Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
Episode 16. Diterima


__ADS_3

halo readers jangan lupa like ya sebelum baca.


dan selalu ingat jadwal up novel ini setiap senin, rabu, dan jum'at 😉


selamat membaca 😘


------------------------------


Raffa menemukan Lian sedang duduk merenung di kursi kantin. Ia menghampiri Lian dan duduk di sampingnya. Lian yang tengah asyik melamun pun tidak menyadari kehadiran Raffa, sampai Raffa menepuk pelan pundak Lian barulah Lian menoleh karena terkejut.


"Kak Raffa, maaf Lian belum beli air mineralnya. Sedari tadi kantin ramai sekali, jadi Lian duduk dulu di sini," ucap Lian. Ia menatap sekeliling, ternyata sepi hanya ada dua orang yang sedang duduk di seberang meja mereka. 


Raffa jadi menatap Lian dengan curiga, lalu ia menempelkan tangannya di kening Lian.


"Kamu baik-baik saja, kan? Kamu sedang melamun sendirian di sini sampai tidak sadar kalau kantin sepi seperti ini. Apa yang kau pikirkan? Apa yang membuatmu melamun?" tanya Raffa penasaran.


"Tidak ada. Tadi beneran ramai, Kak. Makanya Lian duduk dulu," ucap Lian mencari alasan. 


"Sungguh tidak ada apa-apa? Kakak khawatir kamu sakit," ucap Raffa sambil mengusap lembut puncak kepala Lian.


Setelah mendengar percakapan Raffa dan Raffi tadi, kini Lian merasa canggung dengan sentuhan Raffa. Dulu Lian pikir kalau Raffa hanya menganggap dirinya seorang adik, seperti sikap Raffi pada Lian. Tidak disangka ternyata Raffa memiliki perasaan yang lain selain seorang sepupu. 


"Ehm, Kak Raffa masih mau minum? Biar Lian belikan," ucap Lian sambil menepis pelan tangan Raffa. Lian bangun dan hendak pergi ke warung di kantin untuk membeli air mineral, tetapi langkahnya terhenti karena Raffa menahan pergelangan tangan Lian.


"Tidak perlu. Kakak minum di kantor saja. Jaga kesehatan, ya," ucap Raffa. Raffa bangun dan berdiri di hadapan Lian dengan jarak yang sangat tipis. Raffa menangkup kedua pipi Lian kemudian mengecup kening Lian lalu pergi meninggalkan Lian yang masih terpaku.


Lian diam tak bergerak. Kecupan tiba-tiba yang Raffa lakukan itu membuat Lian tidak sempat menolak ataupun mengelak. Lian tahu perasaan Raffa padanya beberapa lalu, Lian jadi bingung untuk bersikap seperti biasanya. Lian kembali ke ruang rawat Raffi. 


"Raffa sudah pergi. Kenapa lama sekali?"


"Aku tahu. Aku …. Aku akan pulang, agar Kak Raffi tidak merasa terganggu oleh kehadiranku. Maaf, padahal aku sudah berjanji menjauh dari Kak Raffi. Aku permisi," ucap Lian. 


Raffi hanya terdiam menatap kepergian Lian dari hadapannya. 


"Huh, jika saja aku bisa meminta, aku … ingin kau tetap di sini. Di sisiku," gumam Raffi dalam hati. 


***

__ADS_1


Siang hari, Daisy pergi menemui Violet di rumahnya. Lian sedang mengobrol bersama Vira di dalam kamar. Hari ini Vira berkunjung ke rumah Lian karena mereka libur sekolah. Sedangkan Daisy dan Violet berbicara di ruang tamu.


"Vio, apa kamu sudah membicarakan tentang permintaan Raffa? Semalam, Raffa menanyakan kapan dia dan Lian bisa bertunangan, aku belum memberikan Raffa jawaban," ucap Daisy. 


"Aku belum membicarakan itu dengan Lian, Kak. Bisakah Kak Daisy menyuruh Raffa untuk menunggu satu atau dua hari. Aku harus bertanya dulu, apakah Lian akan menerima lamaran Raffa."


Di dalam kamar Lian dan Vira asyik mengobrol tentang perjalanan tur perpisahan kelas 12.


"Kamu ikut, kan, Li?" tanya Vira.


"Tentu saja aku ikut. Kapan lagi kita kan berkumpul. Setelah lulus nanti, pasti akan sulit untuk berkumpul dengan teman-teman yang lain."


"Ya betul banget, Li. Ngomong-ngomong, tenggorokan aku agak seret ya," ucap Vira sambil mengusap lehernya. 


"Ya ampun, maaf. Aku lupa buatin kamu minuman, aku ke dapur dulu. Mau minum apa?" tanya Lian. 


"Si bibi kemana? Kok kamu membuat sendiri?"


"Bibi sedang belanja, kamu lupa? Nanti malam kan acara ulang tahun Jason," ucap Lian mengingatkan. Lian menunjuk ke arah jendela.


"Astaga, aku lupa beneran, Li. Pantas saja sejak pagi aku merasa harus kesini. Aku pikir karena aku ingin bertemu denganmu, ternyata karena hari ini ada pesta ultah," ucap Vira sambil tersenyum. 


"Dasar. Aku ke dapur dulu." Lian keluar dari kamarnya dan melangkah turun menuju dapur. Samar-samar ia mendengar ada yang berbicara di ruang tamu. Lian penasaran dan pergi ke ruang tamu untuk melihat siapa yang sedang berbicara dengan ibunya.


"Vio, aku sangat cemas. Bagaimana jika Lian menolak lamaran Raffa? Kamu tahu sendiri kan, Raffa sudah mencintai Lian sejak lama. Raffa juga sudah menunggu selama lima tahun untuk melamar Lian, tapi …." Daisy tidak mampu melanjutkan kata-katanya. 


"Aku tahu Raffa memang sangat mencintai Lian, Kak, tapi aku tidak bisa memaksa Lian jika Lian menolak lamaran Raffa." Violet dan Daisy sama-sama termenung. Mereka memikirkan nasib anak-anak mereka. Jika  Lian menolak Raffa, Raffa bisa saja kembali mencoba mengakhiri hidupnya. Namun, jika mereka memaksa Lian, itu akan membuat Lian terluka.


"Jadi, Kak Raffa sudah lama mencintaiku. Dan selama ini aku tidak menyadarinya. Aku hanya bisa menganggap Kak Raffa sebagai seorang kakak, tidak lebih. Akan tetapi, aku tahu seperti apa rasanya mencintai seseorang selama bertahun-tahun tetapi berakhir dengan bertepuk sebelah tangan." Batin Lian merenung memikirkan percakapan antara Daisy dan Violet. Lian menarik napas dalam-dalam dan keluar dari balik dinding ruang keluarga dan melangkah menghampiri mereka.


"Lian," ucap Violet dan Daisy bersamaan. Mereka tiba-tiba menjadi tegang. Mereka bertanya dalam hati masing-masing, apa Lian mendengar ucapan mereka?


"Lian terima, Ma."


"Lian, maksud Lian a-pa?" tanya Violet gugup.


"Lian akan terima lamaran Kak Raffa," jawab Lian.

__ADS_1


Di ujung tangga, Vira tertegun dan berdiri kaku mendengar ucapan Lian. 


"Benarkah, Sayang?" tanya Daisy. Ia bangun dan menghampiri Lian yang berdiri di samping Violet.


Lian menjawabnya dengan anggukkan pelan sambil tersenyum. Daisy memeluk Lian dengan bahagia. Satu kekhawatirannya telah hilang. Daisy bisa mengatakan pada Raffa dengan bahagia bahwa Raffa dan Lian akan segera bertunangan. Violet juga bangun dan memeluk putrinya.


Biarlah Lian mengalah pada cintanya. Cinta yang Lian pikir tidak akan pernah terbalas oleh Raffi. Andai saja Lian tahu bahwa Raffi juga mencintainya, tetapi ia harus mengalah demi Raffa dan ibunya. Raffi tahu seperti apa  ketakutan ibunya saat melihat Raffa mencoba mengakhiri hidupnya. Raffi ingin ibunya bahagia dan selalu tersenyum. Demi ibu dan saudaranya, Raffi rela menderita dan tersiksa sendiri menahan perasaannya. Seandainya Lian tahu keadaan sebenarnya, mungkin Lian akan membenci Raffa yang sudah menjadi penghalang cinta mereka. 


Vira kembali ke dalam kamar dan duduk menatap tenda di halaman belakang. Ia merasa kasihan pada Lian yang akhirnya harus melepaskan cintanya. Vira tahu, tidak semudah itu untuk Lian menghapus perasaannya untuk Raffi. Vira khawatir jika Lian tidak bisa bahagia bersama Raffa meskipun dulu Vira sering mengejek Lian supaya berpacaran dengan Raffa, tetapi ia tidak berharap Lian benar-benar jadian dengan Raffa.


-----------------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote


terima kasih jg buat komen n krisarnya 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu (END)


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You


-Serpihan Hati Yang Hancur (END)


 I Love you, readers ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2