
Like before readšš
Terima kasih, selamat membacaĀ š
__________________________
Lian duduk melamun di dalam kamar mandi. Di depan Raffi, Lian terlihat kesal dan acuh pada Raffi. Namun, Lian tersenyum di belakang Raffi. Seperti saat ini, ia tidak henti tersenyum bahagia setelah bertemu Raffi. Jantungnya memacu dengan cepat, hatinya seperti padang rumput hijau yang ditumbuhi bunga-bunga yang telah mekar. Harum semerbak menyentuh sanubari.
"Aku cukup bahagia walau hanya bisa bertemu sejenak dengannya. Kenapa bisa kebetulan, ya? Apa Kak Raffi membuntutiku? Tidak mungkin," gumam Lian.Ā
Vira melirik pintu kamar mandi. Sebuah ide muncul begitu saja di benak Vira. "Lian dan Raffi bisa secara kebetulan bertemu di Bali, sepertinya mereka ditakdiran bersama? Aku akan memberikan sedikit dorongan agar mereka bisa jauh lebih dekat." Vira mengirim pesan pada ibunya yang sedang berada di luar negeri. Vira menyuruh sang ibu untuk menelepon sebentar. Sebelum ibunya menelpon Vira sudah bersandiwara seolah sedang sangat panik.
Tok! Tok! Tok!
"Ya, Vi. Sebentar!" Lian keluar tidak lama kemudian. Lian ikut tegang saat melihat wajah panik Vira.
"Li, ibuku menelepon tadi. Katanya nenek sakit, bagaimana ini?" tanya Vira berpura-pura panik.
"Terus kamu mau terbang ke Singapura sekarang?"
"Ya. Maaf, Li, kamu liburan sendiri tidak apa-apa, kan?
"Aku ikut ke Singapura untuk menjenguk nenekmu, ok."
"Sayang, Li. Kita sudah check in untuk seminggu. Kamu tetap di sini saja, ok!"
Lian tidak bisa memaksa jika Vira melarangnya ikut karena selama ini Vira memang selalu tertutup tentang orang tua dan keluarganya yang lain. Vira seolah ingin menutupi jati dirinya dari orang lain. Yang Lian tahu tentang Vira hanya sikap dan sifatnya yang baik dan setia kawan, selain dari itu Lian tidak mengetahui apapun tentang keluarga dan kehidupan Vira. Lian tidak sadar jika dirinya sedang ditipu oleh Vira.
Drttt! Drrtt!
Ponsel Vira berbunyi. Vira kembali bersandiwara.Ā
"Halo! Iya, Ma. Vira akan berangkat kesana sekarang," ucap Vira. Ia segera menarik kopernya yang belum sempat ia buka. "Li, aku pergi dulu, ya. Bye-bye, sampai jumpa di Jakarta. Nikmati liburanmu, ok!" Vira melarang saat Lian mengikuti di belakangnya. Vira tidak mau Lian mengantarkannya ke bandara. Tentu saja karena Vira takut rencananya gagal dan ketahuan bahwa ia sudah membohongi Lian. Vira menutup pintu kamar dan berjalan santai menuju lift sambil tersenyum geli. Saat masuk ke dalam lift, Vira bertemu Raffi di dalam lift.Ā
"Vira, mau kemana?" tanya Raffi penasaran.
__ADS_1
"Eh, Kak Raffi. Vira mau jenguk nenek. Nenek Vira sakit," ucap Vira dengan nada sedih.
"Terus kamu mau kemana? Ke bandara atau ke terminal? Biar Kak Raffi antar," ucap Raffi menawarkan tumpangan, sekalian Raffi juga memang akan pergi mencari makanan.Ā
"Boleh. Antarkan aku ke bandara ya, Kak. Maaf, kalau Vira merepotkan," ucap Vira.
"Tidak masalah. Kakak juga memang akan keluar," jawab Raffi.
Mereka sampai di parkiran bawah tanah di hotel itu. Vira hanya bisa menganga melihat mobil sport berwarna kuning. Raffi membukakan pintu dan membantu Vira menyimpan kopernya di belakang jok. Mobil itu hanya untuk dua orang penumpang saja dengan bagian belakang jok penumpang menjadi bagasi. Raffi pun mengantarkan Vira ke bandara.
Dalam perjalanan, Vira mengajak Raffi mengobrol. Awalnya hanya seputar liburan Raffi, tetapi lama kelamaan, Vira mulai bertanya tentang perasaan Raffi pada Lian.Ā
"Apa ⦠Kak Raffi benar-benar tidak bisa mencoba menyukai Lian? Aku kasihan melihat Lian patah hati," ucap Vira.
"Patah hatinya akan segera sembuh seiring berjalannya waktu. Tiga minggu lagi Lian akan bertunangan dengan Raffa, jadi kakak yakin Lian akan segera segera melupakan kakak."
"Bagaimana kalau tidak bisa?" tanya Vira.
Raffi terdiam, tidak tahu harus bagaimana menanggapi pertanyaan Vira. Raffi berharap Lian bisa melupakannya, tetapi separuh hatinya tidak rela jika Lian melupakannya. Andai saja ia bisa mengungkapkan perasaannya secara jujur, mungkin saja Lian akan memilihnya. Namun, Raffi tidak dapat membayangkan seperti apa keadaan Raffa nantinya.Ā
"Baiklah," ucap Raffi datar. Dalam hati ia gembira karena akan punya waktu berdua dengan Lian. Ucapan Vira akan menjadi alasan kuat untuk Raffi agar bisa dekat dengan Lian selama liburan.
Tiba di depan bandara, Vira keluar dan melarang Raffi mengantarnya ke dalam. Vira menyuruh Raffi untuk menemani Lian mencari makan siang. Raffi tidak menyia-nyiakan waktu. Secepat mungkin ia putar balik kembali ke hotel. Setelah yakin kalau mobil Raffi sudah tidak terlihat, Vira memesan taksi dan berencana pulang ke Jakarta dengan menggunakan bus antar pulau dari terminal setempat.
***
Di hotel, Lian merasa lapar. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan jam sebelas. Rasanya cepat sekali waktu berlalu, padahal Lian baru selesai merapikan bajunya di lemari. Sebenarnya Lian malas untuk menyimpan bajunya di lemari hotel, tetapi Lin juga tidak mau selalu buka tutup koper untuk mengambil baju.
"Hah, baru juga selesai merapikan baju, ternyata sudah siang. Aku jadi sedikit lapar. Keluar dulu deh, cari makanan," gumam Lian. Ia mengambil tas selempang coklat kesayangannya dan keluar dari kamar. "Astaga!" Lian terkejut saat keluar dan menemukan Raffi bersandar di dinding samping pintu. "Kakak sedang apa sih? mengagetkan saja." Lian memegangi dadanya yang berdetak cepat.Ā
"Vira menitipkan kamu sama kakak," ucap Raffi.Ā
"Tidak perlu. Memangnya aku anak kecil," gerutu Lian sambil melangkah pergi meninggalkan Raffi.Ā
"Salah jalan!" ucap Raffi sedikit berteriak.
__ADS_1
"Memang Kak Raffi tahu apa yang akan aku tuju?" tanya Lian.
"Mau cari makan kan?"Ā
Lian mengerutkan keningnya karena Raffi tahu, kemana Lian akan pergi. Lian tidak menjawab, tetapi langsung melangkah pergi ke arah yang sama. Raffi akhirnya menarik pergelangan tangan Lian dan membawanya melangkah ke arah yang berbeda.Ā
Deg!
Lian terkejut ketika lengannya dipegang oleh Raffi. Sudah lima tahun lamanya Raffi menghindari Lian dan bersikap acuh pada Lian. Ini pertama kalinya Raffi memegang lengan LianĀ setelah lima tahun Raffi selalu menjauh. Rasanya Lian seperti bermimpi saat Raffi mau bicara dengan nada biasa seperti dulu. Lian sampai mencubit pipinya untuk meyakinkan kalau ini bukanlah mimpi, Lian meringis saat ia merasakan sakit di pipinya yang memastikan juga bahwa ia tidak sedang bermimpi.
____________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n voteĀ
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEOĀ
-Kupilih Hatimu (END)
-Penjara Cinta Sang Presdir
-Nazein & DarlanĀ
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
Ā I Love you, readers ā„ļøā„ļøā„ļø
__ADS_1