalkan sekolah. Jam sudah menunjukkan jam empat sore. Di dalam mobil, Lian terus mengingat kejadian tadi. Kejadian saat ia melihat Raffi di kursi penonton. Lian yakin dirinya tidak salah lihat, itu benar-benar Raffi.


Lian menjadi penasaran dan ingin memastikan penglihatannya itu tidak salah. Orang yang Lian lihat tadi, apakah hanya khayalan Lian atau memang Raffi benar-benar datang untuk melihatnya bertanding. Lian tidak bisa hanya berasumsi, ia ingin memastikan bahwa itu memang Raffi.


"Vi, antar aku ke kantor Kak Raffi."


"Buat apa sih, Li. Pipi kamu lagi sakit, kamu mau tambah lagi dengan sakit hati. Kenapa kamu tidak kapok-kapok untuk menemui Raffi. Padahal setiap kali kamu menemui Raffi, kamu selalu berakhir dengan sakit hati. Kita pulang!" Vira menolak mengantarkan Lian, tetapi ucapan Lian membuat Vira tidak berkutik.


"Turunkan aku disini! Aku naik taksi saja," jawab Lian.


"Huffh." Vira menghela napas berat. Vira tidak bisa membiarkan Lian pergi sendiri dengan keadaan kacau seperti sekarang. Vira hanya bisa mengalah dan memutar arah menuju ke kantor Raffi.


---------------------------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu (END)


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 


 I Love you, readers ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2