
Tanpa Lian sadari, Raffi terjaga dan mendengar semua ratapan pilu Lian, tetapi Raffi memilih tetap memejamkan matanya. Ia berpura-pura masih tertidur. Meskipun sebenarnya hati Raffi terenyuh dan dadanya terasa sesak mendengar ratapan hati Lian.
Lian memegangi rambutnya dan menunduk untuk mengecup bibir Raffi. Lian menempelkan bibirnya di bibir Raffi dengan tipis, hampir tidak terasa oleh Raffi. Tentu saja karena Lian takut Raffi terbangun jika ia menempelkannya terlalu dalam.
Jantung Raffi seketika berdetak dengan cepat saat merasakan embusan napas Lian di depan wajahnya. Meskipun Raffi tidak merasakan bibir Lian, tetapi Raffi paham situasinya. Setelah beberapa detik, Lian menjauhkan kembali wajahnya dan berlari ke dalam kamar mandi. Lian terisak pelan di sana. Raffi membuka matanya dan memegangi bibirnya dengan senyum pahit. Andai saja ia tidak terhalang oleh perasaan orang lain, ia pasti sudah mengecup bibir Lian dengan penuh perasaan.
***
Keesokan paginya, Raffa sudah bersiap pergi ke kantor. Raffa berpamitan pada kedua orang tuanya yang sedang sarapan.
"Raffa, sarapan dulu," ucap Daisy.
"Raffa mau ke rumah sakit dulu, Ma. Nanti Raffa sarapan di kantor," jawab Raffa. Ia segera pergi memacu mobil hitamnya dengan perasaan tidak sabar untuk menanyakan perasaan Raffi kepada Lian.
Sementara Lian sedang ada di kantin rumah sakit untuk membeli bubur dan buah-buahan. Walaupun rumah sakit menyiapkan sarapan untuk Raffi, tetapi Raffi tidak menyukai makanan rumah sakit.
Lian ingat dengan jelas sepuluh tahun lalu saat Raffi dirawat setelah terjatuh dari pohon mangga. Saat itu, Raffi mencoba mengambilkan kupu-kupu untuk Lian, tetapi Raffi malah terjatuh dan akhirnya dirawat di rumah sakit. Saat perawat membawakan makanan untuk Raffi, Raffi hanya mencicipi sedikit.
"Makanannya hambar, tidak enak, Ma," ucap Raffi kecil sambil menjulurkan lidahnya.
"Tidak enak, ya, Kak?" tanya Lian kecil.
Raffi mengangguk.
"Mau Lian belikan makanan di kantin?" tanya Lian kecil.
"Ya, belikan Kakak roti gandum saja, atau bubur ayam. Makanan di kantin sepertinya lebih enak."
"Mbak, semuanya empat puluh lima ribu," ucap pelayan.
"Eh, oh, maaf. Berapa semuanya?" tanya Lian dengan tergagap, ia tersadar dari lamunannya karena teguran pelayan kantin.
"Empat puluh lima ribu, Mbak."
Lian memberikan uang tunai empat puluh lima ribu dan melangkah pergi tanpa membawa makanan yang sudah ia bayar.
"Mbak, makanannya ketinggalan," ucap pelayan kantin.
"Maaf, maaf, saya sedang banyak pikiran. Saya jadi lupa, maaf," ucap Lian sambil menerima bungkus plastik berisi bubur dan roti. Pelayan itu hanya tersenyum ke arah Lian. Lian segera pergi karena malu seisi kantin memperhatikan tingkah Lian.
Raffa tiba di parkiran rumah sakit, di lobby, Raffa bertemu Lian yang baru saja keluar dari arah kantin.
__ADS_1
"Lian," sapa Raffa.
"Eh, Kak Raffa, pagi sekali sudah datang. Kak Raffa mau pergi ke kantor?"
" Iya, tapi Kakak mau menjenguk Raffi dulu," jawab Raffa.
"Oh." Lian dan Raffa melangkah bersama menuju kamar tempat Raffi dirawat.
Tok! Tok!
"Fi, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Raffa.
"Sedikit lebih baik daripada semalam," jawab Raffi.
"Syukurlah. Kapan Dokter memperbolehkan kamu pulang?"
"Dua hari lagi, jika keadaanku sudah pulih."
"Kak Raffi, Lian sudah membelikan bubur dan roti gandum. Lian taruh di sini," ucap Lian sambil menaruh bubur dan roti serta buah-buahan yang dibelinya di atas nakas.
"Oh, iya, Lian tolong belikan Kak Raffa air mineral di kantin, bisa, kan?" tanya Raffa. Raffa hanya berpura-pura menyuruh Lian ke kantin agar pembicaraannya tidak didengar oleh Lian.
"Fi, aku ingin bertanya sesuatu padamu tentang Lian," ucap Raffa.
"Bertanya apa?"
"Apa kau menyukai Lian?" tanya Raffa.
Raffi terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Tidak. Ada apa?"
"Aku ingin melamar Lian untuk menjadi calon istriku. Aku takut kalau … kau juga menyukai Lian."
"Tidak perlu khawatir. Lian bukanlah tipeku, aku menyukai orang lain. Jika kau ingin melamarnya, aku mendukungmu," ucap Raffi.
"Terima kasih." Raffa tersenyum lega mendengar jawaban dari Raffi.
Berbeda halnya dengan Lian yang menguping pembicaraan mereka dari luar. Lian patah hati saat Raffi berkata bahwa Lian bukanlah tipenya dan Raffi menyukai orang lain. Lian melangkah pergi ke kantin dan duduk di dekat jendela.
"Jadi … dia menyukai orang lain. Sepertinya inilah saatnya aku menyerah dengan perasaanku. Haruskah aku menerima lamaran Kak Raffa? Aku tidak ingin menyakiti hati Kak Raffa. Jika aku menolak lamarannya, hati Kak Raffa pasti akan terluka. Aku tidak ingin menyakiti hati orang lain karena aku tahu seperti apa sakitnya saat cinta bertepuk sebelah tangan," gumam Lian.
__ADS_1
Raffi memakan sarapannya sambil mengobrol tentang rencana lamaran romantis Raffa untuk Lian. Raffi tidak ikut berkomentar, ia hanya mendengarkan semua rencana Raffa dengan hati perih bagai tertusuk duri.
"Kenapa Lian lama sekali? Aku akan menyusul Lian dan pergi ke kantor. Cepat sembuh, dan jadilah saksi saat aku melamar Lian. Ok," ucap Raffa. Raffa keluar dari ruang rawat Raffi.
"Jika saja itu adalah orang lain yang melamar Lian, aku pasti akan merebut Lian, tetapi kenapa orang itu harus kamu, Fa," gumam Raffi. Raffi menaruh buburnya di nakas. Ia tidak berselera untuk makan dan hanya berpura-pura di depan Raffa. Setelah Raffa pergi, Raffi mengambil ponselnya dan menatap foto Lian dengan sendu.
Tok! Tok! Tok!
Raffi segera mematikan layar ponselnya saat ada seseorang yang mengetuk pintu. Ternyata itu adalah Seno dan Key.
"Woi, Bro. Aku kira pria dingin ini anti sakit. Tidak disangka bisa masuk rumah sakit juga," ucap Seno mengejek Raffi.
"Sialan. Kalian kesini hanya untuk mengolok-olok aku. Pergi saja sana," ucap Raffi. Mereka kemudian tertawa.
Seno dan Key menanyakan keadaan Raffi dan mengobrol tentang banyak hal yang tidak penting. Mereka datang untuk menghibur Raffi. Mereka membawakan buah-buahan dan makanan untuk Raffi, tetapi Raffi sama sekali tidak menyentuhnya. Seno dan Key masih bingung dengan sikap murung Raffi beberapa hari belakangan ini. Namun, Raffi bukanlah tipe orang yang terbuka pada orang lain. Jangankan pada temannya, kepada orang tuanya pun Raffi tidak pernah menceritakan masalahnya. Ia adalah pribadi yang tertutup sejak kecil.
___________________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
I Love you, readers ♥️♥️♥️
__ADS_1