Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
Episode 33. Lian pulang


__ADS_3

Hai reader tercinta 


Jangan lupa dukung author dengan like novel ini sebelum membaca ya reader, terima kasih 


Selamat membaca ya 


____________________


Raffa dan Lian sudah tiba di depan pintu kamar hotel.


"Bolehkah Kak Raffa ikut masuk?"


"Boleh, silakan!" ucap Lian. Mereka masuk dan duduk di sofa.


"Lian, soal pertunangan kita," ucap Raffa. Raffa ragu untuk bicara.


"Kapan Kak Raffa pulang?" 


"Nanti sore, kenapa?"


"Lian ikut Kakak pulang dan soal pertunangan kita … sebaiknya dipercepat besok atau lusa."


"Kenapa?" Raffa menatap heran. Baru satu jam yang lalu Raffa melihat Lian berciuman dengan Raffi. Tiba-tiba Lian meminta pesta pertunangan mereka dipercepat.


"Tidak ada apa-apa. Hanya saja dua minggu lagi terasa sangat lama," ucap Lian sambil memaksa tersenyum. 


Raffa tersenyum dan menjawab Lian dengan anggukkan pelan. Di dalam hati Raffa berkecamuk berbagai pertanyaan. Hati Raffa bimbang menimbang apakah akan melanjutkan pertunangan dengan Lian atau mengakhirinya. Apa ia akan sanggup menjalin hubungan dengan Lian tanpa cinta. Raffa sangat mencintai Lian tetapi Raffa tahu dalam hati Lian tidak ada perasaan untuknya.


***


Raffi tiba di parkiran bawah tanah. Ia keluar dari dalam mobilnya dengan tersenyum. Raffi memantapkan hatinya untuk mengatakan kejujuran kepada Lian dan Raffa. Sebelum semuanya terlambat, sebelum Lian tambah membenci Raffi, Raffi harus menjelaskan dan menceritakan semuanya pada mereka. Apa yang akan terjadi nanti akan Raffi hadapi dengan ikhlas. Entah Raffa akan membencinya atau memukulnya, Raffi akan menerimanya.

__ADS_1


Namun, saat Raffi keluar dari dalam lift, matanya membelalak melihat Raffa dan Lian bergandengan tangan dengan mesra. Melihat jemari mereka berdua saling bertaut dan bibir mereka yang tersenyum lebar, Raffi hanya terpaku di depan pintu lift. Raffa dan Lian tertawa dan bercanda sambil melangkah semakin dekat ke arahnya. Perhatian Raffi tertuju ke arah tangan kiri Raffa yang menarik koper Lian. 


Setelah semakin dekat dengan Raffi, Raffa baru sadar kalau Raffi ada di sana. Raffa menyapa Raffi seperti biasa. Namun, Raffi tidak mendengar sapaan Raffa. Ia melamun, raganya bagaikan sebuah patung tanpa nyawa. Terdiam kaku merasakan sakit di dalam hati. Raffi bimbang kembali, apakah ia harus tetap mengungkapkan perasaan pada Lian atau tidak. Melihat Lian yang tidak mau menatapnya, membuat Raffi merasa kalau Lian serius dengan ucapannya.


"Jangan dekati Lian lagi!" Kata-kata Lian itu terus berputar mengelilingi setiap sudut pikiran Raffi. Ia terdiam menatap tangan Lian yang tidak dilepas meskipun di hadapannya. Biasanya Raffi yang sengaja mencari kesempatan untuk membuat Raffa dan Lian dekat. Namun, melihat Lian yang sudah mau menerima Raffa, Raffi merasa tidak bisa melepaskannya. Sampai beberapa menit lamanya Raffi terdiam, sampai Raffa harus mengibaskan tangan di depan wajah Raffi. 


"Woi, Fi. Kamu kenapa? Apa kau mendengarku?" tanya Raffa. 


"Hah? Oh, ya." Raffi penasaran  kenapa Raffa membawa koper Lian. "Kalian mau kemana?" Untuk menghilangkan rasa penasaran, Raffi pun bertanya.


"Oh, aku akan membawa Lian ke hotel tempatku menginap. Aku dan Lian akan pulang ke Jakarta sore ini. Apa kau juga sudah akan pulang?" 


"Pulang? Kenapa tiba-tiba Lian pulang? Bukannya masih ada empat hari lagi sebelum pulang?" Raffi menatap Lian, tetapi Lian tetap menunduk tidak mau menjawab ataupun memandang Raffi.


"Rencana pertunangan kami akan dilakukan lusa, jadi kami harus segera pulang dan mempersiapkannya," jawab Raffa sambil tersenyum bahagia.


Seakan petir menyambar tubuh Raffi, ia terkejut mendengar pesta pertunangan mereka dipercepat. Raffi tahu, pasti Lian-lah yang meminta pesta itu dipercepat. Apa Raffi sudah terlambat, ia bertanya pada diri sendiri. Pertanyaan yang tidak pernah ia tahu jawabannya. Lian marah dan menyuruh Raffi menjauhinya, lalu mempercepat acara pertunangan dengan Raffa.


"Kenapa?"


Saat bersisian dengan Lian, Raffi mendengar ucapan pelan Lian. "Jangan menggangguku lagi!" ucap Lian berbisik. Raffi hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Ia membalikkan badannya saat Raffa dan Lian sudah masuk ke dalam lift dan pintu lift sudah tertutup. Raffi melayangkan tinjunya ke dinding.


Bugh!


Tangan Raffi kesakitan dan sedikit mengeluarkan darah, tetapi Raffi tidak menghiraukannya. Sakit hatinya melebihi sakit di tangannya. Raffi menjambak rambutnya dengan frustasi. Ia marah, sakit hati. Menyesal kenapa tidak menyatakan cintanya sejak dulu pada Lian, saat itu ia justru terus menolak Lian dengan kasar. Raffi selalu mendorong Lian agar pergi darinya.


Semua salahnya sampai Lian benar-benar pergi dan membenci dirinya. Raffi melangkah ke dalam lift, ia kembali ke kamarnya dengan sedih. Ia berbaring di ranjang dengan tangan yang masih berdenyut nyeri. Raffi mengangkat tangannya dan memandang punggung tangan itu membiru. Ia tersenyum getir.


"Mungkin jika aku bisa melihat seperti apa hatiku saat ini, pasti … seperti inilah keadaannya," gumam Raffi pelan. Ia mengenang saat-saat indahnya dengan Lian, meski hanya sebentar tapi sangat membekas di hati Raffi. Akhirnya Raffi tidak sanggup menahan rasa sakitnya dan menangis.


Seorang lelaki dingin, acuh seperti Raffi ternyata tidak sanggup menahan sakitnya patah hati. Ia meneteskan air mata, menangis tanpa suara, meratapi nasib cintanya bersama Lian yang penuh dilema. Kawat berduri yang menghalangi jalan cintanya itu semakin tinggi menjulang. Semakin sulit untuk Raffi lewati, semakin kokoh karena Lian sendiri yang telah membuat pagar kawat berduri yang membatasi Raffi.

__ADS_1


***


Di dalam perjalanan menuju hotel tempat Raffa menginap, Lian mengembuskan napas berat. Lelah sekali hati Lian untuk berpura-pura mengacuhkan Raffi. Meskipun Lian kesal dan kecewa karena Raffi tidak memberi Lian jawaban dan kepastian, tetapi selamanya nama Raffi sudah terpatri kuat dalam hatinya.


Raffa melirik Lian dari kaca di atas dashboard mobil. Ia tahu apa yang sedang Lian pikirkan, tetapi Raffa lebih memilih diam dan tidak menanyakannya pada Lian. Hal itu hanya akan membuat Lian semakin sedih. Lebih baik Raffa membiarkan Lian menata hatinya sendiri. Semakin jauh Raffa bertanya hanya akan semakin membuat Lian tertekan. Raffa kembali fokus menatap jalanan di hadapannya.


____________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir jg disini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu (END)


-Penjara Cinta Sang Presdir


-Nazein & Darlan 


-Serpihan Hati Yang Hancur (END)


 I Love you, readers ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2