Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)

Cinta Ada Karena Terbiasa (S3)
Episode 43. Membeli cincin


__ADS_3

Hai reader tercinta Jangan lupa dukung author dengan like novel ini sebelum membaca ya reader terima kasih Selamat membaca ya


_________________


"Kak Raffa, sakit, lepasin tangan Lian!" ucap Lian. Pergelangan tangan Lian sakit karena Raffa memegang terlalu kencang. 


"Maaf, sakit ya?" tanya Raffa dengan lembut. Ia mengusap pergelangan tangan Lian dan meniupnya. "Lian ikut Kakak sekarang! Kita pergi membeli cincin pertunangan." Raffa menggandeng pinggang Lian dan mengajaknya pergi ke mall.


Lian tidak bisa menolak, ia sendiri yang menerima lamaran Raffa dulu. Kini, ia sendiri juga yang harus bertanggung jawab atas perkataannya. Lian terus menunduk sepanjang perjalanan. Ia akan segera menjadi saudara ipar Raffi setelah resmi bertunangan dengan Raffa nanti. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menerima. Lian mengenang masa kecil mereka yang penuh tawa dan canda bahagia. Tidak ada perselisihan, tidak ada rasa sakit hati, hanya ada tawa kebahagiaan diantara mereka bertiga.


Lian tersenyum tipis mengenang saat kedua saudara kembar itu berkata bahwa, Lian akan selalu menjadi princess di hati mereka. Mereka benar-benar menjadikan Lian putri di hati mereka. Bedanya, Raffa mengungkapkan cintanya secara terang-terangan. Sementara Raffi menyembunyikan perasaannya pada Lian begitu lama. Saat Raffi mengungkapkan perasaannya, semua telah terlambat. 


"Kak Raffa, jika kita menemukan mesin waktu. Apa yang akan Kak Raffa lakukan? Apa Kak Raffa mau kembali ke masa lalu?" Lian bertanya sambil menatap ke arah jendela mobil. Melihat jalanan yang ramai oleh pedagang kaki lima dan para pembeli yang mengantri dilayani. 


"Tidak. Kak Raffa tidak ingin kembali ke masa lalu. Karena kita hidup tidak untuk masa lalu, tetapi masa depan. Seandainya ada mesin waktu yang bisa mengantar ke masa lalu, Kak Raffa tidak akan masuk ke sana. Kak Raffa akn maju menuju masa depan. Kak Raffa, tidak merasa ada yang salah dengan masa depan kita, jadi untuk apa kembali ke masa lalu?" Raffa menjawab panjang lebar. Sesekali ia melirik Lian yang melamun menghadap jendela mobilnya.


"Benar, tidak ada yang salah dengan masa depan. Yang salah adalah manusia yang salah memilih masa depan," saut Lian. 


"Masa depan Lian tidak salah." Mereka sudah sampai di parkiran mall. Raffa memarkir mobilnya dan membuka pintu mobil untuk Lian. "Ayo! Setelah membeli cincin kita pergi makan siang," ucap Raffa. Ia mengulurkan tangan pada Lian. 


Lian senyum dengan terpaksa. Lian tidak begitu antusias. Bahkan ucapan Raffa pun tidak didengar oleh Lian. Raffa tidak peduli dan membawa Lian masuk ke dalam sebuah toko perhiasan. 


"Mana yang bagus, Li?" tanya Raffa dengan antusias. Raffa bingung untuk memilih karena semua cincin itu terlihat cantik. Ia bertanya pada Lian agar membantunya memilih model yang mana yang paling bagus menurut Lian. Bukannya mendapat bantuan, Raffa malah semakin bingung dengan jaeaban singkat Lian.


"Terserah Kakak saja," jawab Lian.


Raffa melihat wajah murung Lian. Ia menghela napas dan akhirnya meminta tolong pada pelayan toko.


"Mbak, calon tunangan saya lagi malas ngomong. Bisakah Mbak bantu saya? Mana yang paling bagus?" Raffa bertanya dengan sopan pada pelayan toko.


"Bagaimana kalau yang ini? Ini adalah model terbaru minggu ini." Pelayan toko mengambil sebuah cincin pasangan yang sangat indah. "Silakan dicoba dulu!" ucap pelayan. 

__ADS_1


Raffa menarik tangan Lian dan menyematkan cincin itu di jari Lian. Lian hanya diam tanpa ekspresi. Raganya di sana bersama Raffa, tetapi hatinya berada jauh entah di mana. Saat Raffa memakai cincin yang lainnya, cincin itu kebesaran. Raffa tersenyum melihat cincin itu.


"Kebesaran ya, Mas? Ada ukuran kecilnya, biar kami tukar," ucap pelayan itu. 


"Tidak, ini pas kok, Mbak. Pas banget malah," jawab Raffa dengan senyuman merekah.


Pelayan itu tersenyum bingung menanggapi ucapan Raffa. Jelas-jelas cincin itu terlalu longgar di jari Raffa, tetapi Raffa malah tersenyum bahagia dan berkata kalau cincin itu sangat pas. Pelayan itu tidak mau ambil pusing. Toh, bukan dia yang salah, tetapi pelanggannya sendiri yang tidak ingin menukar cincinnya. "Seharusnya tidak masalah dan Raffa tidak akan komplain pada atasannya kan?" pikir pelayan itu. Ia menerima kartu kredit dari Raffa. Selesai menggesek, kartu itu dikembalikan pada Raffa. "Terima kasih telah berbelanja di toko kami. Semoga Anda puas dengan toko kami, silakan datang kembali lain kali!" ucap pelayan itu mengantar kepergian Lian dan Raffa sampai pintu toko.


"Kita makan siang sekarang!" Raffa menggandeng tangan Lian dan mengajaknya makan di resto bebek rica-rica.


***


Sementara di rumah sakit, Raffi melamun di depan Seno dan Key yang masih menemaninya di ruang rawat.


Ceklek!


"Fi, Dokter bilang kamu boleh pulang dalam tiga hari. Raffa tadi mengirim pesan pada Mama dan Tante Violet, katanya pertunangan Lian dan Raffa akan diadakan lusa. Bertepatan dengan kepulangan kamu. Jadi, Mama dan yang lain pulang dulu untuk mengurus persiapannya," ucap Daisy. Ia berpamitan pada Raffi, Seno dan Key.


Raffi menatap wajah bahagia ibunya. Rasanya Raffi tidak tega kalau harus memksakan keinginannya. Biarlah, lagi dan lagi Raffi mengalah demi melihat senyuman sang ibu.


"Eh, Sen, aku mau ke kantin. Apa kau mau aku belikan sesuatu?" tanya Key.


"Boleh. Tolong bawakan pelayan kantin untukku!" ucap Seno berkelakar. 


"Kalau ada pelayan yang cantik, aku akan membawanya ke rumahku dan aku jadikan nyonya rumah," timpal Key sambil tertawa.


Raffi hanya tersenyum kecil mendengar Seno dan Key bergurau. 


Setelah Key pergi, Seno menatap Raffi. Ia kasihan pada Raffi yang harus merelakan gadis yang dicintainya menjadi milik saudaranya, Raffa.


"Kau baik-baik saja?" tanya Seno. 

__ADS_1


"Tentu saja. Memangnya kenapa?" Raffi menyembunyikan perasaannya dibalik senyuman getir.


Seno tahu kalau itu hanya jawaban palsu. Seno yakin hati Raffi saat ini sedang bersedih. Namun, Raffi memang tidak pernah ingin membagi kesedihannya dengan orang lain. Seno hanya bisa bersimpati tanpa bisa membantu Raffi. Karena luka hati tidak bisa diobati siapapun, bahkan Dokter paling hebat sekalipun. Seno menemani Raffi hingga sore hari, sementara Key harus pergi lebih dulu karena ada urusan mendadak. Hingga sore hari, Raffi dan Seno mengobrol untuk membunuh kejenuhan. Menjelang petang, Seno berpamitan karena harus pergi bekerja. Setelah Seno pergi, tinggal Raffi sendiri di dalam ruangan itu.


 Ia berbaring menghadap jendela rumah sakit, melihat langit senja yang mulai berubah warna. Langit yang berwarna biru cerah dan putih itu kini berganti warna merah dan jingga dengan siluet biru keunguan. Sangat indah dan memanjakan mata siapapun yang memandangnya. 


___________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir juga di sini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu (END)


-Penjara Cinta Sang Presdir


-Nazein & Darlan 


-Serpihan Hati Yang Hancur (END)


 I Love you, readers ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2