
Hai reader tercinta Jangan lupa dukung author dengan like novel ini sebelum membaca ya reader terima kasih Selamat membaca ya reader
_____________
Lian dan Raffa tersenyum pada Dokter itu.
"Selamat siang, Nak Raffa, Nak Lian," sapa Dokter yang merawat Raffi.
"Siang, Dokter," saut Lian sambil tersenyum. Setiap hari, Lian-lah yang rajin sekali bertanya pada Dokter tentang keadaan Raffi. Lian terus berharap kalau saat Dokter keluar dari ruangan itu, Dokter itu membawa kabar tentang Raffi yang sadar. Namun, sudah seminggu keadaan Raffi tidak menunjukkan perubahan.
"Kalian tidak makan siang? Ini sudah jam makan siang," ucap Dokter itu.
"Kami baru akan pergi, Dokter." Raffa menggandeng tangan Lian dan berpamitan pada Dokter. Raffa mengajak Lian ke kantin.
Sementara Dokter itu masuk ke dalam ruang ICU. Dokter terkejut saat melihat (mesin pendeteksi jantung) itu menunjukkan garis lurus.
"Suster, cepat panggil Lian dan Raffa! Mereka pasti di kantin." Dokter itu memerintahkan perawat agar memberitahukan pada Lian dan Raffa.
"Baik, Dok." Perawat itu berlari ke bagian informasi dan meminta tolong mereka untuk memanggil Raffa dan Lian dari pengeras suara. Setelah itu perawat kembali ke ruang ICU dan membantu Dokter serta perawat yang lain untuk melakukan pertolongan pada Raffi.
*Perhatian! Diberitahukan kepada Saudara Raffa dan Saudari Lian, ditunggu di ruang ICU*
"Kak Raffi!" ucap Lian saat mendengar namanya dan Raffa dipanggil. Lian sontak ingat dengan keadaan Raffi. Pastinya bukan sesuatu yang baik jika mereka sampai dipanggil seperti itu, karena jika itu adalah hal baik, Dokter akan menunggu Lian dan Raffa selesai makan siang. Lian segera bangun dan berlari.
"Lian! Tunggu!" ucap Raffa. Ia membayar makanan yang mereka pesan. Makanan itu baru tiba di meja mereka, tetapi karena suara panggilan itu Lian segera berlari. Raffa mengejar Lian dan pergi ke ruang ICU. Tiba di depan ruang ICU, Raffa melihat Lian menangis di depan jendela kaca. Raffa menoleh ke arah Lian menatap. Raffa membelalak saat melihat Dokter menutup wajah Raffi dengan selimut yang menutupi tubuh Raffi.
Brakk!
Lian menerobos masuk ke dalam ruang ICU.
"Kak Raffi, bangun! Hiks hiks. Bangun, Kak! Jangan tinggalin Lian. Kak Raffi bangun!" ucap Lian sambil membuka penutup wajah Raffi. Lian tersedu-sedu mengguncang tubuh Raffi.
Raffa menelepon kedua orang tuanya lalu menyusul Lian masuk ke dalam ruang ICU. Raffa menarik Lian menjauh, tetapi Lian memberontak. Akhirnya Raffa membiarkan Lian kembali memeluk tubuh Raffi yang terbaring kaku.
__ADS_1
"Kak Raffi, jangan tinggalin Lian, hiks hiks. Bangun!" ucap Lian.
Lian memukul dada Raffi berkali-kali, ia berharap dengan begitu maka detak jantung Raffi bisa kembali. Lian berharap Raffi bisa hidup kembali. Dokter dan perawat pun akhirnya memegangi Lian. Lian meronta dan melepaskan diri, ia kembali memukul-mukul dada Raffi berkali-kali.
Raffa menarik Lian untuk keluar dari ruang ICU.
"Lepasin Lian, Kak Raffa! Lian mau sama Kak Raffi saja di sini. Lian tidak mau pergi," ucap Lian sambil terus menangis dan meronta. Lian melepaskan diri lagi dan berlari memeluk Raffi.
"Kak Raffi, ayo bangun! Jangan tinggalin Lian sendiri. Lian tidak bisa hidup tanpa Kakak, hiks hiks."
Lian menyandarkan wajahnya di dada Raffi yang mulai terasa dingin. Dada polos Raffi itu menjadi basah oleh tetesan air mata yang mengalir dari kedua mata Lian. Raffa ikut menangis mendengar ratap kehilangan dari Lian. Dokter dan para perawat itu juga berkaca-kaca melihat Lian yang memeluk erat tubuh Raffi. Semuanya terdiam dengan menahan tangis. Dalam ruangan itu hanya menggema tangisan Lian yang begitu menyayat hati, siapapun yang mendengarnya akan terenyuh.
Sementara di rumah Denis, mereka sibuk memanggil-manggil nama Daisy. Setelah mendapat kabar Raffi dari Raffa, Daisy tergeletak tidak sadarkan diri. Pelayan segera menelpon Juan yang sedang berada di kantor. Parman dan Asep mengangkat tubuh Daisy dan membaringkannya di sofa. Iyah berlari ke dapur dan mengambil minyak angin.
"Ada apa dengan Daisy?" tanya Denis yang keluar dari kamar dengan kursi roda. Karena mendengar keributan, Denis yang sedang duduk di ranjang di dalam kamar pun menjadi penasaran dan keluar untuk melihat. Saat Denis tiba di ruang keluarga, ia melihat Iyah sedang mengoleskan minyak angin di dekat hidung Daisy.
"Saya tidak tahu, Tuan. Tadi, Nyonya Daisy menerima telepon dan tiba-tiba Nyonya Daisy pingsan, Tuan," jawab Iyah.
"Itu, saya juga tidak tahu, Tuan."
"Ehm." Daisy sadar dan bangun dari posisi berbaring. Daisy duduk sambil meringis memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Sejenak Daisy menatap sekeliling. Memperhatikan satu-persatu wajah yang berdiri di hadapannya, juga ayahnya yang duduk di kursi roda. Daisy kebingungan melihat wajah mereka yang cemas menatap ke arahnya.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Denis dengan cemas.
"Kenapa kalian berkumpul di sini? Ada apa denganku?" tanya Daisy menatap mereka dengan heran.
"Nyonya tadi pingsan setelah menerima telepon," jawab Iyah.
"Telepon?" Daisy bergumam mendengar jawaban Iyah. Kemudian Daisy ingat kalau orang yang meneleponnya adalah Raffa yang memberi kabar kalau Raffi meninggal. Daisy lalu menangis, membuat Denis, Iyah, Parman dan Asep bingung.
"Raffi, Pa. Raffi, hiks hiks." Daisy menangis dan tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Tenang dulu! Cerita pelan-pelan sama Papa, ada apa dengan Raffi?" tanya Denis. Melihat Daisy yang menangis seperti itu, Denis bisa menebak kalau telah terjadi sesuatu yang buruk pada Raffi. Namun, Denis telah mempersiapkan diri dan hatinya agar tidak terkejut. Ya, karena penyakit yang Denis idap maka Denis tidak boleh tegang atau terkejut berlebihan.
__ADS_1
"Tadi, Raffa menelepon dan bilang kalau Raffi meninggal, Pa."
"Apa?!" Juan yang baru tiba dari kantor itu pun terkejut. Ia menjatuhkan tas kantor yang dipegangnya. Juan meneteskan air mata tanpa suara. Ia melangkah pelan menghampiri Daisy dan Denis. Mereka semua menatap ke arah Juan.
Melihat sang suami pulang, Daisy segera berlari ke dalam pelukannya. Daisy menangis memeluk tubuh Juan.
"Sayang, bilang sama aku kalau itu tidak benar! Itu bohong. Raffi tidak mungkin meninggal, dia anak yang kuat, dia masih muda. Tidak! Tidak mungkin Raffi meninggal." Juan menceracau sendiri. Ia tidak bisa menerima kenyataan jika harus kehilangan Raffi.
____________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir juga di sini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Penjara Cinta Sang Presdir
-Nazein & Darlan
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
I Love you, readers ♥️♥️♥️
__ADS_1