
Hai reader tercinta, jangan lupa like novel ini sebelum membaca ya reader
terima kasih Selamat membaca ya 😘😘🙏🙏
_______________
Cukup lama mereka berciuman, sampai Lian mengakhiri kecupan itu lebih dulu. Ia seakan kehabisan napas, kalau tidak segera menarik diri. Raffi tersenyum dengan manis. Lian seperti melihat orang yang berbeda, karena Raffi tersenyum hangat padanya. Lian memejamkan mata saat Raffi merapikan anak rambut Lian ke belakang telinga. Sikap lembut Raffi membuat Lian sangat bahagia malam ini.
"Tidurlah! Jangan takut, ada Kak Raffi di sini," ucap Raffi sambil memeluk Lian. Raffi membaringkan Lian dan mereka tidur berpelukan. Raffi pria dewasa, tentu saja ia tergerak melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman dan pelukan. Namun, cinta Raffi bukanlah karena nafsu semata. Raffi tidak akan menghancurkan orang yang dicintainya. Lian masih harus melanjutkan pendidikannya, Raffi tidak akan melakukan hal itu, terkecuali ia benar-benar bisa memiliki Lian sebagai istrinya.
Lian mendekap erat tubuh Raffi, begitupun Raffi. Raffi sangat berharap dirinya dapat menghentikan waktu, agar ia bisa bahagia seperti saat ini, bersama Lian. Malam yang dingin terasa hangat bagi Raffi dan Lian. Hangat oleh percikan api cinta dihati mereka. Hangat karena pelukan erat dari orang tercinta.
"Kak Raffi."
"Sstt! Tidurlah! Jangan bicara atau bertanya apapun," ucap Raffi dengan mata terpejam.
Lian ingin bertanya kenapa Raffi mencium dan memeluknya malam ini, tetapi Raffi tidak ingin membicarakannya. Raffi tidak bisa mengatakan kalau ia mencintai Lian, tetapi Raffi juga tidak bisa terus membohongi hatinya, ia sangat mencintai Lian. Biarkan malam ini berlalu dalam kebisuan. Keheningan malam setelah hujan lebat mereda sangat terasa.
Keesokan pagi
Lian terbangun karena suara kicauan burung yang seakan sedang bernyanyi. Lian membuka mata perlahan, ia takut apa yang terjadi semalam hanyalah mimpinya belaka. Sebelum matanya terbuka sempurna, Lian kembali memejamkan matanya. Lebih baik Lian tetap terpejam, jika itu hanyalah mimpi maka biarlah Lian tetap tertidur. Namun, Lian penasaran dan ia membuka mata dengan cepat.
Deg!
Lian terpana melihat wajah Raffi yang begitu dekat dengan wajahnya. Wajah itu tersenyum begitu damai dalam keadaan tidur, seakan beban berat yang dipikulnya selama ini telah terangkat. Lian memperhatikan setiap lekuk wajah Raffi. Alis yang tebal dan rapi, rahang kuat dan tegas, bulu mata panjang, hidung mancung. Pandangan Lian berhenti di bibir Raffi, bibir yang tidak terlalu tebal dan berwarna merah itu mengingatkan Lian pada ciuman mesra mereka semalam.
"Sudah puas memandang?" tanya Raffi.
Lian terperanjat saat Raffi bertanya padahal matanya masih terpejam. Lian tidak tahu kalau Raffi sudah bangun sejak satu jam yang lalu, tetapi Raffi masih ingin memeluk Lian. Raffi juga tidak tega membangunkan Lian jadi Raffi hanya memandangi wajah Lian. Saat Lian terbangun, Raffi berpura-pura kalau ia masih tidur dan memejamkan mata.
"Kalau Lian bilang belum puas, apa Kak Raffi akan tetap pura-pura tidur?"
"Hem. Kak Raffi akan tetap memejamkan mata sampai Lian puas."
"Lian mau bertanya, boleh?" tanya Lian.
__ADS_1
"Tidak."
"Kenapa? Kak Raffi belum dengar Lian mau tanya apa," ucap Lian merajuk.
"Jangan bertanya apapun! Bisakah?" Raffi tersenyum dan membuka mata. Menatap ke dalam manik mata coklat Lian. Raffi masih mendekap erat Lian. Raffi tahu apa yang ingin Lian tanyakan padanya karena itulah sejak semalam Raffi melarang Lian bertanya.
Lian membisu, tidak menjawab bisa ataupun menjawab tidak. Lian sangat ingin tahu perasaan Raffi padanya. Mereka berciuman bahkan tidur berpelukan semalaman, tetapi Lian tidak tahu apakah Raffi memeluknya sebagai Lian atau Raffi menganggap Lian orang lain. Namun, tatapan Raffi seakan meleburkan semua pertanyaan dalam hati Lian dan membuat Lian hanya bisa terdiam.
Suara deru mesin mobil membuat Raffi seketika melepaskan pelukannya dan beranjak bangun. Raffi takut kalau itu adalah Raffa yang mencari Lian. Lian pun bangun dan membuka pintu. Ternyata itu adalah suara mobil bak terbuka. Mobil kecil bak terbuka itu berhenti di depan rumah. Lian keluar dari kamar berbarengan dengan Nenek Saidah yang juga membuka pintu rumah. Lian menoleh dan tersenyum pada Nenek Saidah.
"Selamat pagi, Nek," sapa Lian.
"Selamat pagi. Suami Neng belum bangun?" tanya Saidah.
"Sua …."
Raffi segera membungkam mulut Lian sebelum Lian menyelesaikan kalimatnya. "Selamat pagi, Nek," ucap Raffi.
"Oh, pagi. Nenek kira belum bangun. Kalau kalian mau mandi, di sini tidak ada sumur atau pompa air, jadi kalian mandi di sungai. Tidak jauh dari sini," ucap Saidah.
"Ya, Nek." Raffi melepaskan tangannya dari mulut Lian.
"Sepertinya masih pengantin baru," gumam Saidah.
Saidah melangkah menghampiri pengemudi mobil yang baru selesai memarkir mobilnya dan keluar dari mobil. Lian memperhatikan wajah wanita pengemudi mobil bak terbuka itu. Begitupun sebaliknya. Pengemudi itu mengingat wajah Lian. Si pengemudi melangkah menghampiri Lian dan Raffi yang berdiri di depan pintu.
"Mbak yang memesan kalung itu kan?" tanya si pengemudi.
"Ya. Mbak pemilik toko, ya?"
"Ya. Pasti mobil Mbak mogok kan? Sering sekali terjadi disini," ucapnya.
Pengemudi itu kembali ke mobilnya dan menurunkan beberapa jerigen kecil berisi bensin. Ternyata Nenek saidah adalah penjual bensin eceran dan pengemudi itu adalah putrinya. Setiap hari putrinya mengirim bensin dan bahan makanan dari pusat kota. Setelah menurunkan jerigen itu, lalu ia menghampiri Lian kembali. Ia mengulurkan tangan pada Lian.
"Elvi," ucapnya.
__ADS_1
"Saya, Lilian. Panggil saja Lian," ucap Lian sambil menyambut uluran tangan Elvi.
"Di sini ada sebuah air terjun yang sangat indah. Sebelum kembali ke kota, kalian main kesana sebentar! Dijamin tidak akan menyesal dan pasti kalian menyukainya," ucap Elvi.
"Mbak Elvi akan kembali ke kota?"
"Ya. Saya kan harus buka toko." Elvi tersenyum.
"Boleh saya minta tolong? Di sini tidak ada sinyal, tolong telepon dan beritahu orang di nomor telepon ini untuk membantu kami memanggil mobil derek. Kami juga takut dia cemas memikirkan kami, tolong katakan kalau kami tersesat semalam," ucap Lian sambil menunjukkan nomor ponsel Raffa.
"Baiklah. Biar aku simpan nomornya," ucap Elvi. Ia mengetik nomor ponsel Raffa dan menyimpannya di kontak telepon. Setelah itu, Elvi berpamitan pada Saidah dan Lian.
Raffi kembali murung. Mereka akan kembali pada kenyataan bahwa Lian adalah calon tunangan Raffa. Raffi masuk ke dalam kamar dan mengganti bajunya dengan baju miliknya. Masih sedikit basah, tetapi tidak apa bagi Raffi. Setelah selesai mengganti baju, Raffi keluar dan membantu Nenek Saidah membawa jerigen bensin itu ke samping rumah. Ada rak kecil terbuat dari kayu untuk menyusun jerigen bensin. Raffi membeli dua liter bensin dan membawanya ke jalan. Raffi menuangkan bensin itu ke dalam tangki bensin menggunakan corong plastik. Setelah selesai ia kembali membawa jerigen itu dan disimpan di samping rumah.
____________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Penjara Cinta Sang Presdir
-Nazein & Darlan
__ADS_1
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
I Love you, readers ♥️♥️♥️