
Lian kembali ke dalam kamarnya dengan dua gelas minuman dingin dalam sebuah nampan yang ia bawa. Vira segera menghampiri dan menarik Lian duduk di tepi ranjang.
"Li, aku dengar kamu mau menerima lamaran Raffa. Kamu yakin?"
"Aku tidak mau menyakiti hati Kak Raffa. Cukup aku yang merasakan sakit hati karena cinta tak berbalas. Lagipula, Kak Raffa mencintaiku, jadi dia tidak akan menyakiti hatiku."
"Tapi, Li …." Vira menjeda ucapannya.
"Vi, tidak perlu khawatir. Aku yakin dengan keputusanku. Kak Raffi, dia mencintai orang lain, apa lagi yang bisa aku harapkan darinya. Selamanya, dia tidak akan mencintaiku," ucap Lian. Dadanya terasa sesak mengingat ucapan Raffi di rumah sakit tadi pagi.
Vira tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mendoakan yang terbaik untuk Lian. "Oh, iya Li. Aku lupa bawa gaun pesta, aku pinjam punyamu saja, ya?"
"Boleh. Bagaimana kalau kita ke salon dulu sekarang?"
"Ok, ayo jalan!"
Lian dan Vira pergi ke salon dengan menggunakan mobil Vira. Mereka merapikan rambut, juga menghias kuku jari-jemari lentik mereka dengan motif bunga mawar pink. Setelah selesai mengecat kuku, mereka berkeliling mall untuk membeli aksesoris gelang yang terbuat dari manik-manik.
***
Sore pun tiba, Lian dan Vira sudah kembali ke rumah Steve. Mereka sedang merias wajah mereka secara bergantian.
Sementara di rumah sakit, Raffi juga sudah dijemput oleh sopirnya. Ia tidak mengikuti anjuran rumah sakit yang melarangnya pulang. Raffi ingin hadir di pesta ulang tahun Jason. Meskipun ia harus berjalan dengan menggunakan tongkat. Luka di tulang punggungnya tidak terlalu ia hiraukan, ia hanya ingin melihat Lian. Hanya pada acara tertentu saja, Raffi bisa bertatap muka dengan Lian. Ia tidak mau melewatkan sedetikpun waktu yang ada, asalkan dia bisa melihat wajah Lian, itu cukup bagi Raffi.
***
Di klub malam 'Keyo's' Key mengajak Seno untuk hadir di acara ulang tahun Jason. Mereka mendapat undangan dari Raffi dan Raffa. Setiap kali ada acara di rumah Lian atau di rumah Raffa dan Raffi, Key dan Seno selalu hadir.
"Sen, ayo berangkat. Aku sudah menyuruh Joni menggantikanmu," ucap Key. Mereka pergi menuju rumah Lian, sebelumnya mereka mampir membeli hadiah untuk Jason.
***
__ADS_1
Semua persiapan pesta sudah siap. Jason yang akan berulang tahun juga sudah berdiri di tengah pesta yang diadakan di taman belakang. Daisy dan Juan juga sudah berkumpul bersama Steve dan Violet. Denis juga hadir meski hanya bisa duduk di kursi roda dengan didampingi perawat. Daisy melihat kedatangan Raffa dan ia menghampirinya.
"Raffa, sini, Sayang!"
"Ada apa, Ma?"
"Kita bicara di sana," ucap Daisy. Ia mengajak Raffa agak menjauh dari keramaian. Raffi datang dan berniat menghampiri Daisy dan Raffa yang sedang duduk di bangku taman yang agak jauh dari tenda pesta. Posisi Raffa dan Daisy yang membelakangi Raffi membuat mereka tidak mengetahui kedatangan Raffi.
"Ada apa, Ma? Sepertinya ada masalah serius?"
"Ini soal Lian, Sayang. Tadi siang, Mama sudah menanyakan tentang lamaranmu. Lian … dia bilang akan menerima lamaran kamu, Sayang," ucap Daisy dengan wajah sumringah.
"Benarkah? Terima kasih, Ma. Raffa bahagia sekali," ucap Raffa. Ia memeluk Daisy dengan senyuman bahagia.
Namun, di antara tawa mereka ada hati yang menangis. Raffi segera pergi meninggalkan tempat ia berdiri sebelum Daisy dan Raffa melihat keberadaannya. Raffi duduk di dalam tenda yang sudah dipenuhi para tamu undangan.
"Hei, Fi. Melamunkan apa?" tanya Key yang baru saja tiba bersama Seno.
"Kalian sudah datang."
"Sedang bicara dengan Mama." Raffi menatap sekeliling seperti mencari seseorang.
Seno terus memperhatikan tingkah laku Raffi. Siapa yang Raffi cari? Pertanyaan itu menggelitik hati Seno. Saat Lian dan Vira keluar dari rumah dan bergabung dengan ayah dan ibunya. Seno menangkap pandangan kesedihan di mata Raffi saat melihat Lian. Seno menyadari sesuatu. "Orang yang disukai oleh Raffi, jangan-jangan …." Seno bergumam sambil terus menatap lekat wajah Raffi. Pandangan cinta yang oenuh kepedihan. Seno tidak mengerti, kenapa Raffi harus menolak pernyataan cinta Lian jika Raffi juga menyukainya.
"Fi, bisakah kita bicara sebentar?"
"Bicara saja!"
"Tidak di sini." Seno melangkah lebih dulu ke sudut rumah.
Raffi menyusul Seno dan meninggalkan Key sendiri. Key hanya menatap kepergian mereka dengan heran. Namun, Key memilih masa bodoh dengan urusan mereka. Apalagi Key paham dengan sifat Raffi yang tertutup. Akan tidak nyaman bagi Key jika ia mencampuri urusan Raffi.
__ADS_1
Raffa dan Daisy selesai berbicara dan kembali berkumpul di tempat pesta. Raffa menghampiri Key yang duduk seorang diri. Ia mencari keberadaan Seno dan Raffi. Karena tidak melihat Raffi di pesta, Raffa menanyakannya pada Key.
"Key, kemana Seno dan Raffi?"
"Mereka ke sana. Aku tidak tahu mau apa," jawab Key.
Raffa melangkah ke arah yang ditunjuk oleh Key. Raffa mendengar suara dari balik dinding yang memisahkan tembok taman dan teras rumah. Raffa bersembunyi di balik dinding, ia menunggu Raffi selesai bicara dengan Seno. Namun, apa yang Raffa dengar membuat ia terpaku. Di sudut teras yang lain, Denis juga mendengar dan melihat kedua cucunya berdiri dengan perasaan sedih. Hanya dinding bata bercat biru muda itu yang memisahkan Raffi dan Raffa.
Denis ingin ke kamar mandi dan perawatnya membawa masuk Denis ke dalam rumah. Siapa sangka saat Denis keluar, ia malah mendengar percakapan Seno dan Raffi. Denis juga melihat Raffa yang berdiri kaku mendengarkan pembicaraan Raffi dan Seno. Denis hanya bisa menghela napas berat.
-----------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Putri Yang Tergadai
-Nazein & Darlan
__ADS_1
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
I Love you, readers ♥️♥️♥️